"Namanya Ziva Naomy, baru 22 tahun. Dijamin perawan ting-ting," ucap Arum, ibu tiri Ziva. "Cukup bayar dua puluh lima juta, Tuan Yudi bisa membawanya ke mana pun Tuan mau," lanjutnya, mencoba negosiasi.
"Saya bayar lima puluh juta, tapi kalau misalnya dia tidak perawan ... saya mau uang kembali. Seratus persen."
"Gimana kalau tes dulu saja, Tuan? Biar sama-sama enak," tawar Arum. "Saya siapkan kamar yang nyaman di rumah ini kalau Tuan mau coba. Kebetulan sebentar lagi Ziva pulang kerja."
Deg! Dari sekian banyak hal buruk yang Arum lakukan terhadapnya selama ini, Ziva rasa ini yang paling jauh. Ibu tirinya itu pasti sudah kehilangan kewarasan sampai-sampai tega menjualnya dengan harga yang sangat murah.
Murah? Ya, Ziva memang tak punya uang sebanyak dua puluh lima juta, tapi menurutnya itu tidak sebanding dengan harga dirinya. Untungnya Ziva cukup peka dengan situasi sehingga saat melihat hal yang menurutnya janggal, wanita itu tidak langsung masuk ke rumah begitu saja, melainkan menyelidiki dulu tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Ziva yang baru pulang kerja, langsung merasa janggal saat mendapati mobil mewah terparkir di depan rumah peninggalan mendiang ayahnya yang kini dikuasai ibu tirinya.
Hal yang paling Ziva syukuri adalah rumah rumah subsidi tipe 21 yang mulai rusak itu dibiarkan tidak berpagar selama beberapa tahun terakhir sehingga Ziva bisa masuk tanpa menciptakan suara.
Jujur, Ziva tidak tahu siapa yang sedang berkunjung ke rumahnya. Itu sebabnya ia memutuskan mengintip dan sedikit menguping dulu. Dan ternyata Ziva tidak salah mengambil keputusan karena ia akhirnya tahu siapa yang datang serta apa tujuannya.
Mendengar dirinya hendak dijual pada pria kaya bernama Tuan Yudi, spontan tubuh Ziva gemetar hebat. Ia sangat takut. Tanpa pikir panjang, Ziva ingin secepatnya kabur dari rumah ini. Ziva yakin sebaiknya tidak pulang malam ini atau bahkan jangan pernah pulang selamanya.
Ziva bergerak mundur, bersiap untuk kabur. Namun, langkahnya yang buru-buru dan sebisa mungkin tidak mengeluarkan suara itu malah kurang hati-hati sehingga menginjak botol kosong bekas air mineral. KREKKK!
Mati aku....
Ziva tanpa ragu bergegas mengambil langkah seribu. Tepat saat dirinya meninggalkan area depan rumahnya yang sempit, terdengar teriakan ibu tirinya.
“Itu Ziva!” ucap Arum. “Ziva, sini! Kamu mau ke mana?!” lanjutnya, masih berteriak.
Ziva tidak peduli. Sekarang yang terpenting baginya adalah berlari sekuat yang ia bisa. Sebelum benar-benar menjauh dari rumah yang penuh kenangan baginya itu, samar-samar Ziva mendengar teriakan seorang pria yang menyuruh anak buahnya untuk mengejarnya. Benar saja, saat Ziva menoleh ke belakang, tampak seorang pria berusaha mengejarnya.
Oh tidak, bagaimana ini?
Kalau tertangkap, Ziva akan merelakan hal berharga yang selama 22 tahun ini dijaganya. Hanya senilai 25 juta yang bukan untuknya, melainkan untuk ibu tirinya. Ziva jelas tidak akan menyerah.
“Hei, kamu! Tunggu! Jangan lari!”
Interupsi tersebut justru membuat adrenalin Ziva terpacu sehingga berlari semakin kencang. Rasa takutnya kini menjadi energi dan Ziva tidak akan pernah menyerah. Namun, yang mengejar Ziva pun seakan tidak mau kalah. Ziva sudah hampir tertangkap tepat saat mobil pick-up dengan bak terbuka secara kebetulan berhenti.
Ziva pun naik lalu terduduk lesu. Jantungnya masih berdetak sangat cepat saat mobilnya mulai melaju. Terlebih saat ia melihat pria yang mengejarnya tampak berhenti. Mungkin menyerah atau bisa jadi kesal karena gagal menangkapnya. Siap-siap saja kena marah oleh Tuan-nya.
Ziva belum sempat tersenyum, tapi rasa paniknya kembali datang saat melihat sebuah mobil berhenti di samping pria yang mengejarnya. Pria itu masuk ke mobil lalu mobil pun melaju ke arahnya.
Ya ampun, ternyata chapter kejar-kejaran ini belum berakhir!
Meskipun mobil yang Ziva naiki sudah agak jauh karena lampu merah menyala tepat saat mobil yang dinaikinya lolos sehingga mobil yang mengejarnya pasti akan berhenti tertahan di lampu merah, tapi tetap saja masih ada kemungkinan ia tertangkap. Ziva tidak mau senang dulu.
Makanya saat tiba di tempat yang cukup ramai, Ziva turun dari mobil yang telah menyelamatkannya itu. Dari kejauhan, mobil yang mengejarnya semakin mendekat sehingga Ziva segera mencari tempat yang aman untuk sembunyi.
Ziva sempat ragu, amankah jika masuk ke kosan khusus pria? Namun, Ziva meyakinkan diri kalau dirinya hanya akan bersembunyi di sekitar halamannya saja.
Gerbangnya terbuka lebar entah ada apa ramai-ramai, hal itu menjadi celah bagi Ziva untuk masuk.
“Hei, siapa kamu?” tanya penjaga kosan. Itu adalah pertanyaan yang wajar mengingat Ziva sangat mencurigakan.
“Permisi, saya sedang mencari seorang wanita. Saya lihat dia berlari ke arah sini. Tolong izinkan saya masuk untuk menjemputnya.” Suara seorang pria samar-samar terdengar.
Ziva jadi semakin deg-degan. Ia tidak menyangka orang yang mengejarnya semudah ini bisa menemukannya. Padahal Ziva pikir tindakan nekatnya masuk ke sini akan membuahkan hasil, ternyata ending-nya ketahuan juga.
Kalau begini caranya, haruskah Ziva pasrah tertangkap? Bisakah ia berontak dengan mengatakan pria yang mengejarnya itu penculik atau orang jahat? Selain itu, apakah penjaga kosan ada kemungkinan untuk berkata sebaliknya—tidak ada wanita yang masuk sekalipun curiga saat melihat Ziva masuk tanpa izin. Entahlah, yang pasti Ziva kini mulai pasrah.
“Saya memang melihat seorang perempuan berlari ke arah sini.”
Sial! Rupanya penjaga kosan memberi tahu orang yang mengejar Ziva. Sebagian diri Ziva berkata pasrah karena sudah pasti sebentar lagi dirinya tertangkap. Hanya saja, sisanya lagi berkata untuk tidak menyerah. Di situlah sebuah harapan kembali datang.
Saat Ziva melihat seorang pria muncul dari arah samping kosan, Ziva langsung berlari ke arah pria itu. Tanpa ragu, Ziva memeluk pria yang bahkan tidak dikenalnya itu. Ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri yang terlintas di kepala Ziva. Jika upayanya masih saja gagal, setidaknya Ziva tidak menyesal telah berkata tidak untuk kepasrahan.
“Kamu siapa?” tanya pria itu.
“Aku Ziva. Aku kabur karena ibu tiriku mau menjualku dan sekarang aku lagi dikejar-kejar. Tolong aku,” jelas Ziva, nada bicaranya agar bergetar lantaran ketakutan.
“Nah itu perempuan yang tiba-tiba masuk ke sini,” ucap penjaga kosan.
“Benar. Itu orang yang saya cari!”
Tubuh Ziva semakin gemetar mendengarnya.
“Ta-tapi kenapa bersama Mas Elric?” Penjaga kosan terlihat heran.
Tanpa ba-bi-bu, entah keberanian dari mana Ziva tiba-tiba mendorong Elric hingga tubuh pria itu menempel pada dinding pembatas kosan dengan bangunan sebelah. Elric sontak kebingungan, refleks menjauh karena tidak tahu maksud wanita asing ini.
Mereka sempat bertatapan sejenak, sampai akhirnya Ziva berjinjit sebelum akhirnya menyatukan bibirnya pada Elric. Dalam hitungan detik, keduanya sudah terjebak dalam sebuah ciuman.
“Wah, maaf maaf Mas. Perempuan itu kayaknya calon istrinya Mas Elric,” ucap penjaga kosan itu. “Besok mereka nikah soalnya.”
“Bukan. Itu perempuan yang saya cari. Dia kabur dan—”
“Ngapain kalian di situ?” tanya Elric, di sela ciumannya dengan Ziva. Ia bertanya pada penjaga kosan dan orang yang mengejar Ziva. "Mau terus menonton?" sambungnya.
“Mas Elric, maaf. Permisi, sekali lagi maaf.” Penjaga kosan itu bersiap menyeret orang yang mengejar Ziva agar segera pergi.
Namun, pria tersebut bersikeras kalau wanita yang berciuman dengan Elric adalah orang yang ia cari. Perdebatan sempat terjadi, hingga akhirnya sang penjaga kosan tanpa ragu memiting kepala pria itu, membuatnya tak berkutik lagi.
Selagi penjaga kosan membereskan itu, ciuman antara Ziva dan Elric semakin hot dan menjadi-jadi. Mereka sama-sama memejamkan mata dan sangat menikmatinya, tanpa peduli kalau keduanya tidak saling mengenal satu sama lain.
Satu hal yang pasti, Ziva yakin setelah ini mereka tidak akan bertemu lagi.
Tidak akan.
Padahal, ciuman panas yang mereka lakukan malam ini adalah awal dari segalanya.