Part 16

1663 Words
Minggu malam ini Gilang kembali ke kafe untuk memesan kopi dan sekalian menemui Nara yang kemarin mengerjainya dengan memberi nomor palsu. Jam tangan Gilang masih menunjukkan pukul tujuh malam jadi masih tersisa dua jam lagi sebelum kafe ditutup. Nara yang melihat kehadiran Gilang kembali merasa sedikit terkejut, ia sepertinya harus bersiap-siap mendengarkan ocehan Gilang yang tampaknya akan memarahi dirinya karena kemarin memberikan nomor palsu. “Mau pesen apa?” tanya Nara ketika Gilang sudah berada di hadapannya sekarang. “Jutek banget sama pelanggan.” ucap Gilang. “Kalo selain lo sih gue baik ke pelanggan, tapi karena lo ngeselin jadi gue ikut kesel deh, buruan gantian sama yang lain.” balas Nara santai. “Americano satu.” ucap Gilang. Gilang segera menyelesaikan pembayarannya dan pergi mencari tempat duduk yang nyaman. Setelah pesanannya datang, Nara buru-buru meninggalkan Gilang agar Gilang tidak mengungkit-ungkit kejadian kemarin. Awalnya saat pesanan datang Gilang akan langsung menanyakan tentang nomor kemarin kepada Nara, namun karena ia melihat kafe sedang ramai jadi ia memilih nanti saja ketika kafe sudah hampir tutup. Saat jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Nara mulai membersihkan kafenya, lagi-lagi ia sepertinya harus bergelut dengan Gilang yang sampai sekarang masih berada di kafe. “Lo mau sampe kapan di sini?’ tanya Nara menghampiri Gilang yang masih saja duduk santai padahal sudah waktunya kafe untuk tutup. “Sampe lo ngasih nomer lo ke gue yang bener.” ucap Gilang santai. “Ya kan kemaren udah gue kasih.” ucap Nara. “Iya kemaren lo kasih gue nomer, tapi yang lo kasih tuh nomer sedot wc bukan nomer hp lo.” balas Gilang. “Hah masa sih? Gue salah ketik kali.” Nara berpura-pura seolah ia tidak tahu sambil menahan diri untuk tidak tertawa. Rasanya ia benar-benar ingin tertawa keras sekarang tapi Nara memilih untuk menahan dirinya untuk tidak tertawa karena tidak enak jika dilihat pelanggan yang lain nanti bisa disangka dirinya sedang stress kan bahanya. “Sini kasih nomer lo yang bener.” Gilang kembali meminta nomer Nara. “Gue nggak mau, lagian lo siapa sih minta minta nomer gue, gue aja nggak kenal sama lo.” balas Nara. “Gue Gilang.” balas Gilang. “Nggak nanya nama lo.” ucap Nara judes. “Ini ada apa ribut-ribut?” tanya seorang laki-laki yang baru saja masuk ke kafe. “Ini Pak Faris, ada pembeli yang ngeselin, udah waktunya kafe tutup tapi masih tetep aja di sini jadi kan saya nggak bisa beres-beres Pak.” ucap Nara mengadu ke Pak Faris yang merupakan pemilik kafe, Nara mengadu karena dirinya sudah tidak sanggup lagi menghadapi Gilang. “Gilang kamu ngapain di sini?” tanya Faris beralih menghadap Gilang. “Ya aku emang sering ke sini Pah.” jawab Gilang yang seketika membuat mulut Nara seketika menganga. “Apa? Pah?” tanya Nara refleks. “Saya belum kasih tau kamu ya Ra, jadi Gilang ini anak saya, dia juga satu kampus sama kamu.” ujar Faris yang semakin membuat Nara terkejut. “Anak? Jadi Gilang anaknya Pak Faris? Mampus gue, duh Nara lo mau cari mati apa gimana sih.” Nara mengutuk dirinya sendiri dalam hati. “Nara kok bengong.” Faris melambaikan tangannya ke arah Nara hingga membuat Nara tersadar. “Eh iya Pak maaf.” ujar Nara yang seketika menoleh ke arah Faris. Nara melihat raut wajah Gilang yang tampak sedang tersenyum sombong, Nara benar-benar tidak tau harus berbuat apa sekarang, sepertinya ia salah dari kemarin bersikap jutek kepada Gilang, bisa-bisa nanti Gilang mengadu yang tidak-tidak lagi kepada Pak Faris. “Yasudah kalau gitu kamu lanjut beres-beres lagi aja.” ucap Faris mempersilahkan Nara untuk kembali membereskan kafenya sebelum di tutup. “Iya Pak, kalau gitu saya permisi.” balas Nara yang pergi sambil menundukkan kepalanya, ia tidak mau menatap Gilang saat ini. “Gilang jangan diulangin lagi kayak gini, kasihan Nara jadi keganggu waktu buat beres-beresnya.” ucap Faris menasehati putranya. “Iya Pah maaf heheh kalo gitu Gilang pulang dulu ya Pah, Papah abis ini mau langsung pulang atau mau kemana dulu?” tanya Edgar. “Abisa dari sini Papah mau jemput Mamah dulu baru nanti pulang.” jawab Faris “Yaudah kalo gitu Gilang pulang duluan ya Pah.” ucap Gilang sambil mencium tangan ayahnya dan langsung pergi meninggalkan kafe. Selama diperjalanan Gilang tertawa puas, kini giliran dia yang menang, ia tidak sabar saat di kampus besok bagaimana reaksi Nara saat melihatnya. *** Pagi harinya Edgar menjemput Aletha sebelum berangkat ke kampus karena kemarin ia sudah janjian jika ia dan Aletha akan berangkat bersam ke kampus. “Pah, Edgar berangkat dulu ya.” Pamit Edgar kepada ayahnya yang sama-sama akan berangkat bedanya Edgar berangkat ke kampus sedangkan ayahnya berangkat ke kantor. “Pah, Wina berangkat ke kantornya bareng sama Papah yah? Boleh kan Pah?” tanya Wina berjalan menghampiri Edgar dan ayahnya. “Boleh, tumben kamu nggak sama Edgar Win.” balas Adi. “Edgar kan mau jemput pacarnya.” Ledek Wina sambil tertawa puas. “Hah Edgar udah punya pacar?” tanya Adi. “Masa Papah nggak tau sih, Edgar kan pacaran sama Aletha, kemaren aja abis ngedate ke pantai.” ucap Wina yang masih terus meledek Edgar. “Paan sih lo Mbak ngaco deh, jangan dengerin Mbak Wina Pah, dia nih suka sembarangan kalo ngomong.” ujar Edgar meminta ayahnya agar menghiraukan ucapan kakaknya. “Tapi kalo emang kamu beneran suka sama Aletha, Papah dukung kamu kok Gar buat deketin Aletha jadi kalo mau ngapel kan deket.” ucap Adi yang kini malah ikut-ikutan meledek Edgar. “Mbak Wina, gara-gara lo nih Papah jadi ikutan ngeledek gue.” ucap Edgar menatap Wina dengan tatapan kesalnya. Wina dan Adi yang melihat Edgar kesal hanya bisa tertawa. “Sudah sudah ayo berangkat nanti telat lagi.” ujar Adi menyudahi obrolan pagi ini. Wina dan Adi masuk ke dalam mobil sedangkan Edgar segera naik ke motornya dan melajukan motornya menuju rumah Aletha. Tak sampai tiga menit Edgar sudah sampai di depan rumah Aletha dan menunggu Aletha keluar dari rumah, tak lama kemudian ia melihat Aletha keluar dari rumah menghampiri dirinya. “Hai.” Sapa Aletha kepada Edgar. Edgar hanya menolehkan pandangannya ke Aletha tanpa menjawab sapaan Aletha. “Ih gue nyapa nggak dijawab.” balas Aletha mencibir Edgar. “Terus gue harus jawab apa dong?” tanya Edgar. “Ya jawab apa kek, hai juga ato apa gitu.” ujar Aletha. “Gini, Hai juga Aletha cantik.” ucap Edgar dengan wajahnya yang diimut-imutkan. “Nggak usah sok imut gue jadi pengen ketawa hahah.” balas Aletha sembari tertawa. “Ye ngeledek, udah ayo naik nanti telat.” ucap Edgar menyuruh Aletha untuk segera naik ke motornya. “Helmnya?” tanya Aletha ketika Edgar belum memberikan helm kepadanya. “Oh iya lupa, Nih.” ujar Edgar sambil tangannya menyerahkan helm kepada Aletha. “Tolong pakein dong, nih tangan gue penuh bawa buku sama tas.” ucap Aletha meringis. “Dasar manja, mimpi apa gue punya sahabat kayak lo gini.” Edgar mulai memakaikan helm kepada Aletha. Mata Edgar tak sengaja bertatapan kembali dengan mata Aletha, ada getaran yang muncul dari hati Edgar lagi saat menatap Aletha. “Udah belom?” tanya Aletha membuyarkan lamunan Edgar. “Eh udah, ayo buruan naik.” ucap Edgar langsung mengalihkan pandangannya kembali. Aletha mulai naik ke motor Edgar, setelah Aletha naik ke motornya, Edgar segera melajukan motornya menuju kampus. Pagi ini jalanan ibu kota cukup ramai karena waktunya orang mulai beraktivitas hingga membuat jalanan sedikit macet. *** Nara berlari mengejar Gilang yang sedang berjalan di depannya dengan jarak kurang lebih dua meter dari tempatnya berdiri. “Tunggu…” Nara menghentikan langkah Gilang. “Gue mau ngomong sama lo.” ucap Nara. “Siapa? Gue?” tanya Gilang mengedarkan pandangannya ke segala arah. “Iya lo lah siapa lagi.” balas Nara. “Mau ngomong apa lo?” tanya Edgar dengan nada judes, kini dirinya berniat untuk mengerjai Nara. “Eh kok jadi galakan lo sih.” balas Nara. “Buruan gue sibuk, kalo nggak jadi yaudah gue pergi.” ucap Gilang bersiap-siap pergi meninggalkan Nara. “Eh jangan pergi jangan pergi.” Nara menahan Gilang untuk tidak beranjak pergi. “Jadi gini, Gilang eh maksud gue Kak Gilang gue minta maaf buat kejadian kemarin-kemarin karena sikap gue yang judes ke lo, gue mohon sama lo jangan ngomongin ini ke Pak Faris ya pliss gue nggak mau dipecat.” Nara memohon kepada Gilang untuk tidak mengadu kepada ayahnya tentang sikapnya yang jutek kepada Gilang. “Oke gue nggak akan bilang ke bokap gue tapi ada satu syarat.” ujar Gilang. “Apa syaratnya?” tanya Nara, semoga saja syarat yang diberikan Gilang tidak aneh-aneh. “Kasih nomor hp lo ke gue tapi gue maunya yang asli bukan yang palsu kayak kemarin.” jawab Gilang. “Kalau gue nggak mau?” tanya Nara. “Yaudah siap-siap aja gue aduin atas pelayanan pegawai yang kurang ramah terhadap pelanggannya yang tampan ini.” jawab Gilang dengan memberikan ancaman bercanda. “Eh jangan, yaudah mana sini hp lo.” Nara meminta Gilang untuk memberikan ponselnya dan segera mengetikkan nomor teleponnya dengan benar, sekarang Nara benar-benar tidak bisa membantah lagi karena nasibnya sekarang berada di tangan Gilang. “Nih udah.” Nara memberikan ponsel milik Gilang. “Bentar gue coba telpon dulu biar nggak ditipu lagi sama lo.” ucap Gilang bersiap menelpon nomor telepon yang barusan Nara berikan. “Coba aja telpon.” balas Nara santai karena kali ini ia memang benar-benar memberikan nomor telpon miliknya sendiri. Gilang mulai menelpon Nara dan seketika ada ponsel yang berdering di sekitar mereka berdua. Kali ini Nara tidak menipunya karena nomor yang Nara berikan memang nomor asli milik Nara. “Oke thanks.” Gilang langsung pergi meninggalkan Nara. “Mentang-mentang udah dapet nomor gue langsung main pergi aja.” ucap Nara dengan nada kesal. “Tapi nggak papa deh dari pada nanti gue dipecat mending gue ngerelain nomor hp gue.” Nara langsung berjalan kembali menuju kelasnya yang jaraknya masih lumayan jauh dari tempat ia berdiri sekarang.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD