Part 13

1547 Words
Dewi melajukan mobilnya memasukki halaman rumahnya, ia kemudian turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumahnya. “Sudah pulang Bu?” tanya Mbok Ning yang membukakan pintu untuk Dewi. “Sudah Mbok, Oh iya Aletha udah pulang belum ya Mbok?” tanya Dewi. “Belum Bu, mungkin sebentar lagi pulang sama Mas Edgar.” jawab Mbok Ning. “Yasudah kalau gitu, Mbok minta tolong ini di siapin buat nanti makan malam ya Mbok.” ucap Dewi sembari memberika beberapa kantong yang berisi hidangan makanan kesukaan Aletha. “Baik Bu.” Mbok Ning kemudian mengambil kantong tersebut dan segera membawanya ke dapur untuk ia siapkan sebagai menu makan malam nanti. Tak lama kemudian Aletha masuk ke dalam rumah, seketika ia memeluk Dewi yang baru saja sampai di rumah. “Mamah kapan sampenya?” tanya Aletha melepaskan pelukannya. “Barusan aja Mamah nyampe.” jawab Dewi. “Aletha kangen tau udah seminggu lebih nggak ada Mamah sepi rasanya.” ujar Dewi. “Maafin Mamah ya Al, Mamah juga udah kangen banget sama kamu, oh iya Mamah tadi sebelum pulang beli makanan seafood kesukaan kamu buat makan malem kita.” ucap Dewi. “Wah mantap tuh, tau aja kalo aku lagi kangen makan seafood hihi.” balas Aletha yang terlihat tak sabar ingin menikmati makanan kesukaannya itu. Aletha kemudian berpamitan masuk ke kamarnya dan sesampainya di kamar, ia langsung menaruh tasnya ke atas meja belajarnya, Aletha memilih untuk segera membersihkan diri karena hari sudah mulai malam dan cuaca juga sedang dingin. Setelah mandi ia lalu menyusul dan bergabung dengan Ibunya yang sudah lebih dulu sampai di meja makan. Aletha dan Dewi langsung menyantap makanan yang Dewi beli tadi sebelum ia pulang ke rumah, tak lupa Dewi juga mengajak Mbok Ning untuk menikmati makanannya bersama. Terlihat raut wajah kebahagiaan di antara mereka bertiga, namun sepertinya yang memang benar-benar sedang bahagia hanyalah Ibunya dan Mbok Ning saja. Saat ini rasanya Aletha benar-benar merasa seperti sedang memakai topeng kebahagiaan dan entah sampai kapan topeng itu akan terus ia pakai atau mungkin tak akan pernah ia lepaskan. *** Edgar pulang dengan bajunya yang sedikit basah karena terkena air hujan, dari kafe menuju rumahnya ia hanya memakai kaos karena jaketnya yang ia gunakan tadi ia serahkan kepada Aletha untuk dipakai agar Aletha tidak kehujanan. Perhatian–perhatian kecil memang selalu Edgar berikan kepada Aletha, rasanya ia memang benar-benar selalu ingin melindungi Aletha.  Edgar langsung masuk ke dalam rumahnya dengan keadaan baju yang basah dan sedikit kedinginan, ia segera mandi agar ia tak masuk angin karena menggunakan baju yang basah dalam waktu yang lumayan lama. “Baru pulang lo?” tanya Wina yang baru saja keluar dari kamarnya dan melihat Edgar pulang dengan keadaan kaos yang basah. “Nggak liat nih baru pulang.” balas Edgar sambil menyelimuti tubuhnya dengan tangan karena kedinginan. “Baju basah kek gitu sana buruan mandi ntar sakit lagi gue yang repot.” ucap Wina mengomeli dan menyuruh adiknya untuk segera mandi. “Iye bawel ini juga mau mandi.” balas Edgar pergi meninggalkan Wina yang sedang mengomel tidak jelas. Edgar mengambil handuknya dan segera mandi karena ia sudah tidak kuat dengan dinginnya cuaca hari ini. Setelah mandi, Edgar pergi ke kamarnya dan merebahkan dirinya ke atas kasur. Ia lalu membuka ponselnya dan membuka galerinya. Edgar melihat foto demi foto Aletha yang tadi ia potret dengan kameranya. Edgar baru ingat atas janjinya untuk segera mengirimkan foto tersebut kepada Aletha saat ia sudah sampai rumah. Edgar segera mengirim semua foto Aletha tadi sore yang ada di galerinya. Tak sadar ia tersenyum ketika memandangi hasil jepretannya entah tersenyum karena hasil jepretannya yang bagus atau tersenyum karena memandangi Aletha di foto tersebut. *** Aletha berpamitan untuk masuk ke kamarnya langsung setelah makan malam karena badannya benar-benar terasa lelah hari ini. Aletha mengambil ponsel dari dalam tasnya dan terlihat notifikasi pesan dari Edgar yang mengirimkan foto-fotonya ketika di kafe. “Thanks Gar.” balas Aletha. Aletha baru sadar jika ia tadi hanya mengabadikan foto sendiri, Aletha tadi tidak kepikiran untuk foto berdua bersama Edgar di kafe. “Gue baru sadar kalo tadi gue nggak foto sama Edgar, padahal tadi ada Kak Gilang ngapain nggak minta tolong fotoin dia tadi ya.” ucap Aletha merasa bersalah karena sepertinya ia terlalu asyik sendiri meminta Edgar untuk memotret dirinya. “Ah nggak papa deh, besok gue sama dia kan mau ke pantai, jadi masih bisa foto bareng nanti pas di pantai.” ucap Nara sembari meletakkan ponselnya kembali ke atas mejanya. Aletha membuka laci meja belajarnya dan mengambil surat hasil pemeriksaannya kemarin, ia tampak memandangi surat tersebut sejnak sebelum akhirnya ia lipat kembali surat itu dan menaruhnya di atas meja. Aletha mulai membunyikan radio miliknya dan mencari saluran radio yang sedang memutarkan lagu-lagu terbaru dan lagu-lagu yang ia sukai. “Nah ini bagus nih.” ucap Aletha sambil menikmati alunan musik yang sedang diputar di radio tersebut. Aletha pergi menjauh dari radionya dan langsung merebahkan dirinya ke atas kasur empuknya itu sambil memejamkan matanya, Ia menguap pelan sepertinya rasa kantuknya itu benar-benar sudah menghampirinya, tak sadar beberapa menit kemudian dirinya sudah terlelap bersama mimpi-mimpi indahnya. *** Setelah jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam, dan sudah saatnya kafe untuk tutup. Nara mulai membereskan kafe tempat ia bekerja, ia juga tak lupa untuk pergi membuang sampah di tong sampah yang tempatnya tepat berada di belakang kafenya. Nara belum bisa menutup kafe tersebut karena masih ada satu pelanggan yang masih berada di kafe, sedari tadi ada satu orang yang belum juga beranjak pergi dari kafe tempat Nara bekerja, siapa lagi kalau bukan Gilang. Nara pergi menghampiri Gilang dan berniat untuk memintanya pindah atau keluar dari kafe karena sudah waktunya tutup. Bukan bermaksud untuk mengusir pembeli, namun sepertinya memang cara seperti itu lah agar Gilang mau pergi. “Sudah jam sembilan malam, kafe harus tutup.” ucap Nara di hadapan Gilang. “Ya silahkan beres beres.” ujar Gilang yang membuat Nara sedikit kesal. “Ya kalo lo masih di sini gimana gue bisa beres beres.” ucap Nara dengan nada kesalnya. “Oke gue pergi, tapi sebelum pergi gue minta nomer hp lo dulu.” ujar Gilang. “Buat apa? Lagian gue juga nggak ada urusan apa apa sama lo, jadi gue nggak harus ngasih nomer gue ke lo.” ucap Nara judes. “Yaudah gue perginya nanti kalo lo udah ngasih nomer lo ke gue.” ucap Gilang yang membuat Nara semakin kesal. “Yaudah sini mana hp lo.” Nara langsung mengetikkan nomor hp di ponsel Gilang dengan cepat, setelah itu ia menyuruh Gilang untuk segera pergi. Setelah Gilang pergi dari kafe, Nara langsung tertawa terbahak-bahak karena ia sepertinya kan berhasil mengerjai Gilang, Nara sengaja memberikan nomer telpon sedot wc ke Gilang bukan nomor hpnya sendiri. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Gilang ketika menghubungi nomor tersebut. “Biar tau rasa lo, siapa suruh main ngancem gue hahaha.” ucap Nara tertawa sambil terus membereskan ruangan kafe. Setelah semuanya beres, Nara segera pulang dan segera beristirahat karena tubuhnya sudah sangat lelah dan hampir remuk rasanya. *** Setelah mendapat nomor yang diberikan Nara, Gilang langsung keluar dari kafe dan pulang ke rumahnya, tak ada rasa curiga sedikit pun, hingga sesampainya di rumah, Gilang langsung mencoba menghubungi nomor yang tadi diberikan oleh Nara. Dua kali ia mencoba menelpon nomor tersebut namun tak ada jawaban, dan setelah ketiga kalinya kini baru ada yang mengangkat panggilan tersebut. “Halo.” “Halo dari jasa sedot wc, ada yang bisa kami bantu?” “Hah sedot wc?” “Iya betul Mas.” “Maaf sepertinya salah sambung.” Gilang langsung memamtikan panggilan tersebut dengan tatapan kesalnya. “Bisa bisanya gue di kerjain.” ucap Gilang. “Masa gue dikasih nomer sedot wc sih.” ucap Gilang sambil menggaruk-garukkan kepalanya. Ia tidak tau harus bereaksi seperti apa, di sisi lain ia merasa kesal karena sengaja diberi nomor palsu oleh Nara, namun di sisi lain ia juga merasa malu karena ternyata nomor yang telpon barusan adalah nomor sedot wc, untung belum ditanya alamat oleh pegawai tersebut dan panggilannya langsung ia matikan dengan alasan salah sambung. Kejadian hari ini membuatnya bingung harus menceritakan hal ini kepada Edgar atau tidak, kalau ia cerita pasti Edgar akan meledek dirinya dan yang pastinya juga Edgar akan menertawainya habis-habisan. *** Saat Dewi akan pergi ke kamarnya untuk tidur malam, ia menyempatkan diri masuk ke kamar Aletha terlebih dahulu untuk mengecek apakah putrinya itu sudah tidur atau belum. Ia membuka pelan-pelan pintu kamar Aletha dan Dewi bisa melihat putrinya itu sudah tertidur lelap. Ia berjalan menghampiri Aletha untuk merapikan selimutnya yang belum menyelimuti tubuh Aletha dengan benar.  “Aletha ini emang kebiasaan pasti kalo tidur radionya nggak dimatiin dulu.” Ia lalu mematikan radio di kamar Aletha yang sedari tadi masih menyala. Ia juga membenarkan selimut yang belum menutupi tubuh Aletha dengan benar. Saat ia akan beranjak pergi dari kamar Aletha, kakinya tak sengaja tersandung sebuah kotak yang berada di bawah kasur Aletha. “Apa ini?” Dewi mengambil kotak tersebut tanpa membukanya. “Mungkin punya Aletha yang sengaja di simpen di kolong bawah kasurnya.” Dewi langsung mengembalikan kotak tersebut ke bawah tempat tidur Aletha. Ia lalu pergi keluar kamar kamar meninggalkan Aletha yang sudah lebih dulu terlelap, ia juga mematikan lampu kamar Aletha terlebih dahulu sebelum menutup kembali pintu kamar anaknya dari luar dan langsung kembali ke kamarnya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD