Ziva tak ingin bercerai. Namun, wanita itu tak bisa serta-merta mengatakannya. Lebih tak mungkin lagi kalau Ziva terus terang betapa dirinya jatuh cinta terhadap Elric. Andai Elric tahu, Ziva yakin suaminya itu akan sangat kaget atau bisa jadi tak percaya karena perasaannya bisa tumbuh dan berkembang se-dalam ini hanya butuh waktu beberapa bulan saja.
Mentang-mentang nikahnya dadakan, sekarang cerainya pun sangat mendadak....
“Kamu kenapa mau nangis?” tanya Elric saat menyadari mata Ziva berkaca-kaca.
Mendengar pertanyaan Elric, air mata yang sedari tadi Ziva tahan agar tidak keluar ... akhirnya tangisnya pecah juga. Elric yang tidak menyangka Ziva akan menangis seperti itu, segera mencari tisu sambil berusaha menenangkannya.
“Ziva, maaf kalau saya mengejutkan kamu,” ucap Elric seraya menyodorkan tisu untuk istrinya.
“A-aku ke toilet sebentar, Mas.” Ziva berdiri lalu bergegas menuju toilet sambil membawa tasnya, meninggalkan Elric yang kebingungan setengah mati.
“Saking bahagianya, dia sampai menangis seperti itu,” batin Elric. Ya, menurutnya Ziva sedang menangis bahagia.
Elric tidak tahu saja kalau Ziva sebenarnya menangis karena tidak menginginkan perpisahan.
Di dalam toilet, Ziva berusaha menghentikan tangisnya. Ia menghapus air matanya menggunakan tisu. Selama beberapa saat, tangis tanpa suaranya semakin menjadi-jadi. Tidak apa-apa, Ziva akan melepaskan tangisnya di sini sendirian.
Merasa jauh lebih tenang, Ziva memperbaiki riasan di wajahnya sebentar. Setelah penampilannya tidak se-kacau tadi, wanita itu kembali ke tempat di mana Elric sedang duduk menunggunya.
“Maaf lama ya, Mas.” Ziva berbicara dengan nada seperti biasa, tidak mau menunjukkan betapa kacau hati dan perasaannya saat ini. “Maaf juga aku malah nangis.”
“Kamu nangis bahagia, kan? Bahagia karena akhirnya ... bisa bebas melanjutkan hidupmu.”
Ziva hanya tersenyum. Ia pikir Elric sempurna, ternyata pria yang diam-diam ia cintai masih manusia biasa. Pria itu sama sekali tidak peka. Bisa-bisanya mengira Ziva menangis bahagia.
“Bagaimana dengan Mas El? Apa bahagia juga?” tanya Ziva kemudian, sengaja memancing.
“Tentu iya. Akhirnya kita bisa mengakhiri apa yang kita mulai,” jawab pria itu. “Mengakhirinya tanpa masalah,” lanjutnya.
Seharusnya Ziva sadar kalau Elric memang tak punya perasaan apa-apa padanya. Namun, selama ini wanita itu terus denial, mengira Elric pun diam-diam punya perasaan terpendam sama seperti yang Ziva rasakan. Padahal, nyatanya sikap hangat dan kebaikan Elric murni karena benefit yang berhak Ziva dapatkan selagi menjalani pernikahan kontrak, bukan karena pria itu menaruh hati padanya.
Kalau diingat-ingat, sejak awal bertemu Elric sudah menekankan bahwa dirinya bisa memberikan segalanya kecuali satu hal ... yaitu cinta.
Sialnya, Ziva terlalu percaya diri, mengira cintanya berbalas. Padahal nyatanya cinta yang Ziva rasakan selama ini ... bertepuk sebelah tangan. Namun, setidaknya ada satu hal yang Ziva syukuri. Ia bersyukur karena tidak pernah kepikiran untuk menyatakan perasaan lebih dulu. Entah akan se-canggung apa kalau Ziva nekat menyatakan perasaannya.
“Bagaimana rasanya, Ziva? Cinta pertama ini ... endingnya begini,” batin Ziva. Ya, Ziva tidak pernah jatuh cinta sebelumnya. Jadi, bukankah Elric bisa dikatakan cinta pertamanya?
“Ah, syukurlah kita bisa mengakhiri ini tanpa masalah, Mas. Aku sempat menduga ... jangan-jangan Mas Elric jatuh cinta padaku,” ucap Ziva, sengaja. Nada bicaranya pun seolah sedang bercanda, padahal kalimat terakhirnya berasal dari hati yang terdalam.
“Mana mungkin? Saya bukan hanya menganggapmu sebagai teman, Ziva. Tapi juga menganggapmu seperti adik sendiri. Jadi mana mungkin saya jatuh cinta pada adik sendiri?” balas Elric sambil terkekeh. Memang benar, Elric melihat Ziva bukan sebagai wanita, melainkan sebagai seorang adik yang patut dijaga dengan penuh perhatian.
“Hmm, benar juga. Mas Elric menganggapku seperti adik sendiri,” jawab Ziva. “Tapi ngomong-ngomong aku jadi penasaran, apa selama ini Mas Elric punya pacar? Setelah dipikir-pikir, kita nggak pernah membahas ini.”
“Pacar? Saya bahkan belum ada minat untuk menjalin hubungan lagi. Kamu tahu sendiri ... saya trauma dengan yang namanya jatuh cinta. Dikhianati oleh perempuan yang saya cinta dan saya percaya ternyata se-ngaruh itu.”
“Hanya karena dikecewakan satu perempuan, bukan berarti semua perempuan itu sama ya, Mas.”
“Saya nggak bilang semua perempuan sama. Cuma setelah saya dikecewakan, rasanya saya seperti mati rasa. Bukan hal mudah buat menjalin hubungan lagi. Inikah yang dinamakan trauma jatuh cinta?”
“Entahlah, yang pasti aku berharap semoga suatu hari ... Mas Elric bisa menemukan kebahagiaan dan tentunya nggak dikecewakan lagi.”
“Saya juga berharap yang sama padamu, Ziva. Semoga kamu bisa melanjutkan hidup dengan jauh lebih baik, tentunya bisa menemukan kebahagiaan yang kamu cari,” balas Elric. “Kamu pasti bisa bertemu pria yang benar-benar jodohmu, bukan seperti saya yang hanya suami kontrak.”
Mendengar kalimat yang Elric ucapkan, kini Ziva telah sadar sepenuhnya kalau memang tidak ada harapan untuk dirinya bisa bersama Elric. Ini bukan cerita fiksi yang berawal dari pernikahan kontrak tapi ending-nya menjadi sungguhan. Ini adalah kenyataan hidup Ziva Naomy yang pernikahan kontraknya berakhir sesuai kesepakatan. Berakhir dengan perceraian.
Kalau begitu, Ziva hanya perlu menyerah. Ia akan mengubur perasaan ini selamanya sampai hilang dengan sendirinya.
***
Setelah makan malam romantis yang ternyata simbol perpisahan, semenjak saat itu Ziva dan Elric tinggal secara terpisah sambil menunggu proses perceraian selesai. Ziva tetap di apartemen, sedangkan Elric tinggal di salah satu kamar kosan yang kosong. Kosan putra yang terdiri dari dua puluh pintu itu telah resmi menjadi miliknya.
Ziva tak menyangka, baru pisah tempat tinggal saja rasanya sudah berat. Ia merindukan perhatian kecil dan senyuman hangat Elric. Ia merindukan masakan Elric. Ia merindukan semuanya. Namun, Ziva harus membiasakan diri tanpa Elric. Saat mereka resmi bercerai nanti, mereka akan berpisah sepenuhnya dan tidak akan bertemu lagi.
Ziva juga rencananya akan pergi sejauh mungkin agar bisa move-on dari cintanya terhadap Elric. Satu hal yang pasti, Ziva tak pernah menyesal menjadikan Elric sebagai cinta pertamanya sekalipun cintanya tak berbalas. Ziva juga tak menyesal dengan pernikahan mereka karena Elric telah mengajarkan banyak hal padanya.
Tanpa Elric sadari, pria itu telah mengenalkan Ziva pada dua hal—cinta sekaligus patah hati.
Proses perceraian berlangsung tanpa masalah. Tak lebih dari tiga bulan ... Ziva dan Elric resmi bercerai. Saat bertemu untuk terakhir kalinya, Elric sempat memeluk Ziva sebagai salam perpisahan dan itu adalah pelukan pertama sekaligus terakhir mereka.
***
Lima tahun kemudian....
“Ini pesta apa?” tanya Ziva pada pria yang saat ini menggandeng tangannya. Mereka berjalan masuk ke sebuah vila di dekat pusat kota yang sudah disulap menjadi tempat pesta malam ini.
Hidangan yang lezat hingga minuman berbagai jenis dari non-alkohol hingga yang beralkohol sudah tersaji di meja besar. Siapa saja yang menginginkannya, dengan bebas bisa mengambilnya.
“Teman-teman tongkrongan kalau bikin pesta memang nggak tanggung-tanggung.”
Ziva mengangguk-angguk. “Jadi semua yang ada di sini temen tongkrongan kamu?”
“Ya, semuanya temen aku dan pasangan mereka masing-masing. Tapi sejujurnya udah lama aku nggak bertemu dan nongkrong bareng temen-temenku,” jawab pria itu. “Mereka pasti kaget melihatku di sini. Lebih kaget lagi, aku datangnya nggak sendiri,” sambungnya.
“Arda?!” Itu adalah suara seorang pria yang spontan membuat Ziva dan Arda menghentikan langkah.
Ya, pria yang menggandeng tangan Ziva adalah Arda.
“Ngapain lo datang ke sini?”
“Gue cuma pengen tahu kabar kalian semua,” jawab Arda.
“Setelah apa yang lo lakukan dulu, serius lo masih punya muka buat muncul di hadapan kami?”
Jujur, Ziva bingung. Ia tak paham apa yang sebenarnya terjadi, tapi yang pasti ia bisa menduga kalau ada masalah antara Arda dengan teman-temannya. Terlebih jelas sekali teman-teman Arda menatap dengan penuh kebencian.
Musik pun berhenti sehingga suasana mendadak hening. Semua yang ada di sana menatap ke arah Arda dan otomatis menatap ke arah Ziva juga.
Merasa menjadi pusat perhatian, Arda kemudian berkata dengan lantang, “Sori kalau kedatangan gue bikin kalian nggak nyaman. Gue cuma mau minta maaf sama kalian semua, terutama El ... mungkin ini sangat terlambat, tapi maaf banget atas apa yang terjadi lima tahun lalu.”
Detik itu juga, tatapan Ziva bertemu dengan sepasang mata yang sangat familier. Jantungnya berdetak sangat cepat saat menyadari Elric menjadi salah satu yang hadir di sini. Elric pun sama terkejutnya dengan Ziva sehingga untuk beberapa saat ... tatapan mereka seolah terkunci.
“Saat ini gue datang bersama calon istri gue,” lanjut Arda sambil menunjuk Ziva.
Ziva dan Elric masih saling bertatapan.
Setelah lima tahun, kenapa kita dipertemukan dengan cara seperti ini?