"Sopir sudah menunggu," Dante mengabaikan komentar Sofia dan menatap Elena. "Ayo berangkat."
Sepanjang perjalanan di mobil, suasana terasa sangat sunyi bagi Elena, meski Sofia terus bercerita tentang rencana liburan mereka berikutnya.
Dante menanggapi Sofia sesekali dengan suara rendah, sementara Elena hanya menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu kota yang buram.
Kalung berlian di lehernya kini terasa jauh lebih berat, seolah sanggup mematahkan tulang lehernya.
Setibanya di restoran mewah tempat jamuan berlangsung, Elena menjalankan perannya dengan sempurna.
Ia tersenyum pada para investor, menjawab pertanyaan dengan sopan, dan berdiri di samping Dante seperti istri yang setia.
Namun, setiap kali ia melihat pantulannya di permukaan gelas atau cermin restoran, zamrud di leher Sofia seolah berteriak kepadanya.
Para investor memuji kecantikan Sofia, mengira wanita itu adalah bagian penting dari tim manajemen Dante.
Dante tidak mengoreksi mereka.
Ia membiarkan Sofia bersinar, membiarkan wanita itu menjadi pusat perhatian, sementara Elena hanya menjadi latar belakang yang diperlukan untuk legitimasi hukum.
Saat makan malam usai dan mereka menunggu mobil di depan lobi, Sofia mendekati Elena sementara Dante sedang berbicara dengan pelayan parkir.
Suasana malam itu dingin, namun kata-kata Sofia jauh lebih membekukan.
"Kamu tahu, Elena," Sofia berbisik, suaranya nyaris hilang ditiup angin malam.
"Kamu bisa memiliki nama Valerius, rumah megah itu, dan berlian mahal ini. Kamu bisa memiliki semua simbol kekuasaan yang kamu inginkan."
Sofia menatap mata Elena dengan intensitas yang mengerikan. Ia menyentuh zamrud di lehernya, sebuah gestur kemenangan yang mutlak.
"Tapi di akhir hari, saat lampu-lampu dipadamkan, bukan kamu yang ia cari. Perhiasanmu dibeli dengan uang perusahaan, tapi milikku dibeli dengan cintanya."
Elena memalingkan wajah, berusaha keras untuk tidak menunjukkan betapa hancurnya pertahanannya saat itu.
"Pernikahan ini adalah kontrak, Sofia. Aku sudah tahu itu sejak awal. Kamu tidak perlu mengingatkanku."
"Oh, aku hanya ingin memastikan kamu tidak mulai berharap," sahut Sofia. Ia melirik Dante yang mulai berjalan ke arah mereka. "Dante mencintaiku. Kamu tahu itu, kan?"
Sofia menyunggingkan senyum puas yang paling ganas yang pernah Elena lihat. Dante sampai di samping mereka dan langsung membukakan pintu mobil untuk Sofia terlebih dahulu.
Elena hanya bisa berdiri di sana, di bawah sorot lampu lobi yang kejam, menyadari bahwa kalung berlian paling mahal di dunia sekalipun tidak akan pernah bisa menutupi fakta bahwa ia hanyalah orang asing di hidup suaminya sendiri.
Ia melangkah masuk ke dalam mobil dengan perasaan getir.
Mobil itu melaju membelah malam, meninggalkan sisa harga diri Elena yang berceceran di lantai restoran yang dingin.
***
Layar tablet di atas meja makan masih menyala, menampilkan tajuk berita utama di kolom bisnis pagi ini. Elena membeku dengan cangkir kopi yang menggantung di udara.
Nama itu tercetak tebal, mendominasi baris kalimat yang menyebutkan akuisisi besar di Distrik Ashport.
Andrew Valente.
Hanya dalam hitungan detik, perut Elena mual. Cangkir porselen di tangannya berdenting keras saat ia meletakkannya kembali ke atas meja dengan gerakan tidak terkontrol.
Sesuatu yang tajam mendadak menghantam bagian belakang kepalanya, sebuah denyut migrain yang begitu kuat hingga penglihatannya mengabur sesaat.
"Nyonya? Anda baik-baik saja?" Martha, pelayan yang sedang merapikan serbet, mendekat dengan wajah cemas.
Elena tidak menjawab.
Ia mencengkeram pinggiran meja marmer itu dengan kuat. Napasnya pendek-pendek.
Setiap kali matanya melirik nama "Valente" di layar, rasa sakit di kepalanya semakin menjadi-jadi, seolah ada seseorang yang sedang menghantamkan palu ke tengkoraknya dari dalam.
"Tolong... ambilkan air," bisik Elena parau.
Martha bergegas pergi, sementara Elena mencoba memejamkan mata.
Namun, kegelapan di balik kelopak matanya justru jauh lebih mengerikan.
Ia melihat kilatan warna merah yang pekat, mendengar suara derit logam yang bergesekan, dan aroma bensin yang menusuk hidung.
Bayangan itu muncul dan menghilang seperti gangguan sinyal televisi yang rusak.
Elena menyentuh pelipisnya yang berdenyut hebat. Kenapa nama itu terasa seperti racun bagi tubuhnya?
Dante tidak pernah menyebut nama Valente di rumah ini, dan Sofia pun hanya membicarakan model atau butik.
Namun, tubuh Elena bereaksi seolah ia sedang menghadapi ancaman kematian hanya dengan membaca sebuah nama di berita.
Martha kembali dengan segelas air dan beberapa butir obat pereda nyeri. Elena menelannya dengan cepat, berharap zat kimia itu bisa segera membungkam badai di kepalanya.
"Nyonya harus istirahat di kamar," saran Martha lembut.
"Tuan Dante sedang tidak ada di rumah, beliau sedang berada di kantor pusat sejak subuh."
Elena mengangguk lemah. Ia bangkit dari kursi, namun langkahnya limbung. Martha dengan sigap memegangi lengannya, membimbingnya menaiki tangga melingkar menuju lantai dua.
Sepanjang lorong yang sunyi, Elena merasa seolah dinding mansion ini sedang menghimpitnya.
Sesampainya di kamar, Elena langsung menjatuhkan diri ke atas tempat tidur. Ia tidak melepas gaun paginya, hanya menarik selimut hingga ke d**a.
Obat yang sudah ia telan mulai bekerja, perlahan menarik kesadarannya ke dalam kantuk yang berat dan tidak sehat.
Namun, alih-alih kedamaian, ia justru terjun ke dalam kegelapan yang jauh lebih dalam.
Dalam tidurnya, Elena tidak lagi berada di mansion Valerius yang mewah.
Ia berada di dalam sebuah mobil yang melaju kencang membelah hujan badai. Suasananya pengap, penuh dengan ketegangan yang bisa dirasakan hingga ke tulang.
Elena menoleh ke arah pengemudi, namun wajah pria itu tertutup bayangan hitam yang pekat.
Hanya saja, Elena bisa merasakan kehadiran pria itu—hangat, akrab, namun penuh keputusasaan.
"Kita harus keluar dari sini, El!" suara pria itu berteriak di antara gemuruh petir.
Elena ingin bertanya ke mana mereka pergi, tapi lidahnya terasa kaku. Tiba-tiba, suara decit ban yang memekakkan telinga merobek kesunyian.
Mobil itu kehilangan kendali, berputar di atas aspal yang licin. Elena melihat lampu depan mobil lain yang menyorot tajam, membutakan matanya.
Lalu, gravitasi seolah menghilang.
Mobil itu melayang di udara, menembus pagar pembatas jalan yang rapuh.
Elena merasakan perutnya melilit saat kendaraan itu terjun bebas menuju kegelapan jurang yang menganga di bawah mereka.
Kaca jendela pecah, serpihannya beterbangan seperti kristal tajam yang menyayat kulitnya.
Di tengah kekacauan itu, pria di sampingnya melepas sabuk pengaman dengan gerakan panik.
Pria itu tidak mencoba menyelamatkan dirinya sendiri. Pria itu justru merangsek ke arah Elena, mencoba melindunginya dengan tubuhnya sendiri.
"Pegang tanganku!" teriak pria itu.
Elena melihat tangan pria itu terulur di antara puing-puing kabin yang hancur. Sebuah tangan yang kuat, dengan bekas luka kecil di punggung jarinya.
Elena mencoba menggapainya, mencoba meraih keselamatan yang ditawarkan, namun ujung jarinya hanya menyentuh udara dingin.