Hilang Kepercayaan

1478 Words
Kinar mendadak gagap. Dia bahkan tak bisa bergerak walaupun sedikit pecahan cangkir itu terpental menggores kakinya. Dia hanya ingin lari dari sini dan bersembunyi, tetapi kesialan malah menyapanya. "Saya tanya sekali lagi, ada keperluan apa kamu ke sana?" Bu Susi bertanya sekali lagi. Namun, perhatiannya seakan terbagi saat pelayang ingin membereskan pecahan cangkir. Bu Susi yang sangat detail, tak bisa membiarkan pelayan itu membersihkan pecahan dengan asal. Dia menunjuk setiap sudut untuk diperiksa, bahkan sekarang meraih sapu dan lap dari pelayan itu dan membersihkannya sendiri. Hal ini dimanfaatkan oleh Kinar untuk kabur darinya, sebelum Winda datang dan membuatnya semakin kacau. Dia pergi menuju taman untuk bersembunyi beberapa waktu sampai waktu aman dan terkendali. Di taman, Kinar mengambil duduk dekat dengan tanaman hijau yang lebat. Kalau dari atas balkon pun, tidak akan ada yang bisa melihatnya. Kinar teringat dengan kode yang tadinsempat dia baca. Gadis itu bingung harus bagaimana karena rasa penasarannya sungguh menyiksa. Namun, keinginannya membuat semua yang dilakukan Winda itu terbongkar adalah bukan hanya untuk dia saja, tetapi untuk Aski dan Dion. Mereka tidak boleh jadi alat untuk ibunya membina hubungan lain di belakang Rakasya. Semua harus terbongkar. Dia tak mau melihat tumbuh kembang anak itu terganggu. Dalam diamnya, Kinar teringat akan Aski. Tadi, saat dia hampir terpergok oleh Winda, suara Aski nyaring terdengar. Kinar mencoba memindai sekitar dan suasana sekitar taman, dan rumah bagian depan. Setelah merasa aman, Kinar berjalan memutari lahan luas itu sampai belakang rumah. Setelah itu masuk lewat pekarangan dengan pintu mengarah ke dapur yang terbuka lebar. Gadis yang menggunakan baju lengan panjang itu segera melesat ke dalam saat memastikan tidak ada keberadaan dari Bu Susi atau pelayan lain. Kinar menaiki tangga dengan cara berlari, dia ingin melihat bahaimana keadaan Aski. Bukankah anak itu terlihat lemas sejak pagi karena kurang tidur. Namun, tadi suaranya cukup nyaring dan menggema di kamar. Lalu apa yang dilakukan Winda sampai anak itu kembali diam dan tidak lagi memanggilnya. Kinar kini masuk ke kamar dan menemukan anak itu dalam kondisi yang tidak baik. Lagi-lagi Winda memberinya sekantong permen untuk membuat anaknya diam. Kinar menghampiri Aski dan mengambil kantung berisi permen itu dengan cepat. Gadis kecil itu tampak tidak terima dan hendak merebutnya walaupun tak bisa. Dia kemudian menangis atau lebih tepatnya tantrum di lantai kamar sambil telungkup. Kinar duduk di sampingnya dan menepuk-nepuk punggung Aski halus. "Nanti kalau giginya berlubang gimana? Aski boleh makan permen, tapi cuma satu aja. Kalau kebanykan giginya jadi berlubang, emang Aski mau?" Perkataan Kinar tidak digubris, "Tante jahat!" Hanya kata-kata itu yang dikatakan Aski berulang-ulang, hingga tangisannya berhenti. Kinar pikir Aski mengantuk karena habis bergadang. Dia ingin memindahkannya dari lantai ke atas ranjang. Namun, saat dia memegang tubuh bocah perempuan itu, suhu tubuhnya Aski sangat tinggi, anak itu berhenti menangis tapi terus bergumam tak jelas. Kinar panik dan menggendong Aski untuk naik ke ranjang, setelah itu dia berlari untuk menelpon lantai bawah dengan telepon rumah yang ada di nakas samping ranjang Aski. Seseorang mengangkat teleponnya, walaupun itu bukan Bu Susi. Karena kalau beliau pasti jawabannya sedikit panjang. "Hallo." "Tolong saya, Aski badannya panas, panggilkan dokter dan alat untuk kompres." Kinar mulai membuka kancing baju Aski, lalu dia memanggil Aski agar anak itu sadar. Namun, usahanya memanggil sekencang apa pun tak juga direspons. Kinar panik dan dia tak bisa menunggu lebih lama pelayan membawa dokter atau alat kompresnya. Gadis itu berlari dari lantai dua ke lantai satu, dia menuju dapur dan mengambil alat kompres. Kemudian Bu Susi yang ada di sana terlihat kaget, dia menghampiri Kinar. "Ada apa? Bawa air dan waslap?" tanyanya penuh rasa curiga. "A--Aski sakit. Dia demam tinggi." Kinar menjawab dengan raut wajah panik. Bu Susi merebut alat kompres yang dibawa Kinar dan memarahinya. "Kalau Aski sakit, ngapain kamu repot-repot kompres gak penting kayak gini! Kamu telepon dokter pribadi!" "Lho, saya sudah menelepon dari atas dan ada yang mengangkatnya. Tapi tak ada satu pun yang datang walau membawa kompresan pun." Kinar mencoba menjelaskan dengan detail. Sementara itu Bu Susi tak menghiraukan perkataan Kinar dan berbalik badan menuju telepon yang ada di dapur. Dia berkata dengan seseorang di telepon, sepertinya orang itu dokter pribadi keluarga Rakasya. Bu Susi meminta dokter yang bernama Aldi untuk datang ke sini karena Aski sakit. Telepon di tutup, lalu Bu Susi mengumpulkan pelayan untuk ditanyai perihal perkataan Kinar yang mengaku sudah menelepon dari lantai atas. Namun, tak ada yang menjawab 'iya'. Mereka malah kompak menjawab 'tidak'. Kinar melotot terkejut, dia tak paham dengan kejadian tadi, jelas-jelas ada jawaban saat dia menelepon. Atau jangan-jangan, pikirannya tentang mata-mata Winda adalah salah satu dari mereka, itu memang ada. "Kamu dengar sendiri, kan, Kinar? Tidak ada satu pun yang merasa kamu telepon. Jadi jangan mengarang cerita dongeng untuk sekadar membela diri. Kamu dapat nilai minus dari saya. Dan akan saya laporkan langsung dengan Tuan Muda." "Tapi, Bu. Saya berani bersumpah demi apa pun. Saya yang menelepon ke bawah, dan ada yang menjawab." "Hentikan omong kosongmu. Sekarang duduk saja di dapur. Biar saya yang mengurus Kinar selama dokter belum datang." Kinar diam saja, dia masih merasa janggal dengan kejadian tadi. Kenapa rumah ini dipenuhi orang-orang jahat yang dia pikir hanya Winda, tetapi ternyata ada orang lain lagi yang bahkan tega mengorbankan keselamatan Aski. Kinar melotot, pikiran aneh muncul lagi, jangan-jangan memang Aski menjadi target untuk disakiti oleh seseorang yang jahat. Jangan-jangan, orang yang tadi berpura-pura mengangkat telepon, sama sekali tak ada hubungan dengan Winda, dan punya misi sendiri terhadap keluarga ini. Kinar menepuk-nepuk kepala dan tak bisa berpikir jernih. Dia dikuasai amarah dan rasa khawatir yang besar terhadap Aski. Akhirnya Kinar nekad dan memilih untuk tetap ke kamar gadis kecil itu demi melihat keadaannya yang sekarang. Karena Kinar melihat salah satu pelayan keluar untuk membuka pintu utama, itu berarti dokter keluarga telah sampai. Kinar berjalan memutari dapur melewati sebuah pintu yang menuju ruang keluarga. Dia beralasan ingin ke toilet dan dengan cepat segera berlari menuju kamar Aski. Namun, karena tidak berhati-hati, dia tergelincir dan limbung ke belakang, tetapi tubuhnya ada yang menahan. Seorang pria berpakaian formal dengan wajah tampan dan tatapan teduh menangkap tubuh Kinar yang hampir terjatuh ke lantai. "Kamu gak apa-apa, kan?" Kinar terdiam sesaat karena melihat wajah yang berlipat-lipat tampannya dari Bossnya, Rakasya. "Kamu gak apa-apa, kan?" tanya pria itu lagi. Kinar segera sadar dan berusaha bangkit dengan cepat, tetapi langkahnya belum kuat dan malah menarik orang itu untuk terjatuh juga dan menimpanya. Wajah mereka begitu dekat, Kinar segera mendorong orang itu agar menjauh. Keduanya kompak berdiri dan menjadi kikuk. "Bisa antar saya ke kamar Aski?" "Ya, silakan." Mereka jalan beriringan menuju lantai dua dan ke kamar Aski. Bu Susi sedikit terkejut dengan kedatangan Kinar serta dokter Aldi. Namun, dia terlalu pintar untuk menyembunyikan ekspresi. "Saya periksa dede cantik dulu, ya." Aldi memeriksa Aski dan membangunkannya. Ajaibnya anak itu bangun dan mau meminum obat penurun demam yang diberikan Aldi. Setelah itu Kinar meminta ke toilet, dia diantar Bu Susi. Karena kepala ART itu tak mau Kinar menyentuh Aski sama sekali. "Baiklah, ini obat-obatan untuk Aski. Silakan diberikan sesuai petunjuk. Semoga lekas sembuh. Saya permisi." "Biar saya antar, Dokter." "Boleh, kalau tidak merepotkan." Kinar dan dokter Aldi berjalan bersama. Terkadang Aldi menceritakan banyak hal tentang keluarga ini yang memaki jasanya lebih dari lima tahun karena Rakasya dan dia alah sahabat dekat, dia menangani keluarga ini sejak Aski masih 3 tahun dan aangat lengket kepadanya. Aldi pria yang lembut dan cocok bila jadi dokter. Buktinya Aski mau membuka mata saat mendengar suaranya. "Saya baru tahu, Rakasya memperkejakan Baby Sitter baru lagi setelah enam bulan tak membuka lowongan akibat insiden waktu itu." "Insiden apa, dokter?" "Pengasuhnya ditemukan tak sadarkan diri di depan rumah. Tubuhnya penuh lebam. Dan saat dia sembuh, baby sitter itu kabur dari sini. Dia belum kembali sampai sekarang." Kinar terdiam dan teringat akan ancaman Winda. Mungkin saja dia akan merasakan hal yang sama. Tak terasa mereka sudah di ambang pintu, ketika Kinar hendak membuka pintu, di depan sana sudah ada Rakasya dan Winda yang menggandeng tangannya dengan erat. "Hei, udah selesai? Aski gimana?" tanya Rakasya saat matanya melihat Aldi. "Udah turun panasnya, anak itu cuma kurang istirahat dan minum aja, Kok. Besok juga udah lari-lari lagi. Gue pamit ya, ada pasien." "Oke Bro, thaks, ya." "Okee. Yaudah, aku pamit, ya, Kinar." Kinar hanya mengangguk dan takut saat Winda menatapnya tajam karena Aldi begitu hangat dengannya. Rakasya menatap Kinar dengan sorot kesal, lalu dia berkata, "Saya merasa percuma sudah bayar kamu. Sekali lagi kamu berbuat konyol dengan sok tahu bawa-bawa kompresan ke Aski. Kamu saya pecat! Sekarang kamu pulang. Besok kembali." "Lho, kok, gak jadi dipecat? Kamu, kan, janji mau pecat dia?" Winda protes. "Kita belum ada penggantinya. Yasudah, ayo temui Aski." Kinar tak mau banyak bicara. Dia segera keluar dari sana dengan d**a yang sesak. kalau bukan demi ibu dan bapak. Dia tak mau bertahan di sini. Kinar melangkah di tepian jalan, tetapi pikirannya tak fokus sehingga dia tak sadar kalau ada mobil yang terus mengikutinya dari belakang. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD