Lelaki itu berlari menggila, segala jenis tatapan yang dilemparkan kepadanya hanya ia abaikan seolah angin lalu. "Kenapa lift nya lama sekali sih!" umpatnya menendang penuh kesal, ia menggigit bibir bawahnya gelisah, seumur hidup ini pertama kalinya lelaki itu benar-benar panik. Ting. Tak butuh waktu lama sampai ia berlari menuju rooftop, dan ketika pintu ia buka seketika itu juga dirinya lemas menatap perempuan yang terbaring di lantai dengan napas tersengal-sengal. "Riska!" pekiknya segera mendekat khawatir, pupil matanya membulat sempurna melihat darah yang berceceran di lantai, apalagi ketika ia melihat sumbernya adalah luka menganga di perut perempuan itu membuatnya benar-benar terhuyung syok. "T-tahan, tolong tahan sebentar." Bisiknya berusaha mati-matian menahan air matanya, meli

