Hatiku terasa penuh. Bukannya melebih-lebihkan, tapi jiwaku saat ini terasa lebih hidup. Karena ada Trinity di sini, menemaniku. 100% gak bohong, aku malah merasa kalau luka-luka di tubuhku jadi lebih cepat sembuh. Dan aku jadi tambah lancar saat latihan jalan. Trinity sudah berkenalan dengan Ibu, Jelita, dan lainnya. Ia bahkan sekarang akrab dengan Jelita, dia bilang serasa punya adek, karena selama ini gak punya. "Kamu gak pulang?" Tanyaku. "Kamu mau aku pulang?" "Emm, engga sih, cuma kan kamu masih ada yang harus diurusin, skripsian kamu gimana?" "Oh iyaaa lupa ya ampun, harusnya hari ini!" "Naah kan, urusin gih. Katanya mau jadi anak baik, ayok beresin." Trinity mengangguk. "Tapi aku boleh ke sini lagi kan?" Tanyanya. "Boleh lah sayang!" "Seneng aku dipanggil sayang terus, he

