Jalan Berdua

1472 Words
Tubuh Alea lemas saat menghitung pengeluarannya kemarin. Kemarin adalah shopping yang paling memuaskan dalam hidupnya, tapi harus diganjar dengan habisnya tabungan yang sudah dismpan setahun lamanya. Ia sadar kalau sangat boros, tapi baru sadar kalau borosnya sudah sangat keterlaluan. Sekarang yang tersisa hanyalah penyesalan. Saldo dalam tabungannya tinggal sejuta rupiah setelah dikurangi biaya mobilnya di bengkel. Lebih buruk lagi, ia memiliki hutang seratus lima juta rupiah yang tak tahu harus dibayar dengan cara apa. Tak mungkin ia meminta uang ke omnya, bahkan untuk menghutangnya pun ia takkan mampu. Matias pasti akan memberikan uangnya secara cuma – cuma, tapi itu artinya ia harus menanggung perasaan malu dan bersalah. Perasaan itu tak mungkin mampu ia tanggung. Alea akhirnya bercerita kepada Matias kalau mobilnya masuk bengkel karena kecelakaan. Tetapi Matias hanya tahu kalau ia kecelakaan tunggal dengan menabrak tiang. Lampu mobilnya pecah tapi hanya itu yang ia ceritakan.  “Sekarang aku harus bagaimana?” Alea mulai menangis, masih belum menemukan cara agar bisa menyelesaikan urusannya dengan Tobias. Tak mungkin kan ia datang dan meminta agar dia mau mengurangi tuntutannya. Lelaki itu sangat jahat, bahkan kepada pegawainya saja ia tega apalagi kepadanya. Saat Alea mengacak – acak rambutnya karena kesal, gawai yang ada di dekatnya bergetar dengan nama Rendra menghiasi layarnya. Alea segera mengangkat teleponnya. “Halo.” “Alea, apa kamu sibuk?” “Kalau sibuk kenapa?” “Sibuk ya, nggak apa – apa.” “Eh, enggak kok, Kak. Aku cuma lagi….” Alea menghela napas berat sambil memandang struk belanjaan yang berada di depannya. “Kenapa?” tanya Rendra. Alea terdiam dan merintih hingga suaranya terdengar Rendra. Gadis itu mengerucutkan bibirnya, kepalanya berat dan masih bingung bagaimana caranya membayar Tobias. “Besok kamu sibuk, enggak?” tanya Rendra tiba – tiba. “Kenapa, Kak?” tanya Alea tanpa menjawab pertanyaannya.  “Aku ada tempat makan yang enak. Tempatnya agak terpencil jadi aku yakin tak banyak food vlogger yang tahu.” Mata Alea melebar, tentu saja ini sebuah tawaran yang menggiurkan. Sebuah konten bagus yang bisa ia buat dan semoga menghasilkan banyak adsense agar bisa cepat membayar Tobias. Pendapatannya bulan ini menurun dan ia butuh sesuatu yang bisa membuat subscribernya senang. Untung saja Rendra menghubunginya, karena masalah mobil membuat Alea lupa tentang membuat konten.  “Aku nggak sibuk. Besok jam berapa, Kak? Menunya apa sih?” tanya Alea sangat penasaran. “Bukanya mulai jam sebelas siang. Seafood tapi di bogor, kamu mau nggak?” “Bogor ya. Lumayan jauh, ya. Tapi oke deh. Demi konten hahahaha.” Suasana Alea tiba – tiba membaik. “Besok aku jemput ya.” “Oke, deh.” Alea pun memberitahukan alamat rumahnya. Bodoh amat tentang uang ganti rugi, tabungan yang ludes atau apapun itu. Uang bisa dicari lagi kan. Alea segera mengemas struk belanjaan yang berserakan di dekatnya, meremasnya lalu membuangnya di tempat sampah. Dengan penuh semangat gadis itu mempersiapkan semua keperluannya untuk membuat konten esok hari. *** Matias harus ke luar kota karena ada urusan bisnis yang tak bisa ditunda. Sebuah keberuntungan untuk Alea karena ia bisa pergi dengan bebas. Ia siap ke Bogor dan mendatangi beberapa tempat yang bisa ia gunakan untuk konten vlognya. Alea tampak cerah dengan blus merah muda berkerah sabrina dan celana panjang putih. Rambutnya dikuncir dua. Memakai riasan tipis, membuatnya sangat cantik alami. Jam tujuh pagi, sebuah Innova berhenti di depan rumahnya. Alea yakin itu adalah Rendra dan ternyata memang benar. Alea segera menggendong ransel biru yang berat karena berisi semua peralatan untuk membuat video food vlognya. Rendra segera menarik ransel itu dan terkejut dengan bobot tas yang pasti sangat berat bagi seorang gadis seperti Alea. “Apa kamu selalu membawa ransel seberat itu?” tanya Rendra sambil menggantung ransel di lengan kanannya. “Biasanya bukan aku, Kak. Hanya saja dia libur kalau minggu. Makanya aku harus bawa sendiri.” Ia menyiapkan go pro.  Sebelum masuk mobil. Alea menyempatkan untuk membuat intro video perjalanannya, dengan gaya centil khasnya dan tentu saja keceriaan yang membuat banyak orang mengikutinya. Setelah membuat intro, Alea memasukkan go pronya ke tote bag yang menggantung di lengan kirinya. “Lain kali kalau kamu bikin vlog sendiri. Hubungi aku, aku bisa membantumu bawa tas. Gratis,” kata Rendra setelah Alea selesai membuat intro. “Oh ya. Tapi … apa nggak ada yang marah?” Keduanya segera masuk mobil dan segera memakai sabuk pengaman. “Siapa?” Rendra menyalakan mesin mobil lalu mobil segera melaju dengan kecepatan sedang. “Pacar mungkin, atau malah istri,” jawab Alea sekenanya. Seketika itu Rendra tertawa terbahak – bahak. Hal itu membuat Alea hanya bisa memandang lelaki yang memiliki tinggi badan seratus delapan puluh sentimeter. “Aku jomlo.” Rendra meringis, agak memalukan untuk mengatakan dirinya masih jomlo meski usianya sudah menginjak tiga puluhan. Alea hanya mengangguk, tanpa permisi ia menyalakan radio. Lagu Andmesh Kamaleng yang berjudul cinta luar biasa mengalun. Alea mendengarkan lagu itu sambil menikmati perjalanan yang lancar sejak masuk tol. Rendra sendiri sesekali mencuri pandang ke Alea. Wajahnya secerah mentari dan senyum tipis menghiasi wajahnya yang tampan khas orang Indonesia. Setelah berjam – jam menempuh perjalanan. Mereka pun sampai ke sebuah tempat makan khusus seafood di daerah Leuwisadeng Bogor. Tempatnya sangat sederhana namun hanya dengan melihat keramaiannya saja Alea tahu kalau tempat ini pasti menyajikan makanan yang enak. Alea memesan kepiting yang ukurannya sangat besar hingga menyamai ukuran wajahnya, lobster, ikan bakar dan tumis kangkung. Rendra menjadi cameramen dadakan untuk Alea. Melihat sendiri bagaimana luwesnya gadis itu dalam memandu acaranya. Bahkan pegawai tempat makan ikut terbawa suasana yang menyenangkan. Setelah mereka memesan makanan, Alea dan Rendra segera mengambil tempat yang berada di pojok. Tempat makan mulai sepi karena jam makan siang sudah terlewat. Alea mengatur beberapa kameranya di setiap angle yang diperlukan. Sebuah pekerjaan yang sudah sering ia lakukan dan profesionalitas itu dilihat sendiri oleh Rendra. “Ternyata membuat vlog ribet ya. Selama ini kupikir gampang banget.” “Kalau sudah biasa, enggak ribet – ribet amat kok, Kak.” Setelah kamera sudah siap, Alea kembali melanjutkan pekerjaannya. Menceritakan suasana tempat makan sambil menunggu makanannya tiba. Saat dari kejauhan sang pegawai membawa pesanannya, Alea bersiap untuk menikmati makanan itu. “Terima kasih, A’” Alea menerima piring besar berisi seekor kepiting jumbo yang dimasak saus padang. “Wah, ini gila sih. Kepitingnya, Guys. Wow banget,” ujar Alea sambil memandang kepiting yang menggiurkan. Meja yang tadinya kosong menjadi penuh dengan pesanan yang datang satu persatu. “Kita coba yang mana dulu ya?” Alea menggosok kedua telapak tangannya. Ia pun mencabut capit yang ukurannya sebesar telapak tangannya sendiri. Menunjukkannya ke kamera lalu melahapnya dengan begitu antusias. “Rasanya tuh nikmat abis. Bumbunya pas, pedesnya pas dan dagingnya fresh banget. Ini gila sih,” ucapnya lalu menggigit daging capit kepiting itu. Rendra sangat menikmati pemandangan itu sambil tersenyum sendiri. Suka sekali melihat Alea mendeskripskan makanan itu hingga membuat perutnya keroncongan. Rendra hanya memesan udang bakar karena sebenarnya ia tak begitu menyukai seafood. Ia mau makan makanan ini hanya karena agar bisa mengajak Alea keluar. Alea sudah menghabiskan semua makanannya, yang membuat mata Rendra membesar karena gadis sekecil itu bisa menghabiskan makanan sebanyak itu. “Nggak usah kaget, Kak. Makanku memang banyak hahaha.” Alea tertawa terbahak – bahak. Ia memasukkan peralatan merekamnya ke dalam tas. “Kupikir kamu meng – skip makan dan hanya berpura -  pura kalau kamu bisa menghabiskannya.” “Maksud Kak Rendra?” “Bisa saja kan kamu sebenarnya tidak benar – benar menghabiskan makanan dan hanya acting saja.” “Bisa saja sih. Tapi makanku asli banyak hehehe.” Alea terkekeh seperti anak polos. “Nggak perlu sungkan, Alea. Aku suka perempuan yang suka banyak makan.” “Aku nggak sungkan kok. Aku malah pede banget bilang kalo makanku banyak tapi badanku tetep ideal meski nggak terlalu banyak olehgara.” “Keren.” Alea tertawa lagi, senang mendengar pujian dari Rendra. Setelah menghabiskan makan, mereka memutuskan untuk hunting tempat makan enak. Mereka pergi ke sebuah depot bakso sesuai rekomendasi follower Alea yang ada di i********:. Tak terasa malam sudah cukup larut, sementara ada beberapa tempat makan yang ingin dikunjungi Alea. “Kak, aku mau cari penginapan aja deh. Besok aku mau ke beberapa tempat makan yang direkomenin followerku,” pinta Alea. “Kebetulan besok aku libur. Besok kuantar ya.” “Nggak papa, Kak?” “Nggak masalah. Aku senang melihatmu ngevlog. Kamu nggak lupa kan kalau aku subscribermu.” “Iya juga ya hahahaha.” Gawai Rendra bergetar, ia pun segera mengangkat teleponnya. “Halo.” “Kamu dimana, Ren?” tanya seseorang di seberang sana. Rendra tadi mengangkat tanpa melihat siapa yang menghubunginya, tapi ia tahu hanya dari mendengar suaranya. Tobias. “Aku lagi jalan sama Alea nih. Besok aku libur, Bro.” “Apa?” seru Tobias tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Gimana perasaan Tobias saat tahu kalau Rendra pergi sama Alea? Ikuti lanjutannya ya…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD