keracunan

2030 Words
Hari berganti begitu lambat dirasakan oleh Kemal. Setelah melamar dan menentukan tanggal pernikahannya, Kemal tidak pernah sekalipun bertemu dengan Amira. Entah mengapa hari ini perasaan Kemal terasa tidak tenang, perasaan resah menyergap hati Kemal dari tadi malam. Beberapa kali Kemal merapalkan doa meminta perlindungan untuk keselamatan nya, dan semua orang yang disayanginya. Kemal bahkan menelpon Ibunya guna menenangkan pikiran nya. "Assalamualaikum, Bu." sapa Kemal setelah panggilannya diangkat oleh Ibunya. "Waalaikumsalam, Nak. Tumben jam segini telepon ibu, ada apa?" tanya Ibunya dengan lembut. "Perasaan Kemal dari tadi pagi tidak enak, Bu. Kenapa ya?" tanya Kemal langsung pada Ibunya. "Istighfar, Nak. Zikir terus sama Allah, minta perlindungan Nya. Ibu tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi kita harus selalu minta dijauhkan dari segala hal buruk, Sayang." jawaban lembut dari Ibunya membuat perasaan Kemal menjadi sedikit tenang. "Terimakasih, Bu. Kemal sedikit tenang sekarang, apalagi mendengar suara merdu Ibu, i love u, Bu." Ibunya tersenyum di seberang telepon, sudah menjadi kebiasaan anak nya mengatakan hal seperti itu. Jika dengan wanita lain Kemal akan diam berbeda dengan keluarganya, Kemal akan menjadi raja gombal, entah itu untuk Ibu maupun adik nya. "Sama-sama, Sayang. sekarang Kamu ambil wudhu, jangan putuskan zikir dalam hatimu, jangan biarkan setan mendapatkan celah kosong walaupun sedikit." Kemal mengangguk seakan ibunya berada di hadapan nya. "Iya, Bu. sekarang Kemal mau melanjutkan pekerjaan lagi, Assalamualaikum Ibu Peri." Setelah mendapatkan jawaban salam dari Ibunya, Kemal berwudhu dan melanjutkan pekerjaan nya kembali. *** Sedangkan di rumah Amira seseorang Sedang menunggu kesempatan untuk menyingkirkan Amira. Rasa sayang yang teramat dalam membuat orang itu rela melakukan apapun untuk kebahagian orang yang di sayanginya. Walaupun tidak memiliki hubungan darah dengannya. Melihat orang yang dia sayangi terpuruk karena tidak bisa mendapatkan Kemal membuatnya memikirkan cara untuk menyingkirkan Amira. Dewi keberuntungan seolah sedang berpihak kepadanya. Amira membawa laptop nya menuju taman belakang rumah. Taman belakang rumahnya adalah tempat favorit nya dalam bekerja. Setelah mendudukkan diri di sebuah bangku dan meletakan laptopnya di meja seperti biasa. Amira memulai pekerjaan nya untuk memeriksa laporan yang dikirimkan orang kepercayaannya melalui email. Jika Amara lebih suka akan tanaman berjenis bunga dan membangun toko bunganya sendiri, berbeda dengan Amira yang lebih suka dengan urusan dapur seperti memasak membuat kue dan roti. seperti Amara yang membangun toko bunga nya, Amira pun membangun toko kue dan rotinya, toko yang ia beri nama AA Bread & Bakery. Toko yang mulai merambat menjadi sebuah cafe atas usulan pelanggannya. Toko yang dibagi menjadi dua area yaitu indoor dan outdoor. Jika area indoor lebih disukai pengunjung ibu-ibu, karena adanya area permainan untuk anak-anak di sudut pojok kanan, dan juga di letakan beberapa jenis bunga segar di setiap sudutnya. Maka berbeda dengan area outdoor, yang setiap mejanya di letakkan di bawah pohon besar untuk penghalang sinar matahari yang menyengat, dengan beratapkan payung besar untuk menghalangi guguran daun dari pohon tersebut. Amira mulai memeriksa laporannya satu persatu. Setengah jam kemudian Amira membutuhkan segelas es jeruk, iya beranjak ke dapur dan membuat es jeruk sendiri. walaupun mempunyai beberapa pembantu, tapi jika untuk pekerjaan kecil seperti membuat es Amira akan membuatnya sendiri. Segelas es jeruk telah jadi, tetapi Amira merasakan kantung kemih nya juga ingin dikosongkan. Amira beranjak ke kamar mandi dan menuntaskan acaranya. Tanpa disadarinya bahwa ada seseorang yang memperhatikan nya, seketika kesempatan yang ditunggunya datang, orang itu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Orang itu berjalan perlahan mendekat pada minuman Amira, dan membubuhkan sesuatu di sana. Setelah dirasa tercampur semua dia segera pergi dan tidak meninggalkan jejak apapun. Amira keluar dari kamar mandi, menuju dapur mengambil es jeruk nya, lalu melanjutkan ke taman belakang dan melanjutkan pekerjaan nya, sambil sesekali meminum es jeruk itu. Tidak lama kemudian tenggorokan nya terasa tercekat, dadanya merasa sesak pandangan nya mulai mengabur, dari mulutnya keluar busa tubuh nya mengalami kejang. *** Angga yang masuk kedalam rumah dan mendapati rumah sepi segera mencari keberadaan sang Adik. Karena Angga tahu adik nya tidak akan kemana-mana, apalagi ini mendekati hari pernikahan nya. Angga langsung menuju taman belakang tempat adik nya biasa berada. Dari kejauhan Angga melihat Adik nya yang sedang kejang-kejang. Sontak Angga berlari dan menemukan mulut adik nya mengeluarkan busa. Angga langsung membopong sang adik dan membawanya menuju rumah sakit. Angga berteriak kepada para penjaga untuk membukakan pintu gerbang. para penjaga yang melihat majikannya berteriak panik sambil menggendong Amira segera membuka pintu. Dengan kecepatan tinggi Angga menjalankan mobil nya menuju rumah sakit. Hanya menempuh waktu kurang dari lima menit Angga sampai di lobi ruangan bertuliskan IGD. Angga berteriak minta tolong pada petugas. Petugas yang melihat Angga keluar dari mobil dengan panik, langsung sigap mendorong brankar dan menghampiri Angga yang sedang mengeluarkan Amira dari dalam mobil. Seluruh petugas rumah sakit tau siapa Angga, Anak dari pemilik rumah sakit tempat mereka bekerja. Setelah berhasil membawa Amira masuk ke IGD Angga menunggu dengan perasaan cemas, dan langsung memberitahu sang Ayah melalui panggilan telepon. tut...tut...tut… Dalam dering ketiga Ayahnya mengangkat teleponnya. "Assalamualaikum, Ayah." Andri yang mendengar kan nada panik dari anak sulung nya mengerutkan dahi. "Waalaikumsalam , Nak. ada apa? kenapa kamu terdengar panik seperti itu?" tanya Andri dengan khawatir. "Ayah, Angga di rumah sakit sekarang, Amira kejang-kejang dan dari mulut nya mengeluarkan busa, Yah." "Astagfirullah, Kamu di rumah sakit mana sekarang?" tanya Andri cemas, sambil berjalan menuju mobilnya. "Di rumah sakit Ananda , Yah." "Oke Ayah kesana sekarang, jangan beritahu Mamah dulu, biar ayah yang jemput." "Iya, Yah. Assalamualaikum. Ayah hati hati." "Waalaikumsalam." Andri segera menghubungi istrinya yang sedang berada di sebuah salon kecantikan agar segera bersiap untuk pergi dengannya. Jarak antara kantor dan salon tempat istrinya berada kini tidak jauh dari kantornya. Andri sengaja tidak memberitahu terlebih dahulu pada istrinya, karena ia tahu istrinya akan sangat panik. Ketika mobil yang ditumpangi Andri berada tepat di hadapannya Ananda langsung membuka pintu belakang. Setelah mendudukkan dirinya tepat di sebelah suaminya, ia pun segera melontarkan pertanyaan pada suaminya. "Mau kemana sih, Yah. ko buru buru banget? Mamah belum selesai ini," gerutu Ananda. karena memang ia belum menyelesaikan treatment di wajahnya, yang membuatnya selalu terlihat cantik di umurnya yang sudah tidak muda lagi. "Nanti juga Mamah tau. Lebih cepat sedikit, Pak." pintanya pada Karso supir pribadinya. "Baik Pak," jawabnya dengan menambah kecepatan. "Jangan buat Khawatir, Yah. Dari pagi perasaan Mamah udah nggak enak ini, kita mau kemana?" Ananda bertanya dengan cemas melihat sikap suaminya, tidak bisa dipungkiri hati nya memang merasakan tidak tenang sebelum berangkat tadi. "Kita ke rumah sakit Mah. Amira di rumah sakit." Ananda kaget mendengar tujuan mereka, dan lebih mengejutkan lagi setelah tau siapa yang berada di tempat itu. "Amira kenapa, Yah? Kenapa bisa di rumah sakit?" tanya dengan khawatir. "Ayah belum tahu jelas nya, Angga hanya mengabarkan jika Amira sedang di tangani di IGD. Kita berdoa saja semoga tidak terjadi apa-apa." Ananda hanya terduduk lemas di samping suaminya. Pikiran buruk bersarang di otaknya, ketakutan menghantui dirinya. Takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada Amira. Lima belas menit perjalanan yang mereka butuhkan untuk sampai di rumah sakit, Sepasang paruh baya itu langsung berlari menuju IGD begitu tiba di lobby rumah sakit. Sapaan hormat dari semua orang yang melihat mereka abaikan, kepanikan tidak bisa disembunyikan dari raut wajah mereka. "Angga bagaimana keadaan Amira?" Ananda bertanya dengan tak sabar ketika sampai di hadapan anak sulung nya. "Masih ditangani dokter, Mah." Angga menjawab dengan lemah. "Apa yang terjadi, kenapa bisa sampai Amira seperti ini?" Andri bertanya setelah menetralkan nafasnya akibat berlari. "Angga tidak tahu, Yah. begitu masuk rumah dan menuju taman belakang tempat biasa Amira, Angga melihat dari dalam rumah Amira sedang kejang-kejang. Angga langsung berlari dan begitu dekat ternyata dari mulutnya juga mengeluarkan busa." Angga menceritakan dengan perasaan sedih yang terbayang kondisi Amira saat pertama ia melihatnya. "Amira seperti keracunan,Yah." "Kita tunggu penjelasan dari dokter, jika memang Amira keracunan, kita harus menyelidiki nya," ucap Andri berusaha tenang, sedangkan Ananda sudah duduk dengan terus menangis. Andri duduk disebelah istrinya, dan membawa istrinya ke dalam pelukannya, "Sudah Mah, lebih baik kita berdoa semoga tidak terjadi apa-apa pada putri kita." "Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Amira,Yah?" tanyanya dengan diiringi isakan tangis. "Kita berdoa untuk keselamatan Amira," balas Andri sambil mengusap punggung istrinya. "Apakah sebaiknya kita hubungi keluarga Om Seno,Yah?" tanya Angga setelah merasa sedikit tenang. "Nanti saja setelah kita mengetahui kondisinya dari dokter," jawaban Andri tidak dibantah oleh Angga. Pintu ruangan IGD terbuka dan menampilkan seorang dokter yang tadi menangani Amira, Angga beserta orang tuanya segera menghampiri dokter yang bernama Arif tersebut. "Bagaimana keadaan putri saya dokter?" tanya Ananda dengan tidak sabarnya. "Alhamdulillah masih bisa diselamatkan kan, Bu. untung saja segera dibawa ke rumah sakit, karena jika telat sedikit saja mungkin putri Ibu tidak tertolong." Semua menarik nafas lega. "Lalu bagaimana sekarang kondisinya?" tanya Angga. "Nona Amira sudah melewati masa kritisnya, sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatannya, hanya saja jangan di ajak berbicara terlebih dahulu ketika pasien sadar. Biarkan nona Amira yang berbicara terlebih dahulu, karena efek racun yang ada di tubuhnya menimbulkan rasa panas di tenggorokannya. Sehingga membuatnya seperti tercekat, biarkan ia berlatih, tapi tidak perlu ada yang dikhawatirkan untuk kondisi tubuh yang lainnya," penjelasan dokter membuat mereka menarik nafas lega. " Kalau begitu saya permisi dulu." "Baik dokter, terimakasih untuk bantuannya." Setelah mendapatkan izin dokter tersebut pergi meninggalkan mereka semua. Tidak lama setelahnya pintu ruangan kembali terbuka, seorang perawat datang dan memberitahu bahwa Amira sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Dengan diantarkan perawat tersebut mereka pergi ke ruang perawatan Amira, Kamar Paviliun atau setara VVIP. Melihat Amira tertidur dengan pulas dan di tangan kanan nya menancap jarum infus membuat Ananda tak kuasa menahan tangisnya, berjalan perlahan mendekati ranjang putrinya. "Kamu kenapa, Sayang? Jangan buat Mamah khawatir." Ananda mengecup kening putrinya dengan sayang "Angga pulang dulu, Yah. Angga sudah telpon polisi, mereka sedang dalam perjalanan ke rumah, sekalian Angga mau telepon Kemal." *** Lantunan sholawat yang terdengar begitu menyejukkan hati sedikit membuat perasaan Kemal menjadi tenang, tetapi itu tidak lama, setelah handphone yang sedang memutar sholawat itu berganti dengan nada panggilan masuk dari Angga, dengan cepat Kemal mengangkatnya. "Assalamualaikum, ada apa, Ga?" tanya Kemal tanpa basa basi, entah mengapa perasaannya nya semakin resah ketika mendapat telepon dari Angga. Sehingga Kemal langsung menjawabnya. "Waalaikumsalam, Amira di rumah sakit sekarang, Mal. Amira keracunan," jawaban Angga membuat Kemal memejamkan matanya, perasaan resah yang ia rasakan dari pagi hari terjawab sudah. "Astaghfirullah hal azim, di rumah sakit mana?" Kemal berusaha untuk tetap tenang. "Ananda, kalau punya waktu datanglah, berikan semangat kepadanya." "Gue langsung pulang sekarang, Gue udah ngerasain perasaan resah sedari pagi, terima kasih, Ga. Asalamualaikum." Setelah mendapat Jawaban dari Angga Kemal langsung mematikan teleponnya, dan membereskan pekerjaannya. Dan bergegas untuk pulang. Di perjalanan Kemal menelpon orangtuanya untuk mengabarkan keadaan Amira. Kemal pulang dengan diantar oleh supir kantornya, Kemal tidak mau menyetir dalam keadaan cemas. Jarak dari Jakarta ke rumah orangtuanya sekitar tiga jam lamanya. "Assalamualaikum, Yah. Kemal Sedang dalam perjalanan pulang, Amira masuk rumah sakit, Yah!" Ucapan Kemal membuat Seno terkejut, dari suara nya terdengar nada cemas. "Waalaikumsalam, di rumah sakit mana, Nak?" "Rumah sakit Ananda, Yah. Kemal langsung ke sana ya." "Yasudah, kita ketemu di sana, kamu hati-hati dijalan ya. Ayah tutup teleponnya, assalamualaikum." "Waalaikumsalam," jawab Kemal dan mematikan teleponnya. Setelah menempuh tiga jam perjalanan, akhirnya Kemal sampai di rumah sakit. Kemal berjalan dengan sedikit tergesa diiringi tatapan kagum para kaum wanita. Dari luar kamar perawatan Kemal mendengar suara kedua orangtuanya dan juga orang tua Amira. "Assalamualaikum." Kemal mengucapkan salam sambil membuka pintu, seketika mengalihkan obrolan para orang tuanya. "Waalaikumsalam," jawab mereka serempak, Kemal berjalan dan mengecup tangan orang tuanya dan orang tua Amira. "Bagaimana kondisi Amira, Tante?" tanyanya setelah mengecup punggung tangan Ananda. "Berangsur stabil, Nak. untung saja Angga segera membawanya kemari, dokter bilang telat sedikit saja nyawanya tidak tertolong," Ananda Menjawab dengan suara sedihnya. "Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya nya lagi sambil memandang Amira. Untuk pertama kalinya Kemal berani menatap Amira dengan lama. Kemal yang melihat wajah pucat Amira merasakan sedih dihatinya. Perasaan gelisah yang ia rasakan sedari pagi menandakan betapa kuat ikatan batin mereka berdua. "Amira keracunan, Angga sedang menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi." Kemal mendesah, mencoba memikirkan beberapa kemungkinan. "Kapan Amira akan sadar, Tante?" "Kemungkinan besok pagi. Dokter berpesan begitu Amira sadar, jangan diajak berbicara, biarkan dia berbicara terlebih dahulu, efek dari racun yang masuk menimbulkan tenggorokannya tercekat. Jika kita bertanya dia akan memaksakan menjawab, jadi biar dia berlatih sendiri." Penjelasan dari Ananda membuat Kemal menghembuskan napas panjang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD