Part 19

1761 Words
Kebesokannya saat siang hari, Aletha sudah bersiap-siap dan berdiri di depan pagar menunggu Edgar yang akan menjemputnya untuk pergi ke kampus bersama. Aletha berdiri cukup lama di depan pagar rumahnya menanti Edgar datang, sudah lima belas menit berlalu Aletha menunggu, ia belum juga melihat kedatangan Edgar dari kejauhan. Aletha mencoba menghubungi Edgar sedari tadi belum juga ada jawaban. Lima menit kembali berlalu namun Edgar sama sekali belum juga menerima panggilannya bahkan nomornya sekarang tidak aktif saat ia hubungi. “Edgar kemana ya? Apa dia lupa kalo hari ini kita berangkat bareng?” ucap Aletha sambil matanya terus menatap ke arah layar ponselnya yang panggilannya belum juga dijawab oleh Edgar. Setelah menunggu cukup lama, Aletha akhirnya memilih segera memesan ojek online karena jika ia harus menunggu Edgar lebih lama lagi dirinya pasti akan terlambat. Aletha menunggu ojek online tersebut yang datang menjemputnya kurang lebih lima menit kemudian setelah ia pesan. “Neng Aletha ya?” tanya pengemudi ojek online tersebut. “Iya bener Mas.” jawab Aletha sembari menganggukkan kepalanya. Saat Aletha sedang menunggu helm dari pengemudi ojek onlinenya, tiba-tiba ada sebuah ambulans memasuki komplek sambil membunyika sirine dan lewat di depannya. “Siapa yang mau dibawa sama ambulans?” batin Aletha sembari matanya mengikuti kemana mobil ambulansnya melaju. “Ini helmnya Mbak.” ucap pengemudi ojek onlinennya yang membuat Aletha seketika menoleh. Aletha mengambil helm tersebut dan segera memakainya lalu ia buru-buru naik ke atas motor. Aletha tidak memikirkan lagi kemana arah ambulans tersebut, ia hanya fokus menatap jalanan menuju kampusnya sambil masih menunggu balasan pesan dan panggilan dari Edgar. Sesampainya di kampus, Aletha berjalan di koridor kampusnya dengan matanya yang masih terus menatap layar ponselnya menunggu balasan Edgar. “Edgar, lo kemana sih nggak biasanya kayak gini.” Aletha menggerutu sambil terus mencoba menghubungi Edgar. *** Mobil Ambulans berhenti tepat di depan rumah Edgar, Wina dan Edgar membantu ayahnya masuk ke dalam ambulans karena penyakit jantungnya ayahnya tiba-tiba kambuh dan harus segera mendapat penanganan medis sesegera mungkin. “Pah bertahan ya Pah.” ucap Wina kepada ayahnya sambil membantu perawat mendorong brankar agar ayahnya segera masuk ke dalam ambulans. “Gar gue anter Papah dulu ke Rumah Sakit.” ucap Wina kepada Edgar sebelum masuk ke dalam ambulans untuk mengantarkan ayahnya. Edgar menganggukkan kepalanya pelan, tubuhnya lemas seketika. Saat ambulans tersebut sudah pergi, Edgar masuk ke dalam rumahnya dan terduduk lemas. Ia memegangi kepalanya yang terasa pusing mendengar sirine ambulans tersebut, ia merasakan peristiwa masa lalu nya yang menyebabkan hatinya terluka itu kembali hadir. Suara sirine itu terdengar sama seperti suara sirine tujuh tahun lalu saat ambulans membawa ibunya menuju Rumah Sakit, namun saat berada di Rumah Sakit nyawa ibunya tak bisa tertolong karena penyakit yang di derita ibunya yang sudah sangat parah. Itu lah mengapa dirinya trauma akan dua hal yaitu ambulans dan Rumah Sakit. *** Saat berada di kelas pun Aletha merasa dirinya tidak tenang, tidak biasanya ia merasa seperti ini. Aletha menyelesaikan satu jadwal kelas kuliahnya dengan keadaan cemas memikirkan Edgar. Sampai saat ini pun dirinya belum melihat Edgar di kampus. “Lo kenapa Al? Kok kayak nggak tenang gitu sih dari tadi.” tanya Nara. “Gue juga nggak tau kenapa, tiba-tiba gue kepikiran Edgar dari tadi nggak bisa di hubungin kenapa ya.” ucap Aletah dengan wajah gelisah. “Lo tadi nggak berangkat bareng sama Edgar?” tanya Melodi. “Tadinya gue mau berangkat bareng sama Edgar tapi gue tungguin dia nggak dateng juga.” jawab Aletha. “Coba ke kelasnya Al siapa tau ada di sana.” ucap Poppy. “Iya ya, yaudah kalo gitu gue ke sana dulu ya.” ujar Aletha berpamitan kepada ketiga sahabatnya. “Iya hati-hati Al.” balas Nara, Melodi, dan Poppy bersamaan. Aletha berjalan cepat menuju kelas Edgar untuk mencari Edgar. Saat sampai di depan kelas Edgar, ia tidak menemukan Edgar, hingga Gilang menghampiri Aletha karena melihat Aletha tampak gelisah di depan kelas Edgar. “Lo ngapain kesini Al?” tanya Gilang sambil menghampiri Aletha yang sedang berdiri di depan kelas Edgar. “Gue nyari Edgar, lo liat Edgar nggak?” tanya Aletha. “Gue juga belum liat dia dari tadi, gue kira dia lagi sama lo.” jawab Gilang yang juga sama-sama tidak tahu dimana Edgar. “Duh…” ucap Aletha mengaduh pelan, rasanya ia semakin cemas memikirkan Edgar. “Udah coba lo telpon?” tanya Gilang. “Udah tapi nomornya nggak aktif.” jawab Aletha. Beberapa saat kemudian dering telponnya berbunyi, ia melihat layar ponselnya dan melihat nama Wina yang merupakan kakak dari Edgar. “Kakaknya Edgar telpon gue.” ucap Aletha menoleh ke arah Gilang. “Angkat coba siapa tau ada kabar dari Edgar.” balas Gilang. Aletha segera mengangkat telpon dari Wina yang tumben sekali menelpon dirinya. “Halo Mbak, ada apa?” “Gue boleh minta tolong sama lo nggak Le?” “Minta tolong apa Mbak?” “Bokap gue masuk Rumah Sakit dan sekarang gue sama bokap gue lagi di Rumah Sakit, tapi Edgar masih di rumah, gue takut dia kenapa-kenapa.” “Astaga, Oke kalo gitu Mbak Wina tenang dulu ya, sekarang juga aku ke rumah Edgar.” “Makasih banget ya Le, maaf gue ngerepotin lo.” “Nggak ngerepotin kok Mbak, yaudah telponnya ku tutup dulu ya Mbak.” “Iya Le hati-hati ya.” “Iya Mbak.” Aletha segera menutup panggilan dari Wina. Ia sangat paham akan trauma yang dialami Edgar di masa lalu, ia tahu akan ketakutan Edgar kepada suara sirine ambulans dan Rumah Sakit. Aletha baru tersadar ternyata ambulans tadi yang lewat di depan rumahnya itu ternyata menuju ke rumah Edgar.  “Gimana Al?” tanya Gilang. “Bokapnya Edgar dibawa ke Rumah Sakit, gue mau nyamperin buat nemenin Edgar dulu.” ucap Aletha bersiap berlari menuju depan kampus. “Gue anter yah?” Gilang menawarkan diri untuk mengantarkan Aletha. “Nggak usah bentar lagi lo juga mau ada kelas kan? Gue pake taksi aja.” ujar Aletha menolak tawaran Gilang dengan baik-baik. “Oke kalo gitu gue temenin lo ke depan.” ucap Gilang dan langsung dibalas anggukkan oleh Aletha. Mereka berdua berlari keluar dari kampus, Gilang membantu Aletha untuk mencari taksi kosong yang lewat karen jika mereka memesan taksinya secara online makan akan lebih lama menunggu taksi tersebut. Tak sampai dua menit Aletha berhasil mendapatkan taksinya. “Gue pergi dulu ya, makasih udah bantuin gue nyari taksi.” ucap Aletha sembari masuk ke dalam taksi tersebut. “Hati-hati, ntar kalo ada apa-apa langsung kabarin gue ya Al.” balas Gilang langsung dibalas anggukkan oleh Aletha, ia juga membantu Aletha menutup pintu taksinya. “Pak jalan sekarang nanti saya arahin tempatnya, agak cepet ya Pak, saya lagi buru-buru soalnya.” ucap Aletha meminta sopir taksi tersebut untuk segera melajukan taksinya. “Baik Mbak.” Sopir taksi tersebut langsung mengemudikan taksinya menuju tempat yang diarahkan Aletha. Saat di perjalanan ia tak henti-hentinya merasa cemas dan khawatir dengan keadaan Edgar yang kini sedang berada di rumah sendirian. “Pak, tunggu di sini dulu ya.” Sepuluh menit kemudian akhirnya ia sampai juga di rumah Edgar, Aletha segera turun dari taksinya dan berjalan ke depan pintu rumah Edgar. “Gar Edgar.” Panggil Aletha sambil mengetuk pintu rumah Edgar namun tidak ada jawaban dari dalam. “Gar ini gue Aletha.” Panggil Aletha yang kedua kalinya namun belum juga ada jawaban. Aletha mencoba menggerakkan gagang pintu rumah Edgar dan ternyata pintunya tidak terkunci, ia lalu masuk ke dalam rumah Edgar untuk mencari dimana Edgar. “Gar lo dimana?” tanya Aletha sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan mencari Edgar. Aletha langsung berinisiatif untuk menuju kamar Edgar karena di ruang tamu dan ruang keluarga ia tidak melihat Edgar sama sekali. Saat Aletha membuka pintu kamar Edgar, ia terkejut ketika melihat Edgar yang terduduk lemas di lantai. “Edgar!!” pekik Aletha sambil berlari menghampiri Edgar. “Gar lo nggak papa?” tanya Aletha kedua tangannya memegangi pundak Edgar. Aletha mendongakkan kepala Edgar untuk menghadap ke arahnya, ia bisa melihat mata Edgar yang sudah sembab karena air matanya. Sepertinya rasa trauma itu benar-benar menghampiri Edgar kembali. “Le gue takut.” lirih Edgar sambil menatap Aletha. “Kita keluar dulu ya sekarang.” Aletha membantu Edgar berdiri dan menuntunnya untuk duduk di sofa ruang tamu. Aletha mengambil air mineralnya yang masih utuh yang ia bawa dari rumah ketika akan berangkat ke kampus. “Ini minum dulu, tenangin diri lo dulu.” Aletha membuka tutup botol air mineralnya dan menyerahkannya kepada Edgar. Edgar meminum air mineral tersebut dengan tangannya yang masih sedikit gemetar. “Sekarang tenangin diri lo dulu ya.” ucap Aletha membantu Edgar untuk menenangkan diri. “Gue mau ke Rumah Sakit Le.” ujar Edgar yang sedikit mengejutkan Aletha. “Beneran? Kalo misal lo belum berani, kita nunggu kabar dari sini dulu aja.” tanya Aletha untuk meyakinkan Edgar. “Gue udah siap, gue mau ketemu Papah, temenin gue ke Rumah Sakit.” ucap Edgar. “Yaudah kalo gitu kita ke Rumah Sakit sekarang.” Aletha berdiri dan membantu Edgar berjalan masuk ke dalam taksi yang masih menunggunya di depan. Aletha meminta sopir taksi tersebut untuk segera mengantarkan mereka berdua menuju ke Rumah Sakit. Sesampainya di Rumah Sakit, Aketha dan Edgar segera turun setelah membayar ongkos taksinya. Aletha tampak memandangi Edgar sejenak yang kini berada di hadapannya. Aletha membantu menuntun Edgar masuk ke dalam Rumah sakit, Edgar berjalan melewati lorong Rumah Sakit denga kaki dan tangannya yang sekarang masih gemetar. “Tenang ya Gar.” ucap Aletha meminta Edgar untuk terus menenangkan diri sembari berjalan menuju ruangan dimana ayahnya di rawat. “Edgar…” ucap Wina dengan nada terkejut ketika melihat adiknya berjalan bersama Aletha berjalan di dalam Rumah Sakit karena sebelumnya ia tahu jika Edgar tidak pernah ingin sekalipun memasuki Rumah Sakit setelah ibunya meninggal beberapa tahun lalu. “Gimana keadaan Papah Mbak?” tanya Edgar dengan nada lirih. “Papah lagi di tanganin sama dokter di dalem, semoga Papah nggak kenapa-napa.” balas Wina sambil ikut menenangkan Edgar. Kini mereka bertiga duduk di kursi yang letaknya berada di depan ruangan Papahnya di rawat. Tak lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan tersebut. “Gimana keadaan Papah saya dok?” tanya Wina yang langsung berdiri menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang perawatan ayahnya. “Pak Adi baik-baik saja, tapi beberapa hari ke depan Pak Adi harus mendapat perawatan rawat inap di Rumah Sakit.” ucap dokter tersebut. Aletha, Edgar, dan Wina langsung mengucap syukur ketika tahu keadaan ayahnya baik-baik saja. Aletha ikut senang mendengar kabar itu, ia bisa melihat wajah Edgar yang sedikit lebih tenang setelah mendapat pemberitahuan dari dokter tadi. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD