Setelah menemukan kebenaran yang membuat dirinya tak henti merutuki nasib bisa kenal dengan orang seperti Winda, membuat Kinar tak nyaman sepanjang waktu. Apalagi Aski tak mau beraktivitas. Anak itu hanya terbaring di ranjang dan terkadang tertidur. Mungkin itu efek begadang. Bu Susi juga tengah sibuk dengan banyak pekerjaan. Kinat tak tahu harus apa sampai dia mengingat cerita Aski tentang tadi malam.
Diam-diam Kinar pergi lagi ke kamar tamu. Karena Bu Susi bilang, kamar itu dibersihkan nanti sore. Menunggu semua pekerjaan selesai. Kinar melipir ke sana sambil mengendap-endap. Kinar masih belum menyusuri semua isi ruangan itu. Dia hanya ingin tahu kenapa Winda bisa senekat itu tadi malam. Dia juga penasaran, apa semua orang di sini tidak ada yang tahu perihal perbuatan sang Nyonya. Sangat tak masuk akal, kan, tidak mungkin juga winda membuat semua orang tertidur dengan pil itu. Dia pasti punya mata-mata di sini. Kinar benar-benar berusaha berhati-hati karena dia tak mau punya musuh baru lagi di rumah ini. Satu orang saja sudah merepotkan bagaimana kalau dua. Mungkin dia tak lagi bisa bernapas lega.
Kinar mulai menggeledah barang yang ada di laci nakas. Dia menemukan banyak kertas struk belanjaan yang berserakan begitu saja. Dibacanya satu per satu, list pembelanjaan dengan tanggal yang berdekatan, bahkan ada struk pada saat dia diterima kerja oleh Rakasya. Kebanyakan isinya barang sehari-hari, dan selalu ada a**************i di list itu. Kinar sudah lelah untuk terkejut, karena dugaan kuat akan mengarah ke Winda.
Kinar sengaja duduk di dekat ranjang sampai kepalanya tak terlihat. Dia ingin menemukan sedikit detail tentang perselingkuhan Winda, agar menjadi bukti untuk dia tunjukkan pada waktu yang tepat. Kinar bukan mau ikut campur. Bukan pula perduli dengan nasib Rakasya. Dia merasa semua orang kaya punya cara yang berbeda dan unik untuk mengatasi kehidupan percintaan serta pernikahan mereka. Jadi dia tak perlu repot. Hanya saja , satu hal yang terasa meremas hatinya dan membuat dia tak bisa diam saja, adalah saat anak-anak tak berdosa menjadi alat untuk pemuas fantasi orang tuanya. Walaupun Kinar bukan tipe orang penyabar terhadap anak-anak, atau sangat suka dengan anak-anak. Setidaknya dia mengerti apa yang pantas dan tidak untuk mendidik mereka. Dion serta Asku adalah anak yang baik. Mereka begitu pengertian terhadap ibunya yang egois. Aski rela menyakiti dirinya sendiri untuk membuat sang Ibu tetap bertemu dokter itu. Takdir terkadang suka bercanda, saat orang kaya yang memiliki semua harta untuk menunjang kehidupan mereka, ternyata di dalamnya terdapat borok yang membuat semua harta itu tak berarti lagi. Rasa syukur yang dilupakan, berakibat dengan tak menghargai pemberian Tuhan. Miris.
Kinar menghela napas lelah, dia langsung merapikan struk belanjaan dan mengambil gambar list itu, kemudian menyimpan kembali ke laci nakas dan bersiap berdiri untuk menyisir bagian lain dari kamar ini. Dia tahu akan sangat beresiko bila terus ada di sini, tetapi dia tak bisa pergi begitu saja.
Saat kinar sudah setengah berdiri, dia mendengar langkah kaki mendekat ke dalam kamar. Dari suaranya, seperti ujung sepatu yang tajam. Sepatu hak tinggi. Kinar panik dan berusaha untuk bersembunyi, tetapi dia tak tahu harus ke mana. Oleh karena itu, dia menjangkau tempat yang paling dekat, yaitu kolong ranjang. Dengan cepat, Kinar masuk ke dalam sana. Dia menutup mulutnya dan bernapas sepelan mungkin.
Benar saja, seseorang tengah memasuki kamar tamu. Kinar melihat sepatu hak tinggi yang digunakan. Tidak salah lagi, sepatu itu milik Winda. Kinar sangat mengingat warnanya karena sebelum wanita itu pergi ke kantor, dia melihat Winda terlebih dahulu.
Kemudian suara dering ponsel terdengar, selang beberapa detik Winda tampak berbicara dengan seseorang di telepon. Sementara Kinar sibuk menahan suara napasnya sendiri. Takut ketahuan.
"Memang tadi malam pas kamu pergi ditinggal di mana, Sayang?" kata Winda dengan nada kesal. Dia terlihat memutari ranjang dan mendekat ke nakas tempat Kinar melihat-lihat tadi. Kemudian tangan Winda berhenti bergerak seperti menyadari ada yang salah dengan letak kertas struk perbelanjaan ini.
"Aku ngerasa tempat ini kayak ada yang masukin dan dia sudah berani acak-acak semuanya, Sayang. Gak mungkin Kinar, si perempuan kampung itu. Dia gak tahu kita tidur di sini malam tadi. Sepertinya dia mulai lengah."
Kinar merasa degup jantungnya berdetak kencang sekali. Seperti ingin lompat dari tempatnya. Ternyata Winda bisa sedetail ini. Dia bahkan menyadari kertas-kertas itu tak ada dalam tempatnya. Jadi, Kinar memang harus ekstra berhati-hati. Karena kalau salah langkah dia akan terjerumus ke jurang yang sudah dipersiapkan oleh Winda.
Winda masih mencari dan decakan keluar terus dari mulutnya. Kemudian dia beralih ke ranjang dan mengangkat selimut yang masih berantakan. Dia mengibaskan kain tebal itu dan berhamburanlah kertas yang berjatuhan ke lantai.
"Oke, aku menemukannya, kertas itu jatuh ke lantai, aku tutup dulu, ya, Ron. Nanti kita ketemu di kantor, Sayang."
Kinar menutup mulutnya saat Winda menginjak sebuah kertas kecil atau memo berwarna kuning yang jatuh ke lantai. Kinar semakin takut ketahuan dan gagal dengan rencana ini. Sementara itu tangan Winda mulai terlihat meraih kertas itu, tetapi ada angin yang masuk lewat sela jendela dan menerbangkan kertas itu ke atas badan Kinar yang sedang bersembunyi.
Kinar merasa dirinya akan tamat.
"Mamah, kenapa pulang ga bilang-bilang?" Suara Aski menggema hingga menusuk telinga.
Hal itu menghentikan Winda dan wanita itu bergegas keluar dari kamar tamu. Hal itu dimanfaatkan Kinar untuk mengambil kertas kecil yang begitu dicari oleh Winda. Kinar membaca isi dari memo itu. Tulisan itu hanya berupa kombinasi angka sebanyak 6 digit. Tidak bisa dicerna, tetapi Kinar mau mengabadikannya dengan ponselnya sendiri. Dia hendak mengambil ponsel, tetapi suara ketukan sepatu Winda ternyata kembali mendekati kamar. Kinar panik dan segera keluar dari kolong ranjang kemudian dia bersembunyi di balik pintu.
Benar saja Winda kembali masuk. Dia segera telungkup dan mencoba meraih kertas berisi kombinasi angka-angka itu. Kemudian, Kinar memanfaatkan Winda yang sedang fokus itu untuk keluar dari kamar tamu. Kinar berlari kencang dan dia tak bisa mengurangi kecepatan sehingga tak melihat Bu Susi yang sedang membawa secangkir teh dan akhirnya tabrakan tak bisa dihindari. Cangkir berisi teh itu terlempar dan membentur lantai, membuatnya pecah berkeping-keping. Kinar menutup mulutnya. Sementara Bu Susi tampak memberengut.
Kinar ditatap tajam oleh Bu Susi, lalu wanita itu berkata, "Sedang apa kamu berlari dari kamar tamu Nyonya Winda?"
Bersambung.