Raka berdiri, mundur beberapa langkah. Dia mengerti. Gadis itu butuh waktu untuk sendiri lantaran dia juga pernah merasakan ketika kehilangan alarm sedunia, Sang Ibu. "Mending kita pulang aja. Kamu enggak kasihan sama bayi kita?" Hana menangkup lengan Raka. "Bayi lo sama Devian. Bukan kita." sahut Raka telak. Samar-samar merebak di pendengaran Hana. "Raka! Ka--ish!" Hana mengentak-entakkan kaki, sebal karena Raka pergi begitu saja. Dia mengerling tajam ke arah Chesa. "pasti lo, kan, yang mempengaruhi dia? Lo bilang itu ke dia, kan?!" Chesa membuang muka. Bibirnya bungkam, memilih untuk tidak mengatakan apapun. ***** Sudah lama sejak Ibunya dimakamkan, Chesa masih menangis di sebelah tempat tinggal terakhir Sang Ibu. Surai hitam dan bajunya itu telah basah kuyup. Namun, Gadis itu

