Dengan alis terangkat, Hestia membawa formulir pencairan ke Departemen Keuangan dimana dia akan mendapatkan gaji di muka. Terdengar bisik-bisik saat dia lewat, dia tahu jika mereka tengah membicarakannya tapi dia mengabaikannya.
Dia melihat Kelly menatapnya, satu-satunya orang yang dia kenal. Dia menghampiri dan menyerahkan formulir itu langsung. Dia menyadari jika mata Wanita itu berkaca-kaca karena suatu alasan yang tidak diketahui.
"Bu Kelly, apa saya harus memberikan ini pada Anda?" tanyanya.
Kelly tidak banyak bicara, dia mengambil formulir kemudian menandatangainya tanpa bertanya. Tidak lupa, dia menyerahkan uang $15ribu pada Hestia.
“Hitung uangnya dulu baru tanda tangan di sini,” titahnya dengan nada sedikit judes.
Hestia melakukan apa yang diperintahkan, mengembalikan buku catatan yang sudah ditandatangani.
"Terima kasih. Formulir ini, saya harus memberikannya pada siapa?”
"Berikan saja pada Bu Sandra bagian HRD. Nanti akan dipotong otomatis,” katanya dengan tatapan kosong, lalu mengenakan mantel dan merebahkan diri di kursi seolah tak ada lagi pekerjaan yang harus ia kerjakan hari itu.
Hestia mengerutkan kening, tapi tidak bertanya apa yang terjadi. Dia mengikuti saran dari Raven tidak mempercaya siapapun, apalagi setelah apa yang dilakukan Sandra padanya. Dia benar-benar harus berhati-hati.
Berbicara tentang Sandra, dia masih harus menghadap wanita itu untuk menyerahkan formulir. Dengan kepala tegak, percaya diri, Hestia melangkahkan kaki ke ruang HRD, menyerahkan formulir tersebut, Sandra yang melihat Hestia mengerutkan kening.
Hestia tersenyum sambil menatap Sandra, yang bingung melihat formulir yang ditandatangani.
"Apa Pak Raven yang menandatanganinya? Kenapa?" Sandra bertanya dengan penuh kebingungan.
'Dan oh! Sandra berani bertanya? Jadi, dia benar-benar berharap Boss Raven tidak akan menyetujuinya? Apa dia tahu kalau saya akan malu?’
Sama halnya dengan Sandra, Hestia pun bahkan tidak tahu alasan Raven menandatangi formulir itu, dia tahu jika meminta gaji di hari pertama kali itu sangat berani. Namun, itu tidak lagi penting karena dia sudah mendapatkan uang yang dibutuhkan. Dan, dia ingin menunjukkan pada Sandra jika wanita itu telah gagal membuatnya malu di depan atasannya.
"Yah, Pak Raven menandatanganinya, Bu. Kenapa? Apa ada masalah?" Hestia membalas dan berbalik pergi, tapi ia bisa mendengar Sandra berbicara.
"Apa tanda tangannya sah? Jangan-jangan kau memalsukannya? Kau meniru tanda tangan Pak Raven agar kau bisa mendapatkan uang?" Sandra berkata sambil menyeringai.
Telinga Hestia berdenging mendengar perkataannya. Tapi dia tetap tenang, berjalan ke arah Sandra. "Jika Anda tidak percaya, kenapa tidak menelpon Pak Raven untuk mengeceknya, apa saya memalsukan tanda tangan itu atau tidak. Anda bisa memastikannya sendiri jika Pak Raven benar-benar menandatanganinya," ucap Hestia dengan tegas pada Sandra sebelum mengambil telepon dan mencoba menelepon kantor bosnya.
Dia tersenyum pada Sandra sambil memegang telepon. Dia mendengar atasannya menjawab dan Sandra bertanya pada Raven. Senyumnya semakin lebar saat melihat wajah Sandra yang saat Wanita itu perlahan-lahan menurunkan gagang telepon.
"Apa sekarang sudah baik-baik saja?" tanyanya. Sandra tidak menjawab, jadi dia tersenyum lagi. "Kalau sudah tidak ada masalah lagi, saya akan kembali ke kantor, saya masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan di sana," ujarnya sebelum akhirnya meninggalkan kantor HR.
***
Raven melihat ke arah pintu ketika mendengar Hestia mengetuk pintu.
"Pak, Pak Grimes sudah datang," seru Hestia mempersilahkan teman Raven yang sudah menjadwalkan pertemuan dengannya untuk masuk.
Itu adalah Glen, teman dekat serta rekan bisnisnya. Dan sekarang perhatian pria itu tertuju pada sekretaris Raven. Tepatnya, perhatiannya tertuju pada Hestia yang keluar dari kantor.
"Matamu bisa keluar," goda teman Raven. Glen menoleh ke arahnya, dengan senyum lebar yang terkesan mengejek.
Ia tahu Glen cukup menawan di hadapan wanita. Pria itu mendekati Raven dan duduk di kursi kosong di depannya. Ia melirik sejenak ke arah jendela kaca di mana ia bisa sedikit melihat Hestia di luar.
"Wow, sekretaris baru? Apa terjadi sesuatu pada Sandra?” tanyanya.
"Sudah kubilang, Sandra bukan sekretaris. Dia hanya sementara. Hestia, dia sekretarisku sekarang. Dan aku ingatkan. Kau tidak boleh merayunya.” Raven memperingati temannya, membuat Glen tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa? Apa kau berencana merayunya? Wow, akhirnya kau tertarik juga pada sekretarismu," goda Glen, dan Raven tahu kalau mulai sekarang, Glen tidak akan berhenti menggodanya tentang Hestia.
Raven menyeringai sambil menggelengkan kepalanya. "Bodoh. Itu tidak akan terjadi. Aku tidak punya rencana seperti itu. Dia hanya sekretarisku, itu saja. Tidak ada motif atau keinginan tersembunyi. Aku bukan seperti kau, yang selalu meniduri semua sekretarismu."
Glen mengangguk, tidak menyangkal apa yang dikatakan Raven tentang dirinya. "Kau memang berbeda, tapi aku tidak akan menyangkalnya." Glen melihat ke luar lagi... ke arah Hestia yang sepertinya sedang menelepon. "Tapi dia manis. Cantik, seksi, walaupun pakaiannya tidak terbuka tapi bentuk tubuh yang bagus tidak bisa disembunyikan, meski ditutupi."
"Sialan kau. Dasar c***l. Apa matamu punya penglihatan x-ray dalam hal Wanita?" tanya Raven sambil melihat kembali ke laptopnya.
"Beritahu aku kalau kau benar-benar tidak berniat menidurinya. Siapa tahu, mungkin dia yang bisa mengubahku," ucap Glen, yang membuat Raven menggelengkan kepala.
Hestia melihat ke dalam kantor bosnya. Raven sedang berbicara dengan seorang pria yang mungkin adalah temannya dan sepertinya pembicaraan mereka akan berlangsung cukup lama, jadi dia memutuskan untuk menelepon ibunya.
"Halo, Bu. Uangnya sudah Tia kirim, ya. Ibu bisa ambil di kantor pos. Tia juga udah ngirim rinciannya kok,” ucap Hestia pada ibunya yang saat berbicara di telepon.
"Itu bagus. Untung saja kau mengirim uang tepat waktu. Ayahmu benar-benar harus membayar utangnya. Aling Mirna sudah banyak menagih. Dan kita juga perlu membeli bahan makanan, kita tidak punya makanan lagi," jawab ibunya, membuatnya tersenyum. "Ibu akan pergi ke kantor pos sekarang, lalu langsung pergi ke toko kelontong."
Dia masih bisa mendengar ibunya berbicara dengan ayahnya, yang juga tampak senang karena uang yang dia kirimkan.
"Bu, uangnya tolong dihemat. Ini hanya uang muka. Itu juga akan dipotong dari gajiku tanggal 15 nanti, jadi mungkin Tia tidak akan bisa mengirim seperti ini lagi saat gajian nanti.”
“Apa? Kenapa kau menyuruh ibu berhemat?” teriak ibunya dari seberang telpon membuat Hestia menjauhkan telponnya dari telinganya sesaat, lalu Kembali mendengarkan apa yang dikatakan oleh sang ibu. “Kau ada di New York untuk bekerja dan menghidupi kami ‘kan? Kau bekerja agar memenuhi kebutuhan kami di sini. Apa saat kau meminta uang untuk kuliah, apa kami ragu? Tidak ‘kan? Sekarang kau ingin kami menghemat dengan uang yang kau kirimkan? Bahkan itu tidak cukup untuk menutupi biaya yang ayahmu keluarkan untuk sekolahmu.”
Hestia menghela napas. "Tia tahu, Bu. Tapi aku baru saja dapat pekerjaan. Tia bahkan beruntung mereka memberikan izin mengambil gaji diawal. Uang itu juga akan dipotong dari gaji bulanan Hestia, Bu. Jadi aku hanya dapat setengahnya, sedangkan sisanya buat biaya hidup di sini,” jelas Hestia dengan sangat lembut berharap ibunya memahami.
Namun, seperti sebelumnya. Sang ibu pasti tidak akan memahami apa yang dikatakannya.”
"Astaga! Jadi, kami harus menyesuaikan diri dengan itu? Temukan cara untuk mengatasinya. Jangan membuat kami menderita di sini. Gajimu di perusahaan yang kau masuki itu rendah ‘kan? Lalu kenapa kau puas dengan itu? Kau lulusan terbaik di perguruan tinggimu. Kenapa kau tidak mengambil pekerjaan lain yang lebih tinggi?”
“Bu. Tidak semudah itu. Seandainya saja ibu—” Perkataan Hestia tercekat, dia tidak mampu melanjutkan kalimatnya.
Ibunya keras kepala. Orang tuanya tentu tidak paham dengan siatuasinya di New York. Cara pandang orang di kotanya, sangat berbeda dengan kehidupan di New York. Mereka piker hanya karena di New York maka hidup akan nyaman, uang berlimpah. Nyatanya tidak seperti itu.
Hestia tahu, tidak peduli sebanyak apa penjelasan yang dia berikan pada orang tuanya, itu sama sekali tidak akan didengarkan. Apalagi saat mereka tahu dia memiliki pekerjaan. Ibunya percaya jika dia harus memenuhi semua tanggungjawab sebagai anak tertua keluarga.
“Kalau memang begitu, tinggalkan saja pekerjaanmu. Cari kerja yang gajinya lebih besar agar kau tidak membuat kami sengsara di sini!” teriak ibunya sebelum menutup telpon.
Helaan napas kasar Hestia terdengar. Saat masalah pekerjaan telah selesai, sekarang masalah belum memenuhi kebutuhan keluarga yang menjadi masalahnya. Dia harus mencari pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilannya. Ia hanya berharap hal tersebut tidak menimbulkan masalah dalam pekerjaannya di sini.