Mobil hitam Ari berhenti tepat di depan kafe miliknya. Jasmine menyalim tangan Ari dan dibalas Ari dengan kecupan singkat di dahi Jasmine.
“Baik-baik, ya, Kak.” Jasmine menatap Ari.
“Iya, Sayang.”
“Hati-hati, ya, Pak,” pesan Ari pada Jamal. Lalu membuka pintu mobil sisi kiri sebagai aksesnya keluar dari mobil.
“Iya, Mas,” jawab Jamal sebelum Ari menutup pintunya.
“Berangkat sekarang, Mbak?”
“Iya, Pak.”
Jasmine membuka kaca mobil sisi kiri untuk melihat Ari yang masih menunggu kepergiannya.
Ari tersenyum membalas lambaian tangan Jasmine dari dalam mobil yang melaju dengan pelan. “Kabarin aku kalau udah sampai,” ujar Ari. Jasmine hanya mengangguk lalu menutup kaca mobil.
Ponsel Jasmine yang berada di sisi kirinya bergetar cukup lama menampilkan nama Dian sebagai pemanggil.
“Halo?”
“Lo di mana, Mine?”
“Lagi di Bumi, kenapa?”
“Setan lo! Gue juga tahu lo lagi di Bumi, tapi lo di belahan bumi mana?”
“Indonesia lah.”
“Lo udah pernah di lempar emas batangan belum?”
“Belum, sih.”
“Gue serius, Jas!!”
“Hahaha... lagi di jalan mau pulang, kenapa?”
“Dari mana lo?”
“Antar suami sama anak gue, kenapa, sih?”
“Gue sama Mota lagi di Kafe Cemara. Lo ke sini, dong.”
“Ngapain lo berdua pagi-pagi begini di sana?”
“Nongkrong lah.”
“Anjir! Masih jam delapan pagi gila!”
“Udah datang, aja!”
Jasmine menatap layar ponsel yang sudah gelap menandakan Dian sudah memutuskan sambungan teleponnya.
“Pak, kita ke Kafe Cemara, aja, ya.”
“Kafe Cemara yang dekat persimpangan depan, Mbak?”
“Iya, Pak.”
“Oke, Mbak.”