Waktu menunjukkan pukul setengah enam sore saat Ziva duduk berdampingan dengan suaminya di kursi belakang sebuah mobil yang dikemudikan Bams. Ya, mulai hari ini ia telah resmi menjadi istri Elric. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, meninggalkan area hotel di mana menjadi tempat resepsi pernikahan mereka digelar hari ini.
Selesai acara, Ziva dan Elric memang langsung berganti pakaian dan di sinilah mereka sekarang. Mobil terus melaju dan tidak lama lagi mereka akan tiba di tempat tujuan.
“Sebenernya kita mau ke mana?” tanya Ziva pada pria yang kini telah resmi menjadi suaminya itu.
Elric menoleh pada istrinya. “Coba perhatikan jalannya. Saya yakin kamu tahu jawabannya.”
Selama beberapa saat, Ziva menoleh ke arah luar jendela untuk memperhatikan jalanan yang sedang mereka lalui. Sampai kemudian, wanita membelalak matanya lantaran tidak menyangka.
“I-ini mau ke rumahku, ya?” Tentu saja Ziva takut. Ia telah mati-matian menghindari ibu tirinya dan sekarang ia mau pulang begitu saja?
“Ya. Saya akan memenuhi janji pertama saya dalam kesepakatan kita,” jawab Elric. “Saya akan memastikan kamu aman dan ibu tirimu ... nggak akan berani mengusik kehidupanmu lagi. Jadi jangan takut,” sambungnya yang menyadari Ziva terlihat cemas.
“Anggap aja ini terakhir kalinya kamu bertemu ibu tirimu,” tambah Elric.
“Gi-gimana kalau orang yang semalam mengejarku masih di sana? Aku pikir mereka punya senjata.”
“Semalam Bams ke rumahmu dan nggak ada siapa-siapa. Orang yang mau membelimu pasti udah pulang,” jawab Elric.
Ziva mengernyit. “Bams?”
“Saya belum memperkenalkan kalian, ya? Kenalin, pria yang sekarang sedang mengemudi adalah sahabat yang sangat saya percaya. Selain sahabat, dia juga merangkap sebagai asisten pribadi saya.”
“Ah, aku ingat. Yang semalam teleponan sama Mas Elric saat kita bicara di mobil.”
“Benar. Kamu ingat rupanya,” jawab Elric. “Dia yang paling sibuk demi kelancaran acara kita hari ini.”
Setelah pernikahan kontrak disepakati, tadi malam Elric memang meminta Ziva menyebutkan alamat rumahnya. Rupanya Elric menyuruh Bams untuk datang ke sana. Pantas saja Elric bisa mendapatkan segala dokumen yang diperlukan untuk pernikahan dadakan mereka.
“Sebentar, apa yang Bams lakukan sampai ibu tiriku bersedia memberikan segala yang dibutuhkan?” tanya Ziva kemudian. “Ah, maksudnya ... berapa yang ibu tiriku dapatkan dari ini?” Wanita itu meralat pertanyaannya karena Ziva yakin pasti ini berkaitan dengan uang.
“Berapa, Bams? Kasih tahu Ziva,” ucap Elric.
“Dia setuju pas saya sodorkan lima juta secara cash. Ya, dia langsung setuju dengan ekspresi yang semringah. Padahal saya bisa berikan penawaran lebih dari itu,” jelas Bams. “Tapi seharusnya nggak aneh, dia itu terlihat sedang butuh uang. Selain itu, dia mata duitan.”
“Memang benar. Ibu tiriku mata duitan dan selalu butuh uang karena terlilit utang. Berapa pun yang dia miliki, selalu nggak pernah merasa cukup.”
“Dan hari ini kamu akan terlepas darinya. Selamanya,” tegas Elric.
Kata-kata Elric sangat menenangkan. Ziva tak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya. Sejauh ini tidak pernah ada yang menjamin keamanan Ziva seperti yang Elric lakukan. Bahkan, mendiang ayah Ziva sendiri tak sampai begini. Jadi, bisa dibilang Elric adalah yang pertama kali menyelamatkannya dengan sungguh-sungguh.
Tak terasa, mobil yang Bams kemudikan sudah tiba di depan rumah yang seperti neraka bagi Ziva. Rumah yang Ziva pikir tak akan ia injak lagi setelah memutuskan kabur sejauh mungkin. Bahkan, di halaman rumah yang sempit itu, masih tergeletak botol bekas yang tadi malam tak sengaja Ziva injak sehingga keberadaannya ketahuan.
“Ya ampun, yang saya tunggu-tunggu akhirnya datang juga,” ucap Arum menyambut kedatangan mereka.
Sikap Arum sungguh berbeda seratus delapan puluh derajat dari biasanya. Padahal, biasanya wanita paruh baya itu bersikap kasar pada Ziva, tapi sekarang cara bicaranya pun penuh hormat.
“Ayo masuk-masuk. Silakan duduk,” tambah Arum yang kemudian menatap Ziva. “Sayang, maafkan ibu yang semalam keterlaluan banget. Ibu memang gila, bisa-bisanya ibu berniat menjual keperawananmu kepada pria tua. Sebagai permintaan maaf, ibu buatkan kue kesukaan kamu—”
Sayang? Sebelumnya Ziva tak pernah mendengar panggilan itu keluar dari mulut Arum. Panggilan sayang jelas mustahil, tapi sekarang Ziva mendengarnya sendiri panggilan tersebut disebutkan untuknya.
“Enggak perlu basa-basi. Kami nggak akan lama di sini,” ucap Elric tegas. Pria itu kemudian memberi aba-aba pada Bams untuk mengeluarkan sebuah dokumen.
Ziva malah tidak tahu kalau Bams sejak turun dari mobil membawa tas dan dokumen yang saat ini sudah diletakkan di meja.
“Setelah Anda menandatangani ini ... artinya Anda telah sepakat nggak akan mengusik hidup Ziva lagi. Ziva resmi memutus hubungan apa pun dengan Anda. Jadi, mulai hari ini kalian akan berhenti saling mengenal,” tegas Elric.
“Tentu iya. Saya nggak akan mengganggu Ziva lagi. Tapi uang yang semalam Tuan berbaju biru janjikan ... benarkah saya akan mendapatkannya jika tanda tangan di sini?” tanya Arum sambil menatap Bams yang memang memakai baju biru.
Alih-alih menjawab, Bams membuka tas kecil yang ada di pangkuannya, memperlihatkan lima gepok uang dengan pecahan seratus ribu yang artinya ada lima puluh juta di sana.
Mata Arum langsung berbinar. Tanpa banyak bicara, wanita paruh baya itu langsung menandatangani surat yang ada di meja. Ia benar-benar sudah tidak sabar ingin lima gepok uang itu menjadi miliknya.
Ah, siapa yang tidak senang? Niat hati menjual keperawanan anak tirinya senilai dua puluh lima juta, sekarang ia justru mendapat dua kali lipatnya. Bahkan, tadi malam ia sudah mendapat lima juta sebagai pemanasan.
“Anda bahkan nggak bertanya saya siapa dan akan membawa Ziva ke mana. Bukan main,” ucap Elric. “Tapi itu lebih baik. Memang seharusnya Anda nggak tahu saya akan membawanya ke mana,” sambung pria itu.
“Siapa pun Tuan dan Tuan, saya percaya akan membahagiakan Ziva. Daripada dia di sini, bisanya menyusahkan terus,” jawab Arum. Lagian menurutnya, tidak penting ia tahu Ziva akan dibawa ke mana. Yang Arum pikir ... dirinya sedang menjual anak tirinya dan yang penting transaksi berjalan lancar.
“Menyusahkan apanya?” batin Ziva. Padahal dirinyalah yang menjadi tulang punggung di rumah ini. Namun, Ziva memilih diam saja. Ia tak mau buang-buang energi untuk menanggapi ucapan ibu tirinya yang tak pernah mau kalah apalagi merasa bersalah.
“Kalau begitu bagus. Lebih baik Anda tidak tahu siapa saya dan ke mana saya akan membawa Ziva pergi. Dengan begitu ... hubungan anak tiri dan ibu tirinya resmi putus sampai di sini,” ujar Elric. “Setelah ini, Anda dilarang menemui Ziva. Bahkan, mencari tahu keberadaannya pun nggak boleh,” lanjutnya tegas.
“Tentu, Tuan. Saya paham,” balas Arum. “Itu sebabnya saya mendapatkan uang, kan?”
Alih-alih menjawab, Elric kemudian berdiri lalu meraih tangan Ziva. “Ayo kita duluan. Selanjutnya biarkan Bams yang urus,” ucapnya.
Ziva mengangguk lalu ikut berdiri. Pasangan pengantin baru itu mulai berjalan meninggalkan ruang tamu rumah yang tak akan Ziva datangi lagi.
“Terima kasih, Tuan,” ucap Arum. “Ah iya Ziva, pakaian kamu sudah saya kemas. Sebentar saya ambilkan.”
“Buang saja.” Elric-lah yang menjawab. “Buang atau bakar, terserah.” Setelah itu, ia dan sang istri benar-benar meninggalkan ruang tamu. Mereka masuk ke mobil duluan.
“Saya tahu kamu nggak nyaman di sana. Makanya saya ajak kamu keluar duluan.”
“I-ibu beneran bakal dapat lima puluh juta?” tanya Ziva, memastikan.
“Lima puluh lima juta dengan yang tadi malam,” jawab Elric. “Malah tadinya mau saya berikan seratus, tapi saya berubah pikiran setelah melihat sikapnya yang bukan hanya nggak tahu malu, tapi nggak tahu diri juga,” sambung pria itu.
Ziva terdiam.
“Kenapa? Kamu keberatan saya memberi uang pada ibu tirimu?”
“Bukannya begitu.”
“Satu hal yang pasti ya, Ziva. Uang itu ... bukan uang transaksi membeli kamu. Ini bukan jual beli. Saya sengaja memberinya uang agar bisa lebih mudah meminta segala yang kita butuhkan. Bayangkan kalau dia nggak diberi uang, meminta dokumen-dokumen pribadi kamu pasti bukan hal mudah. Dia bisa jadi mempersulit dan banyak drama.”
“Aku paham. Makasih ya, Mas.”
“Tentunya, dengan uang itu ... dia nggak punya alasan buat mengusik hidupmu lagi. Dia nggak berhak. Anggap aja uang segitu adalah biaya untuk melepaskan benalu dari hidupmu lalu membuangnya.”
Ziva mengangguk sambil tersenyum. “Entah harus berapa kali aku harus berterima kasih sama Mas Elric. Mas Elric sungguh penyelamatku.”
“Kamu nggak harus berterima kasih. Apa yang saya berikan sepadan dengan yang saya dapatkan. Jangan lupa, kamu juga menyelamatkan saya.”
Tak lama kemudian, Bams masuk ke mobil lalu duduk di kursi kemudi.
“Udah beres?” tanya Elric.
“Udah,” jawab Bams seraya memakai sabuk pengamannya. “Kita berangkat nih,” sambungnya, sambil menjalankan mesin mobil.
Bersamaan dengan itu, Ziva menoleh ke arah rumah kecil peninggalan mendiang ayahnya yang dikuasai oleh Arum dan anaknya. Tidak apa-apa, pergi dari rumah ini adalah cita-cita Ziva sejak lama.
Hari semakin gelap saat mobil yang Bams kemudikan mulai melaju. Melalui pintu rumah yang masih terbuka lebar, Ziva bisa melihat Arum di ruang tamu yang lampunya menyala. Tampak Arum sedang memeluk erat-erat uang pemberian dari Elric.
“Kamu baik-baik aja, kan?” tanya Elric.
Ziva tersenyum. “Ya, aku baik-baik aja.”
“Sori El. Ini gue langsung antar kalian ke hotel, kan?” Bams menginterupsi dengan sopan.
“Kita mampir dulu ke Zevarra. Mama nunggu di sana,” jawab Elric.
Sontak Ziva terkejut. Maksudnya mamanya Elric, kan? Jujur saja, Ziva masih belum terbiasa dengan keluarga Elric. Ah, jangankan dengan keluarganya, dengan Elric saja Ziva masih belum sepenuhnya terbiasa.
Kemarin malam saat Elric mengumumkan mempelai wanitanya diganti dan bukan Lika lagi, seluruh keluarganya memang sangat syok. Namun, saat Elric menjelaskan alasannya, mereka semua paham. Tidak ada satu pun yang menentang keputusan Elric. Malah sebaliknya, mereka memuji Elric yang bergerak cepat untuk mencari solusinya.
Elric yang menyadari Ziva kaget, segera memberi penjelasan pada sang istri. “Mama bilang belum puas ngobrol sama kamu, makanya sekarang ngajak ketemuan di butik favoritnya. Kamu nggak keberatan, kan?”
“A-aku harus gimana? Aku harus ngomong apa?”
“Jawab apa adanya aja. Mama saya nggak peduli kamu siapa dan berasal dari mana. Mama sama seperti saya yang menganggapmu dewi penyelamat,” jelas Elric. “Saya serius,” tambahnya.
***
Awalnya Ziva memang canggung, tapi siapa sangka ... mamanya Elric bukan hanya ramah, tapi juga sangat humble. Ziva pasti sempat termakan sinetron atau drama-drama tentang mertua kaya yang jahat pada menantu miskin. Nyatanya, mamanya Elric sedikit pun tidak memandang rendah dirinya. Sampai-sampai Ziva sempat berpikir kalau semua ini mimpi.
“Tadi mama saya nggak bikin kamu kurang nyaman, kan?” tanya Elric tepat saat ia dan istrinya memasuki kamar hotel. Diliriknya jam dinding yang menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
“Sama sekali nggak. Mamanya Mas Elric sebaik itu,” balas Ziva. “Sangat berbanding terbalik dengan ibu tiri aku,” lanjutnya.
“Selagi kamu menjadi istri saya, anggap aja dia mama kamu juga. Toh mama sejak lama mendambakan shopping bersama menantu,” kata Elric. “Maklum, mama punya tiga anak dan laki-laki semua dan kakak saya duda, sedangkan adik saya belum menikah,” lanjutnya menjelaskan.
“Aku sempat menolak saat mama mau membelikan aku semua ini, tapi mama bersikeras.” Ziva berkata sambil menunjuk paperbag-paperbag khas butik yang jumlahnya lebih dari sepuluh.
“Anggap aja kebaikan mama itu bonus dari menjadi istri saya.”
Elric kemudian bertanya, “Ngomong-ngomong kenapa yang ini paperbag-nya beda sendiri?” Pria itu bertanya lantaran penasaran.
“Oh itu. Kata mama spesial. Katanya harus aku pakai malam ini,” jawab Ziva. “Aku juga belum lihat. Cuma kayaknya piama.”
Ziva kemudian beranjak dari duduknya. “Aku mandi duluan ya, Mas. Enggak apa-apa?”
“Oh, silakan kalau kamu mau duluan.”
Ziva mengambil handuk dan tidak lupa mengambil paperbag yang suaminya tunjuk tadi. Ia membawanya ke kamar mandi agar bisa sekalian berganti baju di sana. Itu lebih baik daripada ia memakai handuk saja.
Setelah Ziva menutup pintu kamar mandi dari dalam, selama beberapa saat Elric mengecek ponselnya. Ia lupa belum memblokir nomor Lika dan wanita itu tak henti-hentinya mengirimkan pesan dan meneleponnya. Sejenak Elric membaca pesan berantai yang Lika kirimkan. Isinya didominasi permintaan maaf dan penyesalan yang tak terguna.
Alih-alih merespons, Elric memilih memblokir wanita yang hampir menjadi istrinya itu. Tepat setelah memblokir Lika, ponselnya bergetar lantaran ada panggilan masuk dari Sophia, sang mama.
“Halo, Ma?” sapa Elric pada mamanya di seberang telepon sana.
“Kalian udah nyampe hotel?”
“Udah dari lima belas menitan yang lalu. Kenapa, Ma?”
“Ziva mana?”
“Dia lagi mandi.”
“Pastikan dia memakai hadiah spesial dari mama, oke?”
“Oh, itu. Dia pasti memakainya. Yang paperbag-nya beda sendiri, kan?”
“Betul, betul. Dia harus memakainya malam ini agar malam pertama kalian lebih berkesan.”
“Malam pertama apanya?” batin Elric.
“Mama yakin lingerie-nya sangat cocok di tubuhnya. Warnanya pun merah menggoda,” lanjut Sophia.
“Mama bilang apa? Lingerie? Bukannya piama?” Elric agak terkejut.
“Loh, kamu pikir itu piama?” Sophia balik bertanya.
“Ma, udah dulu.” Elric memutus sambungan karena sepertinya Ziva sudah selesai mandi.
Elric yakin di dalam sana Ziva sama terkejutnya dengannya saat tahu isinya bukan piama biasa, melainkan lingerie. Elric juga yakin Ziva tidak akan memakai lingerie itu. Namun, saat pintu kamar mandi dibuka, Elric tak menyangka kalau Ziva benar-benar memakai lingerie pemberian mamanya. Sebagai pria normal, milik Elric di bawah sana langsung memberikan reaksi—tegang dan berdiri tegak di dalam celananya.
Ziva, apa kamu serius ingin kita melakukan malam pertama?