“Pak, ini kopi Anda,” seru Hestia meletakannya secangkir kopi di atas meja Raven.
Raven menatap Sekretaris barunya yang baru saja meletakan kopi. “Kau boleh meminumnya. Jam berapa meeting pertamaku?” tanya Raven sebelum mengambil mantel dan memakainya.
"Jam 9 pagi, Pak," jawab Hestia.
"Bagus, setelah itu?" tanyanya lagi ketika dia sudah berada di dekat pintu.
"Setelah itu, Pak. Tidak ada, tapi pertemuan berikutnya, siang ini jam 2 siang," jawabnya seolah-olah dia sudah tahu jadwal Raven hari itu.
"Bagus. Mundur meeting jam 9 pagi ke jam 11 pagi. Aku akan keluar bertemu Glen pagi ini dan aku akan sarapan di luar kantor. Aku akan kembali sebelum jam 11 pagi, jadi kamu urus semuanya di sini. Jika ada yang datang dan ingin menandatangani sesuatu, simpan saja, aku akan menandatanganinya nanti."
Hestia mengangguk sebagai jawaban atas instruksi Raven. "Baiklah, Pak. Saya akan mengurusnya. Hati-hati ya, Pak," kata Hestia, tapi Raven tidak menanggapi, pria itu segera meninggalkan kantor.
Melihat kopi yang tadi seduhnya tidak disentuh, Hestia membawanya kembali ke pantry lalu memberinya sedikit gula karena dia sangat suka kopi manis. Sayang sekali jika harus membuang kopi tersebut mengingat merk kopi bosnya sangat mahal dan juga dia tidak ingin mengeluarkan uang hanya untuk minum kopi, jadi kenapa harus menyia-nyiakannya?
Selepas kepergian Raven, Hestia focus dengan pekerjaannya menyusun jadwal bosnya sambil menyeruput kopi. Beberapa karyawan datang meminta Raven menandatangani dokumen. Seperti yang disarankan Hestia mengambil dokumen tersebut saambil memisahkan dokumen penting dan tidak terlalu penting yang mendesak. Walaupun Raven tidak memintanya tapi Hestia tetap melakukannya. Dia memeriksa masing-masing dokumen untuk promosi, karyawan serta wawancana yang dikirim oleh HR sebelumnya. Hestia meyayangkan bukan Sandra yang mengantarkannya langsung padahal dia ingin menggoda wanita itu lagi.
Sudah dua minggu sejak dia dipekerjakan sebagai sekretaris bosnya. Dan selama dua minggu itu, dia menyaksikan bagaimana bosnya beroperasi di kantor. Tidak hanya itu, tapi juga orang-orang di sekitar bosnya.
Raven, bos yang ramah. Pria itu benar-benar pekerja keras, itu terlihat saat Raven tengelam karena kerjaannya. Dia tidak memberikan tugas pada orang lain meskipun dia adalah bos. Selain Raven anak tertua dari pasangan Salazar, pria itu memiliki adik kecil sehingga dia tidak memiliki partner dalam menjalankan bisnis. Ketekunan, serta kecerdasaan alasan membuat perusahaan Salazar tumbuh pesat. Selain itu, dia tidak tahu banyak mengenai bosnya.
Raven sangat tegas dalam pekerjaan tapi selama melakukan perkerjaan dengan baik, tidak aka nada masalah. Hestia masih perlu mempelajari banyak hal karena baru dua minggu bekerja. Dia berusaha mengenai kepribadian pria itu, dia tahu jika dia bisa melakukannya.
Sambil tersenyum, Hestia milih dan memilah dokumen. Dia sangat beruntung memiliki atasan yang baik. Meskipun banyak bicara dengannya tapi dia sangat bersyukur karena Raven mudah diajak bicara, Raven pun tidak sombong seperti bos-bos lain yang pernah dia temui saat wawancara dulu.
Sebuah ketukan pintu terdengar, Hestia melihat Kelly dan Camille dari bagian keuangan. Diab isa melihat jika keduanya sangat dekat satu sama lain.
Hestia berdia kemudian tersenyum. “Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu? Apa kalian datang mencari Pak Raven? Maaf, tapi—”
“Kami datang ke sini bukan untuk bertemu Pak Raven tapi kami datang bertemu denganmu.” Kelly menyela dan mendekatinya.
Hestia menunjuk dirinya sendiri, tampak bingung. "Aku?"
"Ya, kau," tegas Kelly sampai Camille memeluknya.
"Kels, hentikan. Sudah kubilang menyerah saja."
Kelly menggelengkan kepalanya, menatap Camille. "Tidak. Aku harus menjelaskan pada Hesti. Dia memang sekretaris Pak Raven tapi Pak Raven itu milikku, hanya milikku.”
“Apa? Pak Raven miliknya? Wait, jadi Bu Kelly punya perasaan pada Pak Raven? Jadi, semua ini tentang itu? Apa itu sebabnya Bu Kelly selalu datang ke sini?”
Hestia tersenyum, dia tidak menyangka ada romantisme kantor semacam ini terjadi di sini. Hal itu membuatnya penasaran berapa banyak Wanita yang menjalin hubungan dengan bosnya itu. Apa Kelly dan Pak Raven pernah berpacaran? Dia tidak terkejut karena ia tahu jika sang bos sangat tampan.
“Kelly, cukup. Bagaimana jika dia merencanakan sesuatu dengan Pak Raven, itu lebih baik daripada menyebarkan rumor? Itu berarti Pak Raven menyukai wanita. Kau seharunya senang,” omel Camille sambil mengerutkan alisnya.
“Wait, apa kau menyukai Pak Raven?” tanya Hestia membuat Kelly terdiam. “Apa maksudmu dengan menyukai sesuatu?” tanya Hestia lagi. Baik Camille dan Kelly saling menatap satu sama lain.
“Ya. Aku menyukai Pak Raven, kau harusnya tahu itu,” emosi Kelly sebelum menghela napas. “M-mengenai rumor itu, k-kami tahu apa yang kau lakukan sampai membuat Pak Raven setuju memberimu gaji di muka. Saya pikir kau karyawan baik tapi kau melakukan itu dengan Pak Raven di kantor.”
'Apa yang dikatakan wanita ini? Apa yang mereka bicarakan?’
Sebelum bicara, Hestia menghela napas. “Huh. Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti apa yang kau katakan,” sanggah Hestia membuat dua orang yang ada di hadapannya tidak terima. “Oke, saya aku saya pun penasaran apa yang membuat Pak Raven menandatangi formulir itu apalagi saya meminta gaji diawal. Saya tahu kau juga berpikir itu aneh tapi saya memohon sambil berlutut agar tidak dipecat kemudian Pak Raven memberikan formulit yang sudah ditandatangani padaku.”
Mendengar penjelasan Hestia membuat keduanya terdiam, bahkan saling menatap satu sama lain. “K-kau memohon? H-hanya itu saja? K-kau tidak memberi oral?” Kelly bertanya.
Hestia mengerutkan kening. Dia tidak mengerti kata terakhir yang diucapkannya. "Oral apa? Apa maksudmu?"
Keduanya saling memandang kemudian tertawa. Kelly kemudian mendekat dan berbisik membuat mata Hestia terbelalak saat mendengar arti dari kata itu. Bulu kuduknya merinding, dia tidak percaya jika dua orang yang tengah bersamanya memikirkan hal itu mengenai dirinya yang mendapatkan tandatangan Raven.
“No. Oh god. Itu tidak akan terjadi. Kenapa kalian berpikir jika aku melakukan hal itu dengan Pak Raven. Membayangkan saja membuatku merinding,” tegas Hestia sambil mengigil, lebih tepatnya dia merinding.
“Jadi itu tidak terjadi? Kau tidak melakukannya dengan Pak Raven? Kalian tidak ada kegiatan seksual?” Kelly lagi-lagi bertanya.
“Tidak. Tidak ada! Jangan ulangi kata kotor itu!” Hestia memarahi Kelly.
Camile tertawa kecil, menggelengkan kepalanya. "Sepertinya Hestia masih perawan."
Hestia mengangkat alisnya. “Apa yang mereka pikirkan? Mereka pikir aku tidak perawan. Astaga. Jadi apa yang mereka pikirkan? Apa orang-orang di New York melakukan hubungan seks bahkan sebelum menikah dan itu normal.
"Hei! Aku masih perawan!" katanya.
Mendengar perkataan Hestia, Kelly tertawa terpingkal-pingkal. Entah karena Hestia yang sangat polos atau karena dia bahagia pria yang ditaksirnya tidak memiliki hubungan dengan Hestia.
“Itu tidak mungkin terjadi. Sangat tidak mungkin!”
Hestia menghela napas, ia tidak mengerti. “Jadi, kau marah karena menganggap aku dan Pak Raven melakukan sesuatu? Bukannya aku sudah bilang aku tidak melakukan itu. Sekarang, kenapa kau malah menangis?”
Pada saat itu, Camile menjawabnya. "Jadi di mana Pak Raven?"
"Dia sedang sarapan dengan Pak Glen." Saat Hestia mengatakan itu, Kelly malah kembali menangis lagi.
“Em. Jadi begitu Hestia. Ada rumor beredar di perusahaan mengatakan jika Pak Raven dan Pak Glen menjalin hubungan. Saat kami pikir Pak Raven menyukaimu, kami—” Camille tidak melanjutkan kalimatnya. “Karena itu kami pikir kau melakukan itu. Kelly sangat sedih dia berharap Pak Raven menyukai wanita tapi seperti yang kau bilang, kau tidak melakukannya jadi itu tidak ada harapan lagi karena Pak Raven adalah gay.”
Mulut Hestia menganga, mendengar apa yang baru saja dikatakan Camille, jelas dia tidak percaya. Selama dua minggu ia berada di sini, hal itu tidak pernah terlintas dalam pikirannya.
"Tunggu. Apa kalian baru saja mengatakan Pak Raven itu—gay?”