Bab 8 - Bulan Madu

2070 Words
Ziva merasa dirinya telah mengambil keputusan yang tepat. Hidupnya pasti akan jauh lebih baik. Bahkan, jika diberi kesempatan dua kali, Ziva akan mengambil keputusan yang sama. Menikah dengan Elric jauh lebih baik daripada terus hidup terkekang bersama ibu tirinya. Selain itu, bukankah pergi dari rumah adalah hal yang Ziva inginkan sejak lama? Untuk itu, keputusan menikah dengan Elric tidak akan pernah masuk dalam daftar penyesalan hidup Ziva. Semoga. Sesuai rencana, sepulang dari hotel, Ziva dan Elric tinggal bersama di apartemen Elric. Tidak seperti di hotel yang tidur seranjang dengan guling sebagai pembatas, di apartemen mereka tidur di kamar masing-masing. Jujur, Ziva sempat waspada saat mereka tidur seranjang di hotel, tapi ia kemudian sadar bahwa kebersamaan mereka di sana seolah memvalidasi kalau Elric sangat patuh dengan kesepakatan pernikahan. Untuk itu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Terlebih di apartemen, mereka sudah tidak canggung lagi. Mereka bersikap selayaknya teman. Selama tinggal di apartemen, Elric hampir selalu memasak sendiri untuk sarapan mereka berdua, makan siang hingga makan malam pun sama. Ziva sampai tak menyangka, rupanya suami kontraknya ini punya kemampuan masak yang lumayan juga. Terlebih makanan yang Elric hidangkan itu sangat lezat. “Mas Elric tahu? Aku sempat mengira sedang berada di alam mimpi,” ucap Ziva sambil menyantap nasi dengan sop ayam yang dagingnya sangat empuk. Rasanya pun jangan ditanya, benar-benar sedap. “Kok gitu?” “Soalnya, beberapa hari ini aku menjalani hidup yang nyaris nggak pernah aku bayangkan. Bisa keluar dari rumah itu tanpa dikejar atau dicari-cari aja udah untung. Apalagi sekarang aku mendapatkan bonus : merasakan kehidupan yang dulu aku pikir nggak akan pernah bisa aku dapatkan. Makanya, aku sempat merasa ini mimpi.” “Kalau begitu, saya juga sama. Saya pikir ini mimpi, karena seharusnya saya sedang bersama perempuan yang ingin saya nikahi. Tapi, beginilah kenyataannya. Perempuan yang pernah saya cintai itu ... kini saya benci se-benci-bencinya.” Jeda sejenak. “Hmm, sejujurnya aku ragu buat nanya soal ini. Takutnya Mas Elric jadi tersinggung atau minimalnya merasa kesal.” “Mau nanya soal Lika dan selingkuhannya?” tebak pria itu. Ziva mengangguk-angguk. “Maksudku, mereka berdua selamat?” “Tim medis bisa menyelamatkan mereka,” jawab Elric. “Ya, mereka berhasil dipisahkan lagi dan selanjutnya ... mereka bisa melanjutkan hidup setelah apa yang mereka lakukan pada saya.” “Aku turut prihatin.” “Tapi seenggaknya mereka punya rasa malu. Saya pikir, mereka nggak mungkin tinggal di sini lagi. Entah keluar kota atau ke luar negeri, mereka harus pergi jauh,” ujar Elric. “Saya harap, mereka jangan pernah berpikir untuk kembali lagi.” Hari-hari mereka habiskan untuk mengobrol. Terutama obrolan tentang mereka yang membuat keduanya jadi lebih mengenal satu sama lain. Ziva jadi tahu tentang Elric, juga sebaliknya ... Elric juga tahu tentang Ziva. Mereka menanyakan apa pun yang ingin ditanyakan. “Ngomong-ngomong, kamu nggak punya teman dekat satu pun?” tanya Elric, entah ini pertanyaan ke berapa yang pria itu ingin tahu jawabannya. “Syarat menjadi teman itu apa, sih? Berbagi suka dan duka bareng? Atau minimalnya main bareng, kan? Sayangnya aku nggak punya satu pun yang masuk kategori itu,” jujur Ziva. “Miris, ya? Tapi mau gimana lagi ... aku nggak bisa kayak orang-orang yang kalau libur main sama temen atau minimal nongkrong di kafe, aku nggak punya waktu buat seperti itu.” “Ibu tiri kamu benar-benar jahat, ya. Membatasi gerakmu sampai sebegitunya.” “Ditambah akunya juga bodoh, Mas. Aku selalu merencanakan kabur tapi nggak pernah terealisasi,” jawab Ziva. “Bicara soal teman, apa teman kerja termasuk? Ah, tapi kalau dipikir-pikir, aku nggak dekat sama teman kerja.” “Kalau pacar?” Ziva menggeleng. “Boro-boro. Teman aja nggak punya, apalagi pacar. Hidupku memang nggak normal.” “Mau jadi teman saya?” tawar Elric. “Status kita memang suami-istri, tapi nyatanya ... hanya kita yang tahu, kan? Bagaimana kalau kita berteman?” sambung pria itu. Ziva tersenyum. “Mana mungkin aku bilang NO? Ayo kita berteman, Mas.” “Sampai satu tahun ke depan, semoga kita bisa berteman dengan baik,” ucap Elric. “Berhubung kita berteman, kita juga nggak perlu merasa canggung,” sambung pria itu. Kali ini Ziva mengangguk-angguk. Entah kenapa, ia sangat senang dan bersemangat. “Oh iya, sekalian aja kita bahas di sini.” Ziva mengernyit. “Bahas apa lagi?” “Ini tentang honeymoon. Kita harus berangkat meskipun sekadar formalitas,” jelas Elric. “Tapi, anggap aja liburan bersama teman.” Sepertinya, menjadi istri Elric bukan hanya menyelamatkan hidup Ziva, tapi juga memberi warna baru dalam hidup wanita itu. Ziva berkesempatan melakukan hal baru yang sama sekali tak pernah dilakukannya seumur hidup. Ziva bahkan belum pernah liburan. Liburan saat dirinya masih kecil tidak masuk ke dalam hitungan. “Tadi mama sempat nelepon, nanyain kita berangkat honeymoon-nya kapan? Terus, jadinya ke mana,” ucap Elric. “Apa ada kota atau negara yang menjadi impianmu untuk berbulan madu?” sambungnya. Ziva boro-boro kepikiran hal semacam itu. “Aku bahkan nggak nyangka kita bakalan honeymoon segala, sekalipun itu formalitas.” “Seperti yang saya bilang tadi, anggap aja liburan bersama teman. Saya yakin bukan saya aja yang butuh liburan, tapi kamu juga.” “Hmm, memang tadinya Mas Elric sama Lika mau honeymoon ke mana?” Paris adalah destinasi bulan madu Lika dengan Elric. Namun, berhubung Ziva bukanlah Lika, mungkin rencananya akan berubah karena pengurusan visa yang tidak bisa ditebak, terlebih Visa Schengen dengan negara tujuan utama Prancis bukanlah hal yang mudah didapatkan dan terkenal cukup ketat. Sedangkan jadwalnya Lika dan Elric akan paling lama di Prancis, makanya mereka sudah mempersiapkan visanya sejak jauh-jauh hari. Masalahnya Ziva belum mempersiapkan apa-apa karena perubahan ini sangat mendadak. Siapa yang mengira kalau Elric yang tadinya akan honeymoon dengan Lika, malah ending-nya bersama Ziva? Haruskah mengajukan visanya lewat negara Schengen yang tidak terlalu ketat? Setelah visa keluar, Ziva bisa masuk ke Prancis karena visa berlaku di seluruh kawasan Schengen. “Mana bisa begitu?” batin Elric. Aturan Schengen, visa harus diajukan ke negara tempat yang paling lama didatangi. Jika mengajukan visa melalui negara lain yang tidak terlalu ketat padahal kenyataannya Ziva akan lebih lama di Prancis ... itu akan dianggap tidak sesuai aturan. “Segala yang udah kalian rencanakan berarti hangus? Termasuk tiket pesawat, hotel—” “Semuanya hangus,” tegas Elric. Pria itu melanjutkan, “Lagian saya nggak kepikiran ke Paris sama kamu. Makanya saya tanya ... apa ada kota atau negara yang ingin kamu datangi?” “Senjaratu.” “Hah? Di mana itu? Saya baru dengar.” “Sama, aku juga baru dengar.” “Memangnya kamu tahu dari mana tempat itu?” “Tadi pas Mas Elric masak, aku nonton film Indonesia judulnya Bos Dingin itu Mantanku, pernah tayang di bioskop beberapa tahun lalu dan sekarang tayang di aplikasi streaming favoritku. Aktor yang meranin Andra Dirgantara dan Moza Karenina, latar tempatnya itu di Senjaratu.” “Dan kamu pengen ke sana?” “Enggak terlalu, sih. Aku langsung terlintas Senjaratu begitu Mas Elric tanya. Refleks doang.” “Tapi bukan masalah kalau kita ke sana. Nanti saya suruh Bams cari tahu lebih jauh tentang Senjaratu ini.” *** Sampai akhirnya, Ziva dan Elric berangkat berdua ke Senjaratu untuk bulan madu formalitas karena aslinya mereka hanya liburan. Selama di sana, Ziva dan Elric mengambil beberapa foto kebersamaan. Namanya juga formalitas, mereka berpose selayaknya pasangan serasi. Jujur, Ziva merasa nyaman bersama Elric. Tidak, bukan hanya nyaman. Tapi sangat-sangat-sangat nyaman. Bagi Ziva, Elric bukan sekadar tampan, baik dan bisa diandalkan. Pria itu sungguh menepati perkataannya untuk membuat Ziva merasa aman dan nyaman. Hari-hari Ziva setelah menikah dengan Elric ... sungguh luar biasa. Ziva bahkan tidak heran seandainya ia malah jatuh cinta pada pria itu. Ya, tidak butuh waktu lama bagi Ziva untuk sadar kalau dirinya ada rasa pada suami kontraknya. Masalahnya adalah ... apakah Elric punya perasaan yang sama? *** Lima bulan kemudian.... Tidak ada yang berubah dalam hubungan Ziva dan Elric. Mereka masih menjalani pernikahan kontrak dan keduanya masih sepakat menjadi teman. Bedanya, interaksi mereka semakin akrab. Mereka benar-benar selayaknya teman serumah yang kompak. Bagaimana dengan perasaan Ziva? Semakin hari, wanita itu semakin merasa nyaman. Ia mulai terbiasa dengan kehidupannya yang menyenangkan ini. Ya, selagi tinggal bersama Elric, segala hal jadi menyenangkan. Mungkin karena dulu Ziva tinggal bersama ibu tirinya, sehingga saat bersama Elric begini ... perbedaan yang dirasakannya sungguh signifikan. Ziva seratus persen bahagia tinggal bersama Elric. Seperti dalam film atau cerita fiksi yang sering Ziva baca, pernikahan kontrak ending-nya menjadi saling cinta beneran. Mungkinkah itu terjadi pada Ziva dan Elric? Jujur saja, Ziva terkadang membayangkan hal semacam itu. Ziva tak bisa denial kalau semakin hari, ia semakin nyaman bersama Elric. Perasaannya tumbuh dan berkembang setiap hari. Namun, Ziva terlalu ragu untuk mengatakannya karena ia tidak tahu bagaimana perasaan Elric terhadapnya. Ia takut ditolak dan itu malah berpotensi mengacaukan pertemanan mereka lalu interaksi keduanya menjadi canggung. Ya, bagaimana jika ini hanyalah cinta sendiri? Bisa-bisanya hanya butuh waktu se-singkat ini untuk membuat Ziva benar-benar jatuh cinta pada Elric. Padahal Elric belum tentu punya rasa yang sama. Itu sebabnya Ziva memilih memendam perasaannya saja. Ia berkeyakinan andai Elric punya perasaan yang sama, pria itu pasti akan bilang. Getaran ponsel membuat lamunan Ziva buyar. Ia melirik ke arah layar ponselnya dan ternyata yang menelepon adalah kontak bernama ‘Mas Elric’. Tanpa ragu, Ziva segera menggeser layar ke warna hijau. “Ziva, kamu lagi apa?” Suara Elric terdengar di seberang telepon sana. “Aku lagi nyantai aja. Kenapa, Mas?” “Sekarang mobil yang saya kemudikan baru aja keluar kantor. Saya pikir waktunya cukup bagi kamu buat bersiap-siap. Jadi, saya nyampe apartemen ... kamu udah selesai siap-siapnya.” “Me-memangnya kita mau ke mana, Mas?” “Saya mau ngajak kamu makan di luar. Sekalian ada yang perlu kita bicarakan.” Bicara? Jangan-jangan malam ini adalah waktunya. Waktu yang Ziva tunggu-tunggu. Waktu di mana Elric menyatakan cinta! Ziva sangat bersemangat sehingga begitu selesai menelepon, wanita itu segera mandi dan berdandan secantik mungkin. Ia memakai dress terbaiknya seolah mereka akan berkencan malam ini. *** Tiba di restoran, suasana romantis semakin menguatkan dugaan Ziva bahwa Elric hendak menyatakan perasaan terhadapnya. Suasana seperti ini sangat cocok untuk seorang pria melamar wanitanya. Namun, berhubung mereka sudah menikah ... Ziva membayangkan Elric menyatakan cinta lalu mengajaknya mengakhiri kontrak sehingga pernikahan yang tadinya sementara menjadi selamanya. Sungguh, jika Elric berkata seperti itu ... tanpa ragu Ziva akan bilang iya. Bahkan, bisa jadi ia langsung berhambur memeluk Elric karena sudah lama sekali ia ingin tahu bagaimana rasanya memeluk suaminya itu. “Mulai deh pikiranku ke mana-mana,” batin Ziva. “Ziva....” Wanita itu langsung menoleh pada sang suami yang duduk berseberangan dengannya. “Iya?” “Saya yakin kamu bakalan kaget, tapi yang pasti kamu bakalan senang dengan apa yang akan saya katakan.” “Wah, jadi makin penasaran.” Bersamaan dengan itu, seorang pelayan restoran membawa sebuah kotak hadiah berwarna merah marun lalu menyerahkannya pada Elric. Sontak, Ziva jadi semakin deg-degan. Ia mulai membayangkan di dalam kotak itu entah berisi cincin, kalung atau apa pun yang menjadi simbol cinta. Sungguh, Ziva jadi tak sabar. “Apa itu, Mas?” “Nih, buat kamu,” ucap Elric seraya menyerahkan kotak hadiahnya. Detik berikutnya, benda itu sudah berpindah ke tangan Ziva. “Boleh dibuka?” “Tentu boleh. Silakan.” Detak jantung Ziva berdetak sangat cepat saat membukanya. Rupanya, isinya sebuah surat yang dilipat rapi. Ziva membayangkan isinya adalah pernyataan Elric yang ditulis tangan, tapi dugaannya salah. “A-apa ini Mas?” tanya Ziva sambil membuka suratnya. “Surat tanda terima pendaftaran cerai?” Tangannya langsung gemetar membaca tulisan paling atas pada surat itu. “Ya, itu adalah bukti resmi kalau saya udah mendaftarkan perceraian kita. Tinggal nunggu diproses,” jawab Elric dengan sangat bersemangat, seolah yang dikatakannya adalah kabar paling membahagiakan. Padahal, saat ini Ziva seolah sedang ditusuk dadanya berulang kali. Sakit. Segala ekspektasinya buyar. Air matanya sudah menggenang, tinggal menunggu waktu untuk tumpah. Ya Tuhan, semua dugaan Ziva kacau. Nyatanya, Elric tak pernah punya perasaan apa-apa terhadapnya. Sejak awal pun Elric bilang bisa memberikan segalanya dan hanya satu yang tak bisa ia berikan yaitu cinta. “Kita bisa cerai tanpa perlu menunggu satu tahun. Artinya, sebentar lagi kamu bisa bebas melanjutkan hidupmu,” ucap Elric lagi. Ia ingat pada pertemuan pertama mereka, Ziva pernah mengatakan bahwa keinginan terbesarnya adalah kabur sejauh mungkin. Memangnya siapa yang ingin bebas? Aku nggak ingin kita cerai, Mas....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD