Bab 4 – Klausa

1038 Words
"Klausa kita, kamu baca sekarang!" Faron menghempas stofmap berwarna merah di atas meja makan. Kemudian mendorong agar lebih dekat dengan Arimbi yang duduk tidak jauh darinya. Tanpa banyak bicara, Arimbi mengambil alih benda tersebut dan mulai membuka lembar demi lembar untuk membaca point-point yang tertulis di permukaan kertas HVS. Sebetulnya Arimbi masih kesal dengan Faron karena kejadian semalam, alih-alih berterima kasih karena dirinya berniat menolong Faron dari mimpi buruk, akan tetapi, malah tuduhan pedih yang terucap sehingga membuat Arimbi mendeklarasikan sumpah serapah pada Faron akhirnya. "Kamu baca dengan seksama, jangan sampai kejadian seperti semalam terulang lagi! Jujur saya nggak nyaman." Arimbi melirik sekilas pada pria yang baru saja mengultimatum, lalu membuang pandangan ke arah kertas. "Kamu tenang aja! Aku nggak akan mengulang kejadian semalam, mau kamu mimpi buruk sampai nggak bisa napas pun aku nggak bakal mau nolong kamu." Faron nyaris tersedak air liur sendiri sebab mendengar ucapan Arimbi yang tanpa di filter terlebih dahulu. Sementara Arimbi tampak biasa saja setelah mengucapkan kalimat demikian. Dia terlihat santai dalam membaca seluruh isi point lalu kemudian meraih pulpen untuk membubuhkan tanda tangan di sana. "Udah aku baca dan udah aku tanda tangani. Nih, kelar." Arimbi menyerahkan benda itu pada Faron. Faron mengangguk, setelah itu beranjak dari sana segera untuk pergi ke kantor sembari menggenggam stofmap di tangannya. Arimbi menatap kepergian suaminya sembari mencibir, menirukan cara Faron yang semalam memarahinya habis-habisan. "Ngapain kamu ke kamar saya?" Arimbi menjauhkan tangannya sehingga sedikitpun tidak lagi menyentuh bagian tubuh Faron. "Soalnya aku denger kamu ngigau, mana kenceng banget. Makanya aku ke sini buat mastikan keadaan kamu. Kamu nggak apa-apa kan?" Terbesit rasa khawatir melihat keringat sebesar biji jagung menghiasi pelipis Faron. Sungguh rasa takutnya tidak sekedar takut biasa, dia takut kejadian seperti temannya itu terulang pada Faron. "Keluar dari sini. Ingat! Apa pun yang terjadi di kamar ini, kamu nggak boleh masuk!" Mengabaikan pertanyaan Arimbi, Faron justru menghardik istri beberapa jam lalunya itu. Kontan saja Arimbi pergi keluar dengan membawa hati yang dongkol. Niat menolong alih-alih mendapat ucapan terima kasih justru mendapat bentakan seperti ini. "Dasar nggak tahu terima kasih," gumam Arimbi lalu membanting pintu kamar Faron. Masa bodo meski Faron terkejut oleh aksinya yang menutup pintu dengan cara kasar. Arimbi tidak peduli. Malam harinya Arimbi pergi ke bar bersama sahabatnya, kebiasaan buruk yang sudah mendarah daging, sepertinya akan sulit ditinggal begitu saja. Padahal, orang tuanya sering memperingati Arimbi untuk jangan sering memasuki area seperti itu, tetapi, tetap saja bandel. Keduanya tampak menikmati minuman berkarbonasi itu sembari berbincang dan sesekali menguarkan tawa sehingga mengundang beberapa atensi orang-orang sekitar. Meski begitu, keduanya tampak tidak ambil pusing dan tetap bersikap absurd. Asyik berbincang, tiba-tiba saja Ayla mempertanyakan insiden beberapa hari lalu, menanyakan kabar laki-laki itu pada Arimbi, tanpa menjawab, Arimbi hanya mengedikkan kedua bahu dan mengalihkan pembicaraan. Dia sama sekali tidak berminat membicarakan Faron apalagi berniat untuk menceritakan jika sekarang dirinya sudah menikah dengan pria tersebut. Biar saja pernikahan ini menjadi hal yang rahasia, toh pernikahan mereka memiliki kontrak yang berlaku bukan? Sementara di rumah, Faron yang baru saja pulang dari kantor merasa ada yang aneh dengan keadaan rumah. Sepi seperti tidak berpenghuni. Ia