BAB 16

1070 Words
Dante kembali mendekat, kali ini ia menumpukan kedua tangannya di meja, mengurung Elena di antara lengannya. Aroma alkohol dan amarah menguar dari tubuhnya. Dante menatap Elena seolah ingin melubangi memori yang tertutup rapat di kepala istrinya itu. "Apa yang dia bisikkan padamu?" tuntut Dante. "Katakan padaku, Elena!" Elena menelan ludah. Ia teringat bisikan Andrew yang mengatakan bahwa kalung itu sudah kembali ke pemiliknya. Namun, ia merasa ada badai besar di balik wajah Dante. “Dia tidak mengatakan apa-apa yang penting." ucap Elena akhirnya. "Bohong," desis Dante. Ia meraih tangan Elena, merasakan denyut nadi istrinya yang berdetak sangat kencang. "Nadimu berpacu, Elena. Kau ketakutan. Atau kau sedang menyembunyikan sesuatu yang manis tentangnya?" "Hentikan, Dante! Kau menyakitiku!" Elena mencoba menarik tangannya, namun Dante justru mempererat genggamannya. "Kau adalah istriku," ucap Dante, suaranya kini berubah menjadi bisikan yang mengerikan. "Setiap inci dari tubuhmu adalah milikku berdasarkan kontrak itu. Aku tidak akan membiarkan b******n seperti Valente menanamkan kembali pengaruhnya padamu. Jika aku harus mengunci pintu ini dan membuang kuncinya agar kau tidak melihatnya lagi, aku akan melakukannya." Elena menatap suaminya dengan tatapan yang sarat akan kebencian. "Kau tidak bisa memiliki apa yang tidak pernah kau hargai, Dante. Kau mencintai Sofia, tapi kau ingin mengendalikanku. Kau egois." Dante melepaskan tangan Elena dengan kasar, seolah merasa muak. Ia berjalan menuju bar kecil di sudut ruangan, menuangkan wiski ke dalam gelas dengan tangan yang masih gemetar. Suara dentingan es batu terdengar sangat nyaring. Ia meneguk minuman itu dalam satu tarikan napas, lalu membanting gelasnya ke atas meja. "Sofia adalah urusanku. Kau adalah tanggung jawabku," ucap Dante tanpa menoleh. “Itu tidak adil.” pekik Elena. “Bagaimana bisa kau bersama Sofia, sedangkan aku istri sahmu harus menyaksikanmu dengan wanita lain.” Dante terkekeh pendek. “Kau cemburu?” “Di kontrak kita sudah menyebutkan bahwa kita tidak perlu menggunakan perasaan dalam pernikahan ini.” imbuhnya. “Kalau memang demikian, kau juga tidak perlu menghalangiku dengan Andrew. Impas kan?” Mata Dante membelalak. Jawaban Elena di luar ekspektasinya. Selama ini, yang ia tahu Elena adalah sosok istri yang penurut dan tidak pernah mempermasalahkan kehadiran Sofia selama dua puluh empat bulan pernikahan. "Mulai besok, pengamanan di mansion ini akan digandakan. Kau tidak akan pergi ke mana pun tanpa izin tertulis dariku. Dan kalung itu... berikan padaku." Elena secara refleks menutupi zamrud itu dengan tangannya. "Tidak. Ini milikku." Dante berbalik, matanya berkilat. "Aku bilang berikan padaku, Elena. Itu adalah barang bukti provokasi Valente. Aku tidak akan membiarkanmu memakainya di rumahku." "Andrew membelinya seharga seratus sepuluh juta dolar untuk diberikan padaku, bukan untukmu!" Elena berdiri tegak, meski kakinya terasa lemas. "Kau bahkan tidak mau mengeluarkan satu sen pun untuk menebus pusaka keluargaku. Kau tidak punya hak atas benda ini." Langkah Dante terasa berat saat ia kembali mendekati Elena. Kali ini, auranya benar-benar mengintimidasi. Ia tidak lagi berteriak, namun suaranya mengandung otoritas mutlak yang mematikan. "Jangan pernah menyebut namanya lagi di depanku dengan nada membela seperti itu. Kau ingin tahu apa hakku? Hakku adalah aku bisa menghancurkan ayahmu dalam satu malam jika kau terus membangkang." Elena terdiam. Ancaman itu selalu berhasil membungkamnya. Ia merasa perih di dadanya, sebuah sesak yang tidak bisa dijelaskan. Ia melihat suaminya yang tampan namun berhati es, pria yang seharusnya menjadi pelindungnya namun justru menjadi sipir penjaranya. Dante mengulurkan tangannya, menunggu Elena melepas kalung itu. Elena menatap tangan suaminya, lalu perlahan tangannya bergerak ke tengkuk, membuka pengait emas kalung tersebut. Dengan gerakan lambat, ia menyerahkan zamrud itu kepada Dante. Begitu batu hijau itu berpindah tangan, Elena merasa seolah sebagian dari jiwanya kembali dicabut. Dante menggenggam zamrud itu kuat-kuat, lalu memasukkannya ke dalam saku jasnya. "Masuk ke kamarmu, aku tidak ingin melihatmu lagi malam ini." ucap Dante tanpa menoleh. Elena melangkah pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Namun, saat ia sampai di pintu, ia berhenti dan menoleh kembali ke arah Dante yang kini kembali menuangkan minuman. Elena melangkah pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Namun, saat ia sampai di pintu, ia berhenti dan menoleh kembali ke arah Dante yang kini kembali menuangkan minuman. "Dante," panggil Elena lirih. Dante tidak menyahut, namun ia berhenti bergerak. "Andrew mengenalku lebih baik darimu," ucap Elena dengan nada suara yang sangat tenang namun tajam. "Dia tahu apa yang aku rasakan hanya dengan melihat mataku. Sementara kau... kau bahkan tidak sadar bahwa aku sedang sekarat di rumah ini setiap harinya." Elena keluar dan menutup pintu dengan pelan, meninggalkan Dante dalam kesunyian yang mencekik. Dante berdiri mematung di tengah ruang kerjanya. Tubuhnya berputar menghadap pintu begitu terdengar suara pintu tertutup. Tapi Elena sudah keluar. Keheningan yang dingin menyelimuti ruang kerja Dante. Ia meraba zamrud di dalam sakunya, merasakan permukaan batu yang dingin itu. Amarahnya tidak mereda, justru berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap dan menyesakkan. Ia mengeluarkan zamrud itu, menatapnya di bawah lampu temaram. Kilau hijaunya seolah mengejeknya, mengingatkannya pada reaksi tubuh Elena yang tidak bisa ia dapatkan meski telah memiliki tanda tangan wanita itu di atas kertas. Tiba-tiba, ponsel Dante bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Dante membukanya, dan seketika wajahnya memucat. Di layar ponselnya, terpampang sebuah foto lama yang sangat buram, foto seorang wanita yang sangat mirip dengan Elena, sedang tertawa bahagia di pelukan Andrew Valente di sebuah taman bunga di musim semi. Di bawah foto itu terdapat sebuah pesan singkat yang membuat napas Dante tercekat: [Kau hanya menyimpan raganya, Dante. Tapi dia akan selalu menjadi milikku. Hatinya akan selalu menjadi milikku.] Dante meremukkan ponselnya di dalam genggaman, matanya memerah karena murka yang sudah tidak bisa dibendung lagi. Ia menyadari bahwa perang ini bukan lagi soal bisnis, melainkan soal merebut kembali ingatan yang coba ia kubur dalam-dalam selama dua tahun ini. Pintu kamar tertutup dengan dentuman pelan, meninggalkan Elena dalam kesunyian yang mencekik. Elena tidak menyalakan lampu. Cahaya bulan yang menembus jendela kaca besar di ujung ruangan memberikan semburat perak pada lantai marmer, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti jeruji penjara. Elena berjalan lunglai menuju tempat tidurnya, namun ia tidak langsung berbaring. Ia duduk di tepian kasur, menyentuh lehernya yang kini terasa kosong dan dingin. Zamrud itu sudah tidak ada. Dante telah merampasnya, sebagaimana pria itu merampas martabat dan kemerdekaannya selama dua tahun terakhir. Elena menatap telapak tangannya sendiri yang masih sedikit gemetar. Gemetar itu bukan karena takut pada ancaman Dante tentang ayahnya, melainkan karena sisa sentuhan Andrew di pelelangan tadi. Kulitnya seolah masih menyimpan panas dari jemari pria itu saat memakaikan kalung. Reaksi tubuhnya begitu nyata, begitu mendalam, hingga logika amnesianya mulai terasa seperti retakan pada cermin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD