BAB 1
Pena di tangan Elena sedikit bergetar.
Di atas meja mahoni yang dingin, sepuluh lembar kertas putih tersusun rapi.
Isinya bukan janji pernikahan, melainkan pasal-pasal hukum yang telah dirancang untuk mengikat hidupnya.
Setiap baris kalimat terasa seperti jerat yang mengikat. Begitu ia menandatangani dokumen itu, hidupnya tidak lagi sepenuhnya miliknya sendiri.
Elena menarik napas pelan, mencoba menenangkan diri.
Di seberang meja, Dante Valerius duduk dengan postur sempurna. Punggungnya tegak, kedua tangan bertumpu santai di sandaran kursi.
Setelan jas berwarna abu-abu gelap yang dikenakannya jatuh pas di tubuhnya, tanpa satu pun lipatan.
Segalanya tentang pria itu tampak terkontrol, mulai dari sikap, ekspresi, hingga caranya menatap Elena seolah ia hanyalah angka dalam laporan keuangan.
“Waktumu tidak banyak,” ujar Dante datar. “Aku ada rapat dewan direksi dalam lima belas menit.”
Nada suaranya tenang, tanpa tekanan, namun justru itu yang membuat Elena merasa sama sekali tak berharga.
Ia mengangkat wajah, menatap pria yang akan menjadi suaminya secara hukum dalam hitungan menit.
Dante Valerius tampan.
Rahangnya tegas, rambut hitamnya tersisir rapi, dan wajahnya nyaris tanpa cela. Namun matanya dingin.
Tidak ada rasa ingin tahu atau peduli, juga tidak ada empati. Bagi Dante, keberadaan Elena di ruangan itu tampaknya tidak lebih penting daripada dokumen yang akan ia tandatangani.
“Aku hanya butuh satu kepastian lagi, Tuan Valerius,” kata Elena akhirnya, mencoba memberanikan diri.
Ia berusaha menjaga suaranya tetap stabil meski dadanya terasa sesak. “Begitu aku menandatangani kontrak ini, dana talangan untuk perusahaan ayahku akan langsung cair, bukan?”
Dante menyandarkan tubuh ke belakang kursinya. Ia melipat tangan di depan d**a dan menatap Elena tanpa ragu.
“Ceknya sudah disiapkan,” jawabnya singkat. “Begitu kamu selesai menandatangani semua halaman, sekretarisku akan mentransfer dana itu ke rekening ayahmu. Aku tidak mencampuradukkan emosi dengan urusan bisnis.”
Bisnis.
Kata itu menghantam Elena lebih keras daripada yang ia duga. Ia menunduk, menatap kembali dokumen di hadapannya. Pasal demi pasal telah ia baca berkali-kali, namun tetap saja terasa menyesakkan.
Pasal empat menyebutkan bahwa pihak kedua—dirinya—dilarang menuntut keterikatan emosional, kasih sayang, atau hubungan biologis di luar kebutuhan formalitas publik. Ia wajib hadir sebagai istri sah Dante Valerius di setiap acara resmi perusahaan, tanpa hak menuntut apa pun di luar itu.
Pernikahan ini bukan tentang kebersamaan. Ini adalah kontrak citra.
“Kamu benar-benar tidak menginginkan pernikahan yang sesungguhnya?” tanya Elena lirih, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Dante tertawa kecil. Bukan tawa hangat, melainkan tawa singkat yang terdengar sinis.
“Elena, mari kita jujur sejak awal,” ujarnya datar, mencoba menenangkan diri dan menghabiskan sisa-sisa tawa kecilnya.
“Kamu menikahiku karena keluargamu hampir bangkrut dan kamu tidak punya pilihan lain. Sedangkan aku menikahimu karena wasiat ayahku.”
Ia mencondongkan tubuh ke depan, suaranya merendah namun tegas.
“Wasiat itu mengharuskanku memiliki istri dari keluarga dengan garis keturunan tertentu agar posisiku sebagai CEO Valerius Corp tetap aman.”
Elena mengangkat wajahnya. “Jadi ini… murni transaksi?”
“Tepat sekali.”
Dante menatapnya lurus, tanpa berusaha melunakkan kata-katanya.
“Aku sudah memiliki wanita yang kucintai. Aku tidak butuh perasaanmu, tidak butuh pengabdianmu, dan tentu saja tidak butuh cintamu. Yang kubeli adalah namamu dan kehadiranmu di depan publik. Di luar itu, kamu hanyalah orang asing yang kebetulan tinggal di alamat yang sama denganku.”
Wajah Elena terasa panas.
Ia adalah putri dari keluarga terpandang di Oakhaven. Ia dibesarkan dengan nilai dan harga diri. Namun di ruangan ini, ia tidak lebih dari objek transaksi.
Tangannya mencengkeram pena lebih erat. Seluruh tubuhnya bergetar samar.
Ia menandatangani halaman pertama. Lalu halaman kedua. Ketiga. Hingga lembar kesepuluh. Setiap tanda tangan terasa seperti satu pintu yang tertutup di belakangnya.
“Selesai,” ucap Elena pelan.
“Bagus,” kata Dante singkat.
Ia menarik dokumen itu ke arahnya dan memberikan anggukan pada sekretaris yang berdiri di sudut ruangan. “Kirimkan ceknya sekarang.”
Dante berdiri, merapikan jasnya, lalu melirik Elena sekilas. “Sopirku akan menjemputmu pukul tujuh malam. Kemas barang-barangmu. Mulai besok, kamu tinggal di mansion keluarga Valerius.”
Ia berjalan menuju pintu, lalu berhenti. “Bawa barang seperlunya saja. Semua kebutuhanmu sudah disiapkan sesuai standar Nyonya Valerius.”
Elena ikut berdiri. Kakinya terasa lemah, namun ia memaksakan diri tetap tegak. “Aku mengerti.”
“Panggil aku Dante saat ada orang lain,” tambah pria itu dingin. “Saat kita berdua saja, jaga jarak. Aku tidak menyukai kesalahpahaman.”
Tanpa menunggu jawaban, Dante pergi.
***
Pukul tujuh malam tepat, sebuah limusin hitam berhenti di depan rumah keluarga Elena. Bangunan itu tampak lebih suram dari biasanya. Cat dinding mulai mengelupas, taman depan tak lagi terawat.
Elena keluar membawa satu koper kecil. Ia menoleh sekali lagi ke rumah masa kecilnya, lalu masuk ke dalam kendaraan tanpa menoleh lagi.
Perjalanan menuju Distrik Velmora memakan waktu tiga puluh menit. Mansion Valerius berdiri megah di atas bukit, dikelilingi pagar besi tinggi dan penjagaan ketat. Bangunannya besar, angkuh, dan terasa dingin bahkan sebelum Elena memasukinya.
Lampu kristal besar menggantung di aula utama. Lantai marmer mengilap memantulkan cahaya yang menyilaukan.
“Selamat datang, Nyonya Valerius,” sapa seorang pelayan senior dengan nada datar. “Tuan Dante sedang berada di ruang kerja. Beliau berpesan agar Nyonya langsung menuju kamar di lantai dua.”
Elena mengangguk. Setiap langkah menaiki tangga terasa berat.
Saat ia mencapai lantai dua, pintu ruang kerja terbuka. Dante keluar, kali ini hanya mengenakan kemeja formal tanpa jas. Ia melirik jam tangannya.
“Kamu tepat waktu,” katanya singkat. “Kamarmu di ujung lorong. Kamarku yang ini. Jangan masuk tanpa izin. Pintu akan selalu terkunci.”
“Aku tidak berniat masuk,” jawab Elena tegas.
Dante tampak sedikit terkejut, namun belum sempat menanggapi ketika suara tawa wanita terdengar dari lantai bawah.
Elena membeku.
Seorang wanita bergaun merah menyala melangkah masuk ke aula.
Rambut pirang platinum-nya tertata sempurna, senyumnya penuh kemenangan.
Ia berjalan pelan dengan membusungkan d**a seolah rumah itu miliknya.
Elena mengenalinya.
Sofia.
Model papan atas. Wanita yang selama ini menjadi kekasih gelap Dante Valerius.
“Dante, Sayang,” panggil Sofia manja sambil menaiki tangga. “Kamu tidak bilang kalau pajangan barumu sudah tiba.”
Sofia melewati Elena tanpa melirik, lalu menghambur ke pelukan Dante dan mencium pipinya dengan mesra.
Dante tidak menolak.
Ia justru melingkarkan tangan di pinggang Sofia.
Elena berdiri terpaku.
Kurang dari dua belas jam setelah ia resmi menjadi istri sah Dante Valerius, pria itu sudah memperkenalkan posisinya yang sebenarnya.
Dan Elena tahu, pernikahan ini baru saja berubah menjadi perang terbuka. Pernikahan yang bukan saja untuk dua orang. Tapi juga orang ketiga yang hadir secara terang-terangan.