Sekarang, Ari dan Jessie sudah berada di ruang tamu sebuah rumah besar yang di desain dengan sangat classic. Jessie yang baru pertama datang ke rumah itu dan tidak terbiasa dengan suasana baru, hanya duduk di pangkuan Ari meletakkan kepala di d**a bidang ayahnya itu. Tatapannya terus tertuju pada seorang pria paruh baya yang terlihat sangat lesu dan kurus duduk di sebuah single sofa di hadapannya dan Ari.
“Gimana keadaan Om sekarang?”
“Aku udah baik-baik, aja. Kenapa kalian tiba-tiba datang ke sini?”
Ari berdeham. “Untuk melihat keadaan Om,” balas Ari to the point. “Dan sepertinya benar, karena aku lihat om baik-baik aja sekarang.” Ari menatap pria yang ia panggil Om itu dari ujung kepala sampai tubuh bagian atasnya.
Pria baya itu berdecih. “Aku masih kuat seperti dulu, tidak ada yang perlu kau khawatirkan.”
Ari bergerak, bersiap-siap untuk bangkit dengan Jessie di dekapannya. “Kalau gitu kami pamit dulu.”
“Kenapa buru-buru sekali? Aku masih rindu dengan cucu-ku,” sergahnya menahan Ari untuk bangkit.
Ari kembali duduk di tempatnya, memperbaiki posisinya agar lebih nyaman.
“Jessie, sini sama Opa.”
Jessie semakin mempererat peluknya pada Ari, membuat Ari mengerti bahwa Jessie tidak menginginkan keadaan seperti sekarang.
“Jangan memanggilnya ... ia tidak suka!” Ari berucap tegas tapi tatapannya beralih pada Jamal yang baru masuk ke dalam rumah dan memilih berdiri di sisi kirinya.
Pria itu tersenyum canggung. “Walau gimanapun dia tetap cucuku. Wajah Jer-!”
“Stop!!” bentakan Ari pada pria paruh baya itu, membuat Jessie ketakutan dan berakhir nangis histeris.
Ari langsung bangkit berdiri, menggoyang-goyangkan tubuh Jessie untuk memenangkannya. Kedua matanya tidak luput dari om-nya yang saat ini sedang tertawa tipis.
“Kau mengejutkannya.”
“Jessie sini sama opa.” Untuk sekali lagi ia memanggil Jessie dengan merentangkan tangannya seolah-olah meminta Jessie beralih ke gendongannya.
Tak disangka itu berhasil. Jessie yang masih menangis ikut merentangkan tangan ke arah pria baya itu dan meronta-ronta dalam gendongan Ari. Ari sangat terkejut melihat hal itu, ia benar-benar bingung harus melakukan apa. Ia sangat tidak ingin Jessie berada di pelukan om-nya itu, tapi tangisan Jessie yang semakin histeris membuatnya semakin tidak tegas.
“Hanya sebentar, bisa saja ini terakhir kaliku,” ujar pria paruh baya itu. Kali ini terdengar sangat meyakinkan Ari.
Ari dengan keterpaksaan memberikan Jessie ke pangkuan om-nya. Senyuman manis om-nya menatap Jessie menghadirkan ketakutan yang teramat besar pada diri Ari. Membuatnya tidak ingin beranjak dari hadapan om-nya yang sudah fokus menenangkan Jessie. Sangat membuat Ari geram, ketika Jessie berhasil tenang di pelukan om-nya. Jamal yang berada di belakang Ari beraksi dengan tugasnya, memotret kedekatan antara kakek dan cucu itu. Tidak hanya foto, Jamal juga merekam kegiatan pria paruh baya itu ketika menenangkan Jessie walau dengan durasi yang sebentar, karena takut ketahuan oleh Ari.
“Sudah cukup. Kami akan pulang sekarang,” ujar Ari datar berniat mengambil Jessie dari pangkuan om-nya.
Sebelum Ari mengambil Jessie, pria itu mengecup singkat pipi Jessie tanpa melihat ekspresi tegang Ari.
Ari langsung menggendong Jessie dan menaruh kepala putrinya di bahunya. “Kami pulang. Semoga om cepat sembuh!” terdengar nada tegas diakhir ucapan Ari.
Semoga kau cepat mati, batin Ari.
Ia melangkahkan kaki menuju pintu utama rumah itu. Jamal yang ingin mengikuti langkah kaki Ari untuk pergi, tiba-tiba ditahan oleh pria paruh baya itu.
“Jaga dia baik-baik,” pesan pria paruh baya.
Jamal dengan senyumannya berjalan menghampiri pria paruh baya itu, memberikan pelukan hangat sebentar, sebelum pergi menyusul Ari yang sedikit lagi keluar dari pintu utama.
Di sepanjang perjalanan, Ari berusaha menidurkan Jessie di pangkuannya. Sampai kapanpun kamu tetap milik papa, J.
Jamal melirik dari kaca spion bagaimana Ari menatap Jessie, mengelus kepala kecil itu dengan penuh kasih sayang.
Sesungguhnya, Jamal tidak tega berbuat seperti sekarang pada Ari. Tapi ia juga tidak punya pilihan lain. Ari memang baik padanya, tapi sejak awal yang dilakukan Ari memang salah dan bos Jamal yang sebenarnya adalah Jere. Jamal terus meyakinkan diri untuk tidak mengkhianti Jere dan papanya yang telah baik pada keluarganya sejak lama.
Di rumah. Jasmine masih setia dengan kegiatannya menatap jendela besar tanpa niat beranjak dari sana. Ari yang baru sampai memilih memberikan Jessie pada Mina dan Susi untuk tidur bersama mereka, agar Ari bisa mengurus Jasmine sejenak.
“Sayang,” panggilnya dengan sangat lembut. Ari menutup pintu kamar tidak lupa menguncinya.
“Aku mau kamu malam ini.”
Jasmine tetap diam tanpa mengindahkan permintaan Ari. Membuat Ari semakin mendekati istrinya itu, menaiki tempat tidur untuk mendekap tubuh kecil istrinya itu dari belakang. Ari meletakkan dagu nya di lekukan leher istrinya. Jasmine bisa merasakan sentuhan napas Ari pada leher jenjangnya.
“Aku mau kamu....” Jasmine menghembuskan napas mendengar suara desahan suaminya. Jasmine melepas pelukan Ari pada pinggangnya, membalikkan tubuh menghadap suami tercintanya dengan mata yang terkunci pada bibir merah milik Ari.
Mungkin dengan melakukan itu malam ini, aku bisa melupakan Jere, batin Jasmine.
Jasmine dengan agresif melumat bibir merah Ari, memainkan lidah nya di dalam mulut suaminya. Ari yang masih terkejut dengan tindakan Jasmine masih terdiam tanpa membalas perbuatan istrinya itu. Ini adalah pertama kalinya Jasmine memulai hubungan intim ini dengannya, biasanya Ari yang duluan mulai menggoda Jasmine.
Tidak mendapat balasan dari Ari, Jasmine menghentikan kegiatannya. Ia menatap suaminya yang masih terpaku menatapnya. Ibu jarinya tergerak menyentuh bibir Ari yang sudah basah karena perbuatannya.
“Sayang, sekarang aku yang menginginkanmu,” gumam Jasmine tepat di telinga Ari.
Ari mulai memeluk pinggang Jasmine yang sudah duduk di atas pangkuan nya. Merasakan balasan dari Ari, Jasmine mulai menggoyangkan pinggul nya di atas pangkuan Ari.
Suara desahan Ari kembali terdengar. Jasmine tersenyum tipis karena hal itu, ia merasa bahagia untuk pertama kali melakukannya dan berhasil membuat suaminya larut dalam permainannya.
“Aku udah enggak tahan sayang,” bisik Ari.
Ari yang sudah tidak tahan mengangkat tubuh Jasmine perlahan, menidurkannya di atas tempat tidur king size milik mereka. Ia menatap Jasmine dengan penuh sayang, menyalurkan kenyamanan yang luar biasa untuk wanita yang sangat ia cintai itu. Tangan kanan nya tergerak mengelus bibir Jasmine, mempersempit jarak wajahnya dengan Jasmine.
“Aku akan mulai sayang.”
Ari mulai melumat bibir Jasmine semakin dalam, tangan kirinya menggenggam tangan Jasmine yang berada di sisi kirinya. Tangan kanannya mulai menyentuh dua gundukan Jasmine secara bergantian. Sebuah desahan kecil mulai terdengar lolos dari mulut Jasmine.
Malam sepi yang terasa sangat panas bagi sepasang suami istri itu. Mereka menikmati malam b*******h itu dengan pikiran masing-masing yang penuh dengan kekhawatiran.