Jere menjatuhkan tubuh nya di atas sofa yang ada di ruang tamu. Helaan napas keluar dari mulutnya sambil memikirkan pekerjaan apa yang paling berat dilakukannya hari ini. Ia mengangguk pasti membenarkan kalau kebersamaan singkatnya dengan Jessie memang melelahkan, tapi ia juga menyadari hal melelahkan itu adalah saat dirinya harus menyusun rencana hanya untuk memulangkan putri tercinta nya. Seolah-olah dia seperti pencuri yang takut ketahuan. “Padahal gue bapak kandungnya,” gumam Jere. “Belum saatnya bos.” Jere memalingkan wajah ke kiri menatap Lion yang baru datang. “Aku tahu.” “Aku cuma sebulan di Indo.” “Lo nggak bisa pulang kalau urusan gue belum kelar.” “Itu Universitas udah bos beli?” Jere menggeleng. “Terus kenapa bos yang atur?” Jere memberi tatapan tajam ke arah Lion.

