Part 14

1591 Words
Hari ini tibalah di hari minggu, Edgar menepati janjinya untuk mengajak Aletha ke pantai pagi ini. Perjalanan dari rumah mereka berdua ke pantai cukup jauh dan hampir memakan waktu sekitar satu jam, karena itulah mereka berdua sangat jarang untuk pergi ke pantai, bukan hanya memakan waktu perjalanan yang lumayan lama, tapi juga saat di perjalananya yang membuat mereka berdua merasa kelelahan. Edgar memilih menjemput Aletha menggunakan mobil agar mereka berdua bisa menikmati perjalanan dengan aman dan nyaman tentunya. Aletha masuk ke dalam mobil Edgar setelah berpamitan dengan ibunya. “Bawa apa aja tuh tas gede banget?” tanya Edgar ketika melihat Aletha membawa tas yang lumayan besar berisi makanan ringan. “Bawa camilan buat nanti di makan pas perjalanan sama di pantai juga biar nggak bosen hehe.” jawab Aletha meringis. Edgar langsung melajukan mobilnya keluar dari kompleks rumah mereka dan mengemudikan mobilnya menuju pantai. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, akhirnya mereka berdua sampai juga di pantai. Terlihat banyak pengunjung yang datang untuk berekreasi dengan keluarga, atau mungkin juga ada yang sekedar berkunjung menikmati indahnya pantai. Aletha dan Edgar mencari tempat yang lumayan jauh dari keramaian pengunjung agar mereka berdua bisa menikati keindahan pantai dengan tenang. “Di sini aja ya.” ucap Edgar menghentikan langkahnya. “Okeii.” balas Aletha. Aletha segera menggelar tikar sambil dibantu oleh Edgar agar saat mereka duduk, pakaian yang mereka pakai dan tas yang ia bawa tidak kotor karena terkena pasir. “Gue ke sana dulu ya.” ucap Edgar sudahh sangat ingin berenang. Aletha yang mengetahui Edgar sudah tidak sabar ingin berenang itu pun langsung menganggukkan kepalanya. Edgar pergi meninggalkan Aletha yang masih tampak sedang sibuk dengan barang bawaannya. Aletha mulai mengeluarkan camilan yang berada di dalam tas dan menatanya dengan rapi di atas tikar. Aletha mulai mengabadikan beberapa foto ke ponselnya. Saat sedang menikmati makanan ringan yang kini ia genggam, Aletha mengamati Edgar yang sepertinya sudah sangat asyik dengan dunianya sendiri. Ia lalu beranjak pergi meninggalkan tempat duduknya dan menghampiri Edgar yang sedang asyik berenang, Aletha berniat untuk mengabadikan foto ketika Edgar sedang berenang. Beberapa foto sudah berhasil ia potret tanpa memberitahu Edgar terlebih dahulu, lalu selanjutnya ia meminta Edgar untuk bergaya atau berpose sesuka Edgar sebelum ia foto. “Edgar liat sini.” Panggil Aletha yang sudah bersiap memotret Edgar dengan kamera ponselnya. “Bentar Le bentar.” balas Edgar. Edgar kemudian bergaya sesuai arahan Aletha, sedangkan Aletha segera memotret Edgar. “Eh kita belum foto berdua, ayo foto.” Ajak Aletha. Edgar langsung menghampiri Aletha dan mereka mengabadikan foto selfie bersama. “Ih gue belum siap juga udah main jepret aja.” ucap Edgar yang sedang membenarkan rambutnya karena basah terkena air. “Hahah gantian lah kemaren lo juga gitu.” balas Aletha tak mau kalah. “Selalu aja nggak mau kalah pasti.” Edgar mulai menyipratkan air pantai ke arah Aletha. Aletha yang terkejut ketika Edgar menyipratkan air ke arahnya itu pun langsung segera menghindar, namun tetap saja Edgar mengejarnya. “Edgar udah baju gue nanti basah tau, gue nggak bawa pakaian ganti.” ucap Aletha sambil berlari menjauh dari Edgar. Edgar bukannya menyudahi, ia malah masih tetap mengejar Aletha sambil tertawa. "Edgar ngeselin banget sih lo." ucap Aletha sambil berlari kembali menjauh dari Edgar yang bersiap menyipratkan air lagi ke arahnya  Mereka berdua kini seperti tikus dan kucing yang sedang kejar kejaran, Aletha berlari ke sana ke mari untuk menghindari kejaran Edgar, sedang Edgar masih terus mengejar Aletha. Mungkin bagi orang yang melihat mereka berdua tak sedikit yang akan menganggap bahwa mereka berdua memiliki hubungan spesial seperti pacaran, padahal tidak sama sekali. “Eh Aletha, Aletha bangun jangan bikin gue khawatir, Aletha Aletha bangun” Edgar menghampir Aletha yang tiba tiba terjatuh pingsan. Edgar menepuk pelan pipi Aletha untuk membuat Aletha terbangun namun belum juga ada tanda tanda terbangun dari Aletha. Beberapa saat kemudian terdengar suara tertawa yang tak lain itu adalah Aletha sendiri, ia tertawa melihat Edgar yang begitu panik melihat dirinya yang sedang berpura pura pingsan. “Hahahah cie khawatir.” ucap Aletha membuka matanya sambil tertawa. “Ye ngeselin nih anak ya, gue gelitikin baru tau rasa lo.” Edgar mulai menggelitiki Aletha hingga membuat Aletha tak henti henti tertawa dan berlari menghindari amukan Edgar. “Udah ah Gar, capek gue, balik ke sana yok.” Ajak Aletha yang sepertinya memang benar benar sudah merasa lelah. “Yaudah ayok.” balas Edgar berjalan mengikuti Aletha. “Gue ganti baju dulu ya.” Pamit Edgar sambil membawa kaosnya yang kering ke toilet umum yang letaknya tak jauh dari tempat mereka duduk. “Oke.” balas Aletha. Setelah Edgar selesai mengganti bajunya, ia kemudian kembali untuk menghampiri Aletha. “Eh Gar gue tiba tiba pengen mie rebus deh, enak kali ya makan mie rebus sekarang sambil ngeliat pantai gitu.” ucap Aletha. “Yaudah gue beli dulu, lo di sini aja ya.” ujar Edgar yang langsung dibalas anggukan oleh Aletha. Edgar pergi ke warung yang menjual mie rebus dan berbagai menu lainnya, sambil menunggu pesanannya selesai, ia memilih duduk di sebuah kursi yang sudah disediakan di warung tersebut. Ada seorang bapak-bapak yang duduk di sebelah Edgar berusaha untuk mengajak ngobrol Edgar. “Kuliah dimana Mas?” tanya bapak tersebut kepada Edgar. Edgar lalu memberitahu tempat dimana ia berkuliah sekarang. “Semester berapa sekarang?” tanya bapak itu kembali. “Semester 6 Pak.” jawab Edgar. “Wah semangat yah bentar lagi lulus, mungkin anak saya sekarang juga seumuran sama kamu.” ucap bapak tersebut. “Oh iya? Anak bapak sekarang kuliah dimana?” tanya Edgar. “Saya nggak tau dimana anak saya sekarang karena sudah belasan tahun lama saya tidak bertemu dengannya setelah saya bercerai dengan istri saya, saya cuman punya foto anaknya pas waktu masih balita, sampai sekarang saya masih berusaha buat nyari dimana anak dan mantan istrinya saya sekarang tinggal.” Bapak itu tampak bercerita sedikit kepada Edgar tentang anaknya yang sedang ia cari sembari menunjukkan foto ankanya ketika masih balita. “Saya cuman bisa bantu doa semoga cepat ketemu ya pak.” ujar Edgar. “Iya terimakasih atas doanya, semoga doa baik kembali ke kamu.” balas bapak tersebut sembari tersenyum. “Amiinn, kalau boleh tau nama anaknya siapa Pak?” tanya Edgar. “Namanya…sebentar ada telfon.” Saat bapak tersebut akan memberi tahu nama anaknya tiba-tiba ponselnya bergetar. “Maaf saya harus pergi sekarang, nanti kalau ketemu lagi kita bisa ngobrol lagi, nama kamu siapa Mas?” tanya bapak itu sebelum pergi meninggalkan Edgar. “Saya Edgar Pak, kalau bapak siapa?” tanya Edgar kembali. “Saya Wisnu, yasudah kalau gitu saya pergi dulu ya sampai bertemu di lain waktu.” ucap bapak itu yang tak lain namanya adalah Wisnu. Wisnu tampak memberikan kartu namanya kepada Edgar sebagai tanda perkenalannya. “Baik Pak Wisnu, hati-hati di jalan Pak.” balas Edgar. Pria tersebut langsung pergi meninggalkan Edgar dan segera melajukan mobilnya kembali. “Ini Mas mie rebusnya.” Panggil si penjual mie yang membuat Edgar seketika menoleh dan segera berdiri mengambil mie rebusnya. “Makasih ya Bu.” ucap Edgar setelah membayar dua mie rebus pesanannya. “Terimakasih kembali.” balas ibu tersebut. Edgar kemudian pergi kembali menghampiri Aletha yang tampak sedang menunggunya dan terlihat raut wajah yang tak sabar untuk menikmati mienya. “Kok lamaa? Rame ya?” tanya Aletha. “Lumayan, tadi ngobrol sebentar sama bapak bapak di warung.” ujar Edgar sambil menyerahkan satu mangkuk mie rebus kepada Aletha. Mereka berdua langsung menyantap mie rebusnya selagi masih hangat sambil memandangi indahnya pantai di siang hari, walaupun matahari kini benar- benar terik, untungnya Aletha dan Edgar tadi mencari tempat di bawah pepohonan yang membuat tempatnya terasa teduh, sehingga mereka berdua tidak kepanasan. *** Selagi Aletha pergi ke pantai bersama Edgar, Dewi masuk ke kamar Aletha untuk membereskan kamar anaknya itu. Ia mulai membersihkan mulai dari tempat tidur, lantai lalu membersihkan lukisan yang terpajang di dinding agar tetap terlihat bagus. Dewi berjalan ke arah meja belajar Aletha dan mulai merapikannya. “Aletha nih kebiasaan kalo abisa baca novel nggak lupa di kembaliin ke rak.” Dewi mengambil novel di atas meja Aletha dan mengembalikannya ke rak buku khusus novel yang letaknya berada di dekat meja belajar Aletha. Pandangan Dewi tiba-tiba mengarah ke sebuah amplop putih yang berada di atas meja Aletha, ia tampak penasaran dengan isi amplop tersebut. “Ini punya siapa kok tulisan amplopnya dari Rumah Sakit.” tanya Dewi penasaran sebelum membuka isi amplop tersebut. Dewi mulai membuka isi amplop putih itu karena rasa penasarannya yang sudah tidak bisa ia bendung lagi. Saat membuka isi surat tersebut dan mulai membacanya, ia seketika terkejut melihat isi surat itu sambil tangannya menutupi mulutnya yang menganga tak percaya dengan isi surat yang sedang berada di genggamannya. “Le-leukimia.” ucap Dewi tak percaya setelah membaca suratnya. “Kenapa Aletha nggak pernah cerita tentang ini ke aku.” ujar Dewi kembali dengan tatapan syok saat melihat isi suratnya. Dewi mengambil ponselnya yang berada di kamar dan segera menelepon Aletha. “Halo.” “Halo Mah, ada apa?” “Bisa pulang sekarang? Ada yang mau Mamah omongin sama kamu.” “Mau ngomong apa Mah?” “Mamah mau ngomongnya pas kamu di rumah aja, jadi tolong cepet pulang ya.” “Iya Mah bentar lagi Aletha pulang.” “Oke hati-hati di jalan.” “Oke Mah.” Dewi menutup panggilan itu, ia tak kuasa menahan air matanya untuk menetes, kenapa Aletha tega untuk menyembunyikan ini semua darinya dan memilih menyimpannya sendirian. Dewi mencoba menenangkan dirinya terlebih dahulu dan menunggu Aletha pulang ke rumah untuk meminta penjelasan dari Aletha.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD