Part 17

1621 Words
Aletha segera turun dari motor Edgar setelah Edgar menghentikan laju motornya di parkiran kampus. “Tolong lepasin helmnya Gar.” ucap Aletha. “Makanya besok-besok bawa tas yang lebih besar lagi biar bisa muat banyak.” balas. “Iya bawel, cepetan bantuin lepasin helmnya, bentar lagi gue harus masuk ke kelas.” ucap Aletha memohon agar Edgar segera membantu dirinya untuk melepaskan helm yang masih ia pakai. Edgar langsung membantu Aletha untuk melepaskan helm yang masih terpasang di kepala Aletha. Setelah helm tersebut lepas, Aletha berpamitan pergi meninggalkan Edgar dan segera masuk ke dalam kelas karena perkuliahannya akan segera dimulai. “Gue ke kelas dulu ya Gar.” ucap Aletha sebelum pergi meninggalkan Edgar di parkiran. “Yaudah sana, jangan lari ntar bawaan lo jatuh semua.” balas Edgar. Ia tak lupa juga mengingatkan Aletha untuk tidak berlari saat menuju kelasnya agar barang-barang yang dibawa oleh Aletha tidak terjatuh. Aletha menganggukkan kepalanya, ia kemudian pergi meninggalkan Edgar sambil melambaikaj tangannya sejenak lalu kembali membalikkan badannya dan segera pergi menuju kelasnya. Beberapa saat setelah Aletha pergi, Edgar baru beranjak dari parkiran menuju kelasnya. Edgar melihat jam tangannya yang kini masih menunjukkan pukul delapan pagi. “Masih jam segini ternyata, padahal gue ada kelasnya kan masih jam sepuluh nanti.” Edgar berhenti sambil memandangi jam tangannya. “Mending gue ke kantin dulu aja lah ngisi perut.” Edgar berjalan kembali menuju kantin untuk mengisi perutnya karena ia belum sempat sarapan pagi tadi sebelum berangkat ke kampus. Sesampainya di kantin, Edgar melihat Gilang sudah sampai di kantin terlebih dahulu. Dari kejauhan Edgar melihat Gilang yang sedang senyum-senyum sendirian sambil menyantap makanannya. Edgar pergi memesan batagor terlebih dahulu sebelum menghampiri Gilang, setelah pring berisi batagor sudah berada di tangannya, ia menghampiri Gilang yang sedang duduk sendirian. “Senyum-senyum sendiri dari tadi kayak orang stress lo.” ucap Edgar yang mengagetkan Gilang. “Eh lo Gar.” balas Gilang sambil masih tersenyum tidak jelas seperti orang sedang kesurupan. “Lo kenapa sih senyum-senyum sendiri, jangan bikin gue takut.” ujar Edgar sambil memberi tatapan aneh kepada Gilang. “Hahah, gue akhirnya berhasil dapetin nomer cewe.” balas Gilang sambil tertawa. “Siapa?” tanya Edgar penasaran. “Itu temennya Aletha.” jawab Gilang yang sama sekali tidak memberikan jawaban yang spesifik. “Siapa sih? Temennya Aletha kan banyak.” tanya Edgar kembali. “Itu cewe yang kemarin nyamperin Aletha waktu duduk sama lo di pinggir lapangan.” jawab Gilang yang sekarang memberikan ciri-ciri yang lumayan spesifik. Entah mengapa Gilang malah menyuruh Edgar menebak namanya seperti sedang ajang tebak-tebakkan saja. Untung saja Edgar langsung teringat siapa teman Aletha yang saat itu sedang bersama Aletha. “OH NARA?” tanya Edgar dengan nadanya yang keras seperti orang sedang berteriak. Gilang seketika terkejut ketika Edgar berkata dengan sangat keras, ia segera membungkam  mulut Edgar dengan tangannya dan menyuruh Edgar untuk tidak berbicara dengan nada keras. “Ngomongnya nggak usah keras keras juga woi.” Omel Gilang kepada Edgar yang tak menyadari jika suaranya tadi keras hingga membuat beberapa orang yang berada di kantin jadi menoleh ke arahnya. “Hehe sorry sorry gue kelepasan.” ucap Edgar sambil meringis. “Untung  aja nggak ada dia di sini jadi nggak denger omongan lo.” balas Gilang sambil bernapas lega. “Lo beneran naksir sama dia?” tanya Edgar penasaran dengan isi hati Gilang. “Kalau gue jawab jujur sih kayaknya jawaban gue ‘iya’ hehe.” ujar Gilang. “Wah Gila hari ini pertama kalinya gue denger lo nyebutin orang yang lo taksir.” ucap Egar sambil bertepuk tangan. “Paan sih lo lebay.” balas Gilang. “Iye dah yang lagi naksir orang.” Ledek Edgar sambil memakan batagornya yang sudah lumayan lama ia diamkan. *** Melodi tak sengaja mendengar percakapan Edgar dengan Gilang ketika dirinya sedang berada di kantin untuk membeli satu botol air mineral dingin. Ia tak sengaja mendengar percakapan mereka berdua ketika Edgar berbicara dengan nada keras sambil menyebutkan nama Nara. Melodi penasaran mengapa Edgar menyebutkan nama Nara yang ia yakini adalah Nara yang tak lain merupakan sahabatnya. Melodi menepis rasa penasaran tersebut karena hal itu bukanlah urusannya. Ia langsung kembali ke kelasnya sambil membawa botol berisi air mineral yang barusan ia beli di kantin. Melodi memasukki kelasnya dan duduk bergabung dengan para sahabatnya yang sudah berada di kelas. “Dari mana lo Di?” tanya Aletha yang baru melihat kedatangan Melodi. “Dari kantin beli minum dulu tadi.” jawab Melodi. Melodi terlihat sedang memandangi Nara yang sedang fokus dengan jurnalnya. Ia tak sadar jika Poppy memergoki dirinya yang sedang memperhatikan Nara. “Lo kenapa ngeliatin Nara segitunya Di?” tanya Poppy yang membuat Nara dan Aletha seketika mendongakkan kepalanya beralih menatap Melodi. “Hah enggak kok, itu tadi bulu mata lo ada yang jatuh Nar.” ujar Melodi yang membalas omongan Poppy dengan sembarangan. Nara langsung mencari bulu matanya yang jatuh di sekitar wajahnya dan memang benar yang dikatakan Melodi jika bulu matanya ada yang terjatuh dan menempel di pipinya. Aletha seperti merasa ada keanehan pada Melodi hari ini, ia tidak bersikap seperti biasanya yang memperhatikan orang lain terutama Nara. Biasanya Melodi selalu asyik dengan dunia make upnya tanpa menghiraukan orang lain. Aletha sempat berpikiran apakah hal ini ada hubungannya antara Gilang dan Nara, tapi Melodi kan belum tau hal itu yang kemarin sempat dibicarakan oleh Gilang dan Edgar saat berada di kafe. Aletha yang tak mau ambil pusing tentang hal itu langsung mengalihkan pandangannya dan fokus membaca jurnal kembali. *** Seusai kuliah Aletha memilih untuk pulang tidak bersama Edgar karena Aletha akan pergi ke Rumah Sakit untuk mengontrol bagaimana keadaan penyakitnya saat ini. Ia sengaja beralasan kepada Edgar untuk pergi ke toko buku. Edgar adalah orang yang paling tidak suka ketika ia ajak pergi ke toko buku karena pasti sangat lama dan Edgar juga merupakan tipe orang yang cepat bosan dan tidak suka menunggu lama jadi cara ini lumayan ampuh agar dirinya bisa pergi sendiri tanpa khawatir Edgar menaruh curiga terhadap dirinya. Aletha memasuki lobi Rumah Sakit, ia duduk di salah satu kursi yang disediakan di ruang tunggu Rumah Sakit tersebut. Setelah tiba nomor antriannya dipanggil Aletha segera masuk ke ruangan untuk menemui dokter Ami. Ia tampak mendengarkan semua perkataan dokter Ami dengan tatapan yang sangat serius. Setelah semuanya selesai, Aletha keluar dari ruangan tersebut dan bersiap untuk pulang ke rumahnya. Saat Aletha berjalan di koridor Rumah Sakit, matanya tak sengaja menatap ke seseorang yang sepertinya ia kenal. Orang tersebut jaraknya kini memang masih sangat jauh dengan posisinya berdiri saat ini, Aletha mengamati orang tersebut dengan seksama. “Hah? Kak Gilang? Ini gue nggak salah liat kan?” Aletha mengucek kedua matanya untuk memastikan jika penglihatannya barusan tak salah. “Duh beneran Kak Gilang, gue harus cepet-cepet pergi dari sini.” Aletha sudah membalikkan badannya bersiap untuk berlari menghindari Gilang. “Aletha.” panggil seseorang dari kejauhan yang tak lain adalah Edgar. Aletha langsung berlari menjauh dari Gilang, ia tidak mau jika Gilang tahu kalau dirinya sedang berada di Rumah Sakit ini. Aletha berlari sekuat tenaga dan segera keluar dari Rumah Sakit. *** Gilang pergi ke Rumah Sakit untuk menjemput ibunya yang kini bekerja sebagai dokter di salah satu Rumah Sakit di Jakarta. Gilang memarkirkan mobilnya di parkiran Rumah Sakit tersebut dan segera masuk menghampiri ibunya ke ruangan. Saat ia berjalan di lorong Rumah Sakit, ia melihat ke arah seorang perempuan yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya. Dari kejauhan ia tampak mengenal perempuan tersebut, perempuan yang ia lihat barusan seperti Aletha karena baju yang dikenakan perempuan itu pun sama dengan yang dikenakan Aletha tadi saat di Kampus. “Aletha.” panggil Gilang dari kejauhan. Perempuan tersebut seketika membelakangi Gilang dan langsung pergi menjauh dari Gilang. Gilang yang mengetahui hal tersebut langsung berusaha mengejar orang itu. Gilang mempercepat lariannya mengejar perempuan itu yang lariannya juga semakin cepat. “Aletha tunggu.” Panggil Gilang sekali lagi namun tidak ada jawaban. Gilang akhirnya menemukan perempuan tersebut yang ia yakini itu adalah Aletha, Gilang langsung mencegah perempuan tersebut dengan memegang pundaknya agar tidak pergi menghindari dirinya lagi. “Aletha.” ucap Gilang ketika sudah berhasil memegang pundak perempuan yang ia yakini adalah Aletha. Perempuan tersebut menoleh ke arah Gilang, namun sayangnya perempuan tersebut bukanlah Aletha. “Iya Mas.” Gilang tampak terkejut ketika orang yang barusan ia berhentikan bukanlah Aletha melainkan orang lain yang baju sama dengan apa yang dikenakan Aletha. “Maaf Mba sepertinya saya salah orang.” ucap Gilang meminta maaf kepada perempuan tersebut. Gilang langsung berbalik arah dan berjalan kembali menuju ruangan ibunya. Sesampainya di depan ruangan ibunya, Gilang mengetuk pintu terlebih dahulu baru membuka pintu tersebut. “Hai Mah.” Sapa Gilang sambil membuka pintu ruangan milik ibunya. “Lo kok kamu yang jemput Lang? Papah Mana?” Ami bertanya kepada anaknya karena biasanya yang menjemput adalah suaminya. “Papah ada meeting dadakan Mah jadi Gilang yang jemput sekarang.” jawab Gilang. “Oalah yasudah kalo gitu, kamu duduk dulu Mamah mau beres-beres dulu sebentar.” ujar Ami. “Oke Mah.” balas Gilang yang langsung duduk di kursi yang berada di ruangan ibunya. “Kamu kok keringetan gitu kayak abis lari larian.” ucap Ami yang heran melihat Gilang yang berkeringat seperti orang yang habis berlari. “Iya tadi aku kayak liat temenku lagi di Rumah Sakit ini, pas aku panggil dianya malah lari terus aku kejar, eh pas udah ketemu ternyata bukan dia cuman bajunya aja yang mirip tapi beda orang.” ujar Gilang. “Salah liat mungkin kamu Lang.” balas Ami. “Iya mungkin salah liat ya Mah.” ucap Gilang menganggukkan kepalanya. Gilang sekarang juga beranggapan sama dengan ucapan ibunya, mungkin memang benar ia hanya salah lihat. Karena biasanya pun jika Aletha pergi kemana-mana pasti selalu ditemani oleh Edgar, jadi sepertinya memang tadi dirinya hanya salah lihat saja. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD