Mobil itu berhenti di depan mansion mewah mereka. Dante keluar dan menunggu Elena dengan wajah kaku.
Ia tidak membantu Elena turun, namun ia memastikan istrinya berjalan di sampingnya saat memasuki aula utama.
Di sana, Sofia sudah menunggu di ruang tengah dengan gaun malam yang tipis, memegang segelas anggur merah.
Sofia bangkit berdiri saat melihat mereka masuk. "Kamu pulang lebih cepat, Sayang? Aku pikir acaranya akan selesai sampai larut," ucap Sofia sembari berjalan menghampiri Dante, mengabaikan kehadiran Elena sepenuhnya.
Dante melepaskan tangan Elena begitu saja. Perubahan sikapnya begitu drastis. Kehangatan posesif yang tadi Elena rasakan di dalam mobil menguap seketika.
"Ada gangguan kecil. Elena merasa kurang sehat." ucap Dante sambil melirik ke arah Elena.
Elena berdiri mematung di sana, menatap suaminya yang kini membiarkan Sofia menyentuh lengannya dengan manja.
Rasa sesak di dadanya terasa lebih nyata daripada rasa pening di kepalanya.
Ia baru saja melihat Dante bersikap sangat protektif padanya di depan Andrew Valente, namun di rumah ini, ia kembali menjadi bayangan yang tidak terlihat.
"Aku akan ke kamar," ucap Elena pendek. Ia tidak menunggu jawaban.
Elena berjalan menaiki tangga dengan langkah terburu-buru, tidak ingin melihat lebih banyak kemesraan yang akan merobek hatinya.
Di dalam kamar, Elena tidak langsung tidur. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap pantulannya di cermin.
Kata-kata Andrew terus berputar di kepalanya.
Kamu bahkan tidak ingat aku.
Siapa sebenarnya pria itu? Dan kenapa Dante tampak begitu membencinya sekaligus mengawasinya dengan ketat?
Beberapa jam berlalu. Suasana mansion sudah sangat sunyi. Elena merasa tenggorokannya kering dan memutuskan untuk turun mengambil air minum.
Saat ia membuka pintu kamarnya pelan, ia mendengar suara langkah kaki di lorong.
Elena mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit. Ia melihat Dante berjalan menyusuri lorong dengan kemeja yang sudah dilepas kancing atasnya.
Pria itu tidak menuju ke kamarnya sendiri. Dante berhenti di depan sebuah pintu di ujung lorong.
Kamar Sofia.
Elena menahan napas saat melihat Dante mengetuk pintu itu dua kali. Pintu terbuka perlahan, menampakkan Sofia yang menyambutnya dengan senyum penuh kemenangan.
Tanpa ragu, Dante melangkah masuk ke dalam kamar itu, dan pintu tertutup dengan bunyi klik yang halus namun terdengar sangat nyaring di telinga Elena.
Elena berdiri di balik pintunya sendiri, menggenggam gagang pintu hingga buku jarinya memutih.
Rasa perih yang asing menjalar di dadanya. Dante memang cemburu melihatnya bersama Andrew, tapi itu bukan karena cinta.
Itu murni karena ego seorang pria yang tidak ingin miliknya disentuh orang lain. Di rumah ini, Dante Valerius tetap melabuhkan hatinya di tempat lain, dan Elena hanyalah orang asing yang memegang gelar sebagai istri tanpa arti.
***
Elena menatap kotak beludru hitam yang diletakkan Dante di atas meja riasnya. Suara denting benda itu saat bersentuhan dengan kaca terasa seperti lonceng peringatan.
Di cermin, ia melihat pantulan suaminya yang masih mengenakan jas formal, berdiri di ambang pintu kamarnya tanpa niat untuk melangkah masuk lebih jauh.
"Pakai itu untuk makan malam malam ini," ucap Dante datar. "Investor dari Singapura akan hadir. Aku ingin kau terlihat sempurna."
Elena membuka kotak itu.
Sebuah kalung berlian dengan desain klasik berkilau di bawah lampu kamar. Indah, mahal, dan sangat impersonal.
Benda itu terlihat seperti sesuatu yang dipilih secara acak dari katalog perhiasan kelas atas oleh seorang asisten.
"Terima kasih," jawab Elena pendek. Ia tidak menyentuh kalung itu. Tangannya tetap diam di atas meja.
Dante hanya memberikan anggukan singkat. "Sopir akan siap dalam satu jam. Jangan terlambat."
Pintu kamar tertutup kembali. Elena menarik napas panjang, lalu mulai mengenakan perhiasan tersebut.
Berlian itu terasa dingin di kulit lehernya, ia seperti sedang mengenakan borgol mewah yang menandai statusnya sebagai milik Valerius.
Ia tidak merasa cantik. Ia merasa seperti manekin yang sedang dipersiapkan untuk etalase toko.
Saat Elena turun menuju aula utama, ia melihat Sofia sudah berdiri di sana.
Wanita itu mengenakan gaun merah menyala yang kontras dengan gaun hitam elegan milik Elena. Namun, bukan gaun itu yang menarik perhatian Elena.
Di leher Sofia melingkar sebuah kalung zamrud pekat yang dikelilingi berlian kecil.
Desainnya sangat unik, jelas merupakan pesanan khusus yang tidak akan ditemukan di toko mana pun.
Zamrud itu tampak hidup, menangkap cahaya dengan cara yang berbeda dari berlian di leher Elena.
"Oh, kamu sudah siap," sapa Sofia sembari memutar tubuhnya di depan cermin besar aula.
Ia menyentuh zamrud di lehernya dengan jari-jari yang gemetar karena kepuasan. "Dante memberikan ini padaku tadi siang. Katanya, warna hijaunya mengingatkannya pada malam pertama kami di Paris. Manis sekali, bukan?"
Elena berhenti di anak tangga terakhir. Ia memaksakan senyum tipis, meski dadanya terasa sesak. "Kalung yang bagus."
"Hanya bagus?" Sofia tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan pisau pada porselen.
Ia melangkah mendekati Elena, menatap kalung berlian di leher Elena itu dengan pandangan menilai yang merendahkan.
"Ah, koleksi 'Classic Grace'. Desain masal yang diberikan Dante kepada semua rekan bisnis wanitanya tahun lalu. Sangat... cocok untuk seorang istri kontrak."
Elena mengepalkan tangan di balik lipatan gaunnya. "Aku tidak peduli dengan desainnya. Dante memberikannya untuk acara malam ini, dan aku memakainya."
"Tentu saja kamu memakainya," cibir Sofia.
Ia kini berdiri tepat di hadapan Elena, aroma parfumnya yang kuat memenuhi indra penciuman Elena.
"Kamu harus memakai apa pun yang dia berikan karena kamu tidak punya pilihan lain. Kamu adalah kewajiban, Elena. Berlian itu adalah gaji untuk pekerjaanmu sebagai pajangan."
Sofia mengangkat tangannya, membelai zamrud di lehernya sendiri dengan penuh kasih sayang.
"Tapi zamrud ini? Ini adalah bukti perasaan. Dante menghabiskan waktu berbulan-bulan mencari batu yang tepat hanya untukku. Dia tidak memberimu perhiasan, dia memberimu seragam pegawai."
Dante muncul dari arah ruang kerja, langkah kakinya bergema di lantai marmer. Ia berhenti di antara kedua wanita itu.
Matanya menyapu penampilan Elena sejenak, memberikan penilaian profesional yang dingin, lalu beralih pada Sofia.
Saat menatap Sofia, ada kilatan lembut yang tidak pernah ia tunjukkan pada Elena.
"Kamu memakai perhiasannya," ucap Dante pada Sofia. Suaranya terdengar jauh lebih hangat.
"Tentu saja. Ini terlalu indah kalau hanya untuk disimpan di kotak, sayang" Sofia merangkul lengan Dante dengan manja.
"Istrimu juga terlihat sangat pantas dengan berlian pilihanku kemarin. Bukankah begitu, Sayang?"
Elena tersentak.
Jadi Sofia yang memilihkan kalung ini? Dante bahkan tidak meluangkan waktu satu menit pun untuk memilihkan hadiah untuk istrinya sendiri.
Ia menyerahkan tugas itu pada selingkuhannya. Rasa malu yang luar biasa membakar wajah Elena.
Ia merasa seperti lelucon yang sedang ditertawakan di belakang punggungnya.