Part 7

1558 Words
Aletha tak sadar jika dirinya tetidur siang tadi dan baru bangun ketika senja sudah mulai terlihat. Aletha menguap sambil mengerjapkan kedua matanya, ia lalu beranjak dari kasurnya dan segera mandi sore. Setelah mandi ia masuk kembali ke kamarnya dan segera merapikan kamarnya yang sedari tadi siang belum ia bereskan termasuk alat lukisnya. Ketika semuanya sudah selesai dan rapi, Aletha keluar dari kamarnya untuk makan malam karena sudah masuk waktunya makan malam. “Ayo makan, Mamah masak makanan kesukaan kamu nih.” ajak Dewi yang sudah lebih dulu berada di meja makan. “Wah iya? Jadi pengen buru-buru makan.” ujar Aletha dengan tatapan antusias. Saat menyantap makanannya tiba-tiba ia merasakan pusing yang kembali menghampiri dirinya, ketika ia akan menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya, sendok itu refleks terjatuh karena kepalanya terasa pusing hingga membuat Dewi yang sedang fokus makan menjadi menoleh ke arah putrinya yang tiba-tiba menjatuhkan sendok. “Kenapa sayang?” tanya Dewi kepada putrinya. “Nggak papa Mah cuman pusing sedikit aja mungkin gara-gara tidur kelamaan tadi.” jawab Aletha sesantai mungkin agar tak membuat Mamahnya merasa panik. “Apa mau periksa ke dokter aja?” tanya Dewi. “Nggak perlu Mah cuman pusing dikit aja paling minum obat yang biasanya aku minum juga sembuh.” balas Aletha sembari tersenyum. Setelah mendengar jawaban Aletha, Dewi merasa sedikit tenang karena bisa jadi jawaban Aletha tadi benar. “Yaudah diterusin makannya ya nanti abis makan Mamah ambilin obat buat kamu buat ngobatin pusingnya.” ujar Dewi yang kemudian dibalas anggukan oleh Aletha. Ketika Aletha sudah menyelesaikan makannya, ia lalu kembali ke kamarnya dan tak lama kemudian Dewi datang menghampiri Aletha ke kamar untuk memberikan obat yang barusan ia ambil dari kotak obat. “Ini obatnya diminum dulu ya, abis itu nanti kalo misal kamu udah ngantuk langsung tidur jangan begadang.” Perintah Dewi dengan nada halus. Aletha langsung meminum obat itu dengan segera setelah diperintah oleh Mamahnya. “Makasih ya Mah.” ucap Aletha. “Sama-sama sayang, yaudah kalo gitu Mamah balik ke kamar dulu ya, kamu istirahat.” Dewi mengelus kepala Aletha lalu pergi keluar dari kamar Aletha. Saat Mamahya sudah pergi dari kamarnya, Aletha merebahkan tubuhnya ke kasur dan  memandangi langit-langit kamarnya. “Gue kenapa sih akhir-akhir ini, apa besok periksa aja ya ke dokter.” ujar Aletha berbicara dengan dirinya sendiri, ia bertekad untuk pergi ke Rumah Sakit besok agar ia bisa mengetahui sebenarnya apa yang sedang ia alami. Pagi harinya Aletha bangun dengan keadaan setengah pusing, Ia lalu duduk sejenak agar rasa kepalanya bisa sedikit berkurang. Setelah lumayan sedikit berkurang, Aletha pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Namun ketika ia sedang membasuh wajahnya, Aletha bisa melihat ada tetesan darah yang kembali keluar dari hidungnya. “Apa nih? Kok gue jadi sering mimisan juga gini kenapa sih?” Aletha bingung dengan dirinya sendiri, sudah tiga kali ia mimisan seperti ini. Aletha lalu langsung membasuh hidungnya dan membersihkan darah yang masih menempel di area bawah hidungnya. Saat dirasa mimisannya sudah berhenti, ia kemudian mandi dan bersiap untuk kuliah. Ketika Aletha sudah siap untuk kuliah, ia kemudian keluar dari kamarnya sembari membawa tote bag yang biasa ia gunakan saat kuliah. Aletha berjalan ke meja makan karena dirinya belum sarapan. “Mamah udah berangkat kerja Mbok?” tanya Aletha kepada Mbok Ning. “Udah Non, barusan Ibu berangkat.” jawab Mbok Ning. Aletha kemudian mengambil piring dan langsung mengambil nasi satu centong dan beberapa lauk lainnya. Aletha langsung melahap sarapannya itu sambil memikirkan kejadian yang barusan ia alami. Aletha tampak memandangi jam tangannya sejenak. “Gue ke dokter sekarang aja deh mumpung masih jam segini juga.” ujar Aletha dalam hati. Aletha memantapkan hatinya untuk pergi ke Rumah Sakit hari ini karena sudah tidak tahan dengan rasa pusing dan mimisan yang akhir-akhir ini sering ia rasakan. Setelah makan ia langsung memesan ojek online dengan tujuan Rumah Sakit Medika yang letaknya tak jauh dari rumahnya. Butuh waktu lima belas menit untuk sampai ke Rumah Sakit tersebut, setelah sampai di depan lobi Rumah Sakit, ia kemudian langsung masuk ke dalam dan mengambil nomor antrian lalu mengurus admintrasinya dan menunggu giliran untuk dipanggil. *** Pagi-pagi Edgar memanasi motornya terlebih dahulu sebelum pergi ke kampus. Sembari menunggu mesin motornya panas, Edgar mencoba menelepon Aletha dan menanyakan apakah mau berangkat bersama ke kampus atau tidak. “Halo Gar.” terdengar balasan panggilan itu dari Aletha. “Halo Le, lo mau berangkat bareng nggak?” “Le Le, emangnya nama gue Lele.” “Hahaha santai dong pagi-pagi udah ngegas aja lo.” “Ya lagian lo pagi-pagi cari masalah.” “Hahahah yaudah-yaudah gue ulangin nih, Aletha lo mau bareng nggak ke kampus?” “Tambahin dong nanggung amat, Aletha cantik mau bareng nggak ke kampus?” “Idih ogah banget, buruan tinggal jawaban mau bareng apa nggak?” “Gue udah berangkat nanti ketemuan aja di kampus.” “Tumben banget lo udah berangkat duluan ke kampus.” “Heheh nggak papa, yaudah ntar kita ketemuan di kampus aja oke, gue tutup telponnya, bye.”  Panggilan tersebut langsung di tutup oleh Aletha sebelum Edgar mengakhiri obrolannya. “Ngeselin banget nih anak main matiin telpon, awas aja ya lo ntar di kampus.” Gerutu Edgar ketika panggilan ditutup terlebih dahulu Aletha. Edgar menutup layar ponselnya dan ia menoleh ke arah kakak perempuannya yang tampaknya akan memesan ojek online. “Eh Mbak Wina, Mbak Wina bentar, lo mau ngapain Mbak?” tanya Edgar menahan tangan Wina. “Mau pesen ojol lah, mau ngapain lagi.” balas Wina. “Nggak usah pesen ojol.” ujar Edgar melarang Wina untuk memesan ojek online. “La terus kalo gue nggak mesen ojol, gue ke kantor naik apaan.” balas Wina sembari menatap Edgar dengan tatapan judesnya. “Bareng gue aja, sekalian gue mau ke kampus.” ujar Edgar menawarkan diri untuk mengantarkan Wina ke tempat kerjanya. “Tumben, bukannya biasanya lo jemput Aletha?” tanya Wina heran.  “Aletha udah berangkat duluan tadi, mau bareng nggak? Kalo nggak yaudah berangkat sendiri.” ujar Edgar. “Eh mau mau hehehe, adek gue nih gantengnya emang nggak ada obat.” ujar Wina sambil berpura-pura memuji Edgar. “Halah giliran gini aja lo muji muji gue, paling ntar juga udah jelek jelekin gue lagi.” ucap Edgar yang tak termakan dengan pujian dari kakak perempuannya itu. “Hahaha udah ah cepetan, keburu dimarahin bos gue nih nanti.” ujar Wina menyudahi pertengkaran dengan Edgar. “Ambil tas dulu bentar.” Edgar berjalan masuk ke rumahnya dan mengambil tas kuliahnya, ia lalu kembali ke depan untuk segera mengantarkan kakaknya ke kantor dan berangkat ke kampus. *** Aletha segera mematikan panggilannya dengan Edgar karena nomor antriannya kini sudah di panggil, Aletha kemudian masuk ke dalam ruangan dan sudah ada seorang dokter yang menunggunya di dalam ruangan tersebut. “Pagi dok.” Aletha memberikan ucapan salam setelah masuk ruangan dan duduk di kursi. “Selamat pagi dengan Aletha ya?” tanya dokter tersebut. “Iya betul dok.” jawab Aletha. “Baik bisa dijelaskan keluhan apa yang dialami?” tanya dokter tersebut yang bernama nama dokter Ami. Aletha mulai menjelaskan apa saja keluhan yang akhir-akhir ini ia rasakan, ia menjelaskan semua yang ia rasakan dengan sangat detail kepada dokter Ami. Setelah menddengar penjelsan dari Aletha, dokter Ami meminta Aletha untuk melakukan pemeriksaan tes darah dan beberapa pemeriksaan lainnya agar hasilnya bisa diketahui dengan jelas. Aletha menyetujui saran dari dokter Ami dan ia langsung melakukan beberapa pemeriksaan saat itu juga. Setelah pemeriksaannnya selesai, dokter Ami memberikan informasi jika hasil tesnya akan keluar satu minggu lagi, jadi ia diminta untuk datang kembali minggu depan. Tak lupa dokter Ami juga memberikan resep berisi obat yang harus dikonsumsi oleh Aletha untuk meringankan sakit yang sedang dialami Aletha. Setelah menyelesaikan adminitrasi dan menebus obat, Aletha kemudian langsung memesan ojek online lagi untuk mengantarkannya ke kampus. “Duh udah jam segini lagi, mana ya ojolnya.” Aletha tampak sedikit panik menunggu ojek online pesanannya datang karena jam kuliahnya sebentar lagi akan dimulai. “Neng Aletha ya?” tanya pengemudi ojjek online yang datang menghampiri Aletha. “Iya bener Mas.” jawab Aletha cepat. “Ini helmnya Mbak.” Pengemudi ojek online tersebut menyerahkan helm kepada Aletha. Aletha mengenakan helmnya dengan tergesa-gesa dan langsung naik ke motor ojek online tersebut. “Agak ngebut ya Mas, bentar lagi telat nih saya.” Aletha memerintahkan pengemudi ojek online agar sedikit kenncang melajukan motornya karena sebentar lagi kuliahnya akan dimulai. Saat di perjalanan Aletha hanya bisa berharap jika ia tidak telat saat sampai di kampus, berkali-berkali matanya selalu tertuju ke arah jam tangannya dengan tatapan panik. Kurang lebih setengah jam akhirnya ia dan ojek online tersebut berhasil menembus kemacetan kota Jakarta dan sampai di kampus. “Makasih ya Mas.” Aletha turun dari motor dan segera memberikan ongkos ojek onlinenya. “Makasih juga ya Neng.” ucap pengemudi ojol tersebut yang setelah itu pergi untuk menjemput penumpang lainnya. Aletha berlari melewati koridor fakultasnya menuju kelasnya dengan sekuat tenaga, kini hanya tersisa waktu lima menit lagi agar ia tidak terlambat masuk ke kelas. Aletha tidak ingin terlambat masuk ke kelas hari ini karena dosen yang akan mengajarnya benar-benar killer, jika ia terlambat maka nilai jelek di mata kuliah itu pun akan menantinya dan Aletha tidak ingin mengulang mata kuliah tersebut. Waktu kurang dua menit lagi akhirnya Aletha bisa sampai di kelasnya, ia kemudian langsung pergi menuju kursinya dan segera duduk sambil mengatur napas. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD