BAB 9

1036 Words
"Aku tidak memberikan panggung pada siapa pun, Dante. Kamu yang memberikannya saat kamu dengan mudahnya meninggalkan istrimu sendirian di tengah kerumunan media hanya untuk menemui Sofia," Elena membalas tatapan itu, menantang d******i Dante. "Jika kamu tidak ingin dipermalukan, seharusnya kamu menjalankan peranmu sebagai suami dengan benar semalam." Dante bangkit dari kursinya dengan gerakan cepat, mengitari meja dan berdiri tepat di belakang Elena. Ia membungkuk, menumpukan kedua tangannya di sandaran kursi Elena, mengunci wanita itu di tempatnya. Aroma parfum kayu cendana miliknya yang biasanya menenangkan kini terasa mencekik. "Dengarkan aku baik-baik," desis Dante di dekat telinga Elena. "Mulai detik ini, kamu dilarang keluar dari mansion ini tanpa seizinku. Aku akan menempatkan dua pengawal tambahan untuk mengawasimu selama dua puluh empat jam. Dan yang paling penting, jangan pernah, sekalipun kamu mencoba untuk menghubungi atau menemui Andrew Valente lagi." "Kamu menyekapku?" Elena menoleh, wajah mereka kini hanya berjarak beberapa inci. "Atas dasar apa kamu melakukan ini?" "Atas dasar kontrak yang kamu tanda tangani, Elena." Dante menegakkan tubuhnya, mengeluarkan sebuah amplop hitam dari saku jasnya dan menjatuhkannya ke pangkuan Elena. "Baca kembali Pasal Sembilan. Pihak Kedua wajib menjaga martabat dan nama baik keluarga Pihak Pertama di bawah pengawasan penuh Pihak Pertama. Setiap pelanggaran memberikan hak bagiku untuk menunda semua aliran dana ke bisnis ayahmu. Kamu ingin perusahaan keluargamu benar-benar hancur hari ini?" Elena menatap amplop itu dengan tangan gemetar. Ia merasa seperti baru saja dipukul di bagian perut. Kontrak itu. Selalu kontrak itu yang menjadi senjatanya. "Kamu sangat licik, Dante. Kamu menggunakan kehancuran ayahku untuk mengikatku seperti binatang peliharaan." "Aku menggunakan apa yang aku miliki untuk memastikan miliku tetap berada di tempatnya," sahut Dante datar. Ia mulai merapikan manset kemejanya seolah pembicaraan ini hanyalah diskusi bisnis rutin. "Kamu milik keluarga Valerius sekarang. Apa pun yang kamu lakukan, ke mana pun kamu pergi, semuanya adalah keputusanku. Andrew Valente tidak akan pernah bisa menyentuhmu lagi, karena aku akan memastikan kamu tidak akan pernah melihat matahari di luar gerbang itu tanpa izin dariku." Elena berdiri dengan sentakan kasar, membuat kursinya tergeser ke belakang. "Hanya karena kamu memegang kontraknya, bukan berarti kamu memilikiku, Dante. Kamu bisa membatasi langkahku, tapi kamu tidak bisa mengendalikan siapa yang ingin aku temui." Dante tersenyum tipis, sebuah senyum kemenangan yang membuat Elena ingin melayangkan tamparan. "Oh, aku bisa. Aku akan memastikan Andrew tahu bahwa setiap langkah yang ia ambil untuk mendekatimu akan berujung pada kehancuran finansial bagi siapa pun yang membantumu. Termasuk ayahmu." Elena terdiam. Rasa pahit menjalar di kerongkongannya. Ia menyadari bahwa di mata Dante, ia benar-benar bukan manusia, melainkan aset yang harus dilindungi dari kompetitor. Ia melihat Dante berjalan menuju pintu, bersiap untuk pergi ke kantor seolah ia baru saja menyelesaikan masalah sepele. "Dante," panggil Elena sebelum suaminya itu mencapai pintu. Dante berhenti namun tidak berbalik. "Apa?" "Kamu mencintai Sofia, bukan? Seluruh dunia tahu itu," ucap Elena, suaranya kini terdengar hampa. "Lalu kenapa kamu begitu terobsesi untuk mengikatku? Kenapa kamu begitu marah melihatku bersama pria lain jika di hatimu bahkan tidak ada aku?" Dante terdiam selama beberapa detik. Bahunya tampak menegang sejenak sebelum ia kembali rileks. Ia menoleh sedikit, menatap Elena melalui sudut matanya. "Karena kamu adalah milikku, Elena. Dan aku tidak suka berbagi apa pun yang menjadi milikku dengan Andrew Valente. Itu bukan soal hati. Itu soal kekuasaan." Dante melangkah keluar, menutup pintu dengan bunyi klik yang dingin. Elena berdiri sendirian di tengah ruang makan yang luas, menatap bayangannya di permukaan meja marmer yang mengilat. Ia merasa seolah dinding-dinding mansion ini perlahan-lahan merapat, siap menghimpitnya hingga tidak ada ruang untuk bernapas. Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke taman depan. Di sana, ia melihat dua pria bertubuh besar dengan setelan jas hitam sudah berdiri di depan pintu utama, menjalankan perintah Dante untuk mengurungnya. Di kejauhan, di luar gerbang besi yang tinggi, ia melihat sebuah mobil sedan hitam terparkir diam di bahu jalan. Ia tahu siapa yang ada di dalamnya. Elena menyentuh kaca jendela yang dingin dengan ujung jarinya. Ia teringat tatapan Andrew semalam, tatapan yang memberinya rasa aman untuk sesaat di tengah tekanan dari Dante. Dante benar, secara hukum ia adalah miliknya. Dante memiliki tanda tangannya, memiliki rumahnya, dan memiliki kendali atas masa depan keluarganya. Semua tercantum dalam kontrak yang sudah ia tanda tangani dua tahun yang lalu. Namun, saat ia menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca, ia melihat sesuatu yang berbeda. Ada kemarahan yang mulai menggantikan ketakutan. Jika Dante menganggap pernikahan ini hanyalah soal kekuasaan dan aset, maka Elena akan memberikan perang yang tidak pernah Dante bayangkan. Ia kembali menoleh ke arah pintu yang tadi dilewati Dante. Pria itu pergi menemui wanita yang ia cintai dengan penuh kebebasan, sementara istrinya yang sah ia kurung di dalam sangkar emas ini. Elena mencengkeram kain gaunnya, merasakan perih yang mendalam di dadanya. Jika aku memang milikmu, Dante, kenapa hatimu tidak pernah ada di sini? Kenapa kamu lebih memilih mencintai orang lain sementara kamu menyiksa wanita yang menyandang namamu? Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, menjadi bahan bakar bagi api perlawanan yang baru saja menyala. *** Beberapa hari berlalu setelah kejadian itu. Semuanya terasa hampa. Tadi pagi, Dante memerintahkannya untuk menghadiri acara lelang tahunan terbesar di Oakhaven. Kini, Elena sudah berdiri di tempat acara itu. Lampu-lampu gantung kristal di aula utama Grand Oakhaven memancarkan cahaya yang menyilaukan, memantul di atas lantai marmer yang dipoles hingga menyerupai cermin. Malam ini adalah acara lelang tahunan, ajang bagi para elit kota untuk memamerkan kekayaan sekaligus memantapkan hierarki sosial mereka. Elena berdiri di dekat pilar besar, menyesap air mineral dari gelas tipis sembari menatap kerumunan orang yang mengenakan pakaian dengan harga selangit. Ia mengenakan gaun hitam berbahan sutra yang elegan, namun ia merasa seperti bayangan di tengah keriuhan acara mewah tersebut. Beberapa meter di depannya, Dante Valerius berdiri dengan angkuh. Pria itu tidak sedang menatapnya. Dante sibuk berbincang dengan seorang kolega perbankan, sementara satu tangannya melingkar posesif di pinggang Sofia. Sofia tidak berusaha menyembunyikan kehadirannya. Ia mengenakan gaun merah menyala dengan potongan d**a rendah, sebuah pilihan warna yang sengaja menarik perhatian setiap pasang mata di ruangan itu. Ia tertawa kecil, menyentuh lengan Dante dengan gerakan manja yang sangat kontras dengan posisi Elena sebagai istri sah yang berdiri terasing. "Kamu terlihat sangat kaku, Elena. Tersenyumlah sedikit agar media tidak menganggap suamimu baru saja membelimu dari pasar b***k," bisik sebuah suara tajam di sampingnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD