Elena mengepalkan tangannya di balik gaun yang ia kenakan. Kukunya menekan telapak tangan hingga terasa perih, namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan panas yang membakar dadanya.
Ia menatap Dante, menunggu. Ada harapan kecil yang muncul tanpa ia sadari—harapan bodoh bahwa pria itu akan menegur Sofia, atau setidaknya mengakui keberadaannya sebagai istri. Bahwa ia tidak sepenuhnya sendirian di rumah asing ini.
Namun harapan itu mati bahkan sebelum sempat tumbuh.
Tatapan Dante kosong, dingin, seolah Elena hanyalah gangguan kecil di sela rutinitasnya. Tanpa sepatah kata pun, ia membiarkan Sofia melangkah masuk ke kamarnya lebih dulu. Beberapa detik kemudian, pria itu menyusul dan menutup pintu dengan suara pelan.
Bunyi klik kunci terdengar jelas di telinga Elena.
Ia berdiri sendirian di lorong lantai dua yang panjang dan sunyi. Lampu dinding memancarkan cahaya redup, membuat bayangan tubuhnya terlihat asing. Elena menggenggam koper kecil yang masih ada di samping kakinya, seolah benda itu satu-satunya pengingat bahwa ia masih punya masa lalu.
Dengan langkah berat, ia berjalan menuju kamar di ujung lorong.
Kamar itu luas, rapi, dan dipenuhi furnitur mahal. Tempat tidur besar dengan seprai putih bersih, jendela tinggi yang menghadap taman belakang, dan lemari pakaian yang sudah terisi gaun-gaun baru.
Namun tidak ada satu pun yang terasa sebagai miliknya.
Elena menutup pintu dan menyandarkan punggung ke sana. Dadanya naik turun tidak teratur. Ia menekan tangannya ke d**a, mencoba menahan rasa sesak yang terus naik.
Ini bukan pernikahan, pikirnya.
Ini penjara yang dibungkus kemewahan.
***
Pagi datang terlalu cepat.
Elena berdiri di depan cermin besar yang mendominasi dinding kamarnya. Bayangan dirinya terlihat rapi, nyaris sempurna. Rambutnya tertata, wajahnya bersih tanpa riasan berlebihan. Gaun satin biru pucat membungkus tubuhnya dengan pas.
Namun perasaan di balik pantulan itu jauh dari tenang.
Semalam adalah malam pertamanya sebagai istri Dante Valerius. Malam yang ia habiskan terjaga, mendengarkan suara tawa dan percakapan dari balik dinding kamar sebelah.
Suara Sofia.
Elena menarik napas panjang dan merapikan kerah gaunnya. Ia tidak boleh bersembunyi di kamar. Sebagai Nyonya Valerius, setidaknya ia harus menunjukkan dirinya di pagi hari. Jika tidak, rumah ini akan sepenuhnya menelannya hidup-hidup.
Ia melangkah keluar kamar.
Lantai marmer terasa dingin saat telapak kakinya menyentuh anak tangga. Ia menuruni tangga perlahan, hingga langkahnya terhenti di anak tangga terakhir.
Pemandangan di aula utama membuat tubuhnya menegang.
Sofia duduk santai di sofa ruang tamu, seolah tempat itu memang miliknya. Wanita itu mengenakan kemeja putih kebesaran yang Elena kenali dengan cepat. Kemeja Dante. Rambut pirangnya terurai bebas, wajahnya segar, sama sekali tidak terlihat seperti tamu yang hanya singgah semalam.
Ia menyesap kopi dari cangkir porselen mahal.
“Martha,” ucap Sofia tanpa mengalihkan pandangan dari majalah di pangkuannya. “Kopinya kurang manis. Tolong buatkan yang baru.”
Pelayan bernama Martha membungkuk ragu. Matanya melirik ke arah Elena di tangga, lalu kembali menunduk. “Baik, Nona Sofia.”
Elena menarik napas dalam-dalam. Ia menegakkan bahu dan melangkah turun. Suara sepatu haknya menggema di aula yang luas, memaksa Sofia mengangkat wajah.
“Oh,” kata Sofia sambil tersenyum tipis. “Sang pengantin baru sudah bangun.”
Ia melirik jam tangannya. “Kau melewatkan sarapan bersama Dante. Dia berangkat ke kantor pagi-pagi sekali.”
Elena tidak menjawab. Ia berjalan menuju meja makan dan menarik kursi dengan tenang, meski jantungnya berdetak kencang.
“Aku tidak tahu kalau tamu diizinkan menginap di rumah ini tanpa izin istri pemiliknya,” ucap Elena akhirnya, suaranya datar.
Sofia tertawa pelan. Tawa itu tidak ramah, tidak hangat.
“Tamu?” Ia berdiri dan berjalan mendekat. Kemeja yang dikenakannya sengaja dibiarkan terbuka di bagian atas, memperlihatkan bekas kemerahan di tulang selangkanya. “Elena, sayang, akulah yang mengatur menu sarapan di rumah ini selama tiga tahun terakhir. Aku juga yang memilih warna gorden di kamarmu.”
Ia mengitari Elena perlahan, menatapnya dari ujung rambut hingga ujung sepatu.
“Kamu hanya penghuni baru yang masuk karena kontrak. Jangan merasa seolah kamu punya kuasa di sini.”
Elena mencengkeram tepi meja makan. “Aku istri sah Dante. Secara hukum, rumah ini rumahku juga.”
“Hukum?” Sofia mencibir. “Dante tidak peduli dengan hukum. Dia peduli dengan ambisinya.”
Langkah kaki berat terdengar dari arah lorong.
Dante muncul, mengenakan setelan jas lengkap. Ia berhenti sejenak, menatap kedua wanita itu tanpa ekspresi.
Elena menoleh cepat ke arahnya. Untuk sesaat, ia lupa bahwa berharap pada Dante adalah kesalahan.
“Dante,” kata Sofia manja sambil menghampiri dan melingkarkan lengannya di leher pria itu. “Istrimu merasa terganggu dengan kehadiranku.”
Dante tidak melepaskan pelukan itu. Ia justru menatap Elena dengan dingin.
“Elena, aku tidak punya waktu untuk drama,” ujarnya. “Sofia bebas berada di mana pun di rumah ini. Dia bagian dari hidupku jauh sebelum kamu datang membawa utang keluargamu.”
“Ini soal rasa hormat,” suara Elena sedikit bergetar, namun ia tidak mundur. “Setidaknya di depan para pelayan—”
“Posisimu sudah jelas di kontrak,” potong Dante. “Kamu mendapatkan uang, aku mendapatkan citra. Jangan meminta lebih.”
Ia mengecup dahi Sofia singkat, lalu berjalan pergi tanpa menoleh lagi. Pintu depan tertutup dengan suara berat.
Keheningan menekan ruangan.
Para pelayan menunduk. Tidak satu pun berani menatap Elena.
Rasa malu membakar wajahnya. Namun lebih dari itu, ada sesuatu yang lain tumbuh di dadanya, rasa marah yang dingin dan perlahan mengeras.
Sofia tersenyum puas. Ia mengambil sepotong roti dari piring Elena dan menggigitnya perlahan.
“Aku tidak membencimu,” katanya santai. “Aku hanya kasihan. Kamu mengorbankan hidupmu untuk pria yang bahkan tidak sudi duduk sarapan denganmu.”
Elena mengangkat wajahnya. “Kamu tetap selingkuhan.”
Wajah Sofia menegang sesaat, lalu kembali tersenyum. Ia mendekat hingga aroma parfumnya menyengat.
“Dante membawaku ke Paris bulan lalu,” bisiknya. “Dia membelikanku apartemen atas namaku. Sementara kamu? Kamar tamu dan buku cek.”
Elena menepis tangan Sofia. “Keluar dari sini.”
Sofia tertawa kecil. “Aku akan pergi kalau aku mau.”
Ia melangkah menuju tangga, lalu berhenti. “Oh ya. Dante memintaku menemaninya ke gala amal besok malam.”
Ia menoleh, senyumnya tajam. “Kamu akan tinggal di sini. Menjaga rumah.”
Sofia melangkah pergi.
Elena berdiri diam di tengah aula yang luas. Ia menutup matanya sejenak, lalu membukanya kembali.
Ia mungkin kalah hari ini.
Tapi ia bersumpah, ini bukan akhir.