BAB 3

967 Words
Elena berdiri mematung di ruang makan yang megah itu. Dadanya naik turun perlahan, menahan gejolak emosi yang bercampur antara marah, malu, dan terluka. Ia melihat Sofia menaiki tangga dengan keanggunan seorang penguasa, langkahnya ringan namun penuh keyakinan, seolah seluruh mansion ini adalah wilayah kekuasaannya. Tidak ada satu pun pelayan yang menghentikan wanita itu. Tidak ada pula yang menegurnya. Semua diam, semua patuh padanya. Elena tidak segera bergerak. Ia berdiri di tempatnya, menatap punggung Sofia hingga sosok itu menghilang di balik tikungan tangga. Setiap kata yang dilontarkan wanita itu tadi masih terngiang jelas di kepalanya, menancap seperti duri yang sengaja ditanamkan untuk melukai. Saat itu Elena akhirnya memahami kenyataan yang selama ini ia coba abaikan. Di rumah ini, ia bukan istri dalam arti sebenarnya. Ia hanya nama. Hanya status. Hanya formalitas yang dibutuhkan Dante untuk memenuhi ambisi dan kepentingan bisnisnya. Elena melangkah menuju jendela besar yang menghadap ke taman depan. Dari sana ia bisa melihat deretan mobil mewah terparkir rapi, para penjaga yang berdiri tegak dengan wajah tanpa ekspresi, dan halaman luas yang tertata sempurna hingga detail terkecil. Kemewahan ini dulu tampak seperti jawaban atas keputusasaannya. Kini semuanya terasa hambar. Keamanan finansial yang ia dapatkan demi menyelamatkan keluarga ternyata harus dibayar dengan sesuatu yang jauh lebih mahal yaitu harga diri dan kebebasan. Siang harinya, Elena memilih mengurung diri di perpustakaan mansion. Ruangan itu sunyi, dipenuhi rak kayu tinggi dan aroma buku lama yang menenangkan. Ia duduk di kursi dekat jendela, membuka sebuah novel tanpa benar-benar membaca isinya. Matanya menatap halaman, tetapi pikirannya melayang. Sofia seolah hadir di mana-mana. Tawa wanita itu terdengar samar dari balkon lantai atas. Aroma parfumnya tertinggal di lorong yang baru saja dilewati Elena. Bahkan dari sikap para pelayan yang tampak lebih sigap ketika Sofia memanggil, Elena tahu bahwa kendali di rumah ini tidak berada di tangannya. Menjelang sore, rasa haus memaksanya keluar dari perpustakaan. Elena turun ke dapur dengan langkah hati-hati, berharap tidak berpapasan dengan siapa pun. Harapan itu kembali pupus. Di ruang tengah, Sofia berdiri di depan cermin besar, sedang mencoba sebuah kalung berlian. Batu-batu itu berkilau terang di bawah cahaya lampu kristal. Jelas kalung tersebut baru dan bernilai fantastis. “Bagus, bukan?” tanya Sofia tanpa menoleh. Ia tahu Elena ada di sana dari pantulan cermin. “Dante baru saja mengirimkannya lewat kurir,” lanjutnya santai. “Katanya, ini hadiah kecil karena aku menemaninya semalam.” Elena tidak menanggapi. Ia melanjutkan langkah ke dapur, memilih diam. Namun Sofia bergerak cepat. Wanita itu berdiri tepat di hadapannya, menghalangi jalan dengan senyum tipis yang penuh makna. “Jangan salah paham, Elena,” ucap Sofia pelan. “Aku tidak bermaksud merebut apa pun darimu. Karena sejak awal, tidak ada yang pernah benar-benar menjadi milikmu.” Sofia mendekatkan wajahnya ke telinga Elena. Napasnya hangat, tapi kata-katanya dingin. “Kamu hanya formalitas untuk memenuhi wasiat ayahnya. Akulah yang dia pilih setiap malam.” Elena menahan diri untuk tidak bereaksi. Ia menatap lurus ke depan, menolak memberi Sofia kepuasan sekecil apa pun. *** Dua puluh empat bulan berlalu. Namun tidak ada yang berubah pada sikap Dante Valerius terhadap Elena. Kini Elena menghadiri sebuah pesta sosialita di Distrik Ashport. Aula Ashport Grand Ballroom dipenuhi tokoh bisnis, keluarga berpengaruh, dan orang-orang yang terbiasa tersenyum sambil menyimpan kepentingan masing-masing. Gelas sampanye di tangan Elena bergetar halus saat ia melangkah masuk. Lampu kristal memantul terang di lantai marmer. Di depannya, Dante sudah melangkah lebih dulu, sibuk menyapa kolega tanpa menoleh ke belakang. Ia selalu seperti ini. Elena menarik napas panjang. Dalam acara-acara seperti ini, ia hanya dipanggil saat dibutuhkan. Setelah itu, ia kembali menjadi bayangan. “Tolong, satu air mineral,” pintanya pada pelayan, menukar sampanye yang belum tersentuh. Udara di dalam ruangan terasa semakin menyesakkan. Elena menjauh dari kerumunan, menuju sudut yang lebih tenang di dekat balkon yang menghadap pelabuhan. Namun saat ia berbelok di dekat sebuah pilar besar, seseorang datang dari arah berlawanan. Tabrakan itu tidak terhindarkan. Elena terhuyung. Air di gelasnya tumpah, membasahi sebagian gaun sutranya. Ia memejamkan mata, bersiap menghadapi rasa malu yang biasa ia terima. Yang ia rasakan justru sentuhan tangan yang mencengkeram lengannya. “Maaf.” Suara itu rendah dan berat. Elena mendongak. Kata-kata yang hendak ia ucapkan tertahan di tenggorokan. Seorang pria berdiri di hadapannya, mengenakan setelan jas biru gelap yang rapi. Namun bukan pakaiannya yang membuat Elena terdiam, melainkan tatapannya yang terasa sedikit familiar. Sepasang mata tajam menatapnya dengan intensitas yang membuat dadanya terasa sesak. Dalam sekejap, suara musik dan percakapan di sekelilingnya meredam, seolah ia terpisah dari dunia. Kepalanya berdenyut hebat. Elena mengangkat tangan, memegangi pelipisnya. “Kamu baik-baik saja?” tanya pria itu, masih menopang Elena. “Aku… aku tidak apa-apa,” jawab Elena pelan, meski lututnya terasa lemas. Aroma parfum pria itu memicu sensasi aneh, seolah membangkitkan sesuatu yang lama terkubur. “Kamu pucat,” ucapnya lagi, melangkah sedikit lebih dekat. Punggung Elena membentur pilar dingin. Ia menatap wajah pria itu lebih jelas—rahang tegas, garis wajah keras, dan bekas luka kecil di sudut alis kiri. “Siapa kamu?” tanya Elena hampir berbisik. Pria itu tidak langsung menjawab. Tatapannya berubah, mengandung emosi yang sulit Elena pahami. “Kamu gemetar,” gumamnya. Tangannya terangkat, seolah ingin menyentuh wajah Elena, namun berhenti di udara. Ia mengepalkan tinjunya sendiri. “Aku hanya pusing,” Elena berusaha mundur. “Aku harus pergi.” Namun pria itu menghalangi langkahnya. “El…” Nama itu meluncur dari bibirnya dengan keakraban yang membuat Elena tersentak. “Bagaimana kamu tahu namaku?” tanya Elena, napasnya memburu. Pria itu tersenyum tipis. Senyum yang lebih menyerupai luka lama. “Kamu benar-benar tidak mengenaliku?” tanyanya pelan. Elena menggeleng. Kepalanya berdenyut semakin keras, pandangannya mulai mengabur. Dan untuk pertama kalinya sejak menikah dengan Dante, Elena merasa hidupnya sedang bergerak menuju sesuatu yang tidak bisa ia hindari lagi. Elena yakin sekali bahwa ia tidak mengenal pria itu. Tapi reaksi tubungnya berbeda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD