Kinar mngangkat tangan untuk menghalau cahaya yang berasal dari mobil di hadapannya. Dia sama sekali tak bisa bergerak, seperti dipaku. Gemuruh memenuhi d*danya. Ketakutan, merasa akan ditabrak oleh mobil itu. Namun, tepat sekali saat bagian depan mobil itu menyentuh tubuhnya. Kendaraan roda empat tersebut berhenti hingga terdengar decitan dari ban beradu dengan aspal. Perlahan lamou meredup. Kinar menatap lurus ke depan.
Pintu mobil terbuka dan turunlah seseorang yang sudah tidak asing lagi. Winda menutup pintu mobil dan melangkah sampai bagian depan mobilnya. Dia duduk di bonnet sambil menatap Kinar dengan sorot meremehkan, lalu tangannya mengambil sesuaty dari tas selempangnya. Sebungkus rokok mint serta sebuah pemantik kini dia genggam. Winda mengambil satu lintingan tembakau dan menyulutnya dengan api dari pemantik berwarna silver tersebut. Dia menyesap rokok itu perlahan, menahan asapnya sebentar dan mengeluarkannya bulat-bulat ke udara. Kemudian tangan bebasnya menepis kepulan asap itu sampai menghilang dari pandangan.
"Hampir saja kamu berbasib sama dengan asap ini Kinar. Mau lari ke mana pun, saya selalu bisa menemukannya dan menghancurkannya dengan sangat mudah. Kalau saja kemampuan menyetir saya amatiran, mungkin kamu tinggal nama saja sekarang. Namun, melihat orang tuamu yang sangat tidak mampu itu, bagaimana kalau kita membuat kesepakatan. Perjanjian yang sama-sama menguntungkan."
Winda kembali ke mobil, dia mengambil sesuatu di kursi samping kemudi. Sebuah koper hitam yang cukup besar dia bawa mendekat ke Kinar yang masih saja terdiam di tempat. "Di dalam koper ini ada 500 juta rupiah. Kalau kamu mau terima, saya juga akan membayar semua hutangmu ke rentenir. Uang ini, bisa jadi modal hidup yang cukup lama. Kalau kurang, ayo, kita negosiasi."
Kinar mendekat dan meraih koper itu. Dia membuka benda tersebut dan melihat tumpukkan uang ratusan ribu memenuhi koper sampai sesak. Aroma uang. Aroma kebebasan hutang dan hidup bahagia. Ini yang dia cari. Ini yang bisa menyelamatkan keluarganya dari jeratan rentenir. Namun, Kinar memang gadis yang naif. Satu sisi dia merasa melihat jalan keluar ada di depan mata, tetapi satu sisi lagi, dia tak mau mengambil keuntungan dari kehidupan orang lain.
Kinar menutup kembali koper itu dengan cepat sebelum sisi lain jiwanya meronta untuk mengambil apa yang bukan haknya. Kinar memilih mengambil uang yang tadi dia ambil di ATM, lalu menghampiri Winda dan memberikannya bersamaan dengan koper itu.
"Saya membayar hutang tagihan rumah sakit dan tebusan obat ayah saya. Biaya parcel buah serta sembako, akan saya berikan secara bertahap saat saya dapat gaji dari Pak Rakasya." Kinar menjelaskan sambil berusaha tenang dan menahan emosinya.
Winda meraih koper dan uang pemberian Kinar dengan enggan. Dia menginjak rokok yang masih menyala sampai lintingan tembakau itu hancur di atas aspal.
"Penolakan ini akan kamu bayar mahal Kinar. Ingat, tawaran tadi tidak akan kamu terima lagi dari saya. Kalau besok kamu berani datang ke rumah lagi, itu berarti genderang perang telah kamu tabuh. Kita lihat, siapa yang akan ditendang dari rumah itu. Saya atau kamu!"
"Saya sama sekali tak ada niat berperang dengan siapa pun. Saya hanya ingin bekerja. Mengurus Aski serta Dion. Itu saja. Kalau Anda berpikiran aneh-aneh, mungkin itu adalah buah dari dosa yang Anda perbuat di belakang anak-anak dan Pak Rakasya. Saya juga bukan orang gampangan yang akan membocorkan kesalahan Anda, tetapi bila Anda terus melakukan ini kepada saya. Saya tidak bisa menjamin rahasia itu akan aman. Jauhi keluarga saya. Karena mereka tak tahu apa-apa."
Kinar berbalik dan hendak meninggalkan Winda yang masih betah duduk di depan mobilnya.
"Kamu tidak akan betah di sana. Di tempat ini saja kamu hampir lenyap, di rumah saya tak menjamin apa bisa kamu bernapas dengan lega, Kinara Anjani. Kamu tamat sebentar lagi. Saya jamin itu!"
Winda masuk ke dalam mobil dan mengendarai kendaraan itu dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan Kinar dengan penuh keraguan.
***
Pagi hari Kinar diwarnai dengan drama Aski yang melow ditinggal bekerja oleh Winda serta Rakasya. Kedua orang pasangan suami istri itu terlihat cuek satu sama lain. Tidak ada pembicaraan yang ada di meja makan. Semua pertanyaan menggelayut di kepala Kinar, Mau sampai kapan dia di sini. Setiap hari harus menghadapi ancaman Nyonya-nya sendiri. Bahkan sejak saat kejadian malam itu, Kinar selalu mengecek keadaan orang tuanya di rumah. Satu jam sekali dia akan menelepon dan menanyakan kabar mereka, dengan alasan ayahnya yang baru pulang dari rumah sakit. Kinar bersyukur tidak ada kejadian aneh yang menyentuh mereka.
Aski sepertinya sedang tidak sehat. Matanya sayu dan napsu makannya berkurang. Dia bahkan hanya makan dua suap nasi goreng dan seteguk s**u. Berbeda dengan Dion yang menghabiskan nasi goreng dan sekarang meminta Kinar mengupas jeruk untuknya. Bu Susi tersenyum melihat Dion sudah mulai mencair. Walaupun sekarang Aski yang terlihat murung. Mungkin karena kejadian tadi malam.
Kinar mengantar Dion sampai ke depan mobil. Anak itu tak mau Kinar ikut ke sekolah. "Aku udah besar. Jagain Aski aja. Dia gak mau sekolah karena gak enak badan. Tante, jangan lupa, ya, janji kita semalam?"
Kinar hanya bisa mengangguk lemah. Dia tak bisa mengatakan hal lain di depan anak tersebut. Dion menaruh harapan di orang yang salah. Karena cepat atau lambat, Kinar akan pergi dari sini. Entah itu karena niatnya sendiri, entah karena paksaan dari Winda. Semua kemungkinan terasa jelas. Dia hanya bisa berdoa meminta petunjuk soal keputusan apa yang akan segera dia ambil.
Kinar melambaikan tangan ketika Dion berangkat. Kemudian dia melangkah masuk ke istana Rakasya untuk menemani Aski di kamar. Mungkin anak itu ingin bicara banyak. Kinar sudah siap jadi pendengar yang baik.
Di kamar, Aski hanya berbaring di ranjang sambil memeluk boneka teddy bear kecil di lengan kanannya. Dia menerawang, seperti memikirkan sesuatu. Tadi malam, Rakasya tidur dengannya. Papanya tak banyak bicara dan itu sangat aneh untuk Aski. Jadi, dia berinisiatif untuk mengajak Winda untuk tidur di kamar bertiga dengan Rakasya. Akan tetapi, saat Aski hendak menghampiri ibunya yang bilang akan tidur di kamar tamu. Di sana terdengar suara seperti kesakitan dari sang Ibu. Bahkan kasur yang ditempati ibunya berderit kencang. Gadis kecil itu juga melihat ada kaki besar di bawah selimut. Aski ketakutan dan pergi ke kamar. Dia tak bisa tidur semalaman karena berpikir ada hantu.
Kinar memasuki kamar Aski dan duduk di tepian ranjang. Dia membelai pipi Aski yang bulat. "Kamu kenapa? Kok, murung. Aski sakit?"
Aski menggeleng. "Aku cuma ngantuk. Gak bisa tidur. Soalnya semalam ada hantu di kamar tamu."
"Heh, masa, sih? Aski jangan nakut-nakutin, tante, dong."
"Betul, Mama aja sampai teriak kaya kesakitan gitu. Aku mau bilang Papah. Tapi Papah tidurnya gak bisa dibangunin."
"Bisa ceritain hantunya kayak apa, Aski? Siapa tahu nanti tante sama Bu Susi bisa ngusir hantunya."
"Gak tau Tante, hantu itu kakinya besar, terus dia bikin Mamah kesakitan di tempat tidur. Kasian Mamah."
Kinar mengepalkan tangan karena dia mulai bisa mencerna perkataan Aski tentang Winda. Jadi, dia mulai berani membawa pasangan gelap ke sini. Bahkan saat ada suaminya di rumah. Kinar benar-benar tak habis pikir. Kenapa Rakasya tak pindah tidur, atau tak memergoki istrinya itu. Ini sangat tidak masu logika dan akal.
"Sekarang Aski bobo aja, ya. Tante akan datang lagi setelah buatin kamu s**u. Oke?"
"Oke deh."
Kinar hendak keluar, tetali tidak jadu karena melihat segelas teh di atas nakas. Cangkir itu masih sisa setengah. Kinar mengambilnya untuk di bawa ke dapur. Sebelum ke dapur, dia pasti melewati kamar tamu yang ada di dekat tangga. Penasaran, Kinar membuka ruangan tempat Aski melihat kebobrokan ibunya itu.
Di dalam kamar ini dia susuri tak terdapat apa pun. Ranjang berantakan. Di atas nakas, Kinar melihat sebotol kecil pil putih. Dia mengambil obat itu dan melihat lebih jelas tulisannya.
Deg!
Jantung kinar terasa ingin berhenti karena melihat apa yang tertulis di sana. "Pil tidur". Jadi, ini yang membuat Aski tak bisa membangunkan Rakasya semalam. Winda benar-benar licik dan jahat. Kinar tak menyangka dia bisa sejahat ini kepada keluarganya sendiri.