Tiga puluh dua

973 Words

Trinity Ketika Bang Satrio membuka pintu ruangan ini, aku bisa langsung mencium semerbak aroma Mas Bran. Ya ampun, terasa sekali kalau ia masih ada. Ruangan ini rapi. Di meja tidak ada tumpukan kertas atau apapun, semua barang tersusun rapi di tempatnya. Mungkin  sudah ada yang membereskan sewaktu Mas Bran dipecat oleh Bang Satrio. Kakiku melangkah, entah kenapa aku ingin duduk di kursi kerjanya Mas Bran. Kursi tempatnya menghabiskan waktu berjam-jam untuk berfikir, bekerja, bahkan sekadar balas chatku. Air mataku tumpah lagi ketika duduk di atas kursi ini. Dari sudut ini, aku baru lihat kalau Mas Bran memajang foto kami di meja kerjanya. Gosh! Aku kira Mas Bran orangnya cuek pol, tapi ternyata dia manis banget. Hatiku yang sudah hancur ini terasa seperti diremas, serasa ada yang ing

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD