Bau besi bercampur darah segar mulai memenuhi hidungnya. Elena merasa tubuhnya terhimpit logam panas.
Kepalanya menghantam sesuatu yang keras, dan pandangannya mulai memerah.
Di detik-detik terakhir sebelum semuanya menjadi gelap total, ia mendengar suara pria itu memanggil namanya dengan nada yang sanggup menghancurkan hati siapa pun yang mendengarnya.
"Elena! Jangan pergi!"
Elena tersentak bangun dengan napas memburu dan keringat dingin yang membanjiri tubuhnya. Ia terduduk di tempat tidur, mencengkeram dadanya yang terasa sesak.
Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging. Matahari sudah mulai terbenam, memberikan warna oranye yang suram di dalam kamarnya.
Ia masih bisa merasakan sensasi tangan yang mencoba meraihnya di dalam mimpi itu. Hangat, nyata, dan penuh dengan kerinduan yang menyakitkan.
Elena turun dari tempat tidur dengan kaki yang masih gemetar. Ia berjalan menuju meja rias, menatap pantulan dirinya di cermin.
Wajahnya pucat, matanya tampak liar karena ketakutan yang tidak beralasan. Ia menyentuh lehernya, tempat kalung berlian dari Dante yang melingkar dingin semalam.
Semuanya terasa palsu. Kehidupan di rumah ini, pernikahannya, bahkan ingatannya sendiri terasa seperti sebuah panggung sandiwara yang dirancang dengan sangat hati-hati.
Ia kembali teringat pada layar tablet di ruang makan tadi pagi.
Andrew Valente.
Nama itu bukan sekadar nama pengusaha yang sukses. Baginya, nama itu adalah kunci dari sebuah pintu yang telah dikunci rapat oleh amnesianya.
Elena tahu, tubuhnya tidak akan bereaksi sehebat itu jika Andrew adalah orang asing yang tidak berarti.
Ada sesuatu di masa lalu, di balik kecelakaan berdarah itu, yang juga melibatkan pria bernama Andrew Valente.
Elena berjalan menuju jendela, menatap ke arah luar gerbang mansion.
Di kejauhan, lampu-lampu kota mulai menyala, termasuk gedung-gedung tinggi di Distrik Ashport yang dapat terlihat samar.
"Siapa kamu sebenarnya, Andrew?" bisik Elena pada kegelapan malam.
Pertanyaan itu menggantung di udara, tidak terjawab.
Elena menyadari bahwa Dante mungkin telah memberinya kemewahan dan nama belakang yang terhormat, tapi suaminya itu juga telah mengubur bagian dari jiwanya di dasar jurang lima tahun yang lalu.
Dan sekarang, bagian yang terkubur itu mulai menuntut untuk ditemukan.
Elena kembali teringat detail terakhir dari mimpinya yang mengerikan tadi. Mobil yang jatuh, aroma hujan, dan darah yang mengalir.
Namun yang paling melekat dalam ingatannya bukanlah rasa sakitnya, melainkan perasaan kehilangan yang luar biasa saat tangan itu gagal meraihnya.
Ia tahu satu hal sekarang, ia tidak bisa terus diam di rumah ini sebagai pajangan yang patuh. Jika Dante tidak mau memberinya jawaban, maka ia akan mencarinya sendiri.
Meski itu artinya ia harus menghadapi bahaya dari masa lalu yang terkubur seolah tidak ingin terungkap.
Di luar kamar, terdengar suara langkah kaki Dante yang baru pulang. Elena segera merapikan diri, menghapus sisa keringat di wajahnya, dan memasang topeng ketenangan yang biasa ia gunakan.
Namun, di balik topeng itu, Elena sudah bukan lagi wanita yang sama dengan yang menandatangani kontrak pernikahan beberapa waktu lalu.
Pintu kamar terbuka. Dante berdiri di sana, menatapnya dengan pandangan dingin yang biasa.
"Kamu terlihat pucat, Elena," ucap Dante datar tanpa mendekat.
"Hanya migrain biasa, Dante," jawab Elena dengan nada sesopan mungkin.
"Istirahatlah. Besok ada jamuan makan malam dengan dewan direksi. Aku ingin kamu tampil prima," Dante berbalik dan menutup pintu kembali tanpa menanyakan lebih lanjut.
Elena menatap pintu yang tertutup itu. Ia menyadari bahwa suaminya bahkan tidak peduli apakah istrinya sedang sekarat atau tidak, asalkan ia bisa tampil cantik di depan umum.
Namun, kemarahan tidak lagi memenuhi hati Elena. Yang ada hanyalah tekad.
Ia akan mencari tahu siapa Andrew Valente, dan kenapa dalam setiap kepingan ingatannya yang rusak, pria itu selalu mencoba menyelamatkannya sementara Dante hanya berdiri diam di balik kontraknya.
***
Lampu-lampu sorot di aula utama Grand Oakhaven terasa jauh lebih panas dari biasanya.
Elena berdiri tegak di samping pilar marmer, mencoba mengatur napasnya yang mulai tidak teratur.
Gaun malam berwarna perak yang ia kenakan berkilau di bawah cahaya lampu, namun ia merasa seperti sedang mengenakan baju zirah yang terlalu berat.
Di sekelilingnya, riuh rendah percakapan para sosialita dan pengusaha kelas atas Oakhaven terdengar seperti dengungan lebah yang mengancam.
Lima menit yang lalu, Dante masih berdiri di sampingnya, memegang gelas sampanye dengan sikap angkuh yang biasa.
Namun, sebuah pesan singkat di ponsel suaminya mengubah segalanya. Tanpa sepatah kata pun, tanpa permintaan maaf, Dante berbalik dan melangkah pergi begitu saja.
Elena sempat melihat Dante menghilang di balik pintu darurat bersama Sofia yang sudah menunggunya dengan senyum penuh kemenangan.
Kini, Elena tertinggal sendirian.
"Di mana Tuan Valerius, Nyonya?" tanya seorang jurnalis dari majalah gaya hidup yang tiba-tiba sudah berada di depannya, lengkap dengan kamera yang siap membidik.
Elena memaksakan sebuah senyum tipis, jenis senyum yang sudah ia latih di depan cermin selama ia menjadi istri Dante Valerius. "Dante sedang ada urusan mendesak di ruang VIP. Beliau akan segera kembali."
"Tapi kami melihat beliau pergi menuju area parkir belakang," timpal jurnalis lainnya. Bisik-bisik mulai menjalar di antara tamu undangan yang berdiri tak jauh dari sana.
Elena bisa merasakan mata-mata itu menatapnya dengan campuran rasa kasihan dan ejekan.
Di dunia ini, ditinggalkan suami di tengah acara resmi adalah penghinaan yang paling nyata.
Elena mengeratkan pegangannya pada tas tangan kecilnya. Ia menolak untuk terlihat lemah. "Mungkin Anda tadi salah lihat. Permisi."
Ia mencoba melangkah pergi, namun kerumunan media seolah menutup jalannya. Lampu kilat kamera mulai menyambar-nyambar wajahnya, membuat penglihatannya putih sesaat.
Kepalanya mulai berdenyut, migrain yang ia rasakan pagi tadi kembali menyerang dengan kekuatan ganda. Elena merasa lantai marmer di bawah kakinya sedikit goyang.
Tepat saat ia merasa lututnya akan menyerah, sebuah aroma yang sangat ia kenali, campuran kayu cendana dan hujan, menyerbu indra penciumannya.
Sebuah tangan yang kuat dan hangat melingkar di pinggangnya, menopang tubuhnya dengan kekuatan yang mengejutkan.
"Istri Tuan Valerius sedang tidak enak badan. Berikan dia ruang," suara itu rendah, berat, dan penuh otoritas.
Elena mendongak. Andrew Valente berdiri di sampingnya.
Pria itu menatap para jurnalis dengan tatapan dingin yang mampu membungkam pertanyaan apa pun.
Andrew tidak mengenakan tanda pengenal tamu, namun tidak ada satu pun petugas keamanan yang berani menghentikannya.
"Tuan Valente? Apa hubungan Anda dengan Nyonya Valerius?" tanya salah satu wartawan, suaranya sedikit gemetar namun tetap nekat.
Andrew tidak menjawab.
Ia justru menarik Elena lebih dekat ke tubuhnya, sebuah perlindungan yang terang-terangan di depan publik.
"Hubungan kami adalah urusan pribadi. Yang jelas, seseorang harus melakukan tugas yang diabaikan oleh suami sahnya malam ini."