"Aku tidak mengenalmu. Permisi, suamiku sedang menungguku," ucap Elena tegas, mencoba memanggil sisa-sisa keberaniannya.
Ia bergerak menyamping untuk menghindar, namun pria itu kembali menangkap lengannya. Kali ini cengkeramannya sedikit lebih kuat, menahan Elena untuk tetap di tempatnya.
"Suamimu," pria itu mengulangi kata tersebut dengan nada menghina yang nyata. "Dante Valerius tidak pantas menjadi suamimu, El. Dia hanya peduli pada ambisinya saja."
Darah Elena seolah membeku.
Bagaimana pria asing ini bisa tahu tentang detail kontrak pernikahannya?
Rasa takut kini bercampur dengan kebingungan yang luar biasa. Ia menepis tangan pria itu dengan sentakan kasar.
"Berhenti menggangguku! Atau aku akan memanggil petugas keamanan," ancam Elena.
Ia lalu memutar tubuhnya, bersiap untuk lari kembali ke tengah keramaian di mana cahaya lampu terasa lebih aman daripada kegelapan di sudut pilar ini.
Namun, pria itu menyusulnya lebih cepat.
Ia bergerak dengan ketangkasan yang menakutkan, memutar tubuh Elena kembali dan mengurungnya di antara pilar dan tubuh besarnya.
Aroma parfumnya itu kembali menyerang indra penciuman Elena, membuat kepalanya berputar lebih hebat dari sebelumnya.
Elena bisa merasakan napas pria itu di kulit wajahnya. Ia memejamkan mata, mencoba menghalau rasa pening yang membuatnya ingin pingsan di tempat.
"Buka matamu, El," perintah pria itu dengan suara rendah yang menggetarkan tulang belakang Elena.
Elena menolak.
Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri untuk mencari rasa sakit yang nyata agar ia tetap sadar.
"Buka matamu dan lihat aku baik-baik," desak pria itu. Suaranya sekarang terdengar lebih dekat, tepat di telinga Elena.
Perlahan, Elena membuka matanya. Pria itu berdiri begitu dekat hingga Elena bisa melihat pantulan dirinya yang ketakutan di dalam pupil mata pria asing tersebut.
Pria itu menatapnya dengan keputusasaan yang tidak bisa disembunyikan lagi.
Selama beberapa detik, mereka hanya berdiri di sana, terisolasi dari dunia luar, di tengah ketegangan yang nyaris meledak.
Elena merasakan air mata mulai menggenang di sudut matanya tanpa ia tahu alasannya.
Ia merasa sangat sedih, sebuah kesedihan yang mendalam dan asing yang seolah merangkak keluar dari kegelapan amnesianya.
Pria itu membungkuk perlahan, wajahnya mendekat ke arah telinga Elena.
Aroma parfum itu terasa semakin pekat, memenuhi seluruh paru-paru Elena.
Ia merasakan bibir pria itu nyaris menyentuh kulitnya, memberikan sensasi dingin yang kontras dengan panas yang menjalar di seluruh tubuhnya.
"Kamu bahkan tidak ingat padaku, El." bisik pria itu dengan suara yang sedingin es dan penuh dengan kepahitan yang nyata.
Detik itu juga, denyut di kepala Elena meledak.
Ia terhuyung, kegelapan benar-benar menyambar penglihatannya tepat saat pria itu melepaskannya dan membiarkannya berdiri goyah di tengah aula yang mendadak terasa seperti asing baginya.
Pria itu menangkap tubuhnya yang terhuyung. Saat tiba-tiba mereka mendengar, nama Elena disebut dengan suara yang dingin.
***
Gelas wiski di tangan Dante bergetar halus saat matanya menangkap siluet Elena di sudut aula.
Ia melihat istrinya berdiri mematung di antara pilar, namun yang membuat rahangnya mengeras bukanlah keterdiaman Elena, melainkan sosok pria yang berdiri terlalu dekat dengannya.
Andrew Valente.
Pria itu membungkuk, membisikkan sesuatu tepat di telinga Elena yang membuat wajah wanita itu sepucat kertas.
Dante meletakkan gelasnya di meja pelayan yang melintas dengan dentingan keras.
Tanpa memperdulikan kolega bisnis yang sedang berbicara padanya, ia melangkah lebar menembus kerumunan.
Aroma parfum floral yang menyengat dari para tamu di sekitarnya seolah menghilang, digantikan oleh dorongan insting yang panas di dadanya.
Ia tidak peduli pada cinta, namun ia sangat peduli pada apa yang sudah ia beri label harga.
"Elena."
Suara Dante memotong udara dingin di antara mereka. Ia sampai tepat saat Andrew melepaskan tangan Elena.
Dante langsung merangkul pinggang Elena, menariknya dengan sentakan yang cukup keras hingga tubuh wanita itu menabrak dadanya.
Cengkeramannya di pinggang Elena terasa posesif, jari-jarinya menekan kuat ke kain sutra gaun istrinya.
Andrew tidak bergeming.
Ia hanya menegakkan tubuh, menatap Dante dengan seringai tipis yang sarat akan provokasi. "Tuan Valerius. Kamu datang tepat waktu sebelum istrimu jatuh pingsan karena ruangan ini terlalu menyesakkan."
"Istriku adalah urusanku, Valente. Kamu tidak seharusnya mendekati istriku saat aku tidak disampingnya," balas Dante dingin.
Matanya menatap tajam, memberikan ancaman tanpa suara.
Andrew tertawa pelan, lalu menoleh sekilas pada Elena yang masih tampak bingung.
"Jaga dirimu baik-baik, El. Kita akan bertemu kembali dalam waktu dekat."
Pria itu berbalik dan menghilang di balik kerumunan tamu sebelum Dante sempat membalas.
Dante tidak mengejar. Fokusnya beralih sepenuhnya pada Elena. Ia bisa merasakan tubuh wanita itu gemetar di bawah telapak tangannya.
Wajah Elena masih menunjukkan sisa-sisa keterkejutan yang nyata.
"Apa yang dia katakan padamu?" tuntut Dante. Suaranya rendah, hanya untuk pendengaran mereka berdua.
Elena tidak menjawab.
Ia mendongak, menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca. Ada kebingungan yang mendalam di sana. "Dia... dia sepertinya mengenalku, Dante. Siapa dia?"
"Bukan siapa-siapa," jawab Dante ketus.
Ia menarik Elena menjauh dari pilar itu, membimbingnya menuju pintu keluar tanpa memedulikan acara yang belum usai. "Kita pulang sekarang."
Sepanjang perjalanan di dalam limosin, Dante tetap tidak melepaskan tangan Elena.
Ia mencengkeram jemari istrinya dengan kuat, seolah takut jika ia melonggarkannya sedikit saja, wanita itu akan melompat keluar untuk mencari pria tadi.
Hening menyelimuti kabin mobil yang kedap suara. Elena berkali-kali mencoba menarik tangannya, namun Dante justru mempererat genggamannya.
"Kamu menyakitiku, Dante," bisik Elena.
Dante melirik tangannya sendiri, lalu perlahan melonggarkan cengkeramannya, meski tidak benar-benar melepaskannya.
"Jangan pernah bicara dengan pria itu lagi. Dia berbahaya untuk citra keluarga kita." perintah Dante dingin.
"Citra keluarga? Atau kamu merasa terancam karena dia tahu sesuatu yang tidak aku tahu?" Elena memberanikan diri menatap mata suaminya.
"Kamu bersikap seolah kamu sangat peduli padaku malam ini, tapi matamu tetap kosong. Kamu hanya takut kehilangan apa yang menjadi ambisimu, bukan?"
Dante berpaling ke arah jendela, menatap lampu-lampu kota yang buram karena kecepatan mobil.
"Kamu adalah Nyonya Valerius. Itu status yang harus kamu jaga. Kamu harus menghidar dari orang-orang seperti Valente."
"Kamu sangat kontradiktif, Dante.” potong Elena cepat.
“Kamu membawaku pulang dengan paksa, kamu memegang tanganku seolah aku sangat berharga bagimu, tapi kamu memperlakukanku seperti pajangan saat di rumah. Jika kamu sangat mencintai Sofia, kenapa kamu begitu marah saat Tuan Valente itu mendekatiku?"
Dante kembali menatap Elena. Kali ini ada kilatan amarah yang berbeda di matanya.
"Karena kamu adalah milikku secara hukum. Tidak ada pria lain yang boleh menyentuhmu, apalagi membisikkan sesuatu padamu. Jangan pernah menguji batas kesabaranku, Elena."