Dia...

807 Words
“Ma, itukan-” “J, kenal dia, Ma!” pekik Jessie semangat. Jasmine memeluk Jessie dan membawanya turun dari mobil tanpa menjawab pertanyaan putri kecilnya itu. Ia takut pertengkaran hadir di antara dua pria yang ia kenali itu di tempat umum seperti ini. Jessie meronta di pelukan Jasmine meminta turun karena ingin memeluk pria di hadapannya itu. “Sini sayang,” panggil pria itu pada Jessie sambil tersenyum manis. Jasmine yang tidak kuat karena Jessie terus meronta akhirnya menurunkan putri kecilnya itu. Jessie berlari ke arah pria itu dan memeluk kaki nya. Pria itu membungkuk sedikit untuk menggendong Jessie. Pria itu mengecup pipi Jessie cukup lama, membuat Jessie memeluk leher nya cukup erat. “Maaf atas kesalahan supirku. Nanti akan ku ganti kerusakannya,” jawab pria itu tersenyum pada Jasmine. “Nggak usah, Om. Ari bisa memperbaikinya.” Ari memajukan dua tangan nya meminta Jessie berpindah ke dalam gendongannya, tapi Jessie tidak mau. “Nanti kamu terlambat sayang,” bujuk Ari mulai menarik pelan tangan Jessie dari leher om nya itu. “Iya sayang. Nanti kamu bisa ketemu opa lagi.” Pria paruh baya itu ikut membujuk Jessie, tapi tetap saja Jessie enggan kembali ke pelukan Ari. “Begini saja. Aku akan ikut mobil kalian untuk mengantarnya.” Terlihat wajah tidak suka Ari mendengar penawaran yang ditujukan om nya itu. “Hanya itu caranya agar dia mau ke sekolah,” lanjutnya untuk menggoyahkan pikiran keras Ari. “Kalau Opa antar, Jessie mau ke sekolahkan?” Jessie mengangguk semangat. Jawaban dari Jessie membuat pria paruh baya itu tersenyum lembut menatap Ari dan Jasmine bergantian. “Bagaimana?” “Udahlah sayang yang penting Jessie mau sekolah. Diakan om kamu juga,” bujuk Jasmine pada Ari. Ari menatap Jasmine sejenak, lalu mengangguk. “Terus om pulang naik apa?” “Dia akan mengikuti dari belakang.” Tunjuk pria paruh baya itu pada supir yang berdiri di belakang nya. “Oke,” jawab Ari singkat. Pria paruh baya itu berjalan pelan menuju pintu depan sambil mengajak Jessie berbicara. Hal itu membuat Jasmine tersenyum lembut melihat interaksi Jessie dan pria yang ia panggil opa itu. “Hati-hati, Pak.” Ari berpesan pada supir om nya. “Iya, Mas.” Sebelum mengajak Jasmine kembali ke mobil, Ari sempat melihat senyum manis istrinya itu begitu bahagia. ‘Apa kamu bakal senyum kayak gitu kalau tahu siapa dia?’ ucap Ari dalam hati. “Kita masuk, yuk,” ajak Jasmine menggenggam tangan suaminya. “Hem,” balas Ari tersenyum tipis mengikuti langkah kaki istrinya. Di dalam mobil Jessie dan pria yang ia panggil Opa terus bercengkrama tanpa memperdulikan keberadaan Ari, Jasmine dan Jamal bersama mereka. Dengan sembunyi-sembunyi Jamal berusaha mengambil potret dan video dari kegiatan kakek dan cucu itu untuk memberikan pada bosnya. Ia hanya membutuhkan waktu sedikit karena takut Ari mengetahuinya. ~~~ “Jessie jadi anak pinter, ya. Nggak boleh nakal, oke?” “Iya, Opa.” “Cium opa dulu.” Pria baya itu mengarahkan pipi kanan nya mendekat ke bibir Jessie. Tanpa menunggu lama, Jessie langsung mengecup pipi pria paruh baya itu sangat dalam sampai menimbulkan suara kecupan yang membuat Jasmine, Ari dan Jamal gemas dengan tingkahnya. “Baik-baik, ya, nak.” Kali ini Jasmine berbicara sambil menatap Jessie. “Iya, Mama.” Jasmine berjongkok menyamai tingginya dengan Jessie untuk mempermudah Jessie mencium dan memeluknya. Hal yang sama dilakukan juga oleh Ari untuk mendapat kecupan dan pelukan singkat dari Jessie. Kecupan dan pelukan sudah menjadi ritual mereka setiap harinya. “Udah masuk, Nak. Itu Miss nya udah nunggu.” Jessie melambaikan tangan nya sebelum pergi berlari menuju guru nya. Pria paruh baya itu kembali berdiri, menatap Ari dan Jasmine bergantian. “Saya pamit dulu. Terima kasih sudah kasih saya kesempatan mengantar, Jessie. ” Hanya satu kalimat yang diucapkannya sebelum pergi menuju mobilnya. Tidak menunggu pria paruh baya itu pergi, Ari langsung menarik Jasmine untuk masuk ke dalam mobil. “Kenapa kita enggak tunggu om pergi, Kak?” Beberapa saat Ari terdiam untuk mencari alasan yang tepat untuk Jasmine. “Hem, aku udah telat sayang,” sambung Ari menjawab pertanyaan Jasmine. “Aku lupa kamu harus kerja, maaf.” Ari menggelengkan kepala. “Kenapa minta maaf? Kamu kan nggak salah sayang.” “Pengen minta maaf, aja,” Jasmine tersenyum menampilkan gigi putih nya yang rata. “Kamu ada-ada, aja.” Ari mengacak rambut Jasmine gemas. Saat bersama seperti sekarang, keduanya memang memanfaatkan waktu untuk bermesraan dan Jamal hanya bisa tersenyum melihat kemesraan kedua majikannya itu. “Tapi aku merasa om lemas banget sayang.” Wajah pucat Om Ari memang mengganggu pikiran Jasmine sejak tadi. “Kita doakan dia baik-baik, saja, ya.” Jasmine tersenyum lembut, lalu mengangguk. Meletakkan kepala nya di atas bahu Ari sambil mengapit lengan suami nya itu. “Nanti jangan terlambat jemput, Jessie, ya, Pak.” “Siap, Mas,” jawab Jamal sambil melirik sedikit dari kaca spion.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD