Bab 4 - Pengantin Pengganti

1400 Words
Setelah pesta bujang yang kacau, teman-teman Elric masih sibuk membubarkan diri dan tidak lupa mengangkut segala hidangan, rokok, miras dan semuanya yang telah Elric persiapkan. Jika tidak, Elric akan membuangnya. Makanya mereka cepat-cepat membereskannya. Tak satu pun dari mereka yang berani mendekati Elric meski sebenarnya sangat ingin menghibur atau sekadar memberikan dukungan. Namun, pada situasi begini, Elric hanya butuh sendiri. Selagi teman-temannya membereskan segala yang telah dipersiapkan dan sedikit demi sedikit di antara mereka mulai membubarkan diri, Elric yang belum punya energi untuk meninggalkan tempat ini, memutuskan menyendiri di halaman samping kosan. Selama beberapa saat, Elric duduk merenung sambil memikirkan bagaimana jika dirinya gagal menemukan pengganti Lika? Sungguh, Elric tidak masalah gagal menikah, tapi yang jadi masalah adalah orangtuanya. Nama keluarga besarnya dipertaruhkan di sini. GUE NGGAK MAU TAHU. LO HARUS TEMUKAN CEWEK YANG BISA GUE NIKAHIN BESOK! Itu adalah pesan yang baru saja Elric kirimkan pada Bams. Elric kemudian memijat kepalanya. Sungguh, dari sekian banyak hal tak terduga ... inilah yang paling sinting. Elric yang kini sudah siap untuk meninggalkan tempat ini, mulai beranjak dari duduknya. Saat kakinya baru maju beberapa langkah, Elric dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita. Ya, wanita itu menghampirinya. Sampai akhirnya, ciuman itu terjadi. Ciuman yang entah kenapa Elric nikmati, padahal ia tidak mengenal wanita itu. Namun, meski tak mengenal Ziva, sedikitnya Elric tahu kalau wanita itu sangat terdesak lantaran nyaris dijual oleh ibu tirinya. Elric yang merasa iba, akhirnya membiarkan Ziva menciumnya. Jujur, ciuman mereka tadi sedikit mengalihkan pria itu dari masalah besar yang sedang menimpanya. Setelah ciuman panas yang menggebu-gebu, dua orang yang sebenarnya tak saling mengenal itu saat ini sedang duduk berdampingan di dalam mobil. Elric duduk di kursi kemudi sambil mulai menjalankan mesin mobilnya, sedangkan Ziva hanya duduk sambil menunduk. Keadaan belum aman sepenuhnya sehingga wanita itu memutuskan mengikuti pria penolongnya. Ya, bagi Ziva, malam ini Elric seakan menjelma menjadi malaikat penolong baginya. Andai tidak ada Elric, pasti Ziva sudah tertangkap. Lagi pula Ziva mau pergi ke mana? Ini adalah kabur paling tidak direncanakan. Ziva sama sekali tidak membawa pakaian selain yang dipakainya. Saat ini, Ziva hanya membawa tas kerjanya yang di dalamnya terdapat ponsel layar retaknya, dompet dengan uang tak seberapa di dalamnya. Kartu ATM? Dipegang oleh ibu tirinya. Pulang ke rumah? Itu tidak mungkin. Percuma Ziva mati-matian kabur kalau ending-nya tetap kembali ke rumah. Ziva tak mau dijual pada pria tua! Jadi, pria di sampingnya saat ini satu-satunya harapan Ziva. “Semoga dia baik, minimal bisa ngasih pinjaman uang buat membantuku kabur sejauh mungkin,” batin wanita itu. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, sejak tadi di antara mereka sama sekali tidak ada pembicaraan lagi sehingga suasana menjadi hening. “Tadi nama kamu siapa?” tanya Elric, memecah keheningan di antara mereka. Ziva spontan terkesiap. “Na-namaku Ziva.” “Saya Elric.” “Makasih ya, Mas Elric. Aku tahu tindakanku tadi nggak sopan dan lancang banget. Aku terpaksa melakukan itu supaya nggak tertangkap,” ucap Ziva yang sedari tadi ingin mengatakannya. “Jujur, saya kaget. Tapi nggak apa-apa, kalau itu bisa bikin kamu aman.” “Kenyataannya memang apa yang kita lakukan tadi bikin aku menjadi aman. Makanya aku berterima kasih banget. Mas Elric ... ibarat malaikat penolongku malam ini.” Bersamaan dengan itu, Elric berbelok ke sebuah minimarket yang buka 24 jam. Ia memarkirkan mobilnya lalu membuka sabuk pengamannya. “Tunggu sebentar,” ucap pria itu. Tanpa bertanya lebih jauh, Ziva pun mengangguk. Tidak sampai lima menit, Elric kembali sambil membawa air mineral botol serta beberapa roti dan camilan. “Ini buat kamu. Pasti haus banget, entah kamu udah berlari sejauh apa,” ucap Elric yang entah kenapa ... membuat Ziva seakan meleleh. Apa karena Ziva hampir tidak pernah mendapatkan perhatian seperti ini? Sampai-sampai hal sederhana sekadar ada yang membelikan makanan dan minuman saja, sudah cukup untuk membuat Ziva menangis sejadi-jadinya. Terlebih Ziva memang sangat haus. Ia juga belum makan malam. “Lapar dan haus yang aku rasakan, nyaris kalah oleh rasa takutku. Takut tertangkap,” ucap Ziva di sela tangisnya. Elric kemudian menyodorkan tisu, membiarkan Ziva mengambilnya sendiri untuk menghapus air matanya. Elric sadar, bukan hanya dirinya yang punya masalah berat. Wanita di sampingnya juga punya masalah yang tak kalah berat. Setelah Ziva jauh lebih tenang, Elric kembali menjalankan mesin mobilnya. Jalanan malam yang tidak terlalu ramai, memudahkan Elric untuk keluar dari area minimarket lalu berbaur dengan kendaraan-kendaraan lain di jalan raya. “Makanlah, pelan-pelan aja. Anggap buat ganjal perut sementara dulu. Kalau masih lapar, saya bisa ajak kamu ke restoran buat cari makanan yang lebih mengenyangkan.” Ziva menggeleng. “Ini udah cukup, kok. Aku harusnya berterima kasih lagi. Makasih ya, Mas.” Jeda selama beberapa saat, Elric fokus mengemudi. Ia membiarkan Ziva menyantap rotinya dengan tenang. Selesai Ziva menyantap rotinya, wanita itu kembali berterima kasih. “Bisakah berhenti berterima kasih? Memangnya kamu mau berapa kali bilang makasih?” tanya Elric. “Aku cuma nggak nyangka sekaligus bersyukur dipertemukan dengan orang sebaik Mas Elric. Entah gimana nasibku kalau Mas Elric menyerahkanku pada pria yang mengejarku,” jelas Ziva. “Tapi sebaliknya, Mas Elric justru memberiku makan dan minum tepat saat aku lapar dan haus.” “Tadi kamu bilang apa? Kalau saya nggak salah ingat, kamu dijual ibu tirimu?” tanya Elric kemudian. “Ya, dan pria yang mengejarku tadi adalah anak buah dari pria tua yang mau membeliku dari ibu tiriku.” “Gilaaa. Ibu tiri kamu nggak waras, ya?” tanya Elric. “Serius, saya kira saya aja yang punya masalah berat. Ternyata kamu juga. Terus apa rencana kamu setelah ini?” “Aku juga lagi bingung, Mas. Aku nggak mau pulang, sama aja dengan menyerahkan diri. Tapi aku juga terlalu miskin untuk kabur,” jelas Ziva. “Bolehkah aku bersikap nggak tahu diri?” Sambil tetap fokus menatap jalanan, Elric bertanya, “Maksud kamu?” “Setelah diselamatkan dari pria yang mengejarku, lalu dikasih makanan dan minuman ... dengan nggak tahu dirinya, aku mau minta uang sama Mas Elric. Ah, bukan minta. Tapi pinjam. Tolong pinjamkan aku uang buat kabur sejauh mungkin. Aku akan kembalikan uangnya setelah aku hidup layak di tempat baru sehingga bisa membayar utang.” “Kalau boleh tahu, ibu tiri kamu menjualmu dengan harga berapa?” “Dua puluh lima juta,” jawab Ziva. “Keterlaluan, kan? Aku sebenarnya nggak punya sepuluh persennya dari uang segitu, tapi tetap aja ... bisa-bisanya dia tega menjualku se-murah itu.” “Kalau saya kasih uang segitu buat kamu ... rencananya mau kabur ke mana?” tanya Elric lagi. “Ke mana aja, yang penting tempatnya aman dan nyaman,” jawab Ziva. “Mas Elric beneran mau ngasih aku dua puluh lima juta?” tanyanya, penuh harap. “Gimana kalau saya bisa memberikan sepuluh kali lipat dari dua puluh lima juta atau bahkan lebih? Bukan hanya itu, saya bisa memberimu tempat yang aman dan nyaman. Saya akan memastikan ibu tirimu nggak mengusik hidupmu lagi, apa kamu mau?” Spontan Ziva terkejut. “Mas Elric bercanda, kan?” “Saya serius. Saya bisa memberimu uang sekaligus rasa aman. Saya bisa memberikan segalanya untukmu.” “Tolong jangan bercanda dengan wajah se-serius itu.” Ziva masih bersikeras kalau Elric memang bercanda. Bersamaan dengan itu, Elric menepikan mobilnya di tempat aman. Posisi duduknya kemudian menyerong ke arah Ziva. Ziva kembali berbicara, “Akunya juga, sih, nggak tahu malu. Udah ditolongin, malah pinjam uang—” “Saya serius. Saya serius. Saya serius. Kamu beneran nggak percaya?” “Siapa pun nggak bakal ada yang percaya.” “Sekarang jangan bahas percaya atau nggak percaya dulu deh. Kamu jawab dulu aja pertanyaan saya yang tadi ... kalau saya bisa memberimu uang, rasa aman, tempat tinggal yang nyaman serta segala yang kamu inginkan, apa kamu mau?” Ziva terdiam selama beberapa saat, tampak berpikir. “Bohong kalau aku bilang nggak mau. Jelas aku mau. Masalahnya adalah, kalaupun Mas Elric serius mau memberikan semua itu ... pasti nggak cuma-cuma, kan?” Semua orang pun tahu bahwa tidak ada yang gratis di dunia ini. “Tentu. Kamu hanya perlu melakukan satu hal untuk saya.” Tuh kan! “Apa itu? Apa yang harus aku lakukan?” Setidaknya Ziva perlu mendengar apa yang Elric inginkan darinya. Siapa tahu saja mudah untuk dilakukan. Jika mudah, tanpa ragu wanita itu akan bilang iya. Namun, jika sulit ia akan mencoba bernegosiasi. “Menikahlah dengan saya.” “APAAA?!” Ziva kaget se-kaget-kagetnya. “Kalau kamu mau, besok kita menikah.” Hah?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD