Kantor Herlington Daily Buzz pagi itu ramai dengan bisikan dan ritme klakson keyboard yang diselingi obrolan. Namun, keramaian itu meredup seketika saat Hazel melangkah masuk. Atmosfer telah berubah drastis semenjak perusahaan gosip ini direbut oleh Diego Blake dan Hazel duduk di posisi orang kepercayaannya. Tak ada lagi ejekan terselubung, tak ada lagi tugas kotor yang dilemparkan ke mejanya. Bahkan Felix, si jurnalis senior yang dulu paling sering merendahkannya, kini mengangguk sopan dengan senyum kaku yang tidak sampai ke mata. Mereka semua menyapa Hazel dengan nada yang terukur, penuh dengan formalitas yang terasa palsu. Hazel membalas dengan lebih dingin. Bukan karena sombong, tetapi karena muak. Muak pada sikap plin-plan mereka yang dulu memperlakukannya seperti sampah, dan kini t

