Aletha memandangi panggilan yang sudah di tutup oleh ibunya terlebih dahulu, ia tampak bertanya-tanya mengapa ibunya tiba-tiba menyuruhnya untuk segera pulang, padahal biasanya tidak seperti ini.
“Kenapa Le?” tanya Edgar.
“Nyokap minta gue buat cepet pulang katanya ada yang mau diomongin tapi gue nggak tau apa.” jawab Aletha.
“Oh yaudah abis makan mie kita langsung pulang siapa tau penting.” ucap Edgar dan dibalas anggukkan oleh Aletha.
Aletha dan Edgar langsung menghabiskan mie rebus milik mereka masing-masing, setelah itu mereka berdua segera masuk ke dalam mobil dan pulang ke rumah. Entah mengapa selama di perjalanan hati Aletha rasanya tak tenang, tapi ia bingung sebenarnya apa yang akan dibicarakan oleh ibunya, tidak biasanya ibunya bersikap seperti ini.
“Lo nggak papa? Diem aja dari tadi di perjalanan.” tanya Edgar ketika melihat Aletha yang sedang melamun.
“Nggak papa kok, gue cuman ngantuk aja hehe.” jawab Aletha.
“Lo tidur dulu aja kalo gitu, ini juga masih lumayan jauh, nanti kalo udah sampe rumah gue bangunin.” ujar Edgar menyuruh Aletha untuk tidur selama di perjalanan.
“Bener juga, oke deh kalo gitu gue tidur dulu ya.” balas Aletha. Edgar menganggukkan kepalanya sambil matanya masih fokus menatap jalanan yang mereka lalui.
Aletha membenarkan posisinya terlebih dahulu dan mencari posisi duduk yang nyaman agar ia bisa tidur selama di perjalanan. Beberapa menit setelah memejamkan matanya, Aletha akhirnya bisa terlelap.
Edgar melihat Aletha yang tampak sedang kedinginan, Aletha terlihat menyelimuti tubuhnya menggunakan kedua tangannya sambil masih tertidur. Edgar yang melihat hal itu tak tega dengan Aletha yang merasa kedinginan, ia menepikan mobilnya terlebih dahulu dan segera melepas jaketnya untuk menyelimuti tubuh Aletha yang sedang kedinginan.
Edgar memandangi wajah Aletha yang terlihat menggemaskan saat sedang tertidur pulas. Ia kemudian langsung mengalihkan pandangannya dari Aletha dan melanjutkan menyetir mobil menuju rumahnya.
***
Dewi terlihat gelisah ketika sedang menunggu Aletha pulang, ia tampak mondar mandir di depan rumahnya sambil menunggu mobil Edgar datang, perasaannya benar-benar tidak tenang saat ini. Ia tidak tau harus memulai dari mana untuk meenanyak kejelasan surat yang ia genggam kepada putrinya. Dewi kemudian memilih masuk ke dalam rumahnya kembali dan memilih menunggu di dalam kamar Aletha. Dewi terjatuh ke lantai ketika badannya benar-benar lemas, Mbok Ning yang mengetahui Dewi terjatuh itu pun langsung berlari untuk menolong Dewi yang terlihat lemas duduk di lantai.
“Bu, Ibu nggak papa?” tanya Mbok Ning sambil menolong Dewi untuk berdiri.
“Aletha Mbok…” Dewi mulai menguraikan air matanya di hadapan Mbok Ning.
“Non Aletha kenapa Bu? Non Aletha baik-baik aja kan Bu?” tanya Mbok Ning dengan raut wajah yang tampak khawatir.
“Aletha sakit leukimia Mbok.” ucap Dewi dengan nada lemas sambil menunjukkan surat yang ia genggam kepada Mbok Ning.
“Sabar ya Bu, ibu pasti kuat.” ujar Mbok Ning menenangkan majikannya itu. Dirinya benar-benar terkejut mendengarkan perkataan Dewi barusan.
“Iya Mbok, Mbok nanti kalo Aletha udah pulang langsung suruh masuk ke kamarnya ya bilang udah ditunggu saya.” ucap Dewi sebelum masuk kembali ke kamar Aletha.
“Baik Bu nanti akan saya sampaikan ke Non Aletha.” balas Mbok Ning.
“Makasih ya Mbok.” ucap Dewi.
“Sama-sama Bu.” balas Mbok Ning diakhiri dengan senyuman.
Dewi kembali ke kamar Aletha dan duduk di atas tempat tidur Aletha sambil menunggu putrinya itu pulang.
***
Kurang lebih satu jam kemudian akhirnya Aletha dan Edgarr sampai di rumah, kini Edgar sudah menepikan mobilnya di depan pagar rumah Aletha. Edgar mulai membangunkan Aletha yang masih tertidur pulas.
“Le bangun Le udah sampe nih.” Edgar menepuk nepuk lengan Aletha agar Aletha terbangun.
“Le bangun.” ucap Edgar sekali lagi.
Aletha terbangun karena terkejut mendengar panggilan dari Edgar yang membangunkannya. Tangan Aletha refleks bergerak hingga mengenai kepala Edgar.
“Aduh Le kepala gue.” ucap Edgar sambil mengusap kepalanya yang lumayan sakit karena terkena benturan dari tangan Aletha.
“Eh maaf Gar gue kaget tadi jadinya refleks gitu.” balas Aletha dengan tatapan bersalahnya.
“Masih sakit nggak? Mana yang kena?” Aletha mulai mengusap-usap kepala Edgar yang sakit karena tak sengaja terkena tangannya.
Kini mata Edgar dan Aletha saling bertatapan hingga membuat mereka berdua terpaku tak bergerak. Aletha yang menyadari hal itu langsung menjauhkan tangan dan wajahnya dari Edgar. Edgar pun langsung menoleh ke arah lain agar tidak terlihat sedang salah tingkah.
“Kalo gitu gue masuk dulu ya Gar, makasih udah ngajak gue ke pantai.” ucap Aletha sebelum keluar dari mobil Edgar.
“Iya sama-sama Le, ntar kita main lagi oke, buruan sana masuk takutnya udah ditungguin sama nyokap lo, sampein salam gue juga ya ke nyokap lo nanti.” balas Edgar.
“Siap Bos.” ucap Aletha sambil tangannya memberi hormat kepada Edgar. Ia kemudian langsung turun dari mobil Edgar dan melambaikan tangannya hingga mobil Edgar menjauh.
Aletha masuk ke dalam rumahnya, ia masih belum bisa menebak apa yang sebenarnya akan dibicarakan oleh Ibunya. Saat masuk ke rumah, Aletha tidak melihat keberadaan ibunya di ruang tamu maupun ruang keluarga hingga Mbok Ning berjalan menghampiri dirinya.
“Non tadi Ibu pesen kalau Non Aletha sudah pulang disuruh langsung ke kamar, sudah ditunggu sama Ibu di kamar Non.” ucap Mbok Ning.
“Oke kalau gitu, makasih ya Mbok.” balas Aletha mengerti.
“Sama-sama Non.” ucap Mbok ning.
Aletha pergi meninggalkan Mbok dan segera berjalan menuju kamarnya menghampiri ibunya. Saat Aletha membuka pintu kamarnya, ia terkejut karena ia melihat surat hasil pemeriksaannya kini digenggam oleh Ibunya. Aletha lupa jika kemarin amplop belum ia simpan kembali di laci meja belajarnya hanya ia taruh di atas meja belajarnya.
“Mamah…” ucap Aletha yang seketika membuat Dewi menoleh.
Aletha bisa melihat mata ibunya sudah sembab, ia benar-benar merasa sangat bersalah.
“Aletha tolong jelasin surat ini sama Mamah.” ucap Dewi dengan nada sedikit bergetar.
“Mah maafin Aletha Mah, Aletha bener-bener minta maaf belum ngasih tau Mamah tentang surat itu.” Aletha memohon kepada ibunya agar memaafkan kesalahan yang ia perbuat.
“Jadi kamu bener sakit leukimia? Kenapa kamu nggak ngomong sama Mamah Al, kenapa kamu tega nutupin ini semua dari Mamah? Kenapa Al? Kenapa?” Dewi tak habis pikir dengan apa yang dilakukan putrinya.
“A-aku cuman nggak mau buat Mamah khawatir, aku lagi nyari waktu yang tepat buat ngomong ini semua sama Mamah, maafin aku Mah.” ucap Aletha sambil berurai air mata.
“Justru kalo kamu nggak bilang, Mamah malah tambah khawatir Al.” Dewi memandangi putinya yang tengah menunduk menyembunyikan air matanya, kini mereka berdua sama-sama sedang berurai air mata.
“Aku bener bener minta maaf sama Mamah.” ucap Aletha sekali lagi memohon agar ibunya mau memaafkannya.
Dewi langsung memeluk erat Aletha sambil masih menangis, ia mencoba untuk menenangkan putrinya padahal dirinya sendiri juga belum merasa tenang.
“Aletha tolong janji sama Mamah, tolong jangan pernah nyembunyiin apapun lagi dari Mamah, tolong Al Mamah nggak mau kamu kenapa-napa.” ujar yang masih memeluk putrinya itu.
“Iya Mah, Aletha janji nggak akan nyembunyiin apapun dari Mamah lagi.” balas Aletha memeluk erat ibunya.
Dewi melepaskan pelukannya memandangi wajah putrinya, satu-satunya orang yang kini ia miliki. Aletha adalah satu-satunya penyemangat di hidupnya.
***
Edgar memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya, setelah itu ia langsung masuk ke dalam rumah.
“Cie yang abis ngedate.” Ledek Wina yang sedang menonton televisi ketika mengetahui Edgar memasuki rumahnya.
“Hah?” tanya Edgar dengan ekspresi bingung.
“Lo tadi abis ngedate kan sama Aletha ke pantai, cie elah adek gue hahah.” Wina membalikkan badannya dan beralih menatap Edgar.
“Ngaco lo orang tadi cuman ke pantai bareng doang, mana ada ngedate.” balas Edgar yang langsung pergi meninggalkan Wina.
“Eh gue tau lo suka sama Aletha, jujur aja susah amat sih.” ucap Wina yang tak dibalas lagi oleh Edgar.
Edgar masuk ke kamarnya tak menghiraukan kakaknya yang sedang mengoceh di luar kamar. Ia langsung merebahkan tubuhnya ke atas kasurnya setelah masuk ke kamar. Edgar memandangi langit-langit kamarnya. Edgar kembali membayangkan tentang dirinya dan Aletha saat berada di dalam mobil tadi, saat Aletha mengusap kepalanya yang membuat jarak mereka berdua menjadi dekat. Entah mengapa saat itu jantung Edgar terhenti, ia merasakan getaran aneh di dalam hatinya saat menatap Aletha.
“Apa bener yang diomongin Mbak Wina tadi kalo gue suka sama dia?” tanya Edgar kepada dirinya sendiri.
“Ah tapi nggak mungkin lah, gue kan sama Aletha udah sahabat lama dari kecil jadi nggak mungkin gue suka sama dia.” Edgar menepis pertanyaannya yang tak berbobot itu barusan.
Edgar memilih memejamkan matanya mencoba menghapus hal-hal yang mengganggu pikirannya itu.
***
Setelah selesai makan malam, Dewi meminta Aletha untuk segera meminum obatnya, ia juga melarang Aletha untuk begadang karena hal itu tak berdampak baik bagi kesehatan mereka. Sebelum Aletha pergi ke kamar, Aletha membicarakan satu hal kepada ibunya.
“Mah boleh nggak Aletha minta tolong satu hal sama Mamah?” tanya Aletha.
“Apa Al?” tanya Dewi penasaran.
“Aletha minta tolong buat jangan kasih tau Edgar tentang penyakit Aletha ya Mah.” ujar Aletha.
“Kenapa? Edgar kan sahabat kamu, bukannya kamu kalo ada apa apa selalu ngasih tau Edgar?” tanya Dewi.
“Untuk kali ini aku belum bisa ngasih tau Edgar Mah, tolong jangan bilang sama Edgar ya Mah.” jawab Aletha.
“Iya Mamah nggak akan ngasih tau Edgar sebelum kamu ngasih tau Edgar sendiri.” balas Dewi diakhiri dengan senyuman.
“Yaudah kalo gitu Aletha ke kamar dulu ya Mah.” ucap Aletha berjalan pergi meninggalkan ibunya.
Dewi terdiam kaku, sampai sekarang ia belum bisa menerima keadaan yang dialami putrinya. Mbok Ning yang melihat hal tersebut benar-benar ikut hanyut dalam kesedihan. Ia baru ingat jika waktu itu Aletha pernah bertanya kepada dirinya tentang penyakit leukimia yang ternyata adalah penyakit yang sedang diderita oleh Aletha sendiri.