Awalnya Elric tidak pernah kepikiran untuk mengajak Ziva menikah. Ia murni ingin menolong wanita yang jelas sedang sangat terdesak. Namun, seiring obrolan mereka yang terus bergulir, Elric menyadari satu hal bahwa ... mereka saling membutuhkan satu sama lain.
Ya, mereka bisa saling menyelamatkan. Elric bisa menyelamatkan Ziva dari perbuatan gila ibu tirinya. Sebaliknya, Ziva bisa menyelamatkan rencana pernikahan Elric yang terancam batal lantaran belum menemukan mempelai pengganti Lika.
Itu sebabnya Elric langsung to the point mengajak Ziva untuk menikah dengannya. Elric juga bisa menjamin keamanan dan kenyamanan Ziva jika wanita itu bersedia menjadi istrinya.
Sementara itu, Ziva memang tadi samar-samar mendengar pria penjaga kosan mengenali Elric dan mengira pria itu sedang berduaan dengan calon istrinya. Padahal bukan. Tunggu, bahkan penjaga kosan mengatakan bahwa pernikahan Elric akan dilangsungkan besok. Dan barusan Elric juga mengajaknya menikah besok. Apa itu artinya ajakan Elric barusan bukanlah lelucon?
“Kalau aku bilang Mas Elric lagi bercanda, pasti bakal bersikeras bilang serius seperti tadi. Tapi siapa pun bakal sepakat kalau ucapan Mas Elric nggak masuk akal. Menikah? Mas Elric mengajakku menikah padahal ini pertama kalinya kita bertemu?”
Ziva melanjutkan, “Aku heran, Mas Elric mabuk? Atau kerasukan?”
“Saya nggak mabuk apalagi kerasukan. Saya cuma lagi frustrasi,” jawab Elric. “Besok saya menikah dan semua persiapan udah seratus persen. Seharusnya malam ini pesta bujang di kosan tadi berjalan lancar, tapi nyatanya apa? Semuanya kacau.”
Ziva masih terdiam, berusaha mencerna arah pembicaraan Elric. Apa gara-gara Ziva datang dan menciumnya?
“Tunggu, jangan bilang gara-gara aku ... Mas Elric dikira selingkuh?”
Elric menggeleng. “Ini nggak ada hubungannya sama kamu,” tegasnya.
“Te-terus?”
“Coba kamu cek berita viral yang keluar malam ini. Saya yakin udah menyebar beritanya sekalipun saya bukan artis.”
Selama beberapa saat, Ziva merogoh ponselnya dari dalam tas. Banyak sekali pesan berantai dan panggilan tak terjawab dari ibu tirinya. Untungnya ponsel Ziva di-silent. Hanya saja, bukan notifikasi dari ibu tirinya yang akan menjadi fokus Ziva sekarang.
Ia kemudian membuka media sosial di mana unggahan akun gosip terbesar negeri ini langsung muncul di berandanya paling atas.
VIRAL! PASANGAN MES*M DILARIKAN KE RS DIDUGA GAN*ET! Selingkuh dulu sebelum besok nikah sama pria lain.
Dalam unggahan yang belum satu jam itu, sudah mendapatkan puluhan ribu like dan belasan ribu komentar. Dan akan terus bertambah setiap detiknya.
“Yang di berita itu ... calon istri saya. Dia selingkuh dengan teman saya. Konyolnya, saya baru tahu malam ini padahal kami nikahnya besok,” jelas Elric. “Lebih gilanya, saya tahunya dengan cara seperti ini. Bikin malu aja kalau sampai netizen berhasil mendapatkan identitas mereka karena pasti berimbas ke saya juga. Dikulik semuanya.”
Ziva sampai menutup mulutnya lantaran terkejut.
“Saya nggak bisa membatalkan acara yang telanjur dipersiapkan dengan matang. Orangtua dan keluarga saya pasti akan sangat malu. Makanya saya sedang mencari mempelai wanita yang akan menggantikan Lika. Dan secara ajaib ... kamu tiba-tiba muncul, seolah Tuhan mengirimkanmu untuk menyelamatkan saya dari kekacauan ini.”
Ziva masih tak bisa berkata-kata.
“Saya tahu kita baru pertama bertemu malam ini, tapi pada dasarnya kita saling membutuhkan satu sama lain. Kalau kamu bersedia menikah dengan saya, dijamin kamu aman dan ibu tirimu nggak akan mengusik hidupmu lagi. Saya akan melindungi kamu.”
Menikah? Ziva boro-boro pernah kepikiran soal ini. Pacar saja tak punya. Namun, sekarang pria yang baru ditemuinya malam ini ... mendadak mengajaknya menikah? Ini terdengar gila, tapi bohong kalau Ziva tidak tergiur dengan jaminan rasa aman yang pria itu tawarkan.
Ya, pada saat-saat begini, Ziva bukan sekadar membutuhkan uang, melainkan rasa aman juga.
“Ka-kalau aku bersedia ... selanjutnya apa?” tanya Ziva. “Aku bertanya untuk memastikan, bukan berarti aku bersedia,” lanjutnya.
“Seperti yang saya katakan tadi, saya akan memberimu segalanya—uang, tempat tinggal, dan yang pasti rasa aman serta kenyamanan. Saya akan memberikan segalanya kecuali satu hal ... cinta. Saya nggak bisa memberikan itu.”
Elric melanjutkan, “Sebelum kamu salah paham, saya akan tekankan dulu tujuan kita menikah hanya untuk menyelamatkan satu sama lain. Bukan untuk membina rumah tangga. Jadi, bisa dipastikan nggak ada cinta dan kasih sayang. Tapi saya jamin kamu aman bersama saya karena saya akan melindungimu dari ibu tirimu atau orang yang tadi berusaha menangkapmu.”
“Semacam marriage with benefits?” tebak Ziva.
“Nah, benar. Rupanya kamu cepat paham. Saya perlu menjaga reputasi keluarga saya dengan tetap melaksanakan pernikahan besok dan kamu butuh melarikan diri dari ibu tirimu. Sederhananya, pernikahan ini akan sama-sama menguntungkan kita berdua.”
“Setelah menikah, kita akan tinggal bersama?”
“Tentu saja iya. Kita akan tinggal bersama dan saya pastikan kita nggak akan melakukan hubungan badan maupun kontak fisik selayaknya pasangan suami istri beneran,” jelas Elric. “Secara hukum kita suami-istri, tapi kenyataannya ... kita hanyalah dua orang yang saling mengambil untung dari sebuah pernikahan.”
“Enggak mungkin selamanya, kan?” tanya Ziva kemudian.
“Tentu nggak. Pernikahan kita akan berakhir dengan perceraian. Setelah saya pertimbangkan secara singkat, durasi pernikahan kita sebaiknya antara enam bulan hingga satu tahun. Setelah itu, kita akan bercerai dan menjalani hidup masing-masing,” jelas Elric.
Pria itu melanjutkan, “Jangan khawatir, saat bercerai ... saya akan memberimu kompensasi yang bisa kamu gunakan untuk melanjutkan hidupmu. Anggap aja tanda terima kasih karena kamu bersedia bekerja sama dengan saya.”
Bersamaan dengan itu, ponsel Elric bergetar lantaran ada panggilan masuk dari Bams. Bams pasti akan memberi kabar tentang wanita yang akan menjadi pengganti Lika. Berhasilkan pria itu mendapatkannya?
“Halo Bams?” tanya Elric, sambil menatap ke arah Ziva yang sedang menatap ke arah luar jendela. Mungkin wanita itu sedang mempertimbangkan tawaran Elric atau bahkan sudah punya jawabannya.
“El, gue—”
“Gimana? Lo udah menemukan pengganti Lika buat besok?”
“Sori El, gue masih cari. Kalaupun ada, gue ragu bakalan cocok nggak sama lo,” jawab Bams. “Tapi sebagai bahan pertimbangan, gue bakal coba kirim beberapa kandidat—”
“Udah, cukup Bams. Lo nggak perlu nyari lagi.”
“Hah?”
“Karena gue udah menemukan sendiri kandidatnya.”
“Lo serius?”
“Gue tutup dulu. Nanti gue telepon lagi dan lo bakalan lebih sibuk mengurus dokumen dan segala yang berkaitan dengan Lika ... akan diganti dengan Ziva.” Setelah itu, Elric memutus sambungan teleponnya dengan Bams.
Meletakkan ponselnya di atas dasbor, Elric kemudian menatap Ziva yang kini menatap ke arahnya sehingga mereka saling menatap satu sama lain.
“Ziva, kamu bersedia menikah dengan saya, kan? Saya butuh jawaban kamu sekarang.”
“Normalnya kalimat yang Mas Elric barusan dikatakan sambil membawa cincin, tapi berhubung ini bukan lamaran yang normal ... kalau gitu mari bersalaman.” Ziva mengulurkan tangannya, mengajak Elric berjabat tangan. “Aku bersedia menikah dengan Mas Elric besok.”
Ya, benar-benar besok. Se-mendadak itu, bukan?
Elric tersenyum lalu membalas uluran tangan Ziva. “Saya akan memastikan kita berdua sama-sama nggak menyesal pada pernikahan dengan perjanjian yang kita sepakati.”
***
Keesokan harinya....
Tadi malam, Ziva dan Elric bertemu untuk pertama kalinya. Namun, hari ini mereka berjalan beriringan sebagai pasangan pengantin yang terlihat sangat bahagia.
Ziva sangat cantik mengenakan gaun putih satin yang seharusnya Lika kenakan, tapi syukurlah sangat pas di tubuhnya. Sedangkan Elric mengenakan setelan tuksedo hitam yang rapi, memandang Ziva dengan tatapan yang penuh arti.
Di sekeliling mereka, para tamu mungkin ada yang merasa janggal karena pengantin wanitanya tidak seperti dalam foto undangan ... tapi mereka tetap menyaksikan seluruh prosesi tanpa menciptakan kegaduhan. Mereka justru dengan tenang menyaksikan momen sakral yang akan segera mengikat dua insan dalam sebuah janji suci.
Sampai pada akhirnya, Ziva dan Elric yang belum genap dua puluh empat jam saling mengenal ... kini telah resmi sebagai pasangan suami-istri.