Aletha menghembuskan nafas lega ketika mendengar ayah dari Edgar kini baik-baik saja, ia mengusap-usap pundak Edgar untuk membantu menenangkan Edgar yang tadi sempat sangat khawatir.
“Makasih ya Le.” ucap Edgar setelah dirinya sedikit merasa lebih tenang.
“Makasih buat apa?” tanya Aletha dengan wajah bingung.
“Makasih buat semuanya, makasih karena lo selalu ada di sisi gue, jangan ninggalin gue ya Le.” ujar Edgar yang membuat hatinya seketika tersentuh.
Ia tidak tega melihat Edgar kalut dalam sedihnya, hal itu lah yang membuat Aletha memilih untuk menyembunyikan penyakitnya dari Edgar. Ia takut akan menyusahkan Edgar nantinya jika Edgar mengetahui tentang penyakit yang diidapnya.
“Kok jadi melow gini sih suasananya, udah dong lo malah jadi bikin gue terharu heheh.” balas Aletha untuk mengalihkan suasana agar tidak terlihat menyedihkan.
Beberapa saat kemudian, Wina muncul dari lorong Rumah Sakit sambil membawa tiga bungkus nasi padang untuk mereka bertiga makan.
“Nih kalian makan dulu dari pada ikut sakit nanti.” ucap Wina sambil menyerahkan dua bungkus nasi padang untuk Edgar dan Aletha.
“Makasi Mbak Wina.” ucap Aletha dan dibalas anggukkan oleh Wina.
Mereka bertiga makan bersama di depan ruangan dimana ayahnya di rawat, Aletha bisa melihat jika Edgar dan kakaknya itu saling menguatkan satu sama lain. Bangga rasanya ia bisa mengenal Edgar dan Wina.
Saat matahari mulai terbenam, Edgar yang ingin mengantarkan Aletha untuk pulang ke rumah itu lebih dulu di cegah oleh Wina, Wina meminta Edgar agar dirinya saja yang pulang bersama Aletha agar ia bisa sekalian mengambil beberapa bajunya dan baju milik ayahnya selama di Rumah Sakit.
“Le gue anter pulang sekarang ya udah sore juga.” ucap Edgar.
“Aletha pulangnya sama gue aja Gar, lo di sini aja nemenin Papah, gue mau ngambil baju gue sama Papah.” ujar Wina.
“Lo nggak papa kan Le kalo pulang pulangnya bareng gue?’ tanya Wina beralih menghadap Aletha.
“Nggak papa kok Mbak.” balas Aletha.
“Oh yaudah kalo lo mau pulang sama Aletha yang penting ada yang nemenin Aletha pulang.” ucap Edgar.
“Aduh kenapa jadi gue yang jadi baper gini.” balas Wina.
“Paan si ngeselin lo.” ucap Edgar.
“Baju lo sekalian mau gue bawain nggak?” tanya Wina.
“Nggak usah nanti gue ambil sendiri aja, gantian pas lo udah balik sekalian mau mandi di rumah.” jawab Edgar menggelengkan kepalanya.
“Yaudah yuk Le kita pulang.” Ajak Wina.
“Oke Mbak, Gar gue pulang dulu ya.” Aletha berdiri bersiap untuk pergi meninggalkan Edgar sendirian di depan kamar.
“Tunggu, gue ikut nganter kalian ke depan.” ucap Edgar yang langsung ikut berdiri.
Mereka bertiga jalan menyusuri lorong Rumah Sakit bersama dan menunggu taksi online yang sudah Wina pesan di depan Rumah Sakit. Mereka menunggu kedatangan taksi cukup lama mungkin sekitar sepuluh menit taksi tersebut baru sampai ke Rumah Sakit.
“Itu taksi kita Le, ayo masuk.” Ajak Wina yang sudah berjalan menuju taksi tersebut.
Aletha dan Edgar mengikuti Wina yang lebih dulu berjalan menghampiri taksinya. Saat Aletha akan masuk ke dalam taksi, tangannya di cegah oleh Edgar terlebih dan membuat dirinya seketika menoleh ke arah Edgar.
“Kenapa Gar?” tanya Aletha menoleh ke arah Edgar.
“Hati-hati.” ucap Edgar sambil tersenyum.
“Iya, lo nanti kalo ada apa-apa kabarin gue ya.” balas Aletha.
Edgar menganggukkan kepalanya, sedangkan Aletha segera masuk ke dalam taksi tersebut karena Wina sudah menunggunya di dalam taksi. Aletha bisa memandangi wajah Edgar dari dalam taksi melalui kaca taksi yang cukup gelap. Entah dari mana datangnya, Aletha merasa tenang ketika bisa melihat senyuman Edgar seperti tadi.
Wina yang melihat kelakuan adiknya dan Aletha hanya bisa ikut tersenyum, dirinya kini sepertinya hanya menjadi penonton di dalam kisah Edgar dan Aletha. Ia tahu jika Aletha dan Edgar memiliki perasaan yang sama, terlihat dari cara mereka berdua yang selalu ada untuk satu sama lain.
***
Gilang keluar dari parkiran kampusnya menggunakan motor yang biasa ia pakai, saat di perjalanan menuju luar kampus, ia melihat Nara sedang berjalan juga ke luar kampus. Gilang memelankan laju motornya dan menyebelahi Nara.
“Mau bareng nggak? Sekalian gue mau ke kafe juga” Gilang menawarkan Nara untuk ia antarkan ke kafe tempat Nara bekerja sekalian ia juga ingin menikmati kopi di sana.
“Nggak perlu makasih, gue bisa ke sana sendiri.” jawab Nara berusah menolak ajakan Gilang dengan baik-baik walaupun wajahnya masih terlihat jutek jika mengobrol dengan Gilang.
“Beneran? Udah jam segini loh, lagian juga udah mendung lo nggak takut keujanan terus lo jadi telat ke kafe?” tanya Gilang.
Nara tetap berjalan sambil memandangi jam tangannya, sebenarnya ada baiknya juga ia menerima ajakan Gilang karena jam kerjanya sebentar lagi akan tiba.
“Malah diem, kalo nggak mau yaudah, gue pergi dulu.” ujar Gilang bersiap meninggalkan Nara.
“Eh tunggu, gue bareng sama lo.” ucap Nara.
Gilang yang mendengar perkataan dari Nara barusan itu langsung menahan senyumnya agar Nara tidak kepedean dengannya. Setelah Nara naik ke motornya, ia segera melajukan kembali motornya menuju kafe milik keluargnya yang juga tempat Nara bekerja. Gilang mempercepat laju motornya karena rintik hujan mulai turun dan ia tak mau jika mereka berdua harus kehujanan.
***
Taksi yang ditumpangi oleh Aletha dan Wina kini sudah berhenti di depan pagar rumah Aletha. Aletha segera turun dari taksi tersebut, Wina langsung membuka kaca taksinya setelah Aletha turun agar ia agar bisa berbicara dengan Aletha.
“Makasih ya Mbak.” ucap Aletha.
“Gue yang harusnya bilang makasih sama lo karena lo udah jagain Edgar, gue nggak tau lagi gimana tadi kalo nggak ada lo.” balas Wina. Aletha membalasnya dengan senyuman.
“Yaudah kalo gitu aku masuk dulu ya Mbak.” ucap Aletha lalu dibalas anggukkan oleh Wina.
Taksi tersebut pergi meninggalkan rumah Aletha dan menuju ke rumah Wina. Aletha lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya. Ia bisa melihat mobil ibunya usdah terparkir di halaman rumahnya pertanda jika ibunya sudah pulang dari kantor.
“Kamu kok baru pulang Al?” tanya Dewi yang melihat Aletha berjalan masuk ke dalam rumah.
“Aletha habis dari Rumah Sakit, nemenin Edgar Mah.” jawab Aletha.
“Edgar sakit? Sakit apa?” tanya Dewi kembali dengan tatapan sedikit khawatir.
“Bukan Edgar yang sakit Mah, tapi Om Adi sakit jantungnya kambuh jadi harus di rawat inap.” ucap Edgar.
“Sekarang gimana keadaan ayahnya Edgar?’ tanya Dewi.
“Udah membaik kok Mah.” jawab Aletha.
“Syukurlah kalo gitu, semoga lekas sembuh, nanti kalau kamu mau jenguk ayahnya Edgar lagi Mamah ikut ya.” ucap Dewi.
“Amiinn, iya Maha nanti Aletha ajak Mamah, yaudah kalo gitu Aletha ke kamar dulu ya Mah.” ujar Aletha.
"Yaudah sana istirahat." balas Dewi mempersilahkan Aletha untuk pergi ke kamarnya,
Setelah mendengar jawaban dari ibunya, Aletha langsung berjalan dan menuju ke kamarnya.
Aletha merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, ia menatap langit-langit kamarnya. Lima menit kemudian ia kembali duduk, namun saat akan duduk tiba-tiba kepalanya merasakan pusing kembali.
“Kenapa pusing banget ya.” Aletha memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing.
“Astaga gue lupa kalo belum minum obat tadi.” Dirinya baru tersadar jika tadi belum sempat meminum obatnya saat menemani Edgar di Rumah Sakit tadi.
Aletha turun dari tempat tidurnya, ia segera mencari obat tersebut di dalam tasnya dengan kondisi seperti orang yang hampir pingsan rasanya. Aletha langsung meminum obat tersebut dengan cepat dan kembali duduk di atas tempat tidurnya, ia memejamkan matanya sejenak hingga rasa pusingnya berkurang.
***
Edgar kembali ke dalam Rumah Sakit untuk menemani ayahnya yang masih terbaring lemah di atas ranjang Rumah Sakit. Edgar membuka pintu kamar ayahnya di rawat, ia bisa melihat ayahnya sedang tebaring lemah dan pernapasanya dibantu oleh tabung oksigen. Edgar menatap dengan tatapan lemahnya. Ia tidak ingin kehilangan ayahnya seperti saat itu ketika ia harus kehilangan ibunya di Rumah Sakit yang sama.
Edgar mengambil ponselnya dari dalam sakunya, sedari tadi ponselnya memang tidak ia aktifkan. Setelah ponselnya sudah menyala, ia bisa melihat banyak panggilan yang tak ia jawab dari Aletha. Tak lama kemudian dering telponnya berbunyi kembali, dan terlihat jika menelponnya adalah Gilang.
“Halo Lang.”
“Halo Gar, Lo dimana sekarang?”
“Lagi di Rumah Sakit nemenin bokap gue, kenapa Lang?”
“Aletha tadi keliatan khawatir banget sampe nyariin lo ke kelas.”
“Iya tadi gue udah ketemu sama dia kok.”
“Gue ke Rumah Sakit nyamperin lo gapapa kan?”
“Gapapa sini langsung aja.”
“Oke gue ke sana sekarang.”
Edgar menutup panggilan dari Gilang, ia tampak memikirkan sejenak dengan perkataan Gilang, ternyata ketakutan yang ia alami tadi membuat Aletha sangat khawatir dengan keadaannya. Edgar mengakui kalau seseorang yang memahami apapun yang ada dirinya adalah Aletha, ia selalu merasa bisa lebih tenang bila berada di dekat Aletha.
Edgar memandangi layar ponselnya, ia melihat wallpaper yang terpasang di ponselnya, wallpaper itu ia pasang dengan fotonya bersama Aletha waktu mereka berdua pergi ke pantai kemarin. Edgar tersenyum memandangi wallpaper ponselnya, betapa bahagianya ia memiliki sahabat seperti Aletha. Edgar juga sudah berjanji pada dirinya sejak dulu jika ia akan selalu menjaga Aletha sampai kapan pun.