Rencana Pertama

1712 Words
Setiap acara pasti akan memiliki cerita dan momen nya sendiri. Amira yang bahagia dengan momen pertunangan nya dengan Kemal. Berbanding terbalik dengan Amara yang merasakan patah hati dengan momen pertunangan kembarannya. Sebisa mungkin Amara selalu menunjukan keceriaan di depan keluarganya. Satu minggu setelah acara pertunangan Amira, Amara selalu menyibukkan diri dengan pekerjaan nya. Amara memiliki toko bunga yang cukup besar. Amara adalah gadis yang sangat suka dengan bunga, hampir seluruh tanaman bunga yang ada di halaman depan maupun belakang adalah hasil tanaman nya. Walaupun ayahnya memiliki perusahaan yang besar, tidak membuat mereka harus menjadi pewaris. Amira dan Amara bebas membuka usaha nya masing-masing, sedangkan perusahaan sepenuhnya di urus oleh Angga. Amara hanya akan terlihat dikala sarapan pagi dan jam makan malam, dengan alasan toko nya sedang ramai. Padahal itu hanyalah alasannya saja. Seperti malam ini jam menunjukan pukul tujuh malam, Amara baru sampai di rumahnya ketika semua keluarganya sedang duduk di meja makan untuk menunggu kedatangannya. "Assalamualaikum," salam Amara ketika sampai di meja makan. "Waalaikumsalam." Amara mencium semua punggung tangan keluarganya, karena memang di keluarga dia yang paling muda walaupun hanya selisih tiga menit dengan Amira. "Cuci tangan dulu, Nak." Perintah Ananda yang hanya di angguki oleh Amara. Ia pun pergi menuju wastafel yang berada di dapur untuk mencuci tangan. Setelah selesai mengeringkan tangan Amara kembali ke meja makan, duduk bersebelahan dengan Amira. "Pulang Malem terus sih, Dek?" pertanyaan dari Angga setelah ia menyendok nasi. "Toko lagi rame banget, Kak." jawab nya sambil memasukan ayam goreng kesukaannya. "Jaga kesehatan, Dek, jangan di forsir. Kamu bisa tambah pegawai lagi kalau udah kewalahan," saran dari Amira. "Nanti Mara pikirin lagi, Mara punya kabar baik. Lebih ke ide sih," ucapan Amara membuat mereka menghentikan makannya. "Kabar apa?" tanya ayahnya penasaran. "Rencananya Mara mau buka cabang lagi," ucapan Amara membuat keluarganya menghela napas, menandakan tidak setuju. "Kamu udah punya 4 cabang loh, Dek. sekarang mau dimana lagi?" pertanyaan dari Angga di angguki semua nya. "Kali ini Mara pengen coba buka di Bali." Amara mengutarakan keinginannya dengan semangat. "Mama nggak setuju!" Ananda langsung mengeluarkan suaranya. "Boleh buka cabang ga harus keluar pulau, pokoknya Mama nggak setuju, apapun alasannya!" tandas Ananda yang langsung membuat semuanya diam. "Baru ide Mah. Itupun kalau boleh," jawab Amara dengan lesu. "Ya udah, buang jauh-jauh idenya ya, Mama nggak setuju. Mara boleh buka cabang lagi, tapi nggak jauh-jauh," keputusan Ananda disetujui oleh semuanya. "Iya… iya… nggak jadi jauh-jauh deh." "Janji ya." Ananda mengacungkan kelingking nya tanda berjanji, membuat Andri menggelengkan kepala melihat kelakuan istrinya. "Janji Ibu Presdir!" Amara menyambut uluran kelingking ibunya. Suasana kembali hangat dan ceria. "Apa nggak lebih baik kaya Amira aja, Dek, pantau toko dari rumah, biar kamu nya juga gak cape kaya gini," saran dari Angga. "Nggak mau, kalau Kak Mira kan mau menikah mangkanya harus di rumah, kalau aku kan masih jomblo, jadi bebas." Amara berkata sambil mengibaskan rambutnya, membuat orang tuanya tersenyum. "Mangkanya, segera kibarkan bendera Jomblonya, biar pemuda pada tau, jangan gandengin Kakak mulu kalau kemana-mana," ucapan Angga membuat semua nya tertawa. "Dih! gak kebalik tuh? Bukan nya Kakak yang biasa nya gandeng Mara buat kondangan. Biar gak dibilang jomblo," balas Amara membuat semua kembali tertawa. "Lagian ya, Mara tuh udah pasti dicariin calon suami kayak Kak Mira sama Ayah dan Mama, jadi Mara mah tinggal duduk manis menunggu pangeran berkuda ferrari buat jemput." "Kuda tuh dimana mana binatang kaki nya empat Dek." Ucapan Amira. "Ferrari juga roda nya Empat Kak!" jawaban Amara membuat kedua orang tuanya menggelengkan kepala. Begitulah Amara sosok yang selalu ceria di hadapan keluarganya, tanpa mereka tahu pikiran dan perasaannya. "Ya udah makan dulu jangan debat aja kalian ini." Perintah Andri di angguki semua anaknya. Setelah selesai makan malam, Amara langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri, sedangkan yang lain pergi ke ruang keluarga untuk mengobrol santai. "Kamu kapan balik ke pusat Ga?" pertanyaan Ayah nya membuat Angga mendongakkan kepala. "Paling habis resepsi Amira , Yah. Sebelum pulang Angga udah siapin semuanya kok, tapi ya... kalau ada urusan yang benar-benar Urgent baru Angga ke sana." Ayah nya hanya menganggukkan kepala. "Oya, Yah. Angga mau tanya, kenapa sih di daerah ini tuh adatnya masih kental banget, padahal ini sudah termasuk kota loh?" Angga bertanya karena rasa penasaran akan adat yang selalu membedakan derajat. "Yang namanya adat itu sebenarnya tergantung orang-orangnya, jadi kita tidak bisa memaksakan, dan tidak ada yang mau memulai untuk perubahan adat tersebut. Mangkanya Ayah dan Pak Seno ingin memulai perubahan adat itu, semoga saja pernikahan Amira dan Kemal nanti menjadi awal perubahan untuk daerah kita ini," jawaban ayahnya membuat Angga hanya ber oh saja. Amira datang bersama Ani pembantu rumah tangga di rumah Amira, Amira membawa nampan berisi puding. Sedangkan Ani membawa nampan berisi 2 teh hangat untuk orangtua Amira, dan 2 gelas jeruk peras hangat untuk Amira dan Angga. "Permisi ini tehnya," setelah meletakkan gelas masing masing, Ani kembali ke dapur. "Kakak kapan kembali ke Pusat?" pertanyaan Amira menghentikan kegiatan Angga yang sedang menyeruput jeruk peras hangatnya "Setelah pernikahan kamu kayaknya. Kecuali ada urusan yang urgent, baru Kakak kesana." "Memangnya nggak ngeganggu kerjaan Kakak ya?" Angga hanya menggelengkan kepalanya. "Nanti selama Angga disini, Ayah istirahat aja di rumah. Biar Angga yang ke kantor." "Siap Bos." Ayahnya memberikan hormat pada Angga yang ditanggapi kekehan olehnya. Setelah mengobrol santai Amira dan orangtuanya pergi menuju kamarnya masing masing. Sedangkan Angga pergi menuju ruang kerjanya. Sampai dikamar Amira langsung menuju kamar mandi untuk sikat gigi dan berwudhu, setelahnya Amira pun melaksanakan sholat isya, setelah selesai sholat Amira tak lupa berdzikir dan berdoa. "Ya Allah yang Maha pengasih dan Maha Penyayang, Terima Kasih Atas segala Nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan keluargaku, Terima Kasih telah mendengarkan segala doa yang ku minta, Robbana Atina fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanah waqina adzabannar, Aamiin ya rabbal alamin." Setelah mengusapkan kedua tangannya ke pipi, Amira kembali bersujud untuk meresapi setiap indah hidupnya. Setelah selesai berdoa Amira merapikan peralatan sholatnya, dan bersiap untuk mengarungi mimpi indahnya. Tetapi setelah kabar perjodohannya dengan Kemal, Amira mempunyai hobi baru sebelum tidur, yaitu bercermin dan bertanya pada bayangannya sendiri di cermin. "Pantas tidak ya Aku menjadi pendamping Aa Kemal?" Selalu itu pertanyaan yang Amira lontarkan pada bayangannya sendiri di cermin. Setelah puas bercermin Amira menaiki ranjangnya dan mulai merebahkan dirinya dengan memeluk guling kesayangannya. Baru saja Amira akan menutup matanya, sebuah notifikasi pesan w******p masuk ke dalam hpnya. Dan untuk pertama kalinya Kemal mengirimi nya pesan, Amira tersenyum dengan lebarnya, hanya sebuah pesan dari Kemal tetapi mampu membuat jantung Amira berdebar Aa Kemal: Assalamualaikum Amira, maaf Aa mengganggu Mira malam-malam, Mira sudah tidur? Me: Waalaikumsalam Aa, Aa tidak mengganggu sama sekali, Mira belum tidur, cuma lagi tiduran aja. Aa Kemal: Kenapa belum tidur? Aa besok akan berangkat ke Jakarta, dan InsyaAllah Aa pulang hari rabu. Kenapa Mira belum tidur? Me: Belum ngantuk 'A, Mira pikir Aa Nggak balik lagi sampai hari H kita. Aa Kemal: Memang rencananya begitu, tapi tiba-tiba ada urusan yang tidak bisa diwakilkan, apa Mira keberatan Aa ke Jakarta? Me: Oh begitu, Mira tidak keberatan A. Mira hanya berdoa semoga semuanya berjalan dengan lancar dan segera selesai, jangan lupa juga jaga kesehatan. Balasan pesan yang bernada perhatian dari Amira membuat hati Kemal berbunga, dan tidak bisa menghentikan senyum Kemal Aa Kemal: Amin.Terima kasih Mira untuk perhatiannya, Aa berdoa semoga waktu berjalan dengan cepat sampai pada hari H kita." Me: Sama-sama Aa, Amin, ya sudah sekarang Aa istirahat, Mira mau tidur dulu ya. Selamat malam calon imam. Assalamualaikum. Mira mengakhiri pesannya dengan menyertakan emoticon senyum. Aa Kemal: Waalaikumsalam calon makmum. Kemal pun sama membalas salam dengan menyertakan emoticon senyum. Setelah mendapat balasan dari Kemal, Amira mulai memejamkan matanya menuju alam mimpi. *** Sementara dikamar Amara gadis itu tengah memanjatkan doa. Meminta petunjuk pada tuhannya untuk keresahan hatinya. "Ya Allah, berikanlah Aku keikhlasan dan ketabahan untuk merelakan Kemal menjadi imam untuk Kakakku, Aku sangat mencintainya ya Allah, hilangkan lah perasaan iri pada hatiku ya Allah, pertemukan lah Aku segera dengan jodohku, untuk menyembuhkan luka hatiku, Amin ya robbal alamin." Setelah mencurahkan isi hatinya dengan sang maha pencipta, Amara bersujud dan menangis meratapi cintanya yang tak terbalaskan. Amara terbayang kembali saat Melihat senyum bahagia jelas terpancar dari bibir Kemal dan Amira, begitupun dengan kedua orang tuanya. Disaat semua orang tersenyum bahagia hati Amara menangis melihatnya. Tersenyum di atas kesedihan hatinya membuatnya tak mampu bertahan lama di acara itu, sehingga Amara memutuskan untuk meninggalkan acara tersebut. Karena Amara yakin dia tidak akan mampu bertahan lebih lama untuk tidak menumpahkan air matanya. Setelah selesai dengan sujud sedihnya Amara bangkit merapikan peralatan sholatnya, berjalan gontai menuju ranjang. "Semoga pangeran berkuda Ferrari segera datang menjemput ku." Amara tersenyum pahit dengan khayalannya. Dulu iya selalu membayangkan Kemal datang menjemputnya. Amara bukan perempuan matre yang memandang lelaki dari materinya, karena menurutnya materi yang diberikan oleh orangtua dan hasil kerjanya sudah lebih dari cukup. Hanya saja Kemal adalah sosok lelaki yang selalu dibayangkan menjadi pangerannya dan kebetulan sekali Kemal seorang pengusaha muda, sehingga Amara sering menyebutnya pangeran berkuda Ferrari. *** Sementara di lain tempat seseorang sedang berencana untuk menyingkirkan Amira agar tidak bisa menikah dengan Kemal. Orang itu tengah menyusun rencananya. "Pernikahan mereka akan diadakan 4 minggu lagi, Aku harus segera menyiapkan suatu kejutan untuk Amira. Bagaimana pun caranya, mereka tidak boleh menikah, Aku tidak rela. Kemal harus menjadi istri tuan putri, bukan untuk Amira." Orang itu tersenyum dengan liciknya, merencanakan kejahatan yang akan ia lakukan demi seseorang yang tidak memiliki hubungan darah dengan nya. Rasa sayang yang berlebihan membuatnya menghalalkan segala cara agar hasrat nya tercapai. Dia hanya tinggal mencari kesempatan untuk menjalankan semua rencananya. Orang itu tengah berpikir cara apa yang akan ia gunakan untuk mencelakai dan membatalkan pernikahan Amira. "Racun. Ya benar racun, Aku akan membubuhkan racun pada makanan Amira, Aku harus membeli racun. ya Aku harus membelinya." Otaknya memerintahkan untuk membeli racun. Dia pun segera menghubungi seseorang yang bisa diandalkan untuk membeli racun. Dia mulai mengetik pesan untuk memerintahkan seseorang membeli racun. "Belikan Saya racun, untuk meracuni seseorang, temui saya besok di dekat pasar." Dengan mengklik tombol 'kirim' pesannya sudah sampai pada orang yang dia perintahkan. "Ok." Hanya itu balasan dari orang yang diperintahkan nya. Orang itu merebahkan diri di kamarnya, dengan tersenyum membayangkan Amira yang celaka dan pernikahannya yang batal. "Kamu akan mendapatkan kebahagiaan mu Putri." Membayangkan wajah seseorang yang sangat disayanginya bahagia membuat hatinya menghangat. Orang itu pun akhirnya terlelap menuju alam bawah sadarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD