Rindu

1298 Words
Jasmine mencium pipi bulat Jessie yang terbentuk karena mulutnya dipenuh dengan makanan. “Kenapa kamu gemesin banget, Nak?”“Kan kayak papa-nya.” Jasmine memasang wajah garang menatap Ari. “Mirip mama-nya!” “Papa kan, J?” “Mama!!” “Papa atau mama?” Ari menunjuk dirinya dan Jasmine bergantian. Jessie memeluk Ari sangat girang. Tawa Ari pecah melihat wajah Jasmine yang ditekuk setelah melihat reaksi Jessie yang berarti memilihnya. “Udah terbukti, dong,” goda Ari. “Iya-iya, terserah kalian, aja.” Jasmine mengambil posisi duduk samping Jessie untuk membantunya makan. Sejak beberapa bulan lalu, Jasmine memang sudah memberi izin Jessie untuk makan sendiri, tapi itu ketika Jessie hanya melakukan kegiatan di rumah. Jika, Jessie ingin pergi ke sekolah atau ingin bepergian, Jasmine akan tetap mengambil alih tugas untuk memberi makan putri kecilnya karena tidak ingin pakaian Jessie menjadi kotor. Jasmine menyuapi Jessie roti selai strawberry yang sudah di siapkan oleh Susi untuk Jessie setiap pagi. Jasmine tidak tahu dari siapa kebiasaan itu diturunkan pada Jessie. Setelah Jessie masuk sekolah, gadis itu hanya menginginkan roti selai strawberry dan s**u vanila sebagai menu makanan dan minumannya setiap pagi. Terkadang, Jessie bisa menghabiskan dua sampai tiga potong roti untuk sarapannya. Jasmine mengarahkan roti selai ke depan mulut Jessie untuk kedua kalinya, lalu disantap lahap oleh gadis kecil itu. “Enak?” tanyanya. “Enak!” seru gadis itu dengan wajah riang. Membuat Ari tertawa pelan melihat betapa lucunya Jessie. “Hari ini aku antar kalian, ya,” ujar Jasmine melirik Ari sejenak. “Kenapa?” Ari bertanya sembari mengangkat gelas berisi teh yang ada di sisi kanan nya. “Pengen, aja, enggak boleh?” cetus Jasmine. Ari terkekeh. “Mama masih sensi, J.” Jessie tertawa mendengar ucapan Ari yang terus menggoda Jasmine, apalagi dukungan wajah Jasmine yang terlihat sangat kesal membuat Jasmine terlihat lucu di mata Jessie. “Terus kamu pulangnya gimana?” Sejenak, Ari menatap Jasmine memikirkan bagaimana cara istrinya itu pulang dengan aman. “Udah, ah. Tinggal naik angkot atau taksi,” sambung Jasmine kembali menyuapi Jessie. Ari tidak mengindahkan ucapan Jasmine. Masih terlihat ia memikirkan cara istri nya pulang dengan aman. Satu cara terlintas dibenak Ari. Namun, dirinya yakin kalau ide itu akan membuat lelah Jamal. “Buk Sus, tolong panggilkan, Pak Jamal,” pinta Ari pada Susi yang berdiri tidak jauh dari mereka. “Buat apa?” tanya Jasmine sambil memberikan s**u yang diminta oleh Jessie. “Aku ada ide,” jawab Ari singkat. Tak lama Jamal datang bersama dengan Susi. Ia berdiri di belakang bangku Jessie sambil mengelus kepala Jessie yang sedang mengunyah suapan terakhirnya. “Ada apa, Mas Ari?” “Jasmine mau ikut mengantar aku dan Jessie. Nanti setelah mengantar aku dan Jessie, bapak enggak papa kan antar Jasmine pulang dulu?” “Terus, setelah itu saya langsung balik ke kantor, lagi kan, Mas?” Jamal memastikan bahwa pikirannya tidak salah. Ari menjentikkan jari. “Untung bapak peka,” gurau Ari. Jamal tersenyum. ”Baik, Mas.” Ari mengangguk. “Cuma mau bilang itu, aja, Pak. Bapak udah makan?” “Udah, Mas.” Ari mengangguk-anggukkan kepala sembari mengelap mulut. “Oke, Pak.” Mata nya melihat Jamal sebentar. “Kalau gitu bapak keluar dulu, Mas.” “Makasih, Pak.” “Sama-sama, Mas.” Saat Jamal ingin pergi, Jessie menggengam tangan besar yang mulai keriput itu, membuat semua yang ada di sekitarnya menatap dengan berbagai pertanyaan yang muncul di kepala mereka masing-masing. “J, rindu papi, Kek.” Mata hitam milik Jessie mampu menyentuh hati Jamal. Ia bisa merasakan kerinduan yang tersirat di kedua bola mata gadis kecil itu. Jamal jongkok mensejajarkan diri dengan Jessie yang menatapnya dari samping. ”Nanti kalau papi telepon, kakek pasti kasih tahu, Jessie.” Jamal mengelus rambut Jessie lembut. Wajah kecil yang tadi dihiasi senyuman manis seketika berubah murung. “Nanti kita marahin papi karena enggak telepon, Jessie, oke?” Jamal berusaha menghibur. Tampak senyum tipis terbit di bibir nya. “Kakek harus marahin papi!” rajuk Jessie kembali mengulang perkataan Jamal. “Pasti! Sekarang kamu sekolah dulu, ya.” Jessie mengangguk. “Anak pinter.” Jamal kembali berdiri. “Memangnya, Lion ke mana, Pak?” “Katanya masih ujian, Mas. Bapak juga enggak tahu. Baru kali ini dia lama kasih kabar ke bapak setelah beberapa tahun di Inggris.” “Mungkin lagi sibuk, Pak. Sistem kuliah di Inggris sama di Indonesia kan beda.” “Sepertinya begitu, Mas.” “Bentar lagi, papi pasti telepon kamu.” Ari ikut menenangkan Jessie. “Kalau gitu bapak ke luar dulu, Mas,” pamit Jamal untuk kedua kalinya. “Iya, Pak.” Jamal kembali mengelus kepala Jessie sebelum kaki nya melangkah pergi ke luar. “Jessie, mau tambah?” tanya Jasmine. Wanita itu mencoba mengganti fokus Jessie yang ia yakini masih memikirkan Lion sosok pria yang ia panggil papi, sekaligus anak dari Jamal yang mendapatkan beasiswa sekolah di luar negeri, begitulah yang Jamal katakan pada Jasmine dan Ari mengenai ‘papi’ yang biasa Jessie katakan. “Enggak usah sayang. Kayaknya dia masih sedih,” ucap Ari melihat Jessie hanya menggeleng kepala menjawab pertanyaan Jasmine. “Nak, papa selalu bilang sama kamu kan? Kalau orang tua bertanya harus dijawab dengan....?” Ari menggantung akhir kalimat agar dilanjutkan oleh Jessie. “Baik,” sambung gadis kecil itu. “Pinter.” Ari mencubit pipi bulat Jessie pelan. “Anak papa gemesin.” Jasmine melirik arloji menunjukkan pukul tujuh pagi. “Kita berangkat sekarang, yuk. Nanti terjebak macet panjang, lagi.” Ia bergerak mengambil tas Jessie yang dipegang oleh Mina yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari meja makan. “Kita pergi dulu, ya, Buk. Jasmine cuma sebentar kok,” pamitnya menatap Mina dan Susi bergantian. “Iya, Mbak. Hati-hati.” Jasmine tersenyum lebar, lalu pergi menyusul Ari dan Jessie yang sudah keluar lebih dulu. Mina dan Susi juga ikut mengantarkan keluarga kecil itu hingga pintu utama. “Buk, kita berangkat, ya.” “Iya, Mas,” jawab Mina dan Susi serempak. Satu keluarga kecil itu masuk ke dalam mobil yang di dalamnya sudah ada Jamal yang siap mengantar mereka. Jessie melambaikan tangan pada Mina dan Susi sebelum mobil meninggalkan pekarangan rumah. Sepanjang perjalanan, wajah murung Jessie belum juga menghadirkan sebuah senyuman. Mulut yang biasanya terus mengeluarkan suara, kini, seperti enggan mengucapkan sepatah kata pun. “Jessie kok cantik banget hari ini?” tanya Jasmine mencuri perhatian Jessie agar mengeluarkan suara. Tetap diam. Jasmine menghela napas. “Jessie rindu banget sama, Papi?” Tiba-tiba suara isakan tangis terdengar di telinga Ari dan Jasmine. Gadis kecil mereka menangis. Suara tangisannya terdengar sangat pilu di telinga Ari dan Jasmine menghadirkan perasaan sedih di hati keduanya.   Jasmine mengangkat Jessie ke pangkuannya. Memeluk putri kecilnya itu untuk memberi kenyamanan yang diharapkan bisa membuatnya lebih tenang. “Anak papa kan mau sekolah. Masa nangis, sih? Nanti sampai sekolah jadi jelek dong. Udah ya, jangan nangis lagi,” bujuk Ari mengelus lembut kepala anaknya. “Nanti kakek telepon papi, ya, mau?” Pertanyaan menggiurkan dari Jamal mampu menenangkan Jessie sehingga tangisnya perlahan berhenti. Jessie mengangguk sekali dengan wajah yang terlihat lesu. “Pak, apa harus menunggu Lion dulu?” Jamal tidak langsung menjawab pertanyaan Ari, ia harus memikirkan bagaimana cara menghubungi bos nya yang sedang sakit itu. “Pak?” “Eh? Iya, Mas?” “Bapak mikirin apa?” Jamal menggelengkan kepala. “Bapak cuma enggak tega sama, Jessie, Mas.” Ari menghembuskan napas kasar. “Terus gimana, Pak?” “Nanti bapak coba telepon, Lion, Mas.” “Makasih, Pak,” sahut Jasmine. “Benar, Kek?” Jessie menatap ke arah kemudi untuk melihat Jamal. “Iya, Jessie.” Jessie tersenyum lebar. Ia turun dari pangkuan Jasmine, kembali duduk di tengah-tengah Ari dan Jasmine. “Bahagia banget kamu, Nak,” batin Jasmine melihat reaksi Jessie. Ia benar-benar bisa merasakan sebesar apa rasa sayang Jessie pada Lion yang ada di pikirannya. Brak! Jessie hampir terpental ke depan jika Ari sedikit terlambat memeluk tubuh mungil putrinya itu. Mereka berempat refleks melihat ke belakang, saat mengetahui sebuah mobil sedan berwarna hitam menghantam sisi belakang mobil mereka. “Waduh!!” Jamal merasa resah membayangkan seberapa besar kerusakan mobil majikannya. “Biar bapak periksa dulu, Mas.” “Kita sama aja, Pak. Kalian tunggu di sini, ya.” Jasmine mengangguk mendengar pesan suaminya. Setelah mendapat jawaban, Ari dan Jamal bergegas keluar untuk bertemu pemilik mobil yang menabrak mobil mereka. Seseorang yang keluar dari pintu belakang mobil sedan hitam itu mengejutkan Ari yang baru menutup pintu mobil. Jasmine yang berada di dalam mobil ikut terkejut ketika melihat seorang pria tersenyum tipis pada Ari dengan setelan jas hitam yang ia kenakan. Jessie melirik Jasmine setelah melihat wajah pria itu. “Ma, itukan-“  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD