Mendengar suara suaminya, Winda segera balik badan dan dia tak percaya, orang yang tidak peka seperti Rakasya, mau bertindak sejauh ini hanya untuk membela seorang baby sitter baru yang membuatnya ketar-ketir. Sejak pulang dan mendapati Kinar ada di rumahnya, jantung Winda terasa berhenti berdetak. Dia hampir saja tak bisa mengontrol emosi untuk segera melempar Kinar ke jalanan. Kebetulan ini membuatnya sangat menyesal tidak mau mengambil baby sitter daru yayasan seperti saran Rakasya sebelumnya. Winda merasa terpojok dan memilih berpura-pura tak kenal. Dia tadi juga berusaha memicu pertengkaran dengan Rakasya, agar suaminya itu mau memecat Kinar. Namun, Rakasya terlalu logis untuk alasan yang sengaja dia buat-buat.
Sekarang dirinya kembali terancam. Kesempatannya untuk menemui Fandy kembali terganggu gara-gara Kinar dan Dion melarang Aski makan permen. Bahkan, anak laki-lakinya itu sekarang terlihat peka, biasanya dia tak mau mendekati adiknya bila dia sudah pulang. Karena setiap sebulan sekali, Winda akan memberikan sekeranjang penuh lolipop dan meminta Aski untuk memakannya agar dia sakit dan Winda bisa membawanya ke dokter gigi.
Kalau Kinar bertahan di sini. Dirinya akan terancam. Kesenangannya akan terbatas dan Rakasya akan segera mengetahui kebohongan dirinya. Winda tak siap kehilangan semua fasilitas. Walaupun tak ada sedikitpun rasa cinta untuk Rakasya, tetapi Winda butuh uang dan fasilitas mewah dari pria itu. Pria yang dijodohkan dengannya. Pria yang mencintainya, tetapi tak pernah dia cintai. Rakasya hanya anak rekanan bisnis ayahnya. Dia hanya sebagai tambang uang dan kekayaan yang membuat dirinya beserta keluarganya bisa bertahan dengan kehormatan yang hampir saja meninggalkan mereka dalam keterpurukan.
Winda yang masih dipenuhi pikiran buruk tentang Kinar dan kemungkinan-kemungkinan terburuk tentang kedatangan gadis itu di sini, tak menyadari kalau Rakasya mendekatinya. Winda juga tak lagi perduli dengan tangisan Aski. Dia fokus memikirkan langkah apalagi yang bisa dia lakukan demi menyingkirkan kerikil atau rumput liar peghalang seperti Kinar. Winda terjepit, dia tak mungkin ngotot untuk meminta Kinar pergi tanpa alasan.
"Aku gak setuju kamu pecat dia, Winda. Bagaimanapun, Kinar sudah cocok dengan anak-anak. Keduanya juga tak canggung dengan dia. Perihal Aski makan permen sebanyak itu bukannya sering terjadi. Justru dia melakukan itu sepertinya hanya untuk menarik perhatianmu saja. Dion turun dan makan malam. Kinar, temani Aski gosok gigi, lalu bawa dia ke meja makan."
Kinar, Aski dan Dion menuruti Rakasya yang sedang dalam mode tak bisa dibantah.
"Kamu kenapa jadi ngebelain pembantu itu? Kita punya hak yang sama untuk memilih yang terbaik bagi anak-anak. Menurutku, dia sama sekali gak pantas!" Winda mencoba mendorong Rakasya agar tergiring emosi dan mau menurutinya melepas Kinar, tetapi nihil. Rakasya tetap tenang.
"Dia gak bersalah. Kita yang harus menyelesaikan masalah kita berdua. Aku akan melepas baby sitter itu, asalkan kamu mau menghabiskan waktu di rumah lebih banyak bersama anak-anak. Kalau kamu bersedia, hari ini juga, aku akan memberhentikan Kinar."
Winda terdiam dan tak bisa membalas omongan suaminya. Melepas perusahaan besar itu akan membuatnya takut tak dapat bagian, lagipula kehadiran karyawan seperti Ronald, membuatnya tak mampu jauh-jauh. Winda terlalu serakah untuk melepas semuanya. Dia ingin memiliki semua sekaligua dalam satu genggaman. Cinta, kesenangan dan kekayaan tak bisa dipisah. Dia membutuhkan tiga hal itu dalam hidupnya. Cinta murninya ke Fandy, Kesenangannya bermesraan dengan Ronald, dan harta berlimpah dari Rakasya, semua itu adalah pelengkap hidupnya.
"Aku belum bisa tinggal di rumah. Aku masih ingin kerja. Baiklah bila kamu mendukung gadis itu untuk bekerja. Asal, jangan pernah menyesal kalau kamu tahu sifat aslinya."
Winda meninggalkan Rakasya, langkah kakinya menghentak lantai dengan kencang. Napasnya memburu karena kesal. Di otaknya terus memutar rencana apa saja yang akan dia lancarkan untuk menendang Kinar dan menutup mulutnya. Winda merogoh ponsel di saku celana. Dia membuka sebuah email dari detektif bayaran. Semua tentang Kinara Anjani, sudah ada di dalam genggamannya. Winda akan melancarkan rencana pertama. Rencana yang paling halus.
Sementara itu, Rakasya memilih duduk di ranjang milik putrinya. Dia memandang jajaran foto keluarga mereka yang terbingkai dengan indah. Penuh dengan senyuman yang ceria. Saat itu Aski berumur 5 tahun dan Dion tujuh tahun. Keduanya tak pernah kehilangan kasih sayang. Keduanya dekat dengan Winda. Namun, semua kebahagiaan itu hanya bertahan sampai dua tahun yang lalu. Winda tak pernah ada di rumah lagi untuk menemani anak-anak. Dia sibuk dengan dunia sosialita. Dia sibuk dengan party sampai malam, pulang mabuk. Dia juga sering bergaul dengan lawan jenis dengan sangat akrab. Rakasya meraup wajahnya. Seperti apa pun kelakuan Winda yang berubah seratus persen itu. Hatinya masih saja berdebar saat menatapnya. Cintanya juga masih sama sejak pertemuan pertama mereka. Winda adalah cinta pertama Rakasya. Jadi, apa pun yang dia perbuat, tak pernah bisa membuat Rakasya sampai memutus tali pernikahan mereka. Entah sampai kapan Rakasya akan bertahan dari perasaan menyedihkan ini. Yang pasti, asal Winda tak menduakannya, pria itu akan terus membuka hati dengan lapang.
****
Kinar telah selesai dengan pekerjaannya, dan bersiap untuk pulang. Saat menemani Aski dan Dion makan malam. Dia melihat Winda terburu-buru keluar rumah dan berkendara sendirian. Rakasya juga tak bergabung, bahkan dia belum juga keluar dari kamar putrinya. Aski yang sudah selesai makan, memilih untuk pergi ke kamar menemui ayahnya. Kinar tak mengantarnya.
Sekarang, dirinya sedang membuat s**u hangat untuk Dion. Setelah siap, dia segera menuju kamar anak laki-laki Rakasya. Langkahnya sebenarnya berat untuk datang ke kamar anak itu. Namun, ini adalah pekerjaannya.
Kinar sampai dan mengetuk pintu kamar Dion.
"Masuk aja!"
Kinar masuk dan meletakkan s**u di atas nakas samping ranjang.
"Diminum susunya, ya. Setelah itu tidur."
Dion tak menjawab apa pun, anak itu terlihat sibuk dengan rubiknya yang belum juga selesai.
"Tante pamit, ya. Tante janji, akan keluar dari sini setelah dapat pekerjaan baru."
Kinar bersiap pergi, langkah kakinya terdengar semakin jauh dan suara Dion membuat gerakkan kakinya berhenti.
"Tante."
"Ya, Dion?"
"Bisa bantu aku untuk bikin Aski gak makan permen perusak gigi lagi? Kalau Iya, jangan pergi dari sini."
Kinar kembali mendekat ke Dion. Bingung dengan perkataan anak ini yang terkesan plin plan. Setelah memintanya pergi, Dia ingin Kinar menetap demi membuat Aski berhenti makan permen lolipop.
Kinar yang sebenarnya sangat ingin pergi dari tempat ini, jadi bimbang. Yang pasti, dia akan segera mencari pekerjaan baru dulu, setelah itu mengajukan diri untuk berhenti ke Pak Rakasya. Karena percuma saja kalau dia hanya jadi pemicu keributan di antara keluarga ini.
"Tante usahakan, ya, Dion." Kinar berucap dengan nada penuh keraguan. Dia bisa mengawasi Aski agar tak makan permen, tetapi dia belum tentu sanggup di sini berlama-lama. Dia tak punya tenaga lebih menghadapi orang seperti Winda.
Setelah mengobrol sebentar dengan Dion, Kinar bergegas pulang. Baru saja ibunya bilang kalau ayahnya sore tadi sudah pulang dari rumah sakit dan sekarang menjalani rawat jalan. Kinar sempat meragukan perkataan sang Ibu. Karena dia belum melunasi tunggakan rumah sakit. Namun, ibunya bilang kalau ada seseorang yang melunasi semua biaya perawatan sebesar 10 juta beserta menebus obat untuk satu bulan sebesar satu juta rupiah.
Kinar baru saja menghubungi saudara jauh untuk pinjam uang, membayar perawatan di rumah sakit bagus memang butuh banyak sekali biaya. Saudaranya mau meminjamkan karena tahu kalau Kinar sudah mendapat pekerjaan jadi bisa mencicil hutangnya yang menggunung.
Kinar melipir ke ATM dan menarik uang pinjaman dari saudaranya. Dua bertekad untuk mengganti ke seorang dermawan itu dengan uang tersebut.
Sesampainya di rumah dia melihat mobil mewah terparkir di depan gang rumahnya. Mobil itu terasa familier di kepala, tetapi dia tak bisa mengingat lebih jelas. Kinar berjalan ke rumah dan saat masuk pemandangan banyaknya parcel buah serta sembako berjajar di meja ruang tamu. Ayah dan ibunya juga terlihat menikmati potongan buah semangka sambil menonton TV.
"Assakamualikum, Bu, Yah."
"Waalaikumsalam, Nak. Ayo sini, kita makan buah semangka. Tapi kalau kamu mau yang lain, ambil aja pilih sendiri, itu masih banyak." Tunjuk ibunya dengan antusias.
Kinar menyalami tangan kedua orang tua. Gadis itu duduk di samping ibunya dan bertanya siapa penolong yang melunasi tunggakan rumah sakit serta semua parcel ini.
"Namanya ibu lupa, tapi katanya kamu kenal sama Aski dan Dion. Dia bilang anak itu sudah punya baby sitter baru. Perempuan itu cantik banget, Nak. Dia juga baik dan bilang kalau kamu teman baik dia."
Kinar lemas seketika saat mendengar penuturan ibunya. Ternyata kepergian Winda tadi ada maksutnya. Dia kelihatannya sangat serius untuk membuat dia terjepit. Namun. Kinar tak mau tinggal diam, dia akan membayar semua hutang ini.
Kinar mulai mengingat, kalau mobil itu adalah milik Rakasya. Dengan tergesa-gesa Kinar keluar rumah, dia tak perduli dengan pertanyaan ibunya. Kinar hanya ingin mengembalikan uangnya. Namun, ketika sampai di ujung gang, Kinar tak mendapati mobil itu lagi. Dia berbalik, hendak kembali ke rumah, tetapi sebuah sinar terang menyorot tubuhnya. Sinar itu bersamaan dengan desing kendaraan. Kinar berbalik kembali dan melihat sumber cahaya yang semakin mendekat. Sinar itu berasal dari mobil yang Kinar cari. Deru suara mobil kian menusuk telinga saat jaraknya antara Kinar hanya tinggal beberapa langkah.
Bersambung.