BEB, KAMU TAHU? AKU PUNYA IDE GILA SAKING KANGENNYA SAMA KAMU. PENGEN PURA-PURA DILARIKAN KE IGD, JADI OTOMATIS KITA BISA KETEMU DI SANA TANPA TAKUT PAMALI.
Elric tersenyum tipis saat akhirnya membaca pesan dari Lika. Calon istrinya itu sudah mengirimkan pesan sejak beberapa menit lalu, tapi Elric baru sempat membacanya karena sibuk dengan segala persiapan pesta bujang yang akan digelar malam ini bersama teman-teman tongkrongannya.
Sebenarnya ini hanya pesta kecil-kecilan, suasananya pun santai dan yang terpenting teman-temannya berkumpul lengkap. Itu sebabnya tempat yang Elric pilih adalah kosan khusus pria milik keluarganya yang tak lama lagi akan menjadi miliknya. Hampir semua penghuni kosan adalah teman-temannya, makanya sangat efektif untuk menggelar pesta bujangnya di sini.
“Lika, Lika. Memangnya yang kangen kamu aja? Tentu aku juga se-kangen itu,” batin Elric. “Aku pun nggak sabar pengen kita ketemu,” lanjutnya, masih dalam hati.
Bagaimana tidak rindu, sudah seminggu mereka tidak pernah bertemu karena dilarang alias pamali, tentu saja rindu yang mereka rasakan semakin menjadi-jadi. Teleponan pun jarang lantaran sama-sama sibuk mempersiapkan acara. Namun, Elric yakin rasa rindu mereka akan sepenuhnya terbayar besok, saat mereka resmi menjadi pasangan suami-istri.
“Ada yang lihat Arda nggak?” tanya salah satu teman Elric.
“Loh, bukannya tadi dia ada di depan?” timpal yang lain. “Padahal dia yang paling semangat sama pesta malam ini, soalnya di kosan. Berasa ekslusif kita-kita aja,” lanjutnya.
“Arda sama Wisnu kali?”
“Ini Wisnu ada woy! Masa nggak kelihatan,” timpal Wisnu.
“Biarin ajalah. Gue yakin nggak lama lagi dia datang,” ucap Elric. “Mungkin dia lagi ketemuan sama pacarnya dulu.”
“Loh, lo lupa, El? Arda sekarang jomlo. Dia udah putus sama pacarnya.”
“Gue terlalu sibuk, makanya nggak tahu,” balas Elric sambil tersenyum.
“Sibuknya lo itu sibuk yang wajar, kok. Toh semuanya berakhir happy ending besok. Akhirnya lo bisa unboxing Lika. Asyik!”
Semuanya tertawa. Bahkan, beberapa dari mereka mulai membahas hal yang berbau ‘m***m’ khas obrolan para pria.
Semuanya sangat bersemangat dengan acara malam ini. Beberapa teman Elric sudah ada yang memegang gitar dan mulai menyanyikan sebuah lagu. Makanan pun jangan ditanya, mereka mulai menyantapnya sambil membicarakan banyak hal. Se-seru itu.
Sebenarnya mereka melakukan hal-hal yang biasa mereka lakukan saat nongkrong, bedanya ... malam ini mereka secara khusus merayakan Elric yang besok akan melepas masa lajangnya.
Sebagai bintang acara, Elric menyediakan makanan yang lumayan banyak, minuman beralkohol secukupnya hingga rokok berbagai merek yang membuat teman-temannya semakin bersemangat.
“Bener, Arda pasti datang. Rugi banget kalau nggak datang,” kekeh yang lain.
“Ngomong-ngomong kalian boleh minum tapi jangan sampai mabok parah, oke?” Elric mengingatkan. “Gue nggak mau kalian pada tepar besok,” sambungnya.
“Tenang aja....” Salah satu teman Elric yang hendak menjawab, spontan menghentikan kalimatnya saat ponsel di sakunya bergetar.
Suasana yang tadinya ramai kini mendadak sepi karena semua teman-teman Elric tampak sibuk dengan ponsel masing-masing, seolah sedang melihat breaking news.
Detik berikutnya, ponsel Elric ikut bergetar lantaran ada panggilan masuk. Ia langsung menggeser layar ke warna hijau untuk mengangkatnya....
“El? Elric? Lo ada di mana sekarang?” tanya Bams di seberang telepon sana. Bams adalah sahabat sekaligus tangan kanan Elric. Bisa dibilang asisten pribadi juga.
“Di kosan lah. Kenapa belum ke sini? Jangan protes kalau makanannya habis—”
“Lika, El. Lika....”
“Lika kenapa?” Elric sampai terkesiap karena nada bicara Bams terdengar panik.
“Dia dilarikan ke IGD, El. Sekarang lagi di jalan.”
“Hah? Jadi dia beneran mau pura-pura sakit supaya bisa ketemu gue? Padahal besok juga ketemu.”
“Beneran, El. Ini bukan pura-pura.”
“Dia sakit apa?” Elric mulai dilanda kepanikan. Bagaimana tidak, besok ia dan Lika menikah!
“Lika sama Arda ... gancet, El.” Bams mengatakannya dengan sangat hati-hati.
“Apa?!” Elric berharap dirinya salah dengar. Sumpah demi apa pun, rasanya seperti disambar petir jika yang didengarnya benar.
Jika saja yang bicara adalah orang lain, Elric mungkin masih bisa melakukan penyangkalan. Masalahnya yang bicara adalah Bams, seseorang yang paling ia percaya. Mana mungkin Elric bisa denial?
“Sampai sekarang mereka masih nempel, El. Makanya dilarikan ke IGD buat minta pertolongan medis,” jelas Bams. “Ini di apartemennya Lika sampai heboh banget. Kayaknya bakalan viral. Soalnya banyak yang merekam.”
Setelah itu, Elric tak mendengar kelanjutan penjelasan Bams. Ia masih berusaha mencerna semua ini. Sungguh, apa-apaan?
Masih memegang ponsel di telinganya, Elric memperhatikan sekeliling. Semua temannya kini menatap ke arahnya. Bisa dipastikan mereka sudah tahu apa yang terjadi pada Lika dan Arda.
Elric sungguh tak habis pikir mengingat besok adalah hari pernikahannya dengan sang kekasih. Saat Lika ketahuan selingkuh dengan cara yang sangat ekstrem seperti ini, mana mungkin rencana pernikahan dilanjutkan? Masalahnya adalah ... waktunya besok. Benar-benar besok!
Elric tak bisa memundurkan waktunya apalagi membatalkan pernikahannya begitu saja di saat persiapan sudah seratus persen rampung. Undangan pun sudah tersebar ke mana-mana. Ini sungguh membuat Elric gila.
“El? Lo masih dengar gue, kan?” Suara Bams kembali terdengar.
“Masih,” jawab Elric yang kini mulai tersadar, meski kepalanya saat ini sangat berisik. “Kayaknya lo bakalan lembur malam ini, Bams.”
“Gue lagi ngikutin mobil ambulans yang bawa Lika sama Arda, El. Lo mau ke sini?”
“Ngapain lo ngikutin mereka? Biarin aja,” jawab Elric. “Gue juga nggak bakalan datang ke sana.”
“Terus besok gimana, El? Semuanya udah siap, undangan udah tersebar ke mana-mana, venue juga udah didekorasi sesuai yang lo mau, catering dan....”
“Lo kira gue bakalan tetep mau nikah sama Lika setelah semua ini terjadi?”
“Te-terus ... lo mau batalin pernikahannya?”
“Pernikahan akan tetap dilaksanakan, tapi gue nggak mau sama Lika. Makanya gue bilang lo bakal lembur malam ini.”
“Hah? Gimana, gimana?”
“Tolong cari mempelai perempuan yang baru, buat menggantikan Lika.”
Elric kembali berbicara, “Harus ketemu!”
“I-iya, El. Gue bakal coba cari.”
“Inget, harus ketemu.”
Setelah sambungan telepon terputus, Elric meminta semua teman-temannya membubarkan diri.
“Bubar, semuanyaaa! Jangan lupa bawa semua yang ada di meja! Singkirin semua sebelum gue lempar!” Elric setengah berteriak. Pria itu bahkan menendang kursi kosong di dekatnya.
Teman-teman Elric paham kalau pria itu sedang ingin sendiri. Lagi pula, siapa yang tidak ingin mengamuk saat mengetahui calon istri selingkuh padahal besok adalah hari H pernikahan?
Pesta bujang pun mustahil dilanjutkan dalam situasi begini sehingga mereka semua mulai membubarkan diri setelah mengambil segala yang ada di meja hingga bersih. Jika tidak diambil, bisa jadi Elric akan membuang itu semua.
Kacau, semuanya kacau. Tapi lebih kacau lagi kalau Elric gagal menemukan mempelai pengganti Lika.
Berhasilkah Elric menemukan mempelai pengganti untuk ia nikahi besok?