Aletha berhasil menghindar dari Gilang yang tadi berusaha mengejarnya, ia tidak tahu harus menjelaskan bagaimana jika tadi Gilang berhasil menangkapnya, ia takut jika Gilang mengetahui penyakitnya lalu Gilang akan bilang kepada Edgar tentang penyakit leukimia yang sekarang sedang diidap dirinya.
Aletha segera memesan taksi online untuk mengantarkannya pulang ke rumah. Ia menunggu taksi online tersebut di depan Rumah Sakit. Saat Aletha sedang menunggu taksi, pandangan Aletha tertuju ke seorang bapak-bapak yang kini sedang berlari sambil menggendong anaknya yang sedang merintih kesakitan. Beberapa perawat datang memnghampiri sambil membawakan brankar untuk membantu anak kecil tersebut, anak kecil itu segera dibawa ke UGD menggunakan brankar untuk segera mendapatkan pengobatan lebih lanjut.
Setelah itu tak lama kemudian taksi online yang dipesan Aletha pun datang.
“Mbak Aletha ya?” tanya sopir taksi memastikan.
“Iya betul Pak.” jawab Aletha menganggukkan kepalanya.
“Silahkan masuk Mbak.” ucap sopir tersebut.
Aletha segera masuk ke taksi online tersebut, saat di dalam taksi, Aletha mengingat kejadian tadi saat seorang bapak-bapak menggendong anaknya berlari masuk ke dalam Rumah Sakit. Ia bisa merasakan kasih sayang yang diberikan seorang bapak tadi kepada anaknya. Bapak itu terlihat sangat khawatir dengan keadaan anaknya yang sedang merintih kesakitan. Entah mengapa Aletha merindukan sosok ayah yang sudah meninggalkannya belasan tahun lalu.
Aletha memilih untuk langsung mengalihkan pikirannya, ia tidak ingin mengingat luka lama yang sudah susah payah ia coba untuk lupakan. Ia mengalihkan pikirannya dengan membuka aku instagramnya dan melihat postingan-postingan milik teman-temannya.
Ia membuka pesan dari Edgar yang saat di Rumah Sakit tadi belum sempat ia balas.
“Udah pulang?”
“Ini lagi di jalan.”
“Oh yaudah kalo misal belum pulang mau gue jemput tadi.”
“Haha nggak usah, perhatian banget sih lo pake mau jemput gue segala.”
“Jangan geer deh, tadi niatnya gue sekalian mau ke minimarket tapi karena lo udah di jalan ya nggak jadi.”
“Iya deh iya terserah lo wkwk.”
Aletha menutup layar ponselnya sambil tersenyum, moodnya kini membaik setelah tadi ia sempat mengingat kembali masa lalunya. Aletha memandangi jalanan ibukota lewat kaca mobil, kurang lebih sepuluh menit kemudian kini Taksi yang ia tumpangi sudah berhenti tepat di depan pagar rumahnya. Aletha segera turun dari taksi tersebut setelah membayar ongkos taksinya. Ia kemudian langsung masuk ke dalam rumahnya dan menuju kamarnya.
***
Gilang pergi ke parkiran lebih dulu sambil menunggu ibunya yang sedang membereska pekerjaannya, Gilang memainkan ponselnya dan mencoba menelpon Nara sambil menunggu ibunya keluar. Panggilan darinya lumayan lama baru di angkat oleh Nara setelah ia menunggu beberapa saat.
“Lama amat ngangkat telpon doang.”
“Lagi kerja.”
“Jutek lagi, lo sehari aja nggak jutek sama gue nggak bisa apa gimana sih.”
“Hahah suka-suka gue dong.”
“Dasar nyebelin emang.”
Gilang tiba-tiba mematikan panggilannya ketika ibunya berjalan menghampiri dirinya ke parkiran.
“Kamu lagi telponan sama siapa Lang?” tanya Ami berjalan ke arah Gilang, Gilang segera mematikan panggilan tersebut ketika mengetahui ibunya sedang berjalan ke arahnya.
“Eh sama temen Gilang kok Mah hehe.” jawab Gilang.
“Temen atau Pacar?” tanya Ami memberi candaan kepada putranya.
“Temen aja kok Mah hehehe.” jawab Gilang sambil meringis.
“Yaudah ayo masuk ke mobil.” ajak Ami untuk seger masuk ke dalam mobil.
Gilang mengikuti ibunya yang lebih dulu masuk ke dalam mobil, ia kemudian segera melajukan mobilnya dan pulang ke rumahnya.
***
Nara menatap layar ponselnya ketika panggilan dari Gilang tadi tiba-tiba dimatikan oleh Gilang sendiri.
“Aneh banget nih orang, nelpon duluan terus matiin tiba-tiba.” ucap Nara kesal dengan Gilang yang tiba-tiba mematikan panggilannya.
“Bodo amat lah.” ucap Nara bersiap melanjutkan kembali pekerjaannya setelah beristirahat sebentar sambil menunggu pembeli datang.
“Naraaa.” Panggil seorang perempuan sambil berjalan antusia menghampiri Nara.
Nara sudah tau dari suaranya yang pastinya tak lain lagi adalah suara Poppy.
“Poppy tumben lo ke sini.” ucap Nara.
“Iya lagi pengen main aja ke sini hehe sekalian mau gambar design baju.” ujar Poppy.
“Mantappp, kalo gitu lo mau pesen apa?” tanya Nara.
“Gue pesen coffee late aja satu.” ucap Poppy.
“Oke udah ntar pesenan lo gue anter ke meja lo.” ujar Nara setelah Poppy membayar pesanannya.
Poppy berjalan menuju meja kosong, ia memilih duduk di meja pojok dekat jendela agar dirinya bisa fokus menggambar sambil mendengarkan musik yang diputar di kafe.
***
Sore harinya saat Aletha sedang menyiram tanaman di depan rumah, ponsel yang berada di dalam kantong saku celananya bergetar. Aletha langsung mengambil ponsel dari sakunya yang sedari tadi masih berdering.
“Edgar? Ngapain dia telpon.” Aletha melihat nama Edgar yang ternyata sedang menelponnya sekarang, ia langsung mengangkat panggilan tersebut.
“Halo Gar.”
“Lo lagi sibuk nggak Le?”
“Enggak, kenapa Gar?”
“Temenin gue yok ke supermarket belanja bulanan, gue bingung kalo harus belanja bulanan sendirian.”
“Tumben nggak sama Mbak Wina.”
“Mbak Wina lembur, jadi gue mau ngajak lo itu pun kalo lo mau.”
“Iya udah gue temenin, lo mau jemput gue kapan?”
“Satu jam lagi bisa?”
“Bisa, yaudah gue siap-siap dulu.”
“Oke Le sampe nanti.”
Aletha menutup panggilan tersebut dan kembali masuk ke dalam rumahnya untuk bersiap-siap. Setelah selesai bersiap-siap Aletha keluar dari kamarnya sambil mengenakan tas selempang miliknya. Saat Aletha berjalan menuju luar rumah, ia berpapasan dengan ibunya yang baru saja pulang dari kantor.
“Mau kemana kamu Al?” tanya Dewi yang melihat putrinya sepertinya akan pergi ke luar.
“Eh Mamah, baru pulang Mah?” tanya Aletha.
“Iya baru aja, kamu mau pergi kemana?” tanya Dewi kembali.
“Aku mau nemenin Edgar ke supermarket Mah.” jawab Aletha.
“Edgarnya belum dateng?” tanya Dewi.
“Belum Mah, mungkin bentar lagi, yaudah Aletha mau nunggu Edgar di depan aja ya Mah.” Aletha mencium tangan ibunya sambil berpamitan ke luar rumha.
“Hati-hati di jalan.” balas Dewi.
“Oke Mah siap.” Aletha menganggukkan kepalanya dan berjalan kembali keluar rumah.
Aletha duduk di teras rumahnya sambil menunggu Edgar datang menjemput dirinya.
***
Edgar bersiap-siap terlebih dahulu sebelum menjemput Aletha, entah mengapa hari ini ia sangat memperhatikan tampilannya padahal dirinya hanya akan pergi ke supermarket bukan mau pergi ke acara penting. Setelah lima belas menit mencari pakaian yang cocok akhirnya ia hanya mengenakan kaos dan ia tutupi dengan kemeja kotak-kotanya tanpa mengancingkan kemejanya. Edgar masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobilnya menuju rumah Aletha, saat sampai di depan Aletha, ia bisa melihat Aletha sedang duduk di depan teras. Edgar lalu membunyikan klakson mobilnya hingga membuat Aletha menoleh dan segera menghampiri lalu masuk ke dalam mobil Edgar.
“Lama banget si hampir lumutan gue nunggu lo.” ucap Aletha setelah masuk ke dalam mobil Edgar.
“Haha lebay lo ah.” balas Edgar sambil tertawa.
Edgar langsung melajukan mobilnya kembali menuju supermarket yang biasa ia datangi saat berbelanja bulanan. Jarak supermarket kurang lebih lima belas menit dari rumahnya, setelah sampai di supermarket Edgar langsung menuju parkiran dan memarkirkan mobilnya. Mereka berdua segera turun dan masuk ke dalam supermarket.
“Ambil trolley dulu Gar.” ucap Aletha meminta Edgar untuk mengambil trolley terlebih dahulu.
Setelah Edgar mengambil trolley, mereka mulai berputar mengelilingi supermarket dan mencari barang dan kebutuhan pokok yang akan Edgar beli.
“Mau beli apa aja?” tanya Aletha.
“Bentar gue juga nggak inget mau beli apa aja, gue ada catetannya nih.” Edgar memberikan sebuah kertas berisi catatan kebutuhan pokok yang akan ia beli.
Aletha memandangi kertas tersebut dan mengangguk paham, ia kemudian mengajak Edgar untuk mengikuti langkah kakinya. Aletha hafal dimana saja tempat barang-barang yang Edgar butuhkan karena ia sudah biasa berbelanja kebutuhan pokok bersama ibunya.
Kurang lebih dua jam mereka menghabiskan waktunya di supermarket, kini Aletha dan Edgar sedang berdiri mengantri di kasir. Edgar bisa melihat wajah lelah Aletha yang tampak kelelahan setelah memutari supermarket menemaninya berbelanja bulanan.
“Le, lo duduk aja di sana.” ucap Edgar sambil menunjuk sebuah kursi kosong di dekat kasir.
“Kenapa tiba-tiba nyuruh gue duduk?” tanya Aletha sembari mengelap keringatnya.
“Gue tau lo capek makanya gue suruh duduk aja, ini biar gue aja yang ngantri.” jawab Edgar.
“Tumben banget perhatian sama gue hahah.” ucap Aletha sambil tertawa meledek Edgar.
“Nggak usah ge-er, udah sana dari pada lo pingsan nanti malah gue yang susah.” Edgar kembali menyuruh Aletha untuk duduk.
“Dasar ngeselin, Yaudah kalo gitu gue ke sana dulu.” ucap Aletha meninggalkan Edgar di kasir sendirian.
Setelah Edgar menyelesaikan pembayarannya, ia langsung menghampiri Aletha yang tengah duduk menunggu dirinya.
“Udah?” tanya Aletha sambil berdiri.
“Udah.” jawab Edgar.
“Yaudah yok ke parkiran.” Mereka berdua berjalan menuju ke parkiran dan meletakkan barang belanjaannya di bagasi mobil.
Saat sudah berada di dalam mobil, Aletha merasakan perutnya kelaparan karena sampai saat ini ia belum makan malam.
“Gar gue laper.” ucap Aletha dengan wajah seperti orang kelaparan sambil memegangi perutnya.
“Eh iya kita belum makan malem ya, mau makan malem dimana?” tanya Edgar.
“Di tempat yang biasanya aja yang deket rumah.” jawab Aletha.
“Oke deh kita ke sana sekarang.” Edgar mulai melajukan mobilnya keluar dari supermarket menuju tempat makan yang biasa ia kunjungi bersama Aletha.