Hari sudah terlalu larut saat tiba di sebuah hotel berbintang empat. Sialnya saat mereka meminta dua kamar, ternyata pihak kamar hotel mengatakan kalau tak ada kamar kosong, sehingga mereka memilih berpindah ke hotel lain.
Mereka tak tahu kenapa malam ini hotel di sekitar Bogor penuh. Alea dan Rendra duduk di ruang tunggu, membuka sebuah platform untuk mencari hotel yang menyediakan dua kamar.
Jam sudah menunjuk dua belas malam, Alea hanya butuh tempat untuk mengedit video dan berpikir tidak akan tertidur. Tak masalah meski harus sekamar dengan Rendra. Alea yakin Rendra bukan lelaki hidung belang apalagi mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Andai begitu, ia bisa mematahkan hidungnya atau bahkan membuat lelaki itu kehilangan kejantanannya.
Alea tampak lelah, begitu pula Rendra yang sudah mengemudi berjam - jam lamanya. Wajah lelaki itu tampak lesu dan di bawah matanya menghitam tanda kurang tidur.
“Semua penuh, Kak. Apa kita ambil aja ya?” tanya Alea.
“Aku tak masalah. Maksudku, aku bisa tidur di sofa,” jawab Rendra.
Keduanya menyerah dengan keadaan.
“Aku saja yang di sofa, Kak. Malam ini aku mau mengedit video biar besok bisa segera ku upload.”
“Jadi kita ambil kamar ini ya?”
Alea mengangguk, Rendra segera bangkit lalu mendekati resepsionis. Pria itu segera mengurus check in, untung saja hotel tidak mempermasalahkan soal hubungan keduanya dan hanya meminta KTP Rendra sebagai kelengkapan form hotel.
Setelah check in, keduanya segera ke kamar yang ada di lantai lima. Rendra membuka pintu dengan kartunya lalu masuk sementara Alea masih menunggu di luar sampai lampu menyala.
Alea masuk dan segera duduk di sofa, merenggangkan tubuhnya yang lelah setelah seharian naik mobil lalu makan dengan kenyang dan puas. Ia membuka gawai, ada beberapa pesan masuk. Beberapa dari endorse, Matias dan ada satu lagi dari Tobias.
'Jangan lupa bayar! Meski kuberi kelonggaran, bukan berarti kamu bisa seenaknya!' Isi pesan singkat Tobias di gawai Alea.
Suasana hati Alea berubah jelek setelah melihat nama Tobias, apalagi saat melihat isi pesannya yang menanyakan tentang kapan akan mengirim uang ganti ruginya.
“Pas nolak duit sembilan juta, lagaknya kayak orang nggak butuh duit aja. Sekarang lagaknya jadi sok missqueen. Nih orang nggak konsisten amat sih. Kalo emang tajir kasih keringanan napa. Nggak tahu kalau duit seratus juta itu banyak. Aku jual ginjal juga gak bakal dapat segitu.” Alea ngedumel sambil memandang pesan singkat yang dikirim Tobias melalui WA.
Rendra baru saja keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih basah setelah keramas. Memandang Alea sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk. Mendengarkan keluhan yang sungguh membuatnya tergelak.
“Kamu nggak mandi?” tanya Rendra untuk mengalihkan perhatian gadis itu.
Mendengar suara Rendra, sontak Alea duduk tegak sambil memandang Rendra yang sudah tampak segar setelah mandi.
Sebenarnya Alea enggan mandi. Biasanya ia akan langsung tidur jika seharian sudah bekerja, apalagi ini sudah di atas jam dua belas malam. Tapi ia tak ingin membuat Rendra tak nyaman harus sekamar dengan perempuan yang tidak mandi, bau asem lagi.
Secara spontan gadis itu mencium keteknya yang asem, bahkan Alea tidak menyembunyikan ekspresi terkejut saat mencium bau badannya sendiri. Membuat Rendra tersenyum lebar melihat kekonyolannya.
“Aku mandi dulu, Kak.” Alea segera mengambil baju ganti yang ia selipkan di ransel birunya. Untung saja ia membawa sepasang baju ganti, kalau tidak, ia pasti tengsin kepada Rendra.
Tiga puluh menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan celana jins dan T shirt ungu. Memandang Rendra yang sibuk menghubungi seseorang dengan wajah penuh kekhawatiran.
“Alea, aku harus kembali ke Jakarta. Papanya Tobias kecelakaan dan kondisinya kritis,” kata Rendra sambil mengemas barang – barang yang tadi sempat dikeluarkan.
Alea sebenarnya ingin tetap berada di Bogor, tetapi ia merasa tak enak hati pada Rendra yang sudah menyetir berjam – jam dan mengantarnya ke beberapa tempat. Pasti lelaki itu kelelahan dan tak mungkin ia membiarkannya kembali sendirian.
“Kalau gitu aku ikut ya, Kak.”
“Kamu bisa disini. Katanya besok masih ingin ke beberapa tempat untuk bikin konten.”
“Gampanglah. Aku ikut Kakak aja. Lumayan kita bisa gentian nyetir, kan.” Alea segera mengemasi barang - barangnya.
“Aku nggak apa – apa sendiri. Kamu bisa disini, besok aku jemput.”
Sesaat Alea mematung, tak menyangka kalau Rendra hendak kembali hanya untuk menjemputnya. Ada perasaan aneh yang ia rasakan, sebuah pertanyaan besar muncul di kepalanya. Tapi ia menggeleng untuk membuang pertanyaan dan perasaan itu.
“Udah dek, Kak. Ayo kita balik secepatnya.” Alea telah mengemas barang – barangnya.
Saat Alea mengenakan jaket, Rendra mengambil ranselnya dan segera keluar. Mencabut kartu sehingga lampu seketika mati dan membuat Alea menjerit histeris.
Rendra terkejut hingga ia kembali meletakkan kartu yang sempat diambilnya. Ia sangat terkejut saat melihat Alea jongkok sambil menyembunyikan wajahnya di lutut.
“Alea!” Rendra mendekati Alea dan berlutut di depannya.
“Kenapa Kak Rendra matiin lampunya? Kak Rendra jahat banget sih.” Alea memukul pundak Rendra sambil berseru dengan suara yang begitu tinggi hingga memekakkan telinga.
“Maafin aku. Aku nggak tahu kalau kamu takut gelap.”
Alea mendesis lalu mencebik, kesal dengan Rendra yang main cabut kartu tanpa menunggunya keluar.
Padahal bukan salah Rendra juga, ia hanya ingin secepatnya keluar hotel agar bisa secepatnya kembali ke Tobias. Ada hal penting yang harus diurus selain menemani bosnya saat papanya kritis.
Tobias tak memiliki banyak teman, sementara itu ia juga menjaga jarak dari satu – satunya keluarga yang ia miliki. Hanya Rendra yang dekat dengannya dan ia yakin saat ini Tobias membutuhkannya, bukan hanya sebagai teman di saat susah tetapi juga untuk menyelidiki soal kecelakaan yang sudah terjadi pada papanya.
Tobias mungkin tampak sangat over protektif akan tetapi kehidupan keluarganya begitu rumit sehingga ia mudah curiga setiap sesuatu terjadi pada keluarganya. Termasuk kecelakaan yang terjadi pada papanya, yang ada kemungkinan merupakan scenario dari mantan ibu tiri atau saudara tirinya.
Rendra membantu Alea bangun. Ada perasaan bersalah karena sudah sengaja mematikan lampu. Tak terpikirkan olehnya kalau Alea takut gelap. Pasti ada traumatis yang mendalam yang membuat gadis itu bisa menjerit histeris karena gelap.
Alea keluar dengan cepat, tak ingin Rendra kembali membuat lampunya mati sebelum ia keluar. Tadi ia sangat terkejut hingga menjerit histeris. Sangat memalukan tapi ia memang belum mampu menghilangkan traumatisnya.
Rendra melihat punggung Alea selama mereka berjalan di lorong hotel. Kisah masa lalu bersama gadis albino yang berjalan sambil sesekali melompat menari – nari di kepalanya. Gadis yang sangat ia rindukan dan sudah dicarinya bertahun – tahun.
Meski belum ada bukti yang menguatkan, akan tetapi ada keyakinan kuat kalau Alea adalah gadis yang selama ini ia cari.
Alea, aku akan membayar semua kesalahan yang telah kubuat selama ini, kata Rendra dalam hati.
Ada hubungan apa ya antara Alea dan Rendra? Ikuti terus lanjutannya ya….
***