longgarkan dasi untuk mengurangi tekanan pada lehernya lalu menyimpan tas kantor di sofa ruang utama. Hal yang dilakukan pertama kali olehnya adalah membuka pintu kamar tamu, pintu itu tidak terkunci, dan setelah dibuka juga tidak ada isinya. Faron mendesah, mempertanyakan pada dirinya sendiri kemana perginya Arimbi? *** "Kita pulang!" Arimbi terkejut saat seseorang tiba-tiba menyentak kasar pergelangan tangannya, hingga nyaris saja terjungkal dari stool yang diduduki sebelumnya. Tidak hanya Arimbi, Ayla juga sama terkejutnya sehingga lekas mengikuti jejak langkah Arimbi yang diseret paksa oleh pria berbadan kokoh itu. "Sakit, Om. Kenapa suka banget seret-seret orang sih?" Faron mengabaikan pertanyaan Arimbi dan terus saja menarik pergelangan tangan Arimbi hingga area parkir. Untung saja keadaan parkiran cukup sepi, sehingga keduanya tidak menjadi pusat perhatian orang-orang. "Lepasin nggak!" Begitu sampai di luar, Arimbi segera melepaskan diri dari cengkraman Faron. Ayla juga menghentikan langkahnya tidak jauh dari tempat mereka. "Apa-apaan sih?" "Kamu yang apa-apaan? Kenapa pergi nggak pamit?" "Bukannya kita sepakat untuk jalani kehidupan masing-masing. Ingat kan perjanjian yang kamu buat itu?" Alih-alih Faron, justru Arimbi yang lebih dulu mencecar. Mendengar ocehan itu membuat Faron lantas meniup napas ke udara sembari memejamkan mata. "Tapi, setidaknya kamu kasih kabar kemana kamu pergi. Jangan kayak gini!" "Kenapa harus kasih kabar? Oh, mendadak khawatir dan kangen sama istri? Ya ... ya ... ya, aku emang ngangenin, aku tahu itu." Arimbi mengibaskan rambut panjang yang diurai, Faron menggeleng pelan. Istri? Ayla yang mendengar hal itu lantas menutup rapat mulutnya dengan telapak tangan. Sejak kapan mereka nikah? Kenapa Arimbi nggak cerita? Astaga, jangan-jangan mereka berdua – Ayla lekas menepuk pelan pipinya demi enyahkan pikiran buruk yang melintas di kepalanya. "Dasar sinting! Sekarang mending masuk mobil!" "Nggak mau! Aku masih mau di sini. Aku masih mau seneng-seneng." "Astaga. Susah sekali dikasih tahu. Pulang atau–" "Atau apa? Mau melakukan tindak kekerasan? Iya? Awas aja berani macem-macem, aku lapor polisi." Arimbi melipat tangan di depan d**a sembari mendongak menatap Faron. Faron membuang napas beratnya sekali lagi. Mimpi apa sampai harus menikah dengan gadis dengan mulut mercon begini? "Dengar ini baik-baik! Mama sama Papa ada di rumah lagi cari kamu," ujar Faron dengan pelan karena sudah sangat lelah meladeni Arimbi yang super aktif seperti todler, membuat Arimbi melongo seketika. Dijatuhkannya tangan yang semula terlipat di d**a hingga tersimpan di sisi tubuh masing-masing. "Jadi, ayo, pulang sekarang!" Faron berbalik badan dan meninggalkan Arimbi di belakang. Arimbi menghentakkan kaki merasa kesal, jadi, alasan Faron menyusulnya ke bar karena ada orang tuanya berkunjung ke rumah? Astaga! Arimbi serasa tidak punya muka karena bertindak terlalu percaya diri. "Ngomong dong, kalau Mama sama Papa berkunjung. Omong-omong Mama mertua apa Mamaku yang datang?" Faron tidak menyahut, fokus menyalakan mesin mobil lalu mulai mengendalikan roda kemudi. "Om, ditanyain juga." "Mama dan Papa kita berdua," sahut laki-laki itu cukup ketus. "Kenapa mereka nggak kasih kabar dan datang tiba-tiba?" "Bisa jangan berisik? Saya pusing denger kamu banyak omong." Arimbi langsung mengatupkan mulutnya. Menatap cemberut si pria bermulut pedas itu dan langsung membuang muka. 'Gue sumpahin lo jatuh cinta sama gue. Laki-laki sialan.' Dalam hati yang kesal, dia menggaungkan sumpah yang dia tidak tahu jika sumpah tersebut akan berdampak pada masa depannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD