Sedih Vs Bahagia

1890 Words
Semua makhluk di bumi ini mengharapkan kebahagian untuk orang-orang yang disayangi, terutama untuk dirinya sendiri. Begitupun dengan Amara Putri Arkana, ia pun ingin merasakan kebahagian dengan lelaki yang ia cintai. Tapi semua itu hanya tinggal sebuah harapan yang semu. Karena ia tidak akan pernah bisa memiliki sang pujaan hati yang akan menikahi kembarannya sendiri. Setelah menyaksikan pertunangan kembarannya dengan lelaki yang dicintainya. Hidup Amara dipenuhi dengan kebingungan. Amara bingung dengan perasaan nya sendiri, di satu sisi ia bahagia melihat kembarannya beserta seluruh keluarganya bahagia, disisi lain ia sedih karena lelaki itu adalah orang yang selalu diharapkan menjadi imam nya kelak. "Mengapa bahagia dan sedih ini harus datang secara bersamaan, Bu?" tanya nya dengan masih bersandar di bahu wanita tersebut. wanita itu tetap mengelus rambut indah Amara, "Karena Allah ingin menjadikan Mara seorang Wanita yang tegar. Sejatinya sedih dan bahagia itu selalu datang bersamaan. Contohnya ketika seorang wanita yang baru saja melahirkan, dia bahagia bisa melahirkan buah hatinya ke dunia, tetapi di waktu yang bersamaan ia juga sedih karena bentuk tubuhnya akan berubah. Seorang ibu bahagia melihat anak perempuannya menikah, tapi ia juga sedih karena nanti akan ditinggalkan, itulah kehidupan, hanya Ikhlas dan sabar yang bisa menyeimbangkan nya." Ucapan wanita yang di panggil dengan sebutan Ibu itu berhasil menghentikan air mata Amara, Amara mendongakkan kepala menatap wanita paruh baya yang sejak bayi telah merawatnya. Seseorang yang lebih mengerti dirinya dibandingkan dengan ibu kandungnya sendiri. "Mara akan coba mengikhlaskan Kemal untuk Kak Mira, Bu." Wanita itu mengusap pipi Amara yang basah lalu mengusap lembut kedua bahu Amara. "Apapun yang membuat Mara bahagia, lakukanlah. Ibu selalu mendukungmu, sekarang istirahatlah, hari esok akan lebih kejam dari hari ini. Persiapkan hati untuk melihat Kemal menikahi Amira." Amara tersenyum dan mengangguk, "Ibu temani Mara sampai Mara tidur ya," pintanya dengan memelas. Wanita paruh baya itu terkekeh, "Ya udah, sekarang Mara tidur, biar Ibu usap-usap kepala kamu." Amara merebahkan dirinya bersiap untuk tidur, wanita itu berada di sisi ranjang untuk mengusap kepala Amara hingga Amara tidur, hal itu menjadi kebiasaan Amara sejak kecil. Setelah mendengar napas teratur Amara, wanita itu bangun perlahan. "Tidur yang nyenyak Sayang, Kamu pantas bahagia," setelah mengecup kening Amara ia pun pergi menuju dapur untuk kembali bekerja. Wanita itu adalah Sarti, wanita paruh baya yang telah merawat Amara sejak bayi, sedangkan Amira di rawat oleh oliv yang telah meninggal dunia ketika Amira berusia 17 tahun. Amira dan Amara memang dibesarkan oleh perawat masing-masing, karena pasca melahirkan Ananda mengalami pendarahan hebat dan harus menjalani perawatan intensif selama 2 bulan. "Sarti, Amara baik-baik saja, 'kan?" tanya Ananda memastikan kondisi anak nya, karena memang tadi Ananda yang meminta Sarti untuk membawakan makanan sekaligus melihat kondisi Amara. "Amara tidak apa-apa, Bu. Dia cuma kelelahan karena terlalu bahagia mempersiapkan acara ini," jawaban Sarti membuat Ananda bernapas lega. Amara memang membantu Angga mempersiapkan acara pertunangan Amira. "Alhamdulillah kalau begitu, ya udah kamu lanjutin pekerjaan lagi aja." Sarti mengangguk, "Iya Bu, saya permisi ke dapur dulu," hanya di jawab anggukan oleh Ananda. Di taman belakang tempat acara diadakan, para tamu sedang menikmati hidangan dengan mengobrol santai. Sedangkan Amira dan Kemal sedang menjadi bahan olokan oleh para sepupu dan teman nya. "Mal, udah apal belom buat ijab qobul nya?" pertanyaan yang diajukan Raksa membuat semua yang ada di meja beralih menatapnya. "Belom, ajarin dong, Kakak." Pinta Kemal dengan menunjukan ekspresi imut nya. Melihat raut wajah Kemal membuat Amira dan Shasi menampilkan ekspresi bingung. Kemal yang mereka tahu adalah lelaki Alim, pendiam, dan cool. Namun, Kemal yang ada di hadapannya ini terlihat sangat konyol, apa mungkin mereka yang tidak pernah tahu? atau mungkin karena pergaulan tempat mereka berbeda. Kemal yang tinggal di Jakarta sedangkan mereka di kota sebuah daerah dengan adat istiadat yang sangat kental. Menyadari ekspresi bingung dari Amira membuat semua orang yang ada di meja itu tertawa serempak. "Amira kenapa? heran ya liat tingkah Kemal sekarang?" Pertanyaan Bima berhasil menyadarkan Kemal dari tingkahnya. Kemal memang kadang bertingkah konyol pada sepupu dan sahabat baiknya Bima, selain di hadapan keluarga dan Bima, Kemal tidak pernah menunjukan tingkah nya. Amira tersenyum menyadari kegugupan Kemal, banyak fakta baru yang Amira dapati tentang Kemal hari ini. Seperti Kemal yang bertingkah konyol, Kemal juga ternyata bisa gugup, hal itu membuat Amira tersenyum. "Mira baru tahu loh kalau Aa Kemal bisa bersikap kaya gitu!" pernyataan Amira membuat Kemal tersenyum canggung dan menggaruk pelipisnya. "Maaf ya, Mira pasti kaget liat Aa kaya gini?" Amira tersenyum, "Jangan minta maaf 'A, justru Mira seneng liatnya, seenggaknya Aa bukan lelaki kaku." Perkataan Amira di tanggapi heboh oleh yang lain, "Ngalahin kanebo kering tau Dek, dia mah orangnya." serempak mereka tertawa mendengar ucapan Angga. "Berisik kalian semua," ujar Kemal dengan kesal, dan hanya di tanggapi dengan tawa oleh mereka. "Oh iya, Amara kemana ya ko dari tadi nggak keliatan sih?" Bima bertanya karena memang tidak melihat kehadiran Amara setelah penyematan cincin. "Kecapean deh kayaknya, soalnya dari kemarin dia ikut nyiapin buat acara hari ini." Angga menjawab setelah menggigit bolu kesukaan nya. "Wah!Tolong Bilangin makasih ya sama Amara, udah bantu nyiapin acara kita. Nanti Aa kasih hadiah buat Amara." Kemal berkata sambil menatap Amira sebentar. "Iya, nanti Mira bilangin. Makasih ya 'A, tapi nggak usah repot-repot 'A," jawab Amira. Ananda datang menghampiri mereka, "Angga, Kemari Sayang." Panggilan Ananda menghentikan obrolan mereka. "Ada apa Mah?" tanyanya ketika di hadapan sang Mama. "Mulai lagi acaranya." Angga mengangguk dan menuju ke podium. "Tes...tes...tes… Mohon perhatian semuanya, sambil kita menikmati hidangan dan obrolan santai, kita akan adakan proses tanya jawab untuk masalah pernikahan. Kepada para tetua silahkan dimulai. Kita yang muda hanya bertugas mendengarkan dan menyiapkan," Instruksi dari Angga membuat para anak muda bersorak dan para orang tua tertawa. Dengan duduk di masing-masing kursinya para orang tua mulai mendiskusikan tanggal dan hari pernikahan. "Akad nya akan diadakan kapan Kang?" tanya Abi Arjuna adik dari Seno. "Kita kemarin sudah sepakat 1 bulan setelah acara hari ini," jawab Seno Arjuna. "Kemal udah ga sabar ya pengen bawa kabur Amira?" Pertanyaan Hana sepupu Kemal membuat yang lain tertawa, dan Kemal hanya tersenyum malu untuk setiap pertanyaan para sepupunya. "Untuk konsep nya mau seperti apa, dan apa yang bisa kita bantu?" Andra yang merupakan kembaran Andri melanjutkan pertanyaan. "Kami mau konsep dan tema Masyarakat disini. Artinya adat resepsi sederhana yang bisa dihadiri seluruh rakyat dari berbagai kalangan!" Amira beserta keluarganya dan juga orang tua Kemal memang hidup di kota sebuah daerah yang selalu membedakan derajat, sedangkan Kemal tinggal di Jakarta dan pulang ke rumah orangtuanya setiap hari jumat sore. "Kenapa tidak menggunakan adat mewah saja, memang tidak malu seorang Kemal Arjuna anak dari Seno Arjuna, dan calon besan nya pun Andri Arkana, masa menggunakan adat sederhana? nanti disangka tidak mampu atau pelit lagi!" pertanyaan Santi yang merupakan adik dari Sandra membuat mereka menganggukkan kepala. "Kemal ingin, pernikahan Kemal dan Amira didoakan seluruh masyarakat. Agar pernikahan kami berkah dan selalu dalam lindungan Allah karena doa semuanya, tapi tenang aja, walaupun memakai adat sederhana, tetapi konsepnya tetap mewah." Penjelasan Kemal membuat semua mengangguk setuju, karena sudah sangat lama mereka ingin menghapuskan setiap perbedaan derajat yang ada di daerah mereka. Kemal berdiri dari duduk nya dan berkata. "Dan ya, satu lagi. Kemal meminta bantuan kepada semuanya untuk acara pernikahan Kami nanti," sambil menangkupkan kedua tangan nya di d**a. "Nggak perlu diminta juga kita bakalan bantu ko semampunya, kita bakalan buat pesta yang tak terlupakan dan akan menjadikan sejarah baru untuk daerah kita, semoga setelah ini perbedaan derajat di daerah kita bisa berkurang," Angga menjawab dengan serius dan diAmini oleh semuanya. *** Hari indah yang tak terlupakan oleh Amira dan Kemal. Acara pertunangan sederhana yang hanya dihadiri sanak saudara. Kebersamaan dan kekompakan keluarga sungguh sangat terasa. Dilihat dari sudut manapun terlihat jelas bagaimana sempurnanya kedua keluarga tersebut. Keluarga yang tidak pernah berseteru dengan saudara yang lainnya, keluarga damai dan tentram, keluarga yang selalu mendapat kekaguman dari semua masyarakat. Jam menunjukan pukul sebelas lewat tiga puluh menit, setelah semua acara selesai Keluarga Kemal berpamitan pulang, keluarga Amira mengantarkan sampai gerbang rumah mereka dengan Senyum yang terukir dari kedua belah pihak, menjelaskan bagaimana perasaan mereka saat ini. Setelah kembali dari mengantarkan keluarga Kemal, Amira beserta keluarganya masuk kedalam rumah, Angga merangkul bahu Amira. "Cie yang bentar lagi jadi Nyonya Kemal Arjuna." Angga menggoda Amira sambil berjalan, membuat wajah Amira merona. "Apa sih, Kak. godain mulu ih," ucapan kesal Amira membuat Angga semakin senang menggodanya. "Kemal loh Dek, laki-laki incaran para kaum hawa, kategori menantu idaman ibu-ibu, Kakak aja kalah pamor nya sama Kemal, padahal 'kan dia nggak tinggal disini, tapi setiap dia pulang pasti heboh. Dan akan lebih heboh lagi nanti setelah mereka dapat undangan dari kalian. Kakak nggak bisa bayangin gimana patah hati nasional nanti." Hahaha Ucapan Angga membuat mereka semua tertawa. Memang benar ada nya seperti itu, setiap Jumat sore banyak para wanita maupun ibu-ibu dengan sengaja berkumpul di sepanjang jalan untuk melihat kedatangan seorang Kemal Arjuna. Begitu pula dengan Amira, hanya saja Amira selalu menunggu di balkon kamarnya. Para wanita dan ibu-ibu akan ramai joging di sore hari pada hari jumat. Begitu melihat mobil Kemal melintas di hadapan mereka, serempak mereka akan memanggil nama Kemal dengan lembut, dan Kemal akan membalasnya dengan membunyikan klakson. Bukan rasa bangga yang hinggap di hati Kemal, tetapi rasa malu dan canggung. Kemal tidak akan membuka kaca mobil nya, ia hanya akan terus melajukan mobilnya dengan sesekali membunyikan klakson. Begitu tiba di garasi rumahnya Kemal langsung masuk kedalam rumahn, mengabaikan teriakan para wanita yang memanggilnya. Bukan bermaksud sombong, hanya saja mereka bukan muhrim nya. Mengingat bagaimana seorang Kemal Arjuna menjadi incaran setiap kaum hawa membuat Amira tersenyum akan tingkah para kaum hawa tersebut. Karena Amira pun selalu melakukan hal sama dengan yang lainnya. Bedanya jika para kaum hawa lainnya secara terang-terangan. Berbeda dengan dirinya yang hanya memantau dari atas balkon kamarnya. Angga yang melihat adiknya tersenyum sendiri semakin bersemangat menggodanya. "Cie...cie... yang lagi terbayang-bayang senyuman maut Aa Kemal Arjuna." Amira mendelik kesal. "Kakak ngeselin ih. Mira kan malu," ucapnya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dan lagi-lagi Angga hanya tertawa dibuatnya. "Sudah Kak, kasian itu adiknya di ledekin mulu. Nanti wajah nya kaya tomat buat bikin sambel loh," Andri ikut dalam percakapan anaknya. Duduk di samping Amira sambil merangkul bahunya. "Ih! Ayah mah sama aja kalo begitu," ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya. "Kalian ini seneng banget sih ngeledek Amira," Ananda ikut duduk di samping kanan Amira. Membuat Amira beralih merangkul pinggang istrinya. "Tau tuh Mah, Kakak sama Ayah ledekin aku terus ih!" ucapnya dengan kesal dan merajuk. "Abisnya lucu Mah, Amira Angga tanya 'gimana perasaannya Dek' bukan jawab malah senyum-senyum sendiri." Angga membela dirinya. "Itu tandanya Mira bahagia, iya 'kan, Nak?" tanpa Amira jawab, bibirnya sudah mengembangkan senyum secara sempurna. Membuat Angga mendelik. "Tuh liat Mah, gimana Angga gak ledekin terus. Kita nanya bukannya dijawab malah cuma senyum lucu, 'kan?" Andri hanya menggelengkan kepalanya melihat anak-anaknya. Sungguh dalam hati ia begitu bersyukur atas segala yang ia miliki. "Oya Amara gimana keadaannya Mah?" tanya Andri kepada Ananda yang baru saja melihat keadaan putri satunya. "Lagi tidur Yah, kayaknya emang kecapean dia. Dari kemarin 'kan dia semangat sekali buat nyiapin acara hari ini." Memang benar kemarin Amara begitu bersemangat dalam membantu menyiapkan untuk acara pertunangan Amira. Padahal sebenarnya ia melakukan itu untuk menutupi hatinya yang hancur. "Coba Ayah mau lihat ke kamarnya." Andri berdiri untuk menuju kamar Amara. "Jangan di ganggu, Yah. liat aja!" peringatan Ananda pada suaminya. "Siap komandan." Setelah memberikan hormat ala prajurit Andri melangkah menaiki tangga menuju kamar Amara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD