Ketika Aletha sudah menyelesaikan makan siangnya, ia kemudian kembali ke kamarnya, Aletha berjalan menghampiri lukisannya yang masih berada di dekat jendela, setelah lukisannya dirasa sudah kering, ia mengambil lukisan itu dan memindahkannya untuk ia tempel ke dinding kamarnya.
“Pasang dimana ya biar bagus?” Aletha bertanya-tanya sendiri sambil memikirkan akan ia pasang dimana lukisannya.
Dinding kamar Aletha kini sudah hampir penuh dengan lukisan-lukisannya yang lama sampai-sampai ia bingung dengan lukisan yang sekarang akan ia pasang di dinding sebelah mana. Saat Aletha melihat Mbok Ning melewati kamarnya, seketika ia langsung memanggil Mbok Ning untuk ia mintakan pendapat.
“Mbok, sini sebentar deh Mbok.” panggil Aletha menghentikan langkah Mbok Ning, Mbok Ning yang mendengar panggilan dari Aletha itu langsung segera menghampiri Aletha.
“Iya, ada apa Non?” tanya Mbok Ning.
“Menurut Mbok Ning ini bagusnya di pasang dimana Mbok?” tanya Aletha sambil menunjukkan lukisannya.
“Mmm di situ aja Non, jadi nanti kalau Non Aletha mau tidur atau pas bangun tidur, Non Aletha bisa ngeliatin lukisan itu terus.” ujar Mbok Ning dengan sedikit nada menggoda Aletha.
“Ah bisa aja Mbok Ning, tapi boleh juga sih kalo di pasang di situ, oke deh makasih idenya Mbok.” ucap Aletha berterimakasih atas saran Mbok Ning kepadanya.
“Sama-sama Non, kalau gitu Mbok Ning keluar dulu ya Non.” pamit Mbok Ning kepada Aletha.
“Oke Mbok.” balas Aletha sembari mengacungkan jempolnya.
Setelah Mbok Ning keluar dari kamarnya, Aletha pergi mencari paku agar lukisannya bisa terpasang di dinding kamarnya, ia kemudian memalu paku tersebut menggunakan palu. Setelah paku tersebut terpasang kokoh di dinding kamarnya, Aletha langsung memasang lukisannya ke dinding. Ia tampak mengamati lukisannya sejenak dan berniat untuk memposting foto lukisan tersebut ke akun instagramnya.
“Foto dulu ah lukisannya.” Aletha mengambil ponselnya yang berada di atas meja, ia kemudian langsung membuka aplikasi kameranya dan langsung memotret lukisan itu dengan gaya yang bagus, selain ia pandai melukis, Aletha juga lumayan ahli dalam mengambil gambar, tak heran jika isi foto-foto di galerinya selalu memiliki hasil yang bagus. Setelah Aletha mengambil foto dari lukisan tersebut, ia kemudian langsung merebahkan dirinya di atas kasur karena ia merasa punggungnya sudah sangat pegal. Aletha merebahkan tubuhnya ke kasur sembari mengamati lukisan tersebut yang sudah tepasang di dinding, ia juga tak sadar kalau dirinya reflek tersenyum saat memandangi lukisan tersebut.
***
Setelah Gilang pergi dari hadapan Nara, ia langsung membuat kopi americano yang sudah dipesan oleh Gilang barusan, ketika pesanan tersebut sudah jadi, ia kemudian mengantarkan pesanan tersebut ke meja Gilang.
“Silahkan pesanannya.” Nara meletakkan segelas kopi ke meja Gilang. Setelah meletakkan kopi tersebut, Nara langsung berbalik arah dan kembali ke meja kerjanya, namun saat akan kembali, Gilang terlebih dahulu mencegah Nara.
“Tunggu…” ucap Gilang menghentikan langkah Nara. Nara yang mendengar ucapan dari Gilang itu langsung berbalik arah.
“Iya ada apa?” tanya Nara sesudah membalikkan badannya.
“Gilang, kamu?” Gilang menjulurkan tangannya berniat untuk mengajak kenalan Nara.
“Nara.” balas Nara diakhiri dengan senyuman, namun Nara hanya membalas dengan ucapan dan tidak membalas jabatan tangan Gilang. Gilang kemudian langsung menurunkan tangannya.
“Udah nggak ada yang mau di tanyain lagi kan? Kalau gitu saya permisi.” Nara langsung berbalik arah dan pergi meninggalkan Gilang, sedangkan Gilang terdiam sejenak sebelum akhirnya duduk kembali ke kursinya.
“Baru kali ini gue dicuekin sama cewek.” ujar Gilang dalam hatinya.
Nara kembali ke meja kerjanya setelah meninggalkan Gilang, sebenarnya Nara sedikit merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan terhadap Gilang barusan, namun sebisa mungkin ia menepis rasa bersalah itu dan kembali fokus dengan pekerjaannya.
***
Edgar tampak memainkan ponselnya dan membuka aplikasi instagramnya untuk melihat-lihat foto yang ada hubungannya dengan otomotif. Saat membuka akun instagramnya, ia tak sengaja melihat sebuah foto lukisan yang di beranda akunnya, foto itu diposting oleh Aletha. Edgar mengamati foto lukisan itu sejenak dan menyadarinya jika yang ada di dalam lukisan tersebut adalah masa kecil dirinya bersama Aletha. Edgar tampak refleks tersenyum ketika memandangi foto itu, ia langsung mereka layar gambar tersebut dan langsung keluar dari aplikasinya. Edgar langsung mengirimkan foto rekaman layar tersebut kepada Aletha. Tak perlu banyak waktu untuk mencari kontak Aletha karena nama Aletha sudah berada di barisan chat paling atas di ponselnya.
Edgar : Waw apa nih.
Aletha : Keren kan…
Edgar : Siapa? Gue? Jelas dong.
Aletha : Ih kok lo sih, itu lukisannya keren kan.
Edgar : Iya keren, soalnya ada gue disitu hahaha.
Aletha : Nggak ngaruh, keren mah bilang aja, nggak usah gengsi.
Edgar : Siapa yang ngelukis?
Aletha : Kalo gue bilang gue yang ngelukis pasti lo nggak percaya.
Edgar : Tau aja sih lo wkwk.
Aletha : Nggak papa sih kalo lo nggak percaya itu yang ngelukis gue, yang penting lo udah bilang keren buat lukisan gue hahaha.
Edgar : Kan gue bilang kerennya karena ada guenya hahaha.
Aletha : Bodo amat gue nggak mau tau lo udah bilang keren wkwk.
Percakapan mereka diakhiri oleh Edgar yang membalas dengan emoticon yang menjulurkan lidahnya untuk meledek Aletha. Dari dulu memang sikapnya selalu seperti itu, entah mengapa dirinya selalu gengsi jika hal itu berhubungan dengan Aletha, ia tidak pernah memuji Aletha secara langsung walaupun aslinya ia sangat menyukai lukisan Aletha dan sangat mengagumi hobi Aletha tersebut.
“Dek lo kenapa senyum-senyum sendirian dari tadi?” Edgar seketika menoleh ke arah kakaknya yang kini berada di dekatnya.
“Ngagetin gue aja lo Mbak.” ujar Edgar yang terkejut dan langsung menutup layar ponselnya sejenak sembari mengontrol senyumannya yang kini masih mengembang sempurna.
“Ada apa nih rame-rame.” Adi datang bergabung dengan Edgar dan Wina yang tampak sedang asyik mengobrol.
“Ini Pah, Edgar dari tadi senyum-senyum ngeliatin hp bikin aku penasaran.” ujar Wina dengan nada sedikit tertawa.
“Abis menang undian kali, dapet hadiah apa Gar? Tv? Kulkas? Motor? Atau hadiah utamanya mobil?” Adi tampak bertanya dengan gurauan kepada Edgar.
“Dapet kulkas tiga pintu, udah ah Edgar mau ke kamar dulu hahaha.” Edgar langsung beranjak dari sofa dan pergi meninggalkan ayahnya dan kakak perempuannya, ia menuju ke kamarnya sambil tertawa.
“Kulkas tiga pintu tinggi banget dong, mau ditaruh dimana nanti Mah kulkasnya.” ujar Adi menanggapi candaan Edgar.
“Papah apaan sih bikin ketawa aja dari tadi.” balas Wina sambil tertawa.
“Sekali-kali Kak, biar nggak stress mikirin tagihan listrik yang naik terus tiap bulan hehehe.” ucap Adi yang membuat Wina semakin tertawaa, bisa-bisanya ayahnya kepikiran sama tagihan listrik yang naik terus tiap bulannya.
***
Berbeda dengan kegiatan hari minggu bagi Poppy dan Melodi, mereka berdua memilih menghabiskan waktu bersama di hari minggu untuk berjalan-jalan ke Mall berdua. Poppy sengaja meminta Melodi untuk menemaninya ke Mall karena ia ingin menikmati pameran busana, ia memang sangat tertarik dengan berbagai pameran busana yang diselenggarakan oleh beberapa designer terkenal. Tak dapat dipungkiri jika cita-cita Poppy sebenarnya adalah menjadi seorang designer, namun ibunya menentang cita-cita Poppy dan memaksanya untuk masuk ke jurusan yang bukan ia minati. Maka dari itu sekarang Poppy hanya bisa memendam cita-citanya itu sendiri dan hanya sahabat-sahabatnya yang mengetahui keinginan Poppy sebenarnya.
“Eh liat tuh karya designer favorit gue, bagus-bagus banget ya model bajunya.” ujar Poppy kepada melodi dengan sangat antusias.
“Iya bagus tuh, ngomong-ngomong keren juga selera lo Pop.” balas Melodi.
“Yaiyalah gue gitu loh, selera Poppy nggak pernah nggak bagus.” ucap Poppy membanggakan dirinya sendiri. Melodi meggelengkan kepalanya heran.
“Gue laper nih, cari makan aja yok.” ajak Melodi pergi dari pameran tersebut karen dirinya sudah merasa sangat lapar.
“Bentar-bentar nanggung nih, lima menit lagi ya plis beneran lima menit lagi kok.” Poppy memohon kepada Melodi agar mau menahan laparnya lima menit.
“Beneran lima menit ya, awas aja kalo lebih, gue tinggal nanti lo.” ucap Melodi dengan nada sedikit mengancam Poppy.
“Iya janji lima menit, nanggung ini pamerannya mau selesai juga bentar lagi.” balas Poppy dengan kalimat yang meyakinkan.
Lima menit kemudian Poppy menepati janjinya untuk pergi dari pameran tersebut dan mencari makan siang untuk mereka berdua. Mereka berdua memilih masuk ke sebuah restoran jepang yang berada di dalam Mall tersebut, mereka berdua segera memilih menu makan siang agar semakin cepat bisa segera ia makan. Mereka berdua memesan menu yang biasa dipesan saat sedang makan di restoran jepang ini. Kurang lebih lima belas menit kemudian, seorang pelayan datang sambil membawakan pesanan mereka.
“Makasih ya Mas.” ucap Poppy dan Melodi secara bersamaan kepada pelayan yang membawakan pesanannya.
“Sama-sama kak selamat menikamati makanannya.” Pelayan tersebut langsung pergi meninggalkan Melodi dan Poppy yang tampak sudah sangat kelaparan.
Setelah pelayan tersebut pergi, Poppy dan Melodi segera melahap makanannya karena perutnya sudah sangat lapar dan tidak bisa ditahan lagi.