"Siapa kau sebenarnya?" bisik Elena pada kegelapan. Kepalanya mulai berdenyut lagi. Rasa sakit itu datang bersamaan dengan aroma hujan dan kayu cendana yang mendadak memenuhi indra penciumannya, padahal ruangan itu hanya berbau pengharum ruangan lavender yang hambar. Elena merebahkan tubuhnya, menarik selimut hingga ke dagu, berharap kantuk akan membawanya pergi dari rasa sesak yang menghimpit paru-parunya. Namun, begitu ia memejamkan mata, kegelapan di balik kelopak matanya berubah menjadi layar proyektor yang rusak. Mimpi itu kembali, kali ini dengan intensitas yang lebih tajam. Elena melihat dirinya sendiri berada di sebuah taman bunga yang luas. Kelopak bunga sakura berguguran di sekelilingnya, menempel pada rambut dan gaun musim seminya. Ia tidak sendirian. Seorang pria

