Matahari sudah menembus tirai kaca besar yang mengarah pada dua insan yang masih berada di atas tempat tidur. Ari masih tertidur lelap memeluk pinggang Jasmine yang sejak pukul lima pagi sudah bangun, tapi enggan beranjak dari tempat tidur. Kedua mata nya hanya menatap tirai yang menutup jendela besar tanpa melakukan hal lain.
Sudah lama sejak Jasmine melupakan Jere, bahkan ia tidak pernah lagi mengingat tentang pria itu walau hanya sedetik. Kehadiran Ari dan Jessie seakan-akan tidak memberikan waktu padanya untuk mengingat laki-laki yang dengan tulus ia cintai, tapi malah menyakitinya teramat dalam.
Tepat pukul delapan pagi Ari bangun dari tidurnya. Melirik sejenak ke arah Jasmine yang memilih berpura-pura tidur setelah merasakan pergerakan dari suaminya. Ari tersenyum simpul membayangkan malam mereka kemarin yang membuatnya tidak lagi khawatir tentang perasaan Jasmine yang menyimpan nama Jere, karena tindakan Jasmine padanya semalam sudah membuktikan bahwa Jasmine hanya milik Ari seorang.
“Sayang....” Ari menggoyangkan tubuh Jasmine dengan lembut.
“Hem....” Jasmine berdeham dengan suara serak khas bangun tidur.
“Udah siang, ayo bangun.”
“Jam berapa?” Jasmine bertanya sembari berbalik, merubah posisi menghadap Ari.
“Sebentar lagi jam sembilan.”
Jasmine menatap Ari yang juga menatapnya, menghadirkan senyuman di bibir nya.
“Mandi sana, kamu harus ke kafe hari ini!” tegas Jasmine penuh penekanan.
Ari menghembuskan napas. “Besok aja, ya? Aku masih mau dekat kamu.”
“Kak! Nanti kerjaan kamu numpuk gimana?”
“Iya-iya, aku mandi sekarang.”
Jasmine terus menatap Ari yang berdiri sampai berjalan memasuki kamar mandi. Ia sudah biasa melihat Ari hanya dengan menggunakan boxer tipis. Kebiasaan keduanya memang seperti itu, setelah bercinta tidak langsung tidur melainkan memakai kembali pakaian mereka. Bedanya, Ari hanya memakai boxer dan Jasmine memakai kaus tipis tanpa memakai bra sedangkan untuk bawahan, Jasmine hanya menggunakan celana dalam.
Aku mohon, hapus semua tentang dia dalam hidupku. Aku sudah bahagia, aku tidak ingin kembali hidup di bawah bayang-bayangnya. Bahkan, mimpi saja membuatku takut seperti ini. Bagaimana jika itu menjadi nyata?
Jasmine menggelengkan kepala cepat menolak semua pikiran negatif yang hadir di kepala nya. Ia merubah posisi menjadi duduk, mengangguk-anggukkan kepala beberapa kali, meyakinkan diri kalau ia tidak boleh lagi memikirkan pria lain selain Ari. Ia harus bangkit demi Ari dan putrinya.
Dua puluh menit berlalu, Ari keluar dengan handuk melilit pinggang.
“Sekarang kamu yang mandi.” Jasmine mengangguk mengindahkan ucapan Ari.
Ia menyibak selimut asal. Bangkit berdiri, berjalan dengan santai menuju kamar mandi tanpa rasa malu pada Ari. Lelaki itu tersenyum bahagia merasa kalau Jasmine sudah jauh lebih baik. Kaki jenjang Ari berjalan ke arah lemari untuk melihat pakaian seperti apa yang akan ia kenakan hari ini. Berpikir memberikan istri tersayangnya libur, yang setiap hari selalu menyiapkan segala keperluan dirinya. Untuk hari ini, ia yang akan memilih baju sendiri. Ari mengambil setelan kemeja navy dengan celana berwarna hitam. Hanya lima belas menit Ari mempersiapkan diri dan sekarang ia sudah siap untuk berangkat kerja.
“SAYANG, AKU KELUAR DULUAN, YA!” teriak Ari di depan pintu kamar mandi.
“IYA SAYANG.” Mendengar jawaban Jasmine, Ari berjalan keluar kamar tidak lupa menutup pintu.
Ari berjalan dengan santai menuju meja makan yang di sana sudah ada Jessie yang sangat ceria menyambutnya. Jessie turun dari kursi, kaki kecil miliknya berlari cepat ke arah Ari yang sudah jongkok merentangkan tangan untuk menangkap tubuh kecil Jessie yang berlari.
“Aduhh,” adu Ari ketika Jessie menubruk d**a bidangnya karena sangat semangat. Ia memasang wajah pura-pura kesakitan di depan Jessie.
Putri kecilnya hanya tertawa lepas melihat wajah kesakitan Ari yang baginya sangat lucu.
“Papa kesakitan, J. Kok kamu malah ketawain papa, sih?”
Jessie mengecup kedua pipi Ari dan terakhir bibir nya, buat Ari kembali tersenyum bahagia membalas kecupan singkat di seluruh wajah Jessie. Gadis kecil itu meronta-ronta dalam pelukan sang papa, tawanya sangat lepas karena merasa geli dengan tindakan Ari padanya. Mina dan Susi yang berdiri tidak jauh dari mereka, ikut tertawa melihat kemesraan ayah dan anak itu.
“Papa, Jessie rindu papi,” gumam gadis kecil itu, membuat Ari terdiam